Saturday, February 21, 2015

Puasa Belanja Buku

Buku Lenin, Stalin, dan Hitler karya Robert Gellately, yang saya ceritakan sekilas di sini, sudah selesai saya baca. Sekarang saya sedang membaca Nagabumi I dari Seno Gumira Ajidarma. 


gambar dari Goodreads


Buku ini saya beli di bazar Gramedia bulan lalu. Harganya hanya Rp 40ribu. Beruntung saya juga menemukan Nagabumi II di bazar kemarin. Rasanya seperti menemukan harta karun melihat buku bagus dijual murah. Tidak cuma dua buku itu saja yang saya beli, tapi masih ada sebelas buku lainnya. Total tiga belas buku yang saya beli saya harus merogoh kocek Rp 340ribu. 


hasil khilaf di bazar


Saya mau cerita sedikit tentang tokoh utama dalam cerita Nagabumi. Saya tidak bisa cerita banyak karena bukunya saja baru saya baca sampai halaman 187. :P

Tokoh utamanya adalah seorang pendekar tua berusia 100 tahun. Meski usianya sudah 100 tahun, tetapi ilmu silatnya masih mumpuni. Dia pernah membantai seratus pendekar dalam semalam. Dia belum pernah terkalahkan. Meski kesaktiannya sudah terdengar seantero jagad, tidak ada yang tahu siapa namanya. Dirinya sendiri pun tidak mengetahui namanya. Dia hanya dikenal sebagai Pendekar Tanpa Nama.

Dua puluh lima tahun terakhir dia habiskan dengan mengasingkan diri dari dunia luar, dari manusia. Dia menyadari di usianya yang sudah sepuh ajal tentu semakin mendekat. Dia sudah tidak tertarik lagi dengan hingar bingar dunia persilatan. Baginya sudah tidak penting lagi mengikuti ambisi untuk menjadi pendekar terkuat. Karena itulah dia menyingkir dari dunia persilatan. Dia lebih memilih untuk masuk ke alam rimba dan samadhi.

Namun, di tengah pengasingannya rupanya masih ada yang mengusiknya. Masih ada orang-orang yang berusaha membunuhnya. Ternyata Negara menawarkan hadiah besar bagi yang bisa membunuh Pendekar Tanpa Nama. Penasaran dengan apa yang terjadi selama 25 tahun terakhir, dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pengasingan dan kembali melebur ke dalam masyarakat.

Hal yang saya sukai dari Pendekar Tanpa Nama ini selain dia memang pendekar tangguh, dia juga bijak. Usia memang tidak dapat dibohongi. Semakin usia seseorang bertambah, maka semakin bertambah pula kebijakannya. Pendekar Tanpa Nama sudah banyak makan asam garam kehidupan. Pengalamannya malang melintang di dunia persilatan memberikannya banyak nilai kehidupan.

Rupanya bijaknya Pendekar Tanpa Nama tidak hanya dipupuk oleh usia dan pengalaman. Dia bersyukur dirinya dididik dan dibesarkan dengan baik oleh orangtua angkatnya, Sepasang Naga dari Celah Kledung. Sejak kecil dia ditanamkan nilai-nilai kebajikan. Dia juga diajarkan membaca dan menulis. Hal ini disyukuri betul oleh Pendekar Tanpa Nama. Dia mengakui dengan kemampuan membacanya membantunya membaca jurus-jurus lawan-lawannya. Karena terbiasa membaca kitab-kitab silat dia jadi mengerti makna jurus silat. Dia jadi terbiasa berpikir dan memahami bagaimana sebuah jurus terbentuk. Setelah memahami, barulah dia bisa menemukan cara untuk mengalahkan jurus tersebut.

Pendekar Tanpa Nama yang punya hobi membaca ini menarik bagi saya. Dia sudah hobi membaca sejak kecil, seperti saya. Peran orangtua memang besar bagi kehidupan seorang anak, termasuk hobi. Saya ingat dulu sewaktu saya masih TK saya dirawat di rumah sakit karena sakit tifus. Di saat saya sedang terbaring, ayah saya membacakan saya cerita-cerita yang ada di majalah Bobo. Ayah saya memang rajin membelikan saya majalah Bobo setiap minggu yang kemudian berganti dengan Kawanku, Gadis, dan Tabloid Fantasi. Sesekali saya juga membaca koran atau majalah yang ayah saya langgan.

Anehnya, ayah saya jarang membelikan saya buku. Padahal beliau tahu saya suka buku. Dari kelima anaknya hanya saya yang mewarisi hobi membacanya. Seharusnya ayah saya senang dong ya saya suka membaca? Kalau senang, seharusnya beliau rajin membelikan saya buku dong ya? Hahaha... Itu sih maunya saya. Well, to be fair, ayah saya sendiri jarang beli buku. Beliau hanya membeli buku-buku yang diperlukan saja, yang kebanyakan buku-buku tentang ekonomi keuangan dan perbankan untuk menunjang pekerjaannya. Tidak seperti saya yang merasa saya perlu SEMUA buku sehingga saya merasa saya perlu membeli SEMUA buku. Saat sedang tidak punya uang saja saya bisa nekat menghabiskan uang 300 - 400ribu untuk beli buku dengan justifikasi "Aku memang sedang butuh buku-buku ini", "Ah, mumpung sedang diskon/bazar", atau "Nanti aku tidak akan beli buku lagi selama tiga bulan ke depan". :r Pernah saya menghabiskan uang SGD 135.88--dalam sekali pembelian--demi membeli tujuh buku berikut ini: 




Saya ingat buku pertama yang saya beli sendiri: Harry Potter dan Kamar Rahasia. Saya beli buku itu sewaktu saya masih SMP. Sampai sekarang saya masih semangat beli buku. Soalnya saya punya angan-angan ingin punya perpustakaan pribadi. Terakhir saya beli buku di bazar Gramedia bulan Januari lalu, tepatnya tanggal 19 Januari. Padahal saya sadar kok saya sudah tidak punya tempat lagi untuk menaruh buku-buku baru yang akan saya beli. Lemari saya sudah tidak muat lagi untuk ditambah muatan baru. Hanya saja saya pikir mumpung sedang bazar dan bukunya bagus-bagus, saya beli sajalah. Pertanyaan "Lemari tidak muat dan buku-buku ini mau ditaruh di mana?" itu nanti saja dipikirkan. Dan hasilnya sekarang saya pusing sendiri. >.<

Jadi, untuk sampai waktu yang tidak ditentukan saya harus puasa dulu belanja buku. Aku sedih... :c Nanti deh saya beli buku lagi kalau sudah punya lemari baru. Saya sih ingin punya lemari yang seperti ini:



atau:


atau:


sumber gambar saya lupa dari website mana saja. mohon maaf.


Akhirul kalam, kalau ada yang bilang you are what you read itu betul. Jadi, banyak-banyaklah membaca biar pintar. Atau kalau alasannya supaya bijak dan jago silat seperti Pendekar Tanpa Nama juga tidak apa-apa. Yang terpenting membaca terus setiap hari ya. Semangat! \m/ 


16 comments:

  1. Buseeeettt bener bener shopaholic kalo soal buku.. tapi sama sih, aku juga gitu.. bedanya gak se-royal ini haha

    ReplyDelete
  2. > Blind Watchmaker
    > Cosmos
    > Dragons of Eden

    Haha, buku tipikal science geek. :D

    BTW, sedikit catatan tentang Sagan. Saya suka dengan beliau, dan ybs berperan besar menginspirasi saya, tapi... uraian beliau tentang sejarah ilmu kurang hati-hati. Banyak nuansa yang meleset. Seolah jelas pertarungan "cahaya sains" vs. "kegelapan dogma", padahal tidak juga.

    Kalo ketemu buku [coret]atau donlotan ebook[/coret], sebaiknya ambil, salah satunya: "The Beginnings of Western Science" karya David C. Lindberg. Buku populer yang sangat bagus. :)

    ReplyDelete
  3. Kalo dah baca dan tempatnya gak ada, coba colek aku buat jual buku secondmu...hehhehehe...buku2nya keren keren euy

    ReplyDelete
  4. aku jd penasaran sama nagabumi itu D:

    dan
    puasa beli buku?

    nggak percaya!
    :D/

    ReplyDelete
  5. Sama iss.. Aku jugak mikirnya sukak gitu, Mbak. Yang puasa beli buku lah pas belanja buku sekian rupiah.. :(

    ReplyDelete
  6. Hahaha.. saya pecinta buku. Mata saya minus 7.5 dan bahkan gara-gara sering baca buku sudah berkacamata sejak kelas 4 SD.

    Hanya satu yang membuat saya berhenti membeli buku , hingga sekarang alias saya sudah puasa beli buku selama 12 tahun, yaitu sejak punya si kribo kecil. Lebih baik beli susu daripada beli buku.

    Sekarang saya masih tetap puasa beli buku tapi justru mendorong si kribo kecil untuk membeli buku.

    Membaca tulisan di atas membuat saya teringat berburu buku sampai ke pasar Senen dan menghasilkan buku-buku murah keluaran tahun 1900 yang sampai sekarang masih tersimpan.

    Makasih buat sharingnya .. selamat berpuasa membeli buku yah

    ReplyDelete
  7. Mendingan jangan baca Nagabumi, Kim. Gue udah baca dua-duanya. Ceritanya masih bersambung, tapi kayaknya gak dilanjutin ama GPU, mungkin karena penjualannya kurang bagus. Gue beli waktu harganya masih 150 apa 200 ribu gitu. Kecewa juga sih gak ada lanjutannya....

    Kalo gue malah kebalikannya lo. Orangtua gue gak ada yang demen baca, tapi gue dibeliin buku terus hehe

    ReplyDelete
  8. Besok kalo punya rumah sendiri, hal yang mau siapkan pertama kali adalah ruang perpustakaan pribadi, hehe....

    ReplyDelete
  9. Bukunya keren-keren Kim. Klo bingung naro dimana, jual ke aku aja deh ;p

    ReplyDelete
  10. Sedih juga yang kalau puasa belanja buku gara2 koleksi bukunya udah segunung hahaha

    ReplyDelete
  11. Wah banyak banget stok nya mba Kim. Kalo saya jarang banget kl beli buku bacanya langsung tuntas. Malah keseringan ga tuntas-tuntas hehe..

    Eh iya, ngomong-ngmong blog nya mba sekarang kok berat loadingnya ya? Apa laptop saya yang salah atau gimana? :)

    ReplyDelete
  12. aku dong, kuat banget puasa membaca buku :|

    ReplyDelete
  13. alhamdulillah (kadang) aku masih bisa ngontrol diri buat beli buku, Kim, karena duit lagi cekak. haha.
    prinsipku, gak beli buku baru sebelum buku lama selesai dibaca.

    ReplyDelete
  14. ohh ternyata bukan hanya puasa menahan lapar dan hawa napsu, tapi ada juga puasa belanja buku ya kak? hehehe
    tempat buku di gambar pertama keren tuh kakak :)

    ReplyDelete
  15. inspiratif ... kadang tuh kalau pengen beli buku tapi tidak punya duit sampai bikin air liur menetes ...

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;