Sunday, March 20, 2016

[Film] Home

Saya ingin bercerita tentang film dokumenter berjudul “Home” yang saya tonton kemarin. Film ini keluaran tahun 2009 dan disutradarai oleh Yann Arthus-Bertrand. Narasi dalam bahasa Inggris dibacakan oleh Glenn Close.




“Home” dibuka dengan cerita proses Bumi terbentuk. Kemudian, dilanjutkan dengan cerita tentang asal mula kehidupan di Bumi. Dari yang awalnya hanya ada makhluk hidup bersel satu sampai muncul Homo Sapiens, nenek moyang manusia modern.


Homo Sapiens muncul kurang lebih 200ribu tahun yang lalu. Awalnya mereka hidup berpindah-pindah, kemudian memutuskan untuk menetap dan bercocok tanam. Menurut saya, penemuan sistem bertani ini termasuk penemuan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia ke depannya. Lewat sistem agriculture ini manusia purba yang tadinya nomaden akhirnya menetap dan membentuk kelompok. Kemudian terus berkembang, berkembang, dan berkembang.

Tadinya hanya bertani dengan alat-alat tradisional, lalu menggunakan alat-alat modern, lalu terjadilah Revolusi Industri, ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang sampai akhirnya kita merasakannya sekarang. Perkembangan iptek sangat memudahkan kehidupan kita, tapi di balik itu ada harga yang harus kita bayar.

Selama 4 milyar tahun Bumi terus “mempersiapkan” dirinya agar dapat dihuni manusia. Bumi memberikan kita kemudahan untuk tinggal di sini dengan menyediakan apa-apa yang kita butuhkan, seperti oksigen, air, hutan, minyak bumi, mineral, dan sumber daya alam lainnya. Tapi, manusia yang begitu serakah telah merusak Bumi dalam waktu singkat.


gambar dari sini


Overpopulasi mengancam kelangsungan hidup manusia. Dengan penduduk Bumi yang sekarang mencapai 7,4 milyar kita harus mulai serius berpikir bagaimana menghadapi dampaknya. Krisis air bersih, pangan, sandang, papan, kesehatan, minyak bumi, belum lagi penggunaan energi yang sangat besar jelas merupakan ancaman nyata bagi keberlangsungan kita. Lubang ozon semakin menganga lebar. Pemanasan global semakin terasa.


gambar dari sini


Belum lagi manusia-manusia serakah yang semakin menambah permasalahan Bumi. Hutan dialihfungsikan menjadi perkebunan. Kayu-kayu dari hutan dirampok. Minyak bumi dan mineral yang terus dikeruk dari Bumi. Semuanya demi keuntungan pribadi tanpa memikirkan dampaknya pada kita, pada hewan, pada tumbuhan, pada alam. Pada Bumi.


gambar dari Pinterest


Sejak dulu saya dengan sengaja selalu menghindari isu ini. Karena bagi saya isu ini sangat mengerikan. Saya memilih untuk tidak mau tahu dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Iya, saya salah. Jangan ditiru ya. Justru kita harus sadar dengan apa yang terjadi di Bumi. Kalau kita sudah sadar, tentu kita akan peduli. Kalau kita sudah peduli, tentu kita akan melakukan apa yang harus dilakukan untuk menjaga Bumi.


gambar dari sini


Setelah nonton “Home” mau tidak mau saya harus menerima kenyataan bahwa Bumi sudah sedemikian rusaknya. Accept the truth, Human. We are facing doomsday. And, what will you do about it?

11 comments:

  1. Bumi itu seperti tempat tidur, sesorang pernah berkata begitu kepada saya.
    Dia tidak memerlukan manusia, tetapi manusialah yang memerlukannya.
    Btw, di mana nontonnya?
    Kalau ada link, bolehlah dibagi, trims :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nontonnya di kelas, Om. Jadi kurang tahu juga linknya. Tapi, seharusnya sih gampang dicari karena film ini kalau tidak salah bebas diakses deh.

      Delete
    2. Ini ya https://www.youtube.com/watch?v=jqxENMKaeCU

      Moga betul :)

      Delete
  2. Kiamat sudah amat dekat. Baik tanda-tanda ghoib dan yang kasat mata sudah terlihat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Galih ngomongin kiamat aku jadi ngeri. Dosaku masih banyak dan belum tobat jeee... :c

      Delete
  3. Siklus alam Kim, bumi akan selalu ada. Begitu hancur, akan tumbuh makhluk hidup baru, berkembang, lalu merusak, hancur, mulai dari nol lagi, demikian seterusnya. Katanya gitu hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Aku punya buku "A World without Us". Intinya ya gitu. Bumi punya caranya sendiri untuk menyembuhkan dirinya, tapi manusia tidak. Manusia tidak bisa hidup tanpa Bumi, sementara Bumi ya asyik saja meski tanpa manusia.

      Delete
  4. Kayaknya gw musti nonton nih! Pemeran film namanya siapa?

    slm kenal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini film dokumenter, Mas. Narasinya dibacakan oleh Glenn Close. :)

      Delete
  5. Yang paling mengesankan dari film ini selain visualisasi yang memang luar biasa indah, adalah sebuah ajakan untuk berhenti terus-terusan membolongi bumi dan mulai menatap langit. Ada sumber energi besar di atas sana.


    Btw, aku kemaren2 share film ini juga di akun ig @rumah_cerita. Ternyata film ini menarik perhatian kita ya, Kim. Padahal nontonnya sambil ngantuk-ngantuk ahahaha...

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;