Friday, September 7, 2012

Mau Minyak Wangi! Gak Mau Minyak Kayu Putih!

Saya sering mendengar kakak-kakak saya mengeluh bahwa tanpa ada asisten rumah tangga (ART) rumah mereka jadi kacau. Ketika ART mereka pulang kampung dan tidak kembali lagi, otomatis mereka harus berjibaku kembali ke dalam urusan rumah tangga, seperti memasak, membereskan rumah, menyapu, mengepel, dan sebagainya. 

Kakak ipar saya, mamanya Salwa, merasakan kembali susahnya ditinggal ART. Mbak ART mereka pulang kampung sebelum lebaran kemarin dan memutuskan tidak mau bekerja lagi di rumah kakak ipar saya. Sebenarnya ada sisi positifnya dari keputusan mantan mbak ART mereka *halah*. Yaitu, dua keponakan saya--kakak-kakaknya Salwa--menjadi mandiri. Karena tidak ada mbak ART mau tidak mau mereka juga ikut membantu membereskan rumah. 

Kakak-kakaknya Salwa, Jihan dan Haikal, kan sudah remaja ya. Jadi, meski tidak ada mbak ART mereka bisa (mau tak mau) mandiri. Kalau tidak mandiri, kasihan kan mamanya harus mengerjakan semuanya sementara kakak ipar saya juga bekerja di bank. Dengan kata lain, Jihan dan Haikal pengertian lah dengan keadaan sekarang. *buset, kesannya kaya' apaan aja* Tetapi, bagaimana dengan Salwa yang baru berusia lima tahun? Nah... Ini yang agak susah sih. :D

Mau disuruh ikut bantu-bantu beres rumah, yang ada dia malah mengacak-acak. Ini kata kakak ipar saya. Bukannya ikut membantu, Salwa malah ngebos. Hahahaha... Namanya juga masih anak kecil ya. Lha wong, dia sekolah saja masih minta ditemani. Boro-boro mau mandiri dengan bantu ikut beres-beres rumah. :D

Jadi, mbak ART mereka yang dulu juga punya tugas untuk mengantar jemput Salwa sekolah sekaligus menunggui Salwa di sekolahnya. Jadi, dari pukul 7.30 hingga 10 pagi, mbak ART "dimiliki" oleh Salwa. Salwa juga belum bisa ditinggal di sekolah. Dia maunya ditunggui terus. Mau kita rayu macam apa juga dia bersikukuh pokoknya dia harus ditunggui. :O

Penggemar: Lha, terus, Kim, kalau mbaknya tidak ada seperti sekarang ini bagaimana? Masa' Salwa jadi tidak mau sekolah?

Sebagai tante yang baik hati dan perhatian tentu saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi! *ngok* Sebagai tante yang baik hati, saya menawarkan diri untuk mengantar jemput Salwa sekolah. Saya tidak mau keponakan saya itu kebanyakan absen cuma gara-gara tidak ada yang menungguinya sekolah. 

Eh tapi, berhubung saya pintar, saya membuat Salwa mengira seolah-olah saya ini menunggui dia dari dia masuk kelas sampai dia pulang sekolah. Saya cuma mengantar dia sekolah. Saya antar dia sampai pintu gerbang sekolah. Saya tunggu dia keluar dari kelasnya setelah menaruh tasnya. Saya tunggui dia bermain sampai ibu guru menyuruh anak-anak TK itu masuk kelas. Kalau sudah masuk kelas, ya saya tinggal. Ogah banget saya duduk-duduk bareng ibu-ibu yang menunggui anak-anak mereka. Bukan apa-apa, yang bikin ogah itu kan jarak usia kami yang cukup jauh dan saya pasti tidak nyambung kalau mendengar mereka mengobrol. Nanti kalau sudah dekat-dekat jam istirahat baru saya datang lagi ke sekolah Salwa. Hihihihi... By the way, kalian yang baca ini jangan kasih tahu Salwa ya! Ini rahasia lho! Diam-diam saja ya... Oke?

Hari ini adalah hari keempat saya mengantar jemput Salwa sekolah. Pagi-pagi tadi, sekitar pukul 6.30, dia sudah datang ke rumah dalam keadaan baru bangun dari tidur. Kelihatan sekali matanya yang masih ngantuk, belekan, dan mulutnya ileran. Dan saya langsung diserahi tugas untuk memandikan dia. 

Memang dasarnya Salwa itu cerewet, waktu mandi saja dia berceloteh macam-macam. Dia bilang dia juga punya di rumahnya sabun cair yang seperti di kamar mandi mama saya lah, dia bilang dia begini lah, begitu lah, dan saya--sebagai tante yang baik hati--meladeni celotehan dia. 

Sesudah dia mandi, saya balurkan minyak kayu putih cap lang ke tubuhnya. Sambil membalurkan minyak kayu putih, saya keceplosan bilang, "Yah, Dek, sudah pakai sabun yang wangi, eh sekarang pakai minyak kayu putih. Gak wangi sabun lagi deh..." Kalian mau tahu reaksi Salwa apa? Dia langsung menangis! Menangis tanpa air mata. Huh!

Katanya ya mata dia pedih karena terkena minyak kayu putih. Ih, itu mah alasan dia saja. Saya membalurkan minyak kayu putih ke perut dan punggungnya, bukan ke matanya! Dasar Salwa! :r Selidik punya selidik, rupanya dia memikirkan betul omongan saya tadi. Dia tidak mau dibaluri minyak kayu putih karena dia membuat kesimpulan sendiri dari omongan saya bahwa bau minyak kayu putih itu tidak enak!

Susah payah saya merayu dia untuk tidak menangis. Karena kalau dia sudah rewel, meredakannya susah minta ampun. Saya tidak punya waktu berjam-jam untuk menunggui dia selesai menangis karena dia harus berangkat sekolah. Akhirnya saya bilang, "Gak apa-apa, Dek, pakai minyak kayu putih. Biar kamu gak masuk angin. Biar badan kamu anget. Nanti Uncu semprotin minyak wangi deh ya biar kamu jadi wangi dan gak bau minyak kayu putih lagi." Salwa pun langsung diam. Dia bilang, "Semprotin ke perut aku ya." Cih, mentang-mentang di perutnya itu paling banyak saya balurkan minyak kayu putih, dia minta perutnya disemprot minyak wangi juga! :|

Duh, anak kecil umur lima tahun kok ya bertingkah banget ya? Asal jangan setiap dia mau berangkat sekolah minta disemprot minyak wangi sih. Bisa habis minyak wangi saya. Hihihihihi... 


6 comments:

  1. wah .. Salwa pinter juga ya milihnya parfum drpd minyak kayu putih :)

    ReplyDelete
  2. itu minyak telon atau minyak kayi putih yang dipakai... hehehhe kalau minyak telon wanginya lucu kok...

    ReplyDelete
  3. anak kecil memang banyak ingin tahu dan peka... kita kalau bicara harus hati-hati kalau tidak jadi "senjata makan tuan" (si anak jadi nangis, atau gimana gitu) :D

    ReplyDelete
  4. @  Ely Meyer
    Hihihi... Salwa memang pintar! Ada-ada saja tingkahnya. :))

    ReplyDelete
  5. @ Applausr
    Minyak kayu putih, Mas. Merknya saja cap lang. *eh*

    ReplyDelete
  6. @ r10
    Betul. Sesudah kejadian ini saya jadi mikir jangan-jangan saya salah ngomong apa ya sampai-sampai Salwa jadi begitu? :-?

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;