Monday, August 4, 2014

Selingkuh Perasaan dan Selingkuh Seksual

Seperti yang sudah pernah saya tulis di sini, salah satu hal yang membuat saya takut menikah adalah pengkhianatan atau perselingkuhan. Saya jadi teringat sewaktu kuliah dulu saya pernah membahas sebuah jurnal tentang kecemburuan dan perselingkuhan untuk tugas salah satu mata kuliah, tapi dari sudut pandang Psikologi Evolusi. Setelah membaca dan mencoba memahami benar-benar jurnal tersebut saya bisa mengerti bagaimana laki-laki dan perempuan cemburu dan memandang perselingkuhan. Sangat menarik. Dan tulisan kali ini saya akan kembali membahas jurnal tersebut dan berbagi dengan teman-teman semua. 

Jurnal yang saya maksud adalah Sex Differences in Jealousy: Evolution, Physiology, and Psychology (1992). Jurnal ini ditulis oleh David M. Buss, Randy J. Larsen, Drew Westen, and Jennifer Semmelroth. Jurnal lawas memang, tapi tetap menarik untuk dibahas. 

Sebelum kita membahas tentang kecemburuan dan perselingkuhan dari sudut pandang laki-laki dan perempuan, kita harus mengerti lebih dahulu apa itu Psikologi Evolusi. Mudahnya Psikologi Evolusi adalah cabang dari Psikologi yang mempelajari traits manusia, misalnya memori, persepsi, dan bahasa dari sudut pandang evolusi modern. Kalau saya sedang santai dan kurang gawe, suatu saat saya akan bahas sedikit tentang Psikologi Evolusi ya.

Buss et al. (1992) menulis di bagian pendahuluan jurnal:

In species with internal female fertilization and gestation, features of productive biology characteristics of all 4.000 species of mammals, including humans, males face an adaptive problem not confronted by females--uncertainty in their paternity offspring. Maternity probability in mammals rarely or never deviates from 100%. Compromises in paternity probability come at substantial reproductive cost to the male--the loss of mating effort expended, including time, energy, risk, nuptial gifts, and mating opportunity costs. A cuckolded male also loses the female's parental effort, which becomes channeled to a competitor's gametes. The adaptive problem of paternity uncertainty is exacerbated in species in which males engage in some postzygotic parental investment (Trivers, 1972).

Dalam perkawinan, atau mating, di sini masing-masing pria dan wanita memiliki ketakutannya sendiri. Seperti kutipan di atas, pria tidak tahu anak yang dikandung pasangannya apakah betul anaknya atau bukan. Ada perasaan takut bahwa anaknya adalah benih dari kompetitornya. Sehingga hal yang ditakuti pria adalah membesarkan anak yang bukan anak kandungnya. Karena pria tidak mau menghabiskan sumber daya yang dia punya, baik itu waktu, tenaga, dan uang, untuk membesarkan anak dari kompetitornya.

Sementara bagi wanita sudah jelas dong anak yang dikandungnya adalah anaknya. Masak mau anak wanita lain? Meski tidak ada keraguan dalam hal ini, tetap ada ketakutan bagi wanita. Wanita takut dia kehilangan pasangannya yang tidak mau menghabiskan waktu, materi, dan komitmen untuk membesarkan anak mereka secara bersama-sama. 

Dalam perkembangannya, ada dua situasi dimana ada risiko bagi wanita kehilangan investasi (Bush et al. menyebutnya sebagai investasi) dari pria. Pertama, situasi pernikahan monogami dimana seorang wanita bisa kehilangan investasi pasangannya karena pasangannya berselingkuh dengan wanita lain. Kehilangan ini adalah partial loss of investment. Atau bisa jadi wanita benar-benar kehilangan pasangannya karena pasangannya meninggalkannya demi wanita lain. Ini namanya large or total loss of investment. Kedua, situasi pernikahan poligami dimana seorang wanita memiliki pasangan yang juga menginvestasikan dirinya kepada wanita lain dan anak-anaknya yang lain. Berarti wanita tersebut hanya mendapat sedikit investasi dari pasangannya.


*gambar dicomot dari sini


Cemburu didefinisikan sebagai sebuah emosional "state that is aroused by a perceived threat to a valued relationship or position and motivates behavior aimed at countering the threat. Jealousy is 'sexual' if the valued relationship is sexual." Yah, yang namanya kalau lagi cemburu kan otomatis kita bereaksi. Ketika kita tahu pasangan kita selingkuh, kita pasti merasakan marah. Emosi meledak-ledak. Dan secara fisiologis tubuh kita pun terjadi perubahan, misalnya jantung berdegup lebih kencang. 


*gambar diambil dari sini


Nah, dalam penelitian di jurnal inilah yang ingin dilihat oleh para peneliti. Mereka ingin melihat reaksi partisipan penelitiannya, pria dan wanita, ketika mereka diberi suatu kondisi seandainya pasangan mereka selingkuh. Hipotesisnya adalah kedua jenis kelamin ini tentu akan merasa tertekan dan menderita jika pasangannya selingkuh. Namun, ada perbedaan bagi partisipan pria dan partisipan wanita dalam menilai perselingkuhan. Pria akan lebih merasa tertekan jika pasangannya selingkuh secara seksual, sementara wanita akan lebih merasa stres jika pasangannya selingkuh perasaan atau emotional infidelity. Untuk emotional infidelity, saya lebih suka menerjemahkannya menjadi selingkuh perasaan. Lebih ngena deh rasanya. Halah.

Penggemar: Tunggu deh tunggu... Apa itu selingkuh seksual dan selingkuh perasaan?

Jadi, selingkuh seksual itu adalah selingkuh yang melibatkan hubungan seksual. Sementara, selingkuh perasaan adalah selingkuh yang hanya bermain-main dengan perasaan. Gampangnya begini. Pria yang diselingkuhi pasangannya bakal bilang, "Gak apa-apa deh elu mau jalan sama cowok lain, ke mall, sayang-sayangan di chatting, asalkan elu jangan sampe ngeseks sama tuh cowok!" Sementara wanita yang diselingkuhi pasangannya bakal bilang, "Ya terserah kamu mau tidur sama perempuan manapun juga asalkan kamu tetap pulang ke rumah dan ngasih duit gaji kamu untuk aku." Ini bisa dimengerti karena kan pria yang pencari nafkah dan tidak mau menghabiskan uang dan waktunya untuk membesarkan anak yang bukan anak kandungnya, seandainya pasangannya sampai hamil karena selingkuh seksual. Di sisi lain wanita kan sebagai pengurus rumah tangga lebih insecure dengan urusan materi karena wanita menjalankan tugasnya untuk merawat anak-anak dan keluarga. Untuk merawat anak-anak butuh uang dong. Uang ini dari pasangannya. Jadi, kalau sampai pasangannya, selingkuhnya sudah melibatkan perasaan--berarti pasangannya sudah sampai mau memberi materi dan waktu, bahkan sampai mau meninggalkannya demi wanita lain--berarti dia terancam kehilangan investasi dari pasangannya. 


*gambar diambil dari sini


Sampai di sini bisa dimengerti ya. Mari kita lanjut.

Peneliti melakukan tiga studi dalam penelitian ini. Kalau dijelaskan secara rinci masing-masing studi, tulisan ini bakal jadi panjang banget. Jadi, kita singkat saja ya.

Studi 1 peneliti melakukan pengkondisian kepada partisipannya. Partisipan diberi sebuah instruksi dan pernyataan. Kemudian mereka diminta untuk memilih. Instruksinya berikut ini:

Please think of a serious comitted romantic relationship that you have had in the past, that you currently have, or that you would like to have. Imagine that you discover that the person with whom you've been seriously involved became interested in someone else. What would distress or upset you more (please circle only one): 
(A) Imagining your partner forming a deep emotional attachment to that person. 
(B) Imagining your partner enjoying passionate sexual intercourse with that other person.

Hasil studi ini sesuai dengan hipotesis. Partisipan pria lebih stres kalau pasangannya selingkuh seksual ketimbang selingkuh perasaan. Berkebalikan dengan partisipan wanita yang lebih stres jika pasangannya selingkuh perasaan ketimbang selingkuh seksual. 

Studi 2 peneliti mengukur respon fisiologis partisipan ketika mereka diberi gambar normal, gambar selingkuh perasaan, dan gambar selingkuh seksual. Jangan tanya sama saya gambarnya seperti apa. :P Pada partisipan pria, ada peningkatan signifikan electrodermal activity (EDA) (yang artinya berkeringat lebih banyak), pulse rate-nya lebih kencang, electromyographic activity (EMG) juga menunjukkan kontraksi alisnya lebih sering terjadi ketika mereka melihat gambar selingkuh seksual. Pada partisipan wanita peningkatan signifikan di EDA, pulse rate, dan EMG terjadi ketika mereka ditunjukkan gambar selingkuh perasaan. 

Studi 3 peneliti melanjutkan hasil dari studi 1 dan 2. Hipotesis penelitiannya adalah partisipan pria yang pernah mengalami hubungan romantis dan seksual akan lebih stres ketika melihat gambar selingkuh seksual ketimbang pria yang tidak mengalami hubungan romantis dan seksual. Hipotesisnya sama juga untuk partisipan wanita. Prosedur penelitian untuk studi 3, para partisipan diberi instruksi yang sama seperti studi 1. Kemudian mereka diberi pertanyaan apakah mereka pernah menjalani hubungan romantis (ya atau tidak) dan jika mereka pernah, apakah hubungan itu juga hubungan seksual (ya atau tidak)?

Hasil dari studi 3 menunjukkan partisipan pria lebih stres jika pasangannya selingkuh seksual daripada selingkuh perasaan. Namun, bagi pria yang punya hubungan romantis dan seksual akan lebih stres (55%) jika pasangannya selingkuh seksual ketimbang pria yang tidak punya hubungan romantis dan seksual (29%). Untuk partisipan wanita, hasilnya sama dengan studi 1 dan 2. Mereka akan lebih tertekan jika pasangannya selingkuh perasaan. Tidak terdapat perbedaan yang terlalu signifikan antara wanita yang pernah punya hubungan romantis dan seksual dan wanita yang tidak punya hubungan romantis dan seksual.

Begitulah intisari dari jurnal yang saya bahas ini. Sebenarnya ada penelitian lanjutan yang membantah penelitian di jurnal ini. Tapi, itu saya simpan untuk di masa yang akan datang. Karena kalau saya bahas semua nanti tulisan ini akan terlalu panjang dan kalian akan mati kebosanan. :r 

Bagi teman-teman yang tertarik untuk membaca jurnalnya langsung silakan klik link di atas atau di referensi. Dan bagi teman-teman yang ingin protes dan tidak terima dengan hasil penelitian di jurnal ini atau hanya ingin berbagi opini, silakan tinggal komentar ya. Mari kita sama-sama belajar dan berbagi ilmu.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin berpesan untuk teman-teman semua. Pesan saya adalah...


*gambar diambil dari sini


Terima kasih. ^_^

Referensi:

Buss, D. M., Larsen, R. J., Westen, D., & Semmelroth, J. (1992). Sex differences in jealousy: Evolution, physiology, and psychology. American Psychological Society, 3 (4), 251-255.


35 comments:

  1. HAHAHAHA gambar yang terakhir jleb banget :lol:

    yang selingkuh pasti adaaaa aja alasannya. mulai dari nyalahin keadaan, nyalahin pasangan dll. buatku sih sebenernya wajar ya tertarik sama orang lain sewaktu kita sedang ada dalam komitmen berpasangan, tapi apakah perasaan tertarik itu di follow up... that's the question XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kitin. Tertarik dengan orang lain ketika kita sedang berkomitmen dengan seseorang itu memang wajar. Seperti yang pernah kutulis di sini, pada dasarnya kita ini sexual omnivores kan. Memang dari sononya kita gampang tertarik dengan banyak orang. Cuma ya seperti yang kamu bilang, apakah perasaan itu mau di-follow up? Ya tergantung masing-masing orang sih. ^_^

      Delete
    2. sebenarnya balik lagi ke diri kita sendiri dan pasangan kita..kita harus saling menyayangi agar tidak terjadinya perselingkuhan..

      Delete
  2. Timbul pertanyaan, kenapa hubungan intim dua orang (pacaran/nikah) gak dipandang sebagai affair aja? Toh, akhirnya hubungan ini juga bakal berakhir. Menurutku malah aman seperti ini, sama-sama sadar bahwa hubungan yang dijalanin sekarang ini cuma affair aja karena kemungkinan untuk selalu berubah setiap waktu adalah sebuah keniscayaan, bisa perasaan yang berubah atau yang lainnya. Eh, coba dibahas jurnal tandingannya dong. :)

    Pernikahan adalah affair yang terlegitimasi. Itu.. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, beda dong. Affair itu kan perselingkuhan, yaitu hubungan dimana seorang pria/wanita yang memiliki hubungan dengan orang lain tanpa persetujuan/kesepakatan dari pasangan resminya (orang yang berkomitmen dengan dirinya). Itu definisi asal-asalanku sih. Tapi, intinya ya begitu. Pastinya kan ketika 2 orang memutuskan untuk berkomitmen menjalani hubungan ya ada kesepakatan2 yang mengikuti dan mengikat, termasuk jangan selingkuh dengan orang lain. Kecuali, mereka sepakat untuk berada di dalam sebuah hubungan polyamorous union atau open relationship/marriage itu lain perkara. Kalau mereka sepakat begitu baru bebas deh mereka mau berhubungan sama siapa saja.

      Dan, no, pernikahan bukan affair yang terlegitimasi. Sekali lagi beda ya affair dengan monogamous relationship.

      Btw, Nu, kamu isi url website jangan ke google dong. Masuk ke spam komentarmu itu.

      Delete
  3. Oke Kim, terima kasih atas pesannya.

    Mmm... jujur, kalau kelak aku punya istri, dan ternyata dia lebih mencintai orang lain daripada aku sendiri (walaupun mereka tidak sampai berhubungan secara seksual), rasanya aku nggak sanggup untuk menjalani pernikahan itu.... Aku jadi nggak percaya diri, sebab ternyata orang lain yg lebih bisa membuatnya merasa "lengkap", bukan aku. Tidaaaaaaaaaaak.... *terjaga dari mimpi buruk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehm... Kamu gak mau untuk berjuang dulu untuk merebut kembali perasaannya agar utuh mencintaimu? *dilanjutin*

      Delete
    2. asyik,..semangat utk memperjuangkan perasaan yg dicintai :)

      Delete
  4. wahhh ini tulisan yang menarik sekali. aku sampai speechless abis baca, ga bisa komentar apa-apa dulu yaaa, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Jarang-jarang kan bisa bikin Mbak Nay speechless. :D

      Delete
    2. iya, nih bingung mau komen apaan.. #peace

      Delete
  5. Ternyata bermain2 dengan perasaan itu dah selingkuh yaaa :-0
    Btw gw ngakak liat foto anak kecil ber 3 itu, sungguh terlalu. Masih kecil2 dah mengerti berexpresi sakit hati dan cemburu hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Iya, gambarnya lucu banget ya... Ekspresif banget tuh anak kecil. :r

      Delete
  6. Aku mau ngomentarin bagian ini, Kim.

    Sementara wanita yang diselingkuhi pasangannya bakal bilang, "Ya terserah kamu mau tidur sama perempuan manapun juga asalkan kamu tetap pulang ke rumah dan ngasih duit gaji kamu untuk aku."

    Yang aku tangkep dari statement itu adalah "kamu mau berhubungan sama cewe manapun, mau sayang-sayangan sama cewe manapun aku nggak peduli. yang penting kamu pulang ke rumah dan tetap menjalankan kewajiban untuk menafkahi keluarga."

    Beda nggak sih sama "kamu mau berhubungan cewe mana aja aku nggak peduli. Yang penting hati kamu sepenuhnya buat aku. Cintanya kamu cuma buat aku."?

    Karena aku nangkepnya yang dimaksudkan dengan selingkuh hati itu ketika seseorang memiliki perasaan yang lebih besar pada orang lain (yang bukan pasangan legalnya) sementara selingkuh seksual itu ketika seseorang melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan legalnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya begini. Cewek akan merasa lebih mentolerir pasangannya jika pasangannya selingkuh seksual ketimbang selingkuh perasaan. Yang dimaksud dengan selingkuh seksual ya... terserah mau tidur sama siapa saja asal jangan pakai perasaan. Kalau sekadar tidur sama cewek lain, toh nanti cowoknya bakal balik lagi ke rumah kan dan tetap melanjutkan investasinya. Nah, yang ditakutkan cewek adalah ketika pasangannya selingkuh itu sudah melibatkan perasaan. Bukan cuma selingkuh seksual saja jadinya, tapi juga sudah lebih perhatian dan lebih sayang sama si partner selingkuhan. Bisa jadi nanti lama-kelamaan si cowok bakal ninggalin pasangan resminya demi cewek lain karena sudah bermain dengan perasaan. Kalau sudah begini si cewek bakal insecure karena sudah kehilangan investasi dari cowoknya selama ini seperti yang sudah kutulis di atas.

      Delete
    2. Jawaban yang sangat bijak dan tepat.... ^^

      Delete
  7. hmmm...sempet sih dulu sebelum nikah ada ketakutan kehilangan atau diselingkuhin, tapi setelah dijalanin yah fine2 ajaaaa...hehehe..saling percaya aja dengan pasangan. Just do my best to keep the relationship :) good article mb, thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbak Intan. Semoga Mbak Intan selalu berbahagia bersama suami ya. :)

      Delete
  8. Replies
    1. Oh ya? Enaknya gimana, Mas? Bisa dijelaskan lebih lanjut?

      Delete
  9. Menurutku malah aman seperti ini, sama-sama sadar bahwa hubungan yang dijalanin sekarang ini cuma affair aja karena kemungkinan untuk selalu berubah setiap waktu adalah sebuah keniscayaan, bisa perasaan yang berubah atau yang lainnya

    ReplyDelete
  10. kalo menurtku sih memang lebih menyakitkan selingkuh perasaan dari pada selingkuh seksual... soalnya kalo sudah masalah selihku seksual sih aku udah gak mau tau :D hehe

    ReplyDelete
  11. Yang namanya selingkuh itu adalah sebuah penyakit jadi perlu untuk diberatas.... menyakitkan banyak pihak nantinya

    ReplyDelete
  12. dua-duanya menyakitkan :(
    apalagi selingkuh perasaan... seperti musuh dalam selimut :3
    thanks infonya kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin maksudnya selimut tentangga... hahahah gitu ya mbak Woobwl

      Delete
  13. waah... kalo udah selungkuh sexual mah udah bahaya itu kak ._.

    ReplyDelete
  14. Nice post .. Yang namanya selingkuh itu adalah sebuah penyakit yang harus dijahui..

    ReplyDelete
  15. Btw gw ngakak liat foto anak kecil ber 3 itu, sungguh terlalu. Masih kecil2 dah mengerti berexpresi sakit hati dan cemburu hahahahaha

    ReplyDelete
  16. sakit rasanay kl di selingkuhin mesti g sampai berhubungan sex, tapi perhatiannya kan ke bagi, padahal sebagai istri malah kurang, nyesek rasanya.di bilang selingkuh juga g mau. oh...pintar banget para lelaki itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga semua lelaki gitu mbak :( dan juga ga semua cewek gitu juga.. huhu

      Delete
  17. hmmm...sempet sih dulu sebelum nikah ada ketakutan kehilangan atau diselingkuhin, tapi setelah dijalanin yah fine2 ajaaaa...hehehe..saling percaya aja dengan pasangan. Just do my best to keep the relationship :) good article mb, thanks

    ReplyDelete
  18. Min.. ini sekedar bagi pengalaman aja sih.. sebagai cewek, di selingkuhi perasaan dan seksual itu rasanya hancur min...dan itu membuat insecure akut plus rasa percaya ke pasangan jadi rusak..

    ReplyDelete
  19. Sebagai manusia normal, menerima kenyataan bahwa pasangannya selingkuh merupakan hal yang sulit, walaupun hasil penelitian diatas menyatakan fifty-fifty antara selingkuh hati dengan selingkuh rasa. Coba posisikan diri kita seperti salah satunya, apakah kita sanggup atau tidak untuk menerima kenyataannya. Menurut pendapat saya (pribadi), better divorce than cheating, but a good relationship is the best. Tidak harus romantis, tetapi saling memahami dan bekerjasama dalam membina rumah tangga. Terkadang perselingkuhan berawal dari adanya tuntutan yang berlebihan dari salah satu pihak ataupun dari keduanya sehingga menyebabkan percekcokan dalam rumah tangga, dan beberapa org menemukan kedamaian/ kecocokan dari orang lain. Saya rasa di Indonesia ini jarang sekali ditemukan laki-laki selingkuh hanya dalam hal seksual saja, pada umumnya diawali dari hati. Kalaupun mereka memang melakukan hubungan seksual, biasanya hanya karena mencari sensasi baru atau karena istrinya kurang hangat/ kurang handal dalam urusan ini (terlalu dingin/ pasif). Sedangkan wanita, kebanyakan akan memberikan segalanya pada sang pujangga (selingkuhan) apabila sudah tersentuh di hatinya. Ntah itu karena problematika rumah tangga, ataupun karena ada penggoda yg memanfaatkan situasi (rekan kerja, partner bisnis, kolega, dll). Whatever, that's not good and should be avoided. Bagi yang belum menikah, jgn sampai hal-hal seperti ini membuat anda memilih untuk menjadi perjaka/ perawan ting-ting sampai akhir hayat, nggak baik juga.. (^.^). Saling percaya adalah modal awal untuk menjalani hubungan pernikahan. Nikmati susah-senangnya bersama pasangan. Mudah-mudahan kebahagiaan akan menanti disepanjang perjalanan, dan terutama nanti disaat semua cerita indah itu menjadi sebuah kumpulan kisah bahagia bagi kita dan anak cucu.. (indahnya hidup)

    Note :
    I'm not a registered member/ blogger, i'm sorry for the inconvenience. Just like your post, inspiring me to write but not well scripted

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;