Tuesday, June 10, 2014

Virus Cinta

If tomorrow never comes, will she know how much I loved her?

Pagi ini saya terbangun dan entah kenapa--mungkin saja karena mimpi saya semalam--saya tiba-tiba teringat lagu yang dipopulerkan Garth Brooks tersebut. Mendadak saya ingin menulis sesuatu. Dan saya pikir, hey, mungkin ini saatnya saya kembali mengupdate blog yang sudah hampir satu bulan tidak update. Mari kita (kembali) berbicara tentang cinta.

Jadi begini. Ada masanya saya mendambakan cinta sejati. Seperti cerita film drama-drama Hollywood yang berakhir dengan. "And they live happily ever after." Cinta sejati, cinta abadi, ah, entah apalagi term yang ada. Intinya cinta yang tidak lekang dimakan waktu. Cinta yang akan selalu hangat sampai saya dan pasangan menutup mata. Oh, demi Tuhan, sungguh romantis!

Ada masanya saya selalu cerita sama teman saya, "Gue cinta banget sama dia! Dia itu cinta pertama gue! Gue akan cinta selama-lamanya sama dia!" Bisa ditebak, setelah sekian lama tidak bertemu, saya pun sudah lupa dengan cinta itu. Sama halnya dulu dengan mantan pacar yang kalau diingat-ingat sekarang, saya sampai bertanya-tanya sendiri kok bisa saya jatuh cinta dengan dia? Dulu sepertinya saya tergila-gila dengan dia. Ketika putus, rasanya dunia ikutan runtuh. Hidup saya bakal hancur. Saya tidak bakal bisa menemukan cinta lagi. Dan, sekarang saya hanya bisa tertawa kalau mengingat itu.

Dan akhirnya sampai pada masa saya tidak percaya dengan cinta abadi. Menurut saya, tidak ada cinta yang abadi. Tidak ada yang namanya, "Cinta yang meski sudah puluhan tahun hangatnya tetap sama seperti sewaktu pertama kali cinta itu dirajut." Pertama-tama, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bagaimana mungkin cinta bisa abadi kalau manusia yang punya cinta itu bisa mati kapan saja? Hahaha... Ngaco ya saya? Memang. :P Mungkin saya terlalu banyak menonton infotainment dan membaca majalah gosip yang isinya hanya seputar kawin-cerai selebritis. Bisa juga saya terlalu memusingkan cerita di sekeliling saya yang bilang si anu atau si itu baru menikah tapi sekarang sudah cerai karena pasangannya ketahuan selingkuh.

Cinta itu seperti hangat-hangat tahi ayam. Hangat di awal untuk kemudian akhirnya melempem. Saya percaya ada teman-teman yang tidak setuju dengan saya. Tak apa. Saya paham. Bagi yang berbeda pendapat dengan saya mungkin saja karena kalian telah menemukan cinta sejati. Saya ucapkan selamat. Semoga cinta kalian betul-betul awet sampai nanti.

Penggemar: Kim, memangnya kamu belum pernah jatuh cinta ya? Yang benar-benar jatuh cinta gitu?

Nah, ini pertanyaan yang saya benci sebenarnya. Apalagi kalau ditanya siapa cinta pertama atau siapa cinta sejati. What the... Tapi, baiklah. Saya akan coba jawab. Tentu saja saya pernah jatuh cinta. Tapi, saya sudah berhenti bilang ke diri sendiri, "Dia orang yang paling gue sayang. Gue cinta selamanya sama dia." Karena, yah, kalau besok ketemu cowok yang lebih bening dan oke juga cocok, ya nanti saya berubah pikiran. Terus, masak saya disuruh menjilat ludah sendiri? Kan ogah... Jadi, kalau ditanya apakah saya sudah pernah jatuh cinta, saya jawab sudah. Kalau ditanya siapa yang paling saya cinta atau membekas, ya entah... 

Saya hanya tidak mau berlebihan memberi perasaan kepada seseorang. Saya hanya ingin melindungi hati saya. Karena tidak ada yang tahu masa depan toh? Jadi, seandainya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ya saya tidak terlalu merasakan sakit. I have learnt my lesson

Saya terdengar angkuh ya? Bisa jadi. Saya hanya tidak mau menjadi lemah karena persoalan cinta (dan persoalan apapun). Sakit saat jatuh ya hanya dirasakan saat jatuh itu saja. Kemudian, langsung bangkit dari jatuh dan lanjut berlari. Toh, pas jatuh lukanya sudah dikasih obat merah kan? Kalau tidak ada obat merah, ya ditutup pakai plester hansaplast.

Kalau lukanya membekas bagaimana? Nah, untuk kisah luka membekas ini saya jadi teringat virus. Cinta itu seperti virus. Misalnya virus influenza. Kalau badan lagi lemah dan capek, kita jadi mudah terkena flu. Obat yang kita minum toh tidak membunuh virus tersebut, melainkan hanya meredakan gejala. Virus itu akan selalu ada di tubuh kita. Kapan saja kita bisa terkena flu, terutama di saat kondisi tubuh sedang tidak fit. Kondisi tubuh yang tidak fit adalah pemicu virus untuk aktif. Begitu juga dengan cinta. Tidak cuma rasa sakitnya, tapi bisa juga dengan rindunya. Sedikit saja ada pemicu dari kisah masa lalu, bisa-bisa memicu kembali kenangan yang sudah lama dikubur.

Sekarang mari saatnya minum vitamin dan menjaga kondisi badan supaya tetap fit. 


8 comments:

  1. Wah, aku juga pengen banget punya kisah cinta kayak Edward Cullen dan Bella Swan. Aaaaak… *lompat-lompat kayak boyband

    Menurutku cinta sejati itu kita yang buat. Berusaha menjaga cinta agar selalu hangat....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul itu. Dan, semoga kamu bisa segera menemukan Bella Swan-mu ya. *apa sih ini* :O

      Delete
  2. Akhirnya di-update lagi blognya..hore!!! \\( ^_^ )//

    Hmmm..bagi gw sih yg namanya perasaan itu sudah kodratnya dapat terbolak-balik. Kalo yg disebut cinta sejati itu terus bersama sampai ajal menjemput, trus apakah pasangan yang hidup bersama hingga ajal menjeput, tapi kehidupan keduanya selama ini gak bahagia, bertahan cuma karena sudah terlanjur, masih bisa kita bilang cinta sejati?
    Kalo bagi gw sih yg penting bahagianya. Tentu semua berharap selamanya dengan pasangan. Tapi kalo emang bahagianya bukan bersama kita, ya apa boleh dikata.

    Btw, gw setuju sama teori virus dan vitamin diatas..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itulah makanya kenapa gue... Ah, sudahlah. *kemudian ngemil pop corn*

      Delete
    2. *ikut nyomot pop corn*

      btw, kenapa jarang nulis kim?lg jenuh kah?

      Delete
  3. kalo aku ga pernah minum vitamin karena vitamin itu secara alami sudah ada di makanan-makanan segar yg (harusnya selalu) kita konsumsi. asal tahu jenisnya yg mana dan ga tiap hari makan junk foods, kita ga perlu vitamin tambahan. demikian pendapatku soal vitamin *salah fokus* - soal virus cinta, aku setuju dg pendapat ga ada cinta abadi, yg ada adalah kita terus memelihara kebahagiaan dan kemesraan dg seseorang yg juga (mau dg sadar) berkomitmen sama terhadap kita, sampai akhir hayat, jadi tetap perlu usaha, kerja keras, kerja sama dan pengertian dari kedua belah pihak #ciehhhh :-)

    ReplyDelete
  4. cinta gak harus berakhir bahagia, karena cinta tidak seharusnya berakhir

    ReplyDelete
  5. Kim, kadang aku pusing baca percakapan-percakapan antar dirimu sendiri di dalam pemikiran otakmu :P Kayaknya ribet bener >.<
    Padahal ya cinta itu tinggal dijalani sih menurutku, mikir ini abadi ato enggak ato gimana... Malah jadi lupa menikmati cinta yang ada di depan mata :D

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;