Saturday, August 25, 2012

Kelas Paling Ujung

Setelah cukup lama tidak bertemu dengan teman dekat saya sewaktu SMA, akhirnya kami bertiga berkesempatan untuk bertemu. Kemarin saya, Jullian, dan Indri bertemu di salah satu mall di Bandar Lampung sini. Kami janjian pukul 1-an. Jullian datangnya terlalu cepat (dia datang pukul 12!), saya datang on time, sementara Indri... well, datang sekitar pukul 1.30. Alasannya ke saya, "Kan kamu bilang kita ketemuannya pukul 1-an." Oh, oke deh... :|

Acara kumpul-kumpulnya cukup seru menurut saya. Serunya karena saya akhirnya bisa ngobrol-ngobrol berkualitas dengan Jullian dan Indri. Tentunya ngobrol-ngobrol itu sambil saya makan di Rice Bowl dan berlanjut dengan makan yoghurt. Sudah makan gratis (terima kasih, bro Jullian!), dapat teman untuk ngobrol pula. Suatu hal yang saya memang dambakan belakangan ini: bisa ngobrol, diskusi, sharing dengan seseorang yang bisa nyambung dengan saya yang kalau ngomong masih sering belepotan ini.

Seperti yang (mungkin) kalian sudah tahu (bagi pembaca setia blog ini), teman saya itu sedikit. Yang benar-benar mengerti saya lebih sedikit lagi. Apalagi sejak saya pulang ke kampung halaman, makin merasa menjadi alien saya. Tidak bergaul, tidak kumpul-kumpul, dan hanya menyendiri di rumah. Padahal harus saya akui hal yang paling saya butuhkan saat ini adalah teman berbagi. Berbagi pikiran, mau diajak ngobrol ngalor-ngidul tidak keruan, dan bisa menerima pikiran nyeleneh saya yang mungkin bagi mayoritas belum tentu bisa diterima. Alhasil, paling saya ngobrol sendiri dengan pikiran saya. Atau kalau lagi rajin, ya menulis di blog pribadi saya. Di sana saya menumpahkan semua isi yang memenuhi otak saya.

Kemarin kami ngobrol macam-macam. Mulai dari A hingga Z. Dari mengenai pernikahan (seumuran kami membicarakan apalagi coba?) hingga masa-masa kami SMA dulu. Ini yang menarik perhatian saya tentang kami kelas 3 SMA dulu sehingga membuat saya merasa terdorong untuk juga berbagi cerita di sini.

Jadi begini. Dulu tertanam di benak saya kalau kelas dengan huruf abjad awal atau angka awal itu artinya kelas pintar. Anak-anak yang masuk ke kelas tersebut adalah anak-anak yang (menurut guru-guru di sekolah itu) pintar. Misalnya, untuk SMP kelas 1A, 2A, 3A, atau untuk SMA kelas 1.1, 2.1, dan 3 IPA 1 atau 3 IPS 1. Sebaliknya, kalau kelas dengan huruf abjad semakin bergeser ke kanan atau angka yang semakin membesar itu artinya anak-anak yang masuk ke kelas tersebut adalah kelas buangan. Contohnya, kelas 3 IPS 3. Iya, itu kelas saya dulu. Dari tiga kelas IPS, oleh guru saya (entah siapa yang berwenang) menuliskan nama saya menjadi bagian di kelas 3 IPS 3.

Perasaan pertama yang saya rasakan ketika melihat nama saya di papan pengumuman adalah shock. Kaget. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa saya akan masuk di kelas paling ujung. Saya langsung berpikir itu adalah kelas anak-anak bodoh dan pemalas, dan saya termasuk di dalamnya? Apa yang dipikirkan oleh guru saya sehingga berani-beraninya memasukkan saya di kelas itu? Saya tidak bodoh dan saya tidak pemalas. Nilai pelajaran IPS saya bagus-bagus kok. Jadi, kenapa coba saya dimasukkan ke kelas 3 IPS 3?

Sampai saya lulus saya tidak pernah tahu. Tidak pernah berniat untuk bertanya juga. Saya pikir untuk apa bertanya? Untuk apa protes? Tidak ada gunanya. Saya mencoba berlapang dada dan menjalani semuanya dengan pikiran bahwa kelas paling ujung itu adalah kelas buangan dan saya berada di dalamnya.

Ketika kemarin saya membahas ini dengan Jullian dan Indri barulah saya menyadari betapa bahayanya stigmatisasi dan labelisasi. Entah dengan teman-teman sekelas saya yang lain (saya tidak pernah punya kesempatan untuk membahas ini dengan mereka. Baru dengan Jullian dan Indri saja), tapi dengan stigma yang dulu tertanam di benak saya membuat saya jadi rendah diri. Saya tidak percaya diri. Saya selalu berpikir, "Duh, kelas 3 IPS 3. Udah mah kelas paling ujung, anak-anaknya ya... begitu deh."

Mungkin berawal dari stigma itu kemudian berlanjut ke labelisasi. Guru-guru jarang masuk ke kelas kami. Atau kalaupun masuk kelas biasanya telat. Saya merasa guru-guru kami sering merendahkan kami. Mungkin karena ketika mereka sudah terbiasa mendengar teman-teman saya yang sering bolos, malas belajar, mengerjakan PR di dalam kelas, dan sebagainya. Mungkin guru-guru kami melabeli kami, siswa-siswi 3 IPS 3, sebagai anak pemalas, sering bolos masuk kelas, sering tidur di kelas, dan anak yang banyak bikin masalah.

Apa hanya karena kami kelas paling ujung, dengan stigmanya sendiri, lantas kami pantas diberi label seperti itu? Tidak tahu siapa yang memulai, atau apa alasannya, tapi memang pada kenyataannya kami seperti yang dilabelkan. Apa karena kami diberi label begitu lantas kami menjadi seperti apa yang dilabelkan? Atau apakah karena stigma yang sudah tertanam di benak kami masing-masing sehingga membuat kami kecewa sehingga membuat guru-guru melabeli kami secara negatif? Entahlah. Tapi, sepertinya terdengar lingkaran setan ya? *halah*

Saya bilang ke Jullian dan Indri, "Terpikir gak sih oleh kalian kalau kita-kita ini sebenarnya punya potensi? Kalau kita berhasilnya ketika kita sudah keluar dari 3 IPS 3? Coba deh lihat teman-teman kita. Dulu kita yang dibilang badung buktinya kita ada yang kuliah di STAN, Universitas Brawijaya, UGM, UI, UnPad, dimana-mana. Siapa yang menyangka?" Jullian menyahut, "Ya itu karena waktu kita di kelas tiga dulu kita dianggap remeh. Lihat aja guru-guru jarang masuk ke kelas kita. Paling yang baik hanya wali kelas kita sendiri." Bisa jadi kami mencari pelampiasannya di luar kelas. Kami sebenarnya pintar dan kami rajin belajar. Di kelas saja kami kelihatan seperti segerombolan anak badung...

Kalau memang yang Jullian katakan itu benar, kenapa tidak ada guru yang memotivasi kami? Seingat saya sih tidak ada guru yang menaikkan semangat kami dan mendorong kami untuk menghapus stigma kelas ujung. Tidak ada guru yang menanamkan ke kami meskipun kami berada di kelas ujung kami sebenarnya sama dengan siswa-siswa di kelas lain. 3 IPS 3 itu hanya nama kelas. Tidak lebih dan tidak kurang. 

Tujuh tahun sudah berlalu sejak kami lulus dari SMA. Tujuh tahun tentu banyak hal berubah dari kami. Dulu kami yang dicap pemalas dan nakal, sekarang kami berubah. Kami sudah lulus kuliah, sudah bekerja, (beberapa) sudah menikah. Siapa sangka? Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah janganlah kita sembarangan melabeli orang lain dan ikut-ikutan terbawa stigma. Jangan contoh saya yang dulu punya stigma negatif tentang kelas saya sendiri dan baru saya sadari bertahun-tahun kemudian. Karena pengalaman pribadi berbicara bahwa stigmatisasi dan labelisasi itu sungguh berbahaya bagi mereka yang diberi label. Percayalah! *halah* 

p.s.: Terima kasih, Jullian dan Indri, sudah bersedia menyisihkan waktu kalian untuk bertemu dengan saya. I really had a great time yesterday. Dengan jarak kita yang terpisah pasti susah untuk kita bisa sering ketemu dan mengobrol seperti kemarin. Lain kali kalau kalian ke sini lagi, jangan lupa sempatkan waktu untuk kita jalan ya! :)


7 comments:

  1. Pas aku SMA kelas 3, anak IPA dan IPS mendapat perlakuan yang beda dari guru. Anak-anak IPA jadi anak emas, sementara anak IPS diberi label malas dan tidak pintar. Aku sendiri anak IPS, jadi merasakan banget labelisasi itu. Oh, beda lagi ceritanya pas aku SMP kelas 2. Kakak kelasku jadi semacam proyek uji coba kelas unggulan. Jadi 30 atau 40 (lupa) siswa terpintar saat mereka kelas 2 akan masuk kelas 3A. Pride mereka naik dunk, mereka bahkan menamakan diri mereka sendiri Formasi Masa Depan. Tapi guru-guru jadi 'menggampangkan' mereka. Mereka disuruh belajar sendiri, karena dianggap sudah pintar. Nilai mereka harus bagus, mereka harus berkelakukan seperti siswa yang 'baik-baik'. Dan satu hal lagi, evaluasi nilai sering dilakukan dan peringkat terakhir punya beban moral paling besar. Padahal, dia bisa jadi yang paling pintar di kelas lain. Karena dianggap tidak berhasil, program itu ditiadakan pas aku naik kelas 3.

    ReplyDelete
  2. tidak hanya di sekolah, di lingkungan sekitar masih banyak sekali stigma-stigma seperti itu. apa boleh buat, perlu penyadaran secara pelan-pelan untuk tiap generasi agar stigma yang terlanjur melekat bisa terkikis pelan-pelan. perlu edukasi dan keterbukaan cara pikir :-)

    ReplyDelete
  3.  Aku dulu SMP, duduknya di kelas 3-1 dan anak-anaknya jauh lebih 'parasit' dari 3-2. Tapi anak-anak yang seringkali dianggap 'parasit' itulah yang malah jauh lebih care, lebih ngerti arti persahabatan, dan lebih solider ketimbang anak-anak pujaan guru. Gak tahu kenapa aku punya pemikiran kayak gitu, tapi ini sih kayaknya berdasarkan pengalaman.. Hehehe..

    ReplyDelete
  4. Betul kata mas Imman,walaupun kelas kami paling ujung,paling sedikit muridnya,paling sering dicibir,dan paling jarang ada guru,tapi murid2nya care satu sama lainnya dan kompak (ujian dan bolos bsrjamaah).

    Tp di masyarakat kita memang banyak stigma2 yg menyebabkan ketidakadilan dan penyimpangan. Semoga masyarakat kita makin terbuka mata dan pikirannya,sehingga tidak terikat dengan stigma yg ada.

    ReplyDelete
  5. ini memang pendidikan jaman dulu... sekarang sudah mulai tidak dipakai lagi... 
    apalagi dulu masuk A4 bahasa.. wah bisa dianggap bloon kita... hehehe... 

    semoga segera dilakukan perbaikan untuk pendidikan negara ini..

    buat kita, jangan di kotak kotakan hidup ini.. bebas mengalir saja..

    ReplyDelete
  6. Jadi inget kelas 2.9 dulu kim..udah lah paling belakang kelasnya, kalo ujan guru males masuk karena becek..anaknya langganan kantin bawah semua lagi..hahaha..
    Mm..tp kalo gw justru pas gw dilabeli begitu gw bisa all out..karena ekspektasi jg gak begitu besar terhadap gw..
    Sial..kangen masa SMA deh jadinya..:|

    ReplyDelete
  7. woohh ternyata Kimi seangkatan sama aku juga ya, 2005 :)
    ya gitu deh, dulu waktu aku SMA (IPA), juga ikut melabeli kelas IPS sebagai kelas yang anak2nya badung, sering bolos, suka rame, dsb --> ternyata terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia yak :-/

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;