Sunday, May 15, 2016

Cerita TK Dulu

Dengan semakin banyaknya berita pelecehan seksual, pemerkosaan, dan pembunuhan membuat saya semakin stres dan semakin menghindari berita. Saya jadi semakin jarang nonton televisi, baca koran, dan juga mengurangi frekuensi membuka Twitter. Kepala Hayati jadi sakit, Bang…

Saya dan seorang teman perempuan ngobrol-ngobrol soal ini. Dia cerita dia teringat suatu kejadian sewaktu dia masih kecil banget, kira-kira pas TK lah. Saya sudah minta ijin dengan teman saya itu untuk cerita di sini. Dia mengijinkan. Begini ceritanya:



Aku tiba-tiba jadi ingat sebuah kejadian waktu TK dulu. Entah TK atau kelas 1 SD. Aku masih lugu banget. Kejadian itu sudah lupa sebenarnya. Tapi jadi ingat lagi tadi. Kampungku kan dulu msih terpencil. Sampai sekarang pun kalau mau ke kampungku mesti melewati hutan kecil kosong yang dipugar. Sepi dan tidak ada rumah di situ. Banyak pohon bambu jadi terkesan angker. Ke arah timur lagi juga masih banyak melewati jalan yang masih berupa hutan jati. Di dekat rumahku juga banyak rimbunan pohon, dulu lampu masih sedikit jadi gelap.  
Waktu bulan Ramadhan, anak-anak kecil kayak aku sehabis maghrib pada main di sekitar rumah. Aku bareng sama beberapa teman di jalan dekat rumah, cuma selisih dua rumah jauhnya. Ketika kami sedang main kucing-kucingan, aku lari melewati got gelap yang di situ. Ada seorang cowok gede (masih 17 tahun kayaknya) lagi nongkrong. Ternyata cowok itu kakaknya temanku yang juga sedang main. Aku kenal dia. Dia memanggilku. Dia menyuruh teman-temanku lari menjauh. Waktu itu aku tanya ada apa, dia bilang ada yang mau dia katakan. Jadi dia minta aku duduk di dekat dia. Aku duduk agak jauh. Dia minta aku duduk dekat dengannya biar yang lain tidak ada yang mendengar. Dasar akunya masih lugu banget, aku malah mendekat. Dia duduk dekat banget. Katanya mau membisikkan sesuatu. Ternyata dia mencium pipiku. Untunglah instingku jalan walau masih kecil. Aku marah, kesal, jijik. Aku membenci laki-laki itu seumur hidupku. 
Aku lari. Dia hendak merayu dan bilang nanti aku bakal dikasih hadiah, blablabla… Tapi, aku terus berlari pulang dan menangis. Aku mengadu ke orangtua tapi malu banget mengatakannya. Akhirnya aku cuma menunjuk-nunjuk pipi. Orangtua dan kakak perempuanku sampai harus menebak-nebak apa yang terjadi.  
Sejak itu aku sadar sekarang bahwa aku jadi pemurung, pendiam, dan takut sama lelaki. Bahkan aku sempat phobia bepergian sendiri kalau ada laki-laki lho. Siang-siang pun kalau mau ke warung dan ada laki-laki nongkrong aku harus ditemani Bapak. Aku yakin sekarang kalau karakterku yang takut laki-laki berasal dari kejadian itu. Mungkin juga berpengaruh sampai akhirnya tidak pernah punya pacar. Dulu aku takut banget sama laki-laki. Sampai sekarang pun sebenarnya aku sering curiga sama laki-laki kalau aku sedang berada di luar. 

Cerita teman saya itu membuat saya jadi teringat dengan kejadian yang pernah saya alami. Kejadiannya mirip dengan kejadian teman saya itu.

Kejadiannya juga sewaktu saya masih kecil. Pas saya masih TK juga sepertinya. Waktu itu ada saudara dari luar kota yang menginap di rumah. Saudara ini masih bisa dibilang sebagai paman karena hubungannya masih sepupu Papa.

Kejadian ini terjadi di ruang tengah rumah saya. Saya sedang duduk nonton televisi. Saudara ini juga sedang duduk. Jarak kami berjauhan. Tiba-tiba saudara ini menyuruh saya untuk duduk lebih dekat karena ada yang ingin disampaikan. Saya pun duduk mendekat. Katanya masih kurang dekat. Saya nurut dan duduk lebih dekat lagi. Kami sekarang duduk berdampingan. Langsung saja dia mencium pipi saya. Saya kaget. Bingung. Ini orang kok kayaknya mengerjai saya banget ya? Menyuruh saya duduk dekat-dekat, katanya mau bilang sesuatu, eh tidak tahunya malah dicium. Saya lupa ada Mama saya atau tidak saat itu. Tapi, saya langsung pergi.

Sepertinya waktu itu saya ingin menangis. Entahlah. Saya sudah lupa. Kejadian ini kan sudah lama sekali. Hanya saja tiba-tiba sering teringat tanpa ada pemicu. Dulu saya kira ini biasa saja. Saya pikir wajar dong seorang paman mencium keponakannya. Itu kan menandakan sayang. Iya kan? Serius, saya dulu berpikir begitu. Meski sebenarnya jauh di dalam hati saya merasa ini ada yang salah.

Saya belum pernah cerita kejadian ini sama siapapun sebelumnya. Orang pertama yang saya ceritakan ya teman saya itu. Sekarang saya cerita ke kalian.

Saya cerita ke teman saya karena saya bertanya-tanya kok ada respon yang berbeda atas kejadian yang mirip ini. Kalau teman saya langsung marah, kesal, jijik, dan menangis sambil berlari pulang mengadu ke orangtuanya, sementara saya hanya kaget dan bingung. Bahkan sesudahnya malah berpikir hal itu wajar. Setelah dua puluh tahun lebih baru saya ceritakan kejadian tersebut ke orang lain. Itupun ke teman, bukan keluarga.

Apa saya sedang denial? Mungkin saja.

Pesan moral dari cerita ini adalah anak-anak memang rapuh. Mudah diperdaya. Pengalaman saya dan teman saya menambah bukti hal tersebut. Ah ya, betul ternyata… Punya anak itu memang tidak mudah. Tanggung jawabnya besar sekali untuk merawat dan melindungi.



1 comment:

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;