Saturday, September 14, 2013

Blind Obedience

Mantan rekan kerja saya, yang sekarang menjadi teman baik saya, pernah memberikan wejangan ke saya. "Kim, di sini (di tempat kerja kami, red.) kamu jangan nurut-nurut banget. Mau benar mau salah yang penting ngeyel dulu." Hah, suatu wejangan yang aneh sekali kan? Biasanya kita sering kali mendengar kita harus menuruti apa kata bos, apa perintah bos, yah pokoknya yang begitu-begitu. Tapi, teman saya ini beda. Mungkin dia memang termasuk golongan orang-orang yang berbeda dari kebanyakan. *halah, apalagi ini*

Dari teman saya itu saya belajar bos, atau siapapun yang namanya authority, tidak ada kewajiban bagi kita untuk harus selalu mematuhinya. Oke, bukan "kita". Cukup "saya" saja. :P Selama tugas yang diberikan memang wajar untuk dijalankan ya jalankan saja. Kalau dikira tidak bertanggung jawab, merugikan diri sendiri dan orang lain, wajib kita tolak. Apalagi kalau sudah merendahkan harkat dan martabat kita sebagai manusia. Hanya ada satu kata: LAWAN! Halah, kok jadi propaganda begini. Bukan propaganda sih, tapi sedikit... ehm... curcol. *eh*

Bukan berarti saya terus-terusan ngeyel atau membangkang bos ya. Keseringan malah saya nurut banget kok sama bos. There is nothing wrong with obedience, but blind obedience is wrong. Itu yang saya maksud sih. Dan saya dapat frasa keren itu dari online course yang baru tadi saya tonton videonya di Coursera. Hehehehe... Habis nonton course tentang materi obedience to authority kok saya jadi tidak bisa berhenti mikir. Wah, ini sudah harus dituliskan di blog. Kalau tidak, bisa-bisa seharian ini sampai malam di otak saya hanya memikirkan soal obedience dan Stanley Milgram.

Jadi begini... Teman-teman tahu penelitian Milgram experiment? Penelitian klasik ini dilakukan di tahun 1960-an. Milgram sendiri terinspirasi melakukan penelitian ini selain dia juga punya latar belakang darah Yahudi, juga karena Adolf Eichmann yang waktu itu sedang disidang karena keterlibatannya dalam Holocaust. Pertanyaan Milgram sendiri kira-kira seperti ini, "Mungkin gak sih Eichmann dan anak buahnya yang terlibat di Holocaust itu sebenarnya hanya menjalankan perintah dari bosnya? Mungkin gak sih sebenarnya mereka itu hanyalah kaki-tangan dari orang-orang yang sesungguhnya punya otoritas?" 

Eksperimen yang dilakukan Milgram ini bertujuan untuk mengukur willingness partisipan untuk mematuhi figur otoritas yang memberikan perintah kepada partisipan yang jelas-jelas bertentangan dengan nurani mereka. Figur otoritas dalam penelitian ini adalah Experimenter. Sementara partisipan berperan sebagai teacher yang akan memberikan stimulus kepada learner yang sebenarnya adalah confederate. Teacher mendapat tugas dari Experimenter untuk membacakan kata-kata yang berpasangan untuk diingat oleh Learner, misalnya "baby-blue", "nice-girl", dan lain-lain. Nanti Teacher akan mengucapkan satu kata dan Learner diminta untuk menjawab pasangan katanya. Jika Learner salah menjawab maka dia akan dihukum dengan diberikan kejutan listrik dari Teacher. Namanya confederate dalam penelitian, terang saja Learner berpura-pura salah dan berpura-pura kesakitan ketika disetrum. 

Di saat Learner berpura-pura kesakitan dan meminta penelitian dihentikan, partisipan sebenarnya mulai khawatir. Mereka bahkan menunjukan bahwa mereka tegang dan stres, seperti gemetaran, menggigit bibir, hingga tertawa terpaksa. Namun, karena Experimenter memerintahkan penelitian harus berjalan terus, partisipan tetap menjalankan tugasnya meski harus "menyetrum" Learner hingga 450-volt.

Kenapa bisa begitu coba? Partisipan jelas-jelas merasa bersalah telah menyetrum confederate tapi tidak juga memutuskan untuk berhenti dari eksperimen tersebut karena Experimenter menyuruhnya untuk tetap melanjutkan tugasnya. Kalau boleh saya asal-asalan menyimpulkan, bisa jadi partisipan menganggap dia hanya menjalankan tugasnya dan dia tidak bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada confederate. Kan ada Experimenter yang berjanji akan bertanggung jawab penuh. 

Partisipan: Pak, itu si Bapak di ruangan sebelah kesakitan deh. Sudah teriak-teriak begitu. Kita berhenti aja ya, Pak?
Experimenter: Gak bisa. Dia gak kenapa-kenapa. Setruman itu memang sakit, tapi gak berbahaya kok. Percaya sama saya. Kita terusin ya.
Partisipan: Kalau dia kenapa-kenapa gimana, Pak?
Experimenter: Saya yang tanggung jawab.
Partisipan: Janji ya, Pak? Bapak yang tanggung jawab ya. Saya gak mau lho, Pak, nanti saya dibawa-bawa kalau Bapak di ruangan sebelah itu kenapa-kenapa. Kan saya cuma disuruh Bapak sih.
Experimenter: Suer. Saya janji.

Kira-kira begitulah dialog yang terjadi antara partisipan dan Experimenter di saat partisipan galau untuk berhenti atau meneruskan penelitian.

Dan setelah selesai saya nonton materi ini saya tidak bisa berhenti berpikir blind obedience ini sangat sangat sangat berbahaya. Saya ngomong ke diri sendiri, "Kok bisa ya ada orang begitu? Kok tega? Kok bisa dia tetap "menyetrum" dan melepaskan tanggung jawab kepada orang lain. Padahal dia turut andil kan. Dia bisa berhenti lho di tengah jalan dan menolak melanjutkan penelitian. Jangan cari kambing hitam atas kesalahan yang kita perbuat deh." Tapi, yah... Itu kata saya sih. Belum tentu juga seandainya saya jadi partisipan di penelitian itu saya bisa dengan tegas menolak untuk melanjutkan penelitian. :D

Kembali ke teman saya tadi. Apa yang dia ajarkan saya itu ada benarnya juga. Jangan sampai nurut banget sama figur yang punya otoritas. Kita harus tetap punya conscience yang bisa mengingatkan kita mana yang benar dan mana yang salah. \m/

1 comment:

  1. Wahh mantap nih keren hahha

    kunjungin http://unic29.com/ ya hehe

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;