Thursday, March 20, 2014

Wawancara Sialan

Jadi pengangguran itu tidak enak. Sumpah. Yang biasanya setiap bulan terima duit, sekarang tidak ada lagi pemasukan. Mau jajan di Indomaret atau Alfamart saja harus berpikir beribu-ribu kali. Duit yang ada sekarang harus betul-betul dihemat. Duh, Tuhan, saya kepingin bisa terima gaji lagi tiap bulan. Biar saya bisa sering-sering jajan kacang Mayasi pedas, es krim, dan Nutriboost. Biar bisa menabung buat jalan-jalan ke Mallorca dan buat beli Mini Cooper. :c

Kalau ada yang bilang ke saya jangan cuma mengeluh di blog, tapi juga harus usaha, sini sini... Saya keplak dulu kepalanya. Kalau itu mah saya juga sudah tahu. Usaha jalan terus. Doa juga setiap saat. Kalau mau sesekali mengeluh dan curhat ya tidak apa-apa toh? :P

Saya sudah menyebar CV kemana-mana. Beberapa sudah memanggil saya untuk mengikuti proses rekrutmen. Beberapa sudah sampai tahap wawancara dan kemudian berakhir pada... Tidak ada kabar lanjutan. Ya tidak apa-apa. Namanya juga belum rejeki. Nah, dari beberapa wawancara itu ada satu yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya. *tsaaah*

Ceritanya begini... Seminggu yang lalu saya wawancara dengan manajer salah satu hotel di Bandar Lampung untuk posisi HR supervisor. Saya tipikal orang yang penuh persiapan. Kalau mau ngapa-ngapain atau mau kemana-mana, ya harus menyiapkan "bekal" sebaik mungkin. 

Seperti bulan lalu sewaktu saya juga dipanggil untuk interview ke Jakarta dan berujung pada jalan-jalan di Kokas. Saya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Saya baca-baca profil perusahaan, materi terkait HRD, dan membayangkan wawancara imajiner. Menyiapkan diri dengan berbagai macam pertanyaan dan jawabannya. Untuk wawancara ini, apa yang sudah saya bayangkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Saya sudah membayangkan bakal ditanya yang susah-susah, eh ternyata saya ditanya hanya seputar pekerjaan sebelumnya; bagaimana dinamika bekerja, bagaimana menyelesaikan konflik, apa saja yang menjadi job desc, hanya seputar itu. Saya sih pede dengan jawaban saya, tapi kalau sampai sekarang belum dipanggil lagi berarti bukan rejeki. :O

Tidak seperti wawancara di Jakarta, minggu lalu saya diwawancara tidak ada persiapan sama sekali. Bahkan untuk googling perusahaannya saja tidak. Ini seperti bukan saya banget. Minggu lalu rasanya kok malas mau mempersiapkan diri untuk "berperang". Kun fa ya kun. Apapun yang terjadi, ya terjadilah. Pasrah. Lagi pula, memangnya Bapak Manajer mau tanya apa sih? Pertanyaan wawancara kerja kan hanya itu-itu saja. Ya toh? Benar kan? Iya kan?

Ternyata, saya salah... *nangis kejer* *kabur ke Mallorca*

Pertanyaannya memang itu-itu saja, tapi saya tidak duga bakal sedetil itu dan ada pertanyaan yang di luar perkiraan. Pertanyaan semacam: alat ukur apa yang pernah saya (dan teman kelompok) bikin untuk tugas mata kuliah terkutuk. WHAT THE &*(^% ? Saya sudah lupa mata kuliah itu, Bapaaak... Benar-benar lupa. Saya punya kebiasaan langsung melupakan hal-hal yang saya tidak suka dan saya anggap tidak penting, termasuk mata kuliah satu itu. Mana si Bapak pakai acara menyinggung IPK segala. Sungguh tidak sopan! :r

Kemudian, saya ditanya soal UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Si Bapak mah enak bilang UU yang ini dianggapnya sebagai komik. Lah, saya baru mengunduh UU itu dan sampai sekarang belum khatam saya baca. Kampret banget ini pertanyaannya. o_O

Pertanyaan kampret berikutnya adalah soal alat ukur. Anjrit, saya belum pernah pegang alat ukur. Saya ngelesnya di kantor lama kalau mau psikotes calon pegawai ya pakai jasa vendor. Kalau sekadar mau tahu teorinya doang, ya gampang buat dipelajari lagi. Sekalian refreshment otak dan saya kan memang senang belajar, Pak. Hihihi... Iya, jawaban ngawur memang. 

Kemudian selesai wawancara saya duduk sebentar di lobi hotel. Saya menenangkan diri dan merenung. Wawancara kali ini sungguh bencana. Apa yang salah? Banyak. Kesalahan utama saya adalah saya tidak mempersiapkan diri saya sebaik mungkin. Kenapa bisa begitu? Bisa jadi karena saya sedang lelah secara psikologis, emosi sedang tidak stabil (bad mood, cranky, dan sejenisnya), dan saya meremehkan wawancara kali ini.

Saya sombong. Saya kira apapun nanti pertanyaannya pasti saya bisa jawab. Saya terlalu percaya diri dengan kemampuan saya yang nyatanya tidak seberapa itu. Di atas langit masih ada langit. Bapak Manajer yang mewawancarai saya ternyata lulusan S2 Psikologi (beliau Psikolog Klinis Dewasa) dan sudah malang melintang di dunia perhotelan. Sementara saya apa? Tidak ubahnya hanya butiran debu. >.<

Begitu Bapak Manajer mengenalkan dirinya, saya langsung menciut. Si Bapak pasti orangnya pintar. Saya kagum sama orang pintar. Saya menaruh respek pada mereka yang pintar dan punya wawasan luas. Tetapi, di sisi lain saya juga merasa rendah diri. "Njrit, gue kayaknya bego banget deh. Gue kecil banget di depan dia," itu yang sering muncul di pikiran saya ketika berhadapan dengan orang pintar. Dan pagi itu juga saya merasakan hal yang sama. Apalagi ditambah selama wawancara si Bapak menanyakan hal-hal yang sungguh ter-la-lu. Saya tertohok. Seolah-olah saya ditampar kanan-kiri. Wajah tercoreng. Saya jadi malu. Saya merasa gagal. Terutama sekali harga diri saya jatuh. Hiks, hiks, hiks. :c

Setelah duduk sebentar dan sudah selesai merenung, saya pulang. Saya keluar dari hotel itu dengan membawa pikiran positif. Saya tahu wawancara kali ini gagal, tapi apa yang bisa saya ambil hikmahnya? Saya harus belajar lebih banyak lagi untuk membekali diri saya dan menambah wawasan. Itu sudah harga mati. Saya tidak tahu UU Ketenagakerjaan? Mulai saat ini harus saya baca dan pelajari sungguh-sungguh. Saya tidak tahu cara menghitung PPh Pasal 21? Belajar. Pengetahuan alat tes sudah menguap? Pelajari lagi. Buta tentang HRD? Beli bukunya dan belajar. Intinya belajar, belajar, dan belajar. Bukankah saya senang belajar? Ihiy. 

Sesampainya di rumah, saya langsung beli buku tentang HRD atas rekomendasi teman saya. 


buku yang teman saya rekomendasikan


Dalam keadaan normal--maksudnya dalam keadaan sekarang yang sedang berhemat--, saya tidak akan membeli buku setebal 720 halaman ini. Harga aslinya Rp 250ribu, tapi setelah diskon 15% dan ditambah ongkos kirim, saya harus membayar Rp 246.500. Sebuah angka yang fantastis untuk pengangguran macam saya. Tetapi, tidak apa-apa. Demi menambah ilmu. Demi masa depan yang lebih baik. Pastinya demi harga diri. Nanti kalau diwawancara lagi, saya sudah siap beradu argumen. :vD


9 comments:

  1. xrismantos.wordpress.comMarch 20, 2014 at 2:19 PM

    Pertanyaan wawancara yang paling jadi momok adalah: mintak digaji berapah? Emmm....satu milyar pak! :D


    Semoga cepet dapet kerjaan yang cocok ya..

    ReplyDelete
  2. Wah, sama, Kim. Aku juga mudah silau oleh orang-orang cerdas :D

    Temenku ada yg ngerasa gagal pas wawancara. Eh nggak disangka dia malah dapat panggilan, terus diterima kerja di sana.
    Kadang-kadang apa yg kita pikirkan nggak seburuk kenyataannya, hehe....

    ReplyDelete
  3. Semangaaaat! Next time come with better preparation :)

    ReplyDelete
  4. Amiiiin... Terima kasih, Mas. :)

    ReplyDelete
  5. Bener tuh. Mudah-mudahan yang aku pikirkan itu tidak seburuk kenyataan. :D

    ReplyDelete
  6. Kim, itu alat ukur apaan ya? Gw baru tau klo tes gitu ada alat ukur. Apa dikasih ke pesertanya atau cuma HRD yang pegang?

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;