Saturday, September 1, 2012

# Psychology # sok pinter

Empat Tipe Kepribadian

Ketika saya harus bertemu dengan orang-orang baru, pertanyaan-pertanyaan standar kerapkali saya dapatkan. Paling sering saya dengar pertanyaan, "Kimi masih kuliah? Oh, sudah lulus toh... Kapan lulus? Jurusan apa? Dimana kuliahnya?" Saya jawab saja sekenanya. Sesuai dengan apa yang ditanyakan tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi. (Baca: tanpa ngibul, maksudnya)

Sama seperti pengalaman kebanyakan dari teman-teman saya yang kuliah Psikologi, biasanya reaksi pertama para penanya setelah tahu saya kuliah di Psikologi adalah, "Waduh! Kuliah Psikologi ya? Saya takut ah dekat-dekat kamu. Takut 'dibaca'." Atau, "Wah, kamu ambil jurusan Psikologi ya? Berarti kamu bisa 'baca' orang dong?" Saya cuma bisa membatin,"Oh, well." Kemudian saya pasang senyum dan menjawab, "Tidak, saya tidak bisa 'baca' orang... Saya bukan cenayang."

Nah, ada satu pengalaman menarik ketika saya diwawancarai oleh calon bos. Pak Bos bertanya tentang bagaimana sikap dan perilaku saya dalam kelompok yang pernah saya ikuti. Kelompok tugas kuliah maksudnya. Saya mah mana pernah ikut kepanitiaan dan menjadi anggota organisasi apapun. Satu-satunya organisasi kampus yang pernah saya ikuti semasa kuliah adalah FC08. Itupun jadi pemain. :O Halah, jadi ngelantur

Balik ke topik.

Intinya sih Pak Bos bertanya mengenai dinamika kelompok. Pernahkah saya punya konflik dengan teman sekelompok? Bagaimana cara saya mengatasi konflik tersebut? Dan, mungkin karena Pak Bos tahu saya sarjana Psikologi beliau juga bertanya orang-orang di dalam kelompok saya itu termasuk dalam kategori kepribadian yang mana? Saya pun bengong. Satu tahun lebih saya lulus, selama itu pula saya tidak pernah lagi pegang buku-buku kuliah, dan sekian tahun sejak terakhir saya belajar Psikologi Kepribadian, saya ditanya soal kepribadian?

Asisten Pak Bos yang juga hadir saat itu melihat kebingungan saya. Beliau memberi petunjuk bahwa yang dimaksud adalah kepribadian sanguinis, phlegmatis, koleris, dan melankolis. Teman-teman kelompok saya itu masuk ke dalam kategori mana? Di sini saya ngeles. Saya mengangguk-angguk mengerti dan menjawab saja lah. Meski sebenarnya dalam hati saya ingin menjawab, "Maaf Pak dan Mbak, selama lima tahun saya belajar Psikologi saya belum pernah secara khusus belajar teori itu. Sesekali pernah baca lah teori itu di bagian sejarah Psikologi." Tentu saja itu hanya dalam hati. Ini wawancara kerja untuk posisi HRD, bukan sidang skripsi, diskusi Psikologi, atau wawancara kerja untuk jadi dosen Psikologi.

Tidak beberapa lama dari tes wawancara dengan Pak Bos, beberapa hari kemudian teman kuliah saya, Dhea, yang sekarang sudah jadi psikolog, menulis mengenai saguinis, phlegmatis, koleris, dan melankolis ini. Kebetulan sekali! Saya yang sudah malas buka buku teks kuliah (dan malas googling juga di internet) merasa tertolong sekali oleh Dhea. 

Dhea sudah membahasnya dengan cukup lengkap di tulisannya itu. Silakan mampir ke sana jika ingin membaca tulisannya secara utuh. Di sini saya hanya ingin mengutip beberapa hal saja dari tulisan Dhea. Semoga Dhea tidak berkeberatan saya kutip tulisannya di sini.

Dhea menulis begini:

Setelah saya membaca The Psychology Book, akhirnya saya tahu bahwa istilah 4 tipe kepribadian sanguin, phlegmatis, koleris, dan melankolis ternyata datang dari Claudius Galen, seorang filsuf sekaligus dokter yang hidup pada tahun 129-200 Masehi. Ide Galen untuk menjelaskan mengenai kepribadian manusia berangkat dari teori Yunani kuno tentang mekanisme tubuh berdasarkan distribusi cairan tubuh (humourism) yang dikemukakan seorang filsuf yang  juga cukup familiar namanya di buku teks mahasiswa psikologi, yaitu Empedocles. Apabila kita tarik mundur sedikit, kita akan tahu bahwa Empedocles pernah mengemukakan bahwa distribusi cairan tubuh kita merupakan representasi dari proporsi 4 elemen dasar (earth, air, fire, dan water) dalam tubuh. Memang terdengar agak absurd, namun orang-orang pada masa tersebut menerima teori yang berpendapat bahwa tubuh kita mengandung elemen-elemen dasar tersebut.

Pertama-tama, saya hanya ingin memberitahu kalau saya juga punya buku yang disebut Dhea di atas. Saya baru saja membelinya kemarin di Periplus.

Penggemar: Terus, Kim? Gue harus bilang "WOW" gitu?

Yaaa... tidak begitu juga sih. Saya cuma mau kabar-kabari kok. *penting abis* *kemudian digapruk*

Lanjut ya... Kemudian, Dhea menulis:

Berangkat dari teori tersebut, 200 tahun kemudian Galen mengemukakan bahwa ada hubungan langsung antara proporsi banyaknya cairan tubuh tertentu dengan aspek-aspek kepribadian manusia. Aspek kepribadian yang dimaksud misalnya seperti kecenderungan emosi dan tingkah laku kita dalam berbagai konteks peristiwa, atau ia sebut juga sebagai “temperamen”. Menurut Galen, kalau salah satu cairan tubuh (humour) porsinya lebih banyak dalam tubuh, maka salah satu tipe kepribadian juga akan tampil dominan pada orang tersebut. 
Galen mengemukakan, orang Sanguinis adalah mereka yang punya kadar darah lebih banyak dalam tubuh[1] Orang dengan tipe kepribadian Sanguinis cenderung hangat (warm-hearted), ceria, optimis, PD, namun juga egois. Sedangkan orang Phlegmatis adalah mereka yang punya lebih banyak kadar lendir dalam tubuh[2]. Orang dengan tipe kepribadian ini cenderung tenang, cool, rasional, dan konsisten namun juga lamban dan pemalu. Orang Koleris adalah mereka yang punya kadar cairan empedu lebih banyak dalam tubuh[3]. Karakteristik orang Koleris menurut Galen adalah bersemangat, antusias, enerjik, dan passionate. Terakhir, orang Melankolis adalah mereka yang punya kadar black bile lebih banyak dalam tubuh[4]. Orang dengan tipe kepribadian melankolis cenderung lebih mudah sedih dan depresi (mood-nya lebih gloomy), artistik dan puitis.

The Psychology Book bilang menurut Galen bahwasanya manusia "ditakdirkan" untuk memiliki temperamen tertentu. Nah, berhubung masalah-masalah terkait temperamen ini disebabkan ketidakseimbangan cairan di dalam tubuh seseorang itu maka, Galen mengklaim, sebaiknya dia melakukan diet dan latihan fisik kalau mau sembuh. 

In more extreme cases, cures may include purging and blood-letting. For example, a person acting selfishly is overly sanguine, and has too much blood, this is remedied by cutting down on meat, or by making small cuts into the veins of release blood. (halaman 19)

Sekarang masalahnya masa' iya orang yang terlihat egois sekali, dikategorikan sebagai sanguinis dan penyebabnya adalah karena dia punya kelebihan darah dalam tubuhnya dan untuk menyembuhkannya dia harus diet makan daging? Atau tubuhnya dilukai untuk mengurangi darah dalam tubuhnya? Mungkin ide ini berkembang menjadi alasan mengapa kita sebaiknya mengurangi makan daging dan mendonorkan darah kita. Halah, ngaco banget saya. :r

Intinya adalah teori Galen ini pseudo-science. Mudah-mudahan setelah saya menulis ini tidak ada lagi yang bertanya ke saya sebenarnya dia termasuk ke dalam kepribadian yang mana. Selain karena ilmu saya masih kurang, saya setuju sekali dengan alasan-alasan yang diberikan Dhea:

Pertama,  saya tidak mungkin membedah sang penanya terlebih dahulu untuk tahu mana cairan tubuh yang lebih dominan dalam  tubuh sang penanya. 
Kedua, dasar pandangannya mengenai keseimbangan cairan tubuh juga sudah kurang tepat dan dibuktikan oleh sains pada masa itu. 
Ketiga, saya pribadi agak kurang sreg dengan pengelompokan kepribadian manusia jika tujuannya belum jelas. Saya khawatir nantinya saat sudah mengetahui kecenderungan kepribadian dengan sejumlah traits-nya malah membuat orang yang bersangkutan membatasi diri sendiri. Contohnya, saat orang mengetahui kecenderungan kepribadiannya adalah pencemas dan ekspresif dalam emosi, orang tersebut bisa saja membenarkan segala perilakunya yang mungkin mengganggu orang lain dalam lingkungannya atau justru menghambat dirinya untuk berkembang dengan alasan bahwa perilaku tersebut sudah merupakan “sifat dasarnya” sehingga ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lebih baik. 
Oleh sebab itu, saya sebisa mungkin menghindari memberikan label atau diagnosis terhadap orang lain kalau nantinya malah jadi membatasi atau tidak membantu orang tersebut. ;)

Sungguh sebuah alasan yang cerdas, terutama untuk alasan nomor satu! :O

Jadi, apakah kalian masih penasaran kalian termasuk sanguinis, phlegmatis, koleris, atau melankolis? ;)

8 comments:

  1. Pernah sih, ikut kuis apa gitu di FB, katanya saya masuk orang plegmatis, yang lamban dan pemalu itu. Ahhh, kayaknya sih cocok dengan kepribadian saya, atau paling enggak dicocok-cocokkan hohoho...
    Wah, kalau yang semacam empat kepribadian ini aja masuk pseudo-sains, apalagi zodiak-zodiak gitu ya? Untung saya orang Virgo yang skeptis dan tidak percaya astrologi... #eh

    ReplyDelete
  2. Kayanya gak masuk akal banget pengelompokan tsb disesuaikan dgn banyaknya cairan dlm tubuh. Dan lagi masalah pengelompokan tsb sempat mengganggu kehidupan sekitar saya, mbak.
    Nice post mbak! Salam kenal :)

    ReplyDelete
  3. saya ini kekurangan cairan *halaagh*

    setelah saya liat2 dari empat macam keprbadian di atas, sungguh membingungkan, saya ternyata merupakan gabungan dari ke empat tipe di atas. coba diliat sesuai nama saya ini cenderung hangat (warm-hearted), tapi juga sering lamban dan pemalu. di sisi lain juga kadang bersemangat, antusias, enerjik, dan passionate . atas sesuatu hal yang sangan diinginkan, lalu kadang suka sok artistik dan puitis.

    ck ck ini merupakan teori baru sepertinya.
    *dilempar buku teori psychology book*

    ReplyDelete
  4. Saya sudah tahu kok, saya koleris. Tapi itu tidak mengubah pandangan saya terhadap saya secara spesifik. Tidak lantas kalo saya meledak-meledak dan sok ngatur lantas saya bilang "oh ini karena saya koleris". Ilmu empat kepribadian itu cukup buat "nice-to-know" aja, nggak usah dibesar-besarkan.

    ReplyDelete
  5. Katanya sih kita punya keempat tipe kepribadian itu. Cuma pasti ada yang paling dominannya yang mana. Gitu sih katanya... :D

    ReplyDelete
  6. kalau aku lebih suka pengelompokan personality yang sini, karena lebih masuk akal dan lebih mudah dimengerti hehehe... intinya sih semua manusia punya semua unsur, tp selalu condong ke salah satu tipe, meski ada jg yg balance di tengah2 hehehe... whatever it is, kaeknya tiap tipe selalu ada negatif dan positifnya koq, ga ada benar salah atau baik jelek :-) http://www.mypersonality.info/personality-types/

    ReplyDelete
  7. @ Nayarini Estiningsih
    Teori kepribadian sih sebenarnya banyak. Tergantung kita mau pakai teori kepribadian yang mana. ;))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada gak orang yg gak punya kepribadian...???

      Delete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;