Saturday, February 22, 2014

Belajar Sendiri

Minggu lalu saat saya sedang berada di Jakarta, saya mengirim pesan via Whatsapp ke Om Galeshka. Saya tanya tempat nongkrong asyik mana yang bisa dikunjungi di sekitar daerah Kuningan. Om Galeshka bilang Kokas. Saya yang dari kampung penasaran dengan mall satu ini setelah disebut-sebut oleh beliau. Kokas? Apa itu Kokas? Saya kan sudah lama tidak mengikuti perkembangan ibukota, jadi saya tidak tahu Kokas itu apa. Setelah diberitahu Om Galeshka, oalah... rupanya Kokas itu Kota Kasablanka toh. Maka, di suatu sore hari yang cerah berangkatlah saya ke sana bersama kakak saya.

Melihat gedungnya dari luar saja saya sudah takjub. Silakan bilang saya lebay, tapi ya memang begitulah adanya. Saya memang lebay. Subhanallah, besar sekali mall ini. Kayak kota sungguhan. Terpujilah Tuhan yang telah menciptakan manusia dengan otak-otaknya yang pintar sehingga bisa membangun mall semegah Kokas. Saya sudah bilang saya lebay kan? 

Kemudian saya masuk ke dalamnya dan semakin terkagum-kagum. Subhanallah, mall-nya keren. Gede banget ya. Saking gedenya saya dan kakak saya keliling-keliling cari restoran dan ujung-ujungnya makan di KFC.

Penggemar: Kim, serius? Jauh-jauh ke Jakarta, ke mall gede cuma buat makan di KFC?

Iya. Terus, kenapa? Masalah buat lo? *cari ribut sama penggemar sendiri* *kemudian dikeplak beramai-ramai*

Ijinkan saya lanjut cerita ya. 

Nah, setelah kenyang makan di KFC, saya menyeret kakak saya ke toko buku. Saya kira untuk mall semegah dan sekeren Kokas, toko bukunya juga bakal gede juga. Minimal Gramedia deh. Sudah tanya sama customer service dan satpamnya juga, eh ternyata toko bukunya kalah gede sama Indomaret depan rumah saya. Buku-bukunya juga biasa saja sih. Saya pun langsung ngeloyor pergi dari situ. 

Lihat toko-toko di sebelah kanan dan kiri, barangkali ada cowok ganteng yang lewat, *please, jangan kasih tahu pacar saya ya* pura-pura menabrak saya, terus jatuh, terus marah-marah dan berhubung melihat saya yang cakep ini malah berujung pada dia ngasih nomor telpon, sayangnya skenario itu hanya ada di otak saya. Karena sesungguhnya yang terjadi adalah Mbak-mbak dari salah satu tempat kursus bahasa Inggris di mall itu yang malah menghampiri kami, saya dan kakak saya ("kami" lho ya, bukan "kita"!). Saya sih ogah meladeni. Bukan apa-apa, karena pasti ujung-ujungnya tuh Mbak bakal promosi tempat kursusnya yang mahalnya naujubile. Duit kursus yang mahalnya puluhan juta itu ya lebih baik uangnya buat umroh, buat jalan-jalan ke Mallorca, atau buat ehm... bayar DP gedung resepsi pernikahan. Ya, tapi balik lagi ke prioritas masing-masing orang sih. Prioritas saya untuk sekarang bukan buat kursus bahasa Inggris puluhan juta, tapi buat jalan-jalan. :P

Saya lanjut ngeloyor pergi dari Mbak itu, eh kok ya malah kakak saya yang malah masuk perangkap si Mbak. Saya sudah jalan berapa meter dan pas saya lihat ke belakang kok kakak saya tidak ada. Saya balik ke tempat Mbak tadi dan lihatlah kakak saya sedang asyik bercengkerama dengan si Mbak selayaknya sahabat lama. Eugh... Bakal panjang nih ceritanya, batin saya. Ngomong-ngomong, Mbaknya saya kasih nama Mbak Jen saja ya? Karena saat ini yang ada di benak saya tahu-tahu Jennifer Lopez. Mungkin itu karena semalam saya habis nonton American Idol. 

Seperti yang sudah saya duga, kakak saya menurut saja sewaktu diajak Mbak Jen masuk ke tempat kursusnya. Kami ditawari tes gratis. Tujuannya supaya kami bisa tahu kemampuan bahasa Inggris kami ada di level apa. Kakak saya sih mau, tapi saya ogah. Saya pikir buat apa? Please deh, saya belajar bahasa Inggris dari SD. Ikut kursus privat dari SMP sampai lulus SMA. Itu juga masih ditambah les di LIA (sewaktu saya SMA) dan EF (sewaktu saya kuliah di Unila setahun). Saya tahu kemampuan bahasa Inggris saya. Saya jago kok. Tidak percaya saya jago? Saya ini tempat bertanya teman-teman saya setiap kali kami ulangan bahasa Inggris jaman saya sekolah dulu. Jadi, please deh, Mbak Jen. Tidak usah mengejek saya.

*kemudian ditimpuk bata*

Gak ding. Bohong. Sebenarnya saya malas karena saya tahu pasti ujung-ujungnya Mbak Jen bakal promosi. Jadi, pikir saya buat apa buang-buang waktu? Dasaran kakak saya itu yang demen gratisan, mau-mau saja pas dikasih tahu ada tes gratis. Kalau kata kakak saya sih, untuk mengukur kemampuan bahasa Inggrisnya. Pret lah. Saya sudah mau pulang, woi. Sudah malam. Tapi, kakak saya tidak bisa diajak kompromi. Ya sudah, saya menunggu saja sambil main Onet di tab.

Entah kenapa di tengah-tengah saya sedang asyik main Onet, saya kok jadi mau ikutan tes juga. Saya mau tahu kemampuan bahasa Inggris saya sekarang bagaimana. Karatannya sudah seberapa parah. Ya itulah karena tidak pernah dipakai. Ngomong bahasa Inggris tidak pernah, menulis bahasa Inggris juga tidak lebih dari 140 karakter, ya palingan sih rajin nonton serial tv dan film bule dan baca buku-buku bahasa Inggris. Pasif banget ya? Oke deh, Mbak Jen. Gimme the test, please.

Saya kemudian diantar ke ruangan lab komputernya untuk tes. Saya pasang headset dan siap menjawab soal-soal. Dengan penuh percaya diri saya menjawab semuanya. Maksudnya "dengan penuh percaya diri" adalah kun fa ya kun saja. Sebodo amat. Cuma tes iseng-iseng ini. Dan hasilnya juga ternyata yah... begitu. Grammar saya cuma dikasih nilai 5. Kurang ajar! Saya tersinggung! :@ Paling tinggi skor saya cuma di bagian Reading atau Vocab gitu deh. Itupun hanya dapat nilai 6. Gak sopan! :@ Duh, bertahun-tahun belajar bahasa Inggris, dikursusin mahal-mahal sama Papa, ternyata hasilnya cuma segitu? Maafkan anakmu ini, Papaku sayang. :c

Sesampainya saya di rumah, saya merenung. Tolong bayangkan saya yang sedang duduk di kursi dengan mengatupkan kedua tangan saya. Saya sedang berpikir dalam. Seperti ini:


*gambar dicomot semena-mena dari google*


Jadi, mau les bahasa Inggris mengeluarkan uang berjuta-juta--apalagi puluhan juta--rupiah kalau tidak pernah dipraktekkan ya sama saja bohong. Nanti lama-lama pasti kemampuan bahasa Inggris kita bakal terkikis. Karatan. Mau ngomong ya kagok. Kaku karena tidak terbiasa. Mau menulis ya kaku juga. Mau menulis remeh-temeh bergaya diary saja kaku, apalagi mau menulis bergaya jurnal ilmiah. Langsung ditendang sama yang baca kali ya. :O

Lantas, solusinya bagaimana? Mau ikutan les lagi kan jelas tidak mungkin. Eh, bukannya tidak mungkin sih, tapi ya itu tadi. Lebih baik uangnya buat jalan-jalan ketimbang buat les. Palingan solusinya ya belajar sendiri. Latihan sendiri. Mulai sekarang harus sering-sering menulis blog pakai bahasa Inggris nih. Kalau nanti tulisannya belepotan, harap dimaklumi ya. Namanya juga masih belajar. :P


No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;