Friday, November 20, 2015

Si Apophis

Sebelum maghrib tadi saya melanjutkan bacaan saya. Buku yang saya baca judulnya Space Chronicles: Facing the Ultimate Frontier yang ditulis Om Neil deGrasse Tyson. Buku ini isinya kumpulan tulisan beliau yang berserakan dimana-mana selama lima belas tahun (buku ini diterbitkan tahun 2012).

Saya baru sampai di bab “Killer Asteroids”, dan sejauh ini saya sangat menikmati membaca Space Chronicles. Tulisan Om Neil sangat mudah dipahami oleh orang awam seperti saya. Mungkin juga karena beliau menyasar pada orang awam sehingga beliau menulis dalam bahasa yang sederhana. Lagian buat apa toh menulis dengan jargon dan bahasa rumit kalau pembaca tidak mengerti satu kata pun? Bisa buat gaya dan sombong-sombongan kok. Halah.

Anyway, kelar baca bab “Killer Asteroids” saya langsung menutup ebook reader saya dan segera ambil wudhu. Selain karena memang azan Maghrib sudah berkumandang, saya juga mendadak ngeri kalau-kalau asteroid menghantam Bumi di saat nanti saya sedang asyik makan atau sedang serius nonton D' Academy Asia. Sungguh, membaca bab tersebut membuat saya langsung kepengen taubatan nasuha. Dosa saya banyak banget. Amal saya mana cukup buat menutupi dosa. Astaghfirulloh... Ampuni Kimi, ya Allah.

Dari judul bab tersebut saja seharusnya kalian sudah bisa menebak ya bab tersebut tentang apa. Yup, tentang asteroid. Tulisan kali ini saya mau cerita sedikit dari bab tersebut.

Di awal tulisan Om Neil bilang jumlah orang yang meninggal karena asteroid memang sedikit dalam empat ratus tahun terakhir ketimbang jumlah orang yang meninggal karena kecelakaan pesawat. Itu mah wajar dong. Karena begini:

The difference is that while airplanes are continually killing people a few at a time, that asteroid might not kill anybody for millions of years. But when it does hit, it will take out a billion people: some instantaneously, and the rest in the wake of global climatic upheaval.

Kalau bagian ini sih, saya tidak terlalu takut. Saya sudah bisa memaklumi semuanya ini ada masanya. Jagat raya bergerak dengan aturan tertentu, termasuk asteroid. Pada akhirnya nanti, entah kapan, semuanya akan “berhenti bergerak”. Istilah kerennya mah kiamat. Definisi kiamat apa silakan disesuaikan dengan pemahaman masing-masing ya. 

Kembali ke soal asteroid tadi. Jadi, pertanyaannya sekarang bakal ada asteroid besar yang mengancam mau menabrak Bumi gak? Kalau kata Om Neil sih ada. Setidaknya ada satu ancaman asteroid yang patut kita waspadai. 

On Friday the 13th, April 2029, an asteroid large enough to fill the Rose Bowl as though it were an egg cup will fly so close to earth that it will dip below the altitude of our communication satellites. We did not name this asteroid Bambi. Instead, we named it Apophis, after the Egyptian god of darkness and death. If the trajectory of Apophis at close approach passes within a narrow range of altitudes called the “keyhole”, then the influence of Earth's gravity on its orbit will guarantee that seven years later, in 2036, on its next trip around, the asteroid will hit Earth directly, likely slamming into the Pacific Ocean between California and Hawaii. The five-story tsunami it creates will wipe out the entire west coast of North America, dunk Hawaiian cities, and devastate all the landmasses of the Pacific Rim. If Apophis misses the keyhole in 2029, we will have nothing to worry about in 2036.

Nah, kalau bagian ini, baru deh saya merinding. Doa saya tadi sehabis sholat termasuk memohon ke Allah semoga Apophis ini tidak melewati si keyhole yang dimaksud. Boleh dong berdoa? Doa itu harapan lho. Doa itu bisa bikin manusia jadi optimis. Terus, kalau sudah berdoa, kita harus ngapain? Kalau untuk kita-kita yang butiran debu ini, ya pasrah saja. Serahkan semuanya ke Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian, kita bawa santai saja. Kita bisa makan salmon sashimi di Sushi Tei, minum es kelapa muda di pinggir pantai, atau main Brave Frontier. 

Eh tapi Om Neil memberi solusi kok. Beliau bilang kita bisa proaktif menghadapi ancaman Apophis. Solusinya ada dua. Opsi pertama, bidik Apophis lalu tembak pakai senjata nuklir. Jangan khawatir, nuklir kalau ditembak sampai ke luar angkasa, insyaAllah aman. Setidaknya dengan menembak Apophis bisa memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil jadi bisa meminimalisir risiko lah kalau dia sampai masuk atmosfer Bumi.

Untuk opsi kedua, penjelasan Om Neil begini:

Another method would be to engage a radiation-intensive neutron bomb (that's the Cold War—era bomb that kills people but leaves buildings intact). The bomb's high-energy neutron bath would heat up one side of the asteroid, causing material to spew forth and thus induce the asteroid to recoil. That recoil would alter the asteroid's orbit and remove it from the collision path.

Bingung? Sama dong. Satu hal yang bisa saya  tangkap dari penjelasan Om Neil ini adalah ada jalan keluar untuk menghadapi Apophis (dan asteroid-asteroid lain). Masalahnya cuma kita mau atau tidak. Karena seperti yang Om Neil bilang:

The business of saving the planet requires commitment.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini saya ingin memberi satu saran lagi untuk kalian, sesama butiran debu macam saya. Bagi yang jomblo, segera cari pacar lalu menikah lah. Tahun 2029 itu empat belas tahun lagi lho.

Sekian dan terima kasih. Bye!


2 comments:

  1. menurutku sih, Apophis tak lebih dari pelengkap sistem alam semesta, jalur keberadaannya tak akan mengganggu menu sushimu kok huehue

    dan utk paragraf terakhir...itu cuma soal takdir.. *run2small*

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;