Thursday, November 17, 2016

Cara Saya Mengatur Keuangan

Setelah membaca tulisan Mbak Vicky di sini, saya jadi ingin ikut-ikutan cerita cara saya mengatur keuangan.

Jadi begini... 

Jujur saya akui saya ini orangnya boros. Jaman sekolah dulu saya tidak tahu sama sekali mengenai perencanaan keuangan. Saya tahunya setiap hari dapat uang jajan dari ayah saya, ya saya habiskan. Jarang sekali terbersit pikiran untuk menabung entah itu dalam bentuk menabung di celengan atau menabung di bank.

Bukan berarti saya dulu tidak pernah menabung. Pernah kok. Waktu SD dulu saya rajin beli celengan. Tiap hari saya masukkan uang sisa jajan ke dalam celengan saya itu, tapi ya rajin juga saya bongkar. Sama halnya begitu saya sudah mengenal tabungan di bank. Saya rajin buka tabungan di bank, tapi ya rajin juga menarik uangnya. Tahu-tahu rekeningnya tertutup otomatis karena saldo sudah di bawah saldo minimal.


gambar dari sini

Saya dulu kacau sekali dalam perencanaan keuangan. Soalnya terbiasa hidup enak. Dulu saya tidak tahu konsep berhemat dan rajin menabung untuk membeli barang incaran. Butuh apa-apa tinggal minta sama ayah saya. Di satu sisi saya selalu bersyukur terlahir di keluarga berkecukupan. Di sisi lain saya merasa malu juga punya sifat boros. Orangtua saya selalu mengingatkan saya untuk selalu menabung. "Nabung, Nak. Jangan boros," begitu nasihat mereka.

Titik baliknya sewaktu saya masih kuliah, tepatnya di tahun terakhir perkuliahan. Entah bagaimana ceritanya waktu itu saya tertarik membaca tentang perencanaan keuangan. Saya banyak baca artikel online dan blog dengan topik tersebut. Dari semuanya saya menyimpulkan dalam perencanaan keuangan itu yang penting membuat anggaran keuangan, menabung, dan berinvestasi.

Pelan-pelan saya terapkan. Alhamdulillah bisa. Saya belajar untuk berhemat. Saya juga rajin mencatat pengeluaran. Saya bisa menabung lumayan banyak dari uang bulanan yang dikirim ayah saya. Minat untuk belanja berkurang drastis. Frekuensi makan di kafe atau restoran mahal juga dikurangi. Lulus kuliah dan pulang ke kampung halaman saya membawa uang lumayan banyak.

Investasi pertama saya lakukan begitu saya mendapat pekerjaan pertama saya. Saya pilih reksa dana saham karena saya tidak mau ribet. Buka tabungan di bank dan minta CS-nya untuk autodebet rekening saya tiap bulannya untuk reksa dana. Saya juga buka deposito. 

Sekarang perilaku keuangan saya banyak berubah. Sekarang saya semakin boros. Saya tahu ini tidak dapat dibiarkan. Terus-terusan boros hanya akan membawa saya ke jurang kehancuran finansial. Saya tidak mau begitu pensiun nanti saya hanya mengandalkan uang pensiun dan bergantung dengan anak.

Jadi berikut cara saya mengatur keuangan saya:

1. Menabung


gambar dari sini


Ini wajib hukumnya. Tiap bulan setelah gajian saya langsung mentransfer sejumlah uang ke tabungan saya. Saya punya tabungan dana darurat dan tabungan khusus belanja. 

Iya, saya punya tabungan khusus belanja. Biar bagaimanapun saya tidak bisa mengkhianati kodrat wanita yang hobi belanja. Saya sekarang tergila-gila dengan skincare dan sedikit-sedikit tertarik dengan make up. Saya juga ingin punya baju modis. Saya ingin pakai sepatu atau sandal yang keren kalau nonton di bioskop atau nongkrong di kafe. Tentu saja saya juga harus tetap rajin membaca buku untuk membuat saya tetap waras. Semuanya itu butuh uang. Namun, bukan berarti nafsu harus dituruti mentah-mentah. Makanya saya bikin tabungan khusus belanja ini. Kalau ada uangnya di tabungan ini, baru deh saya belanja. Kalau tidak ada, itu berarti saya harus menabung dulu.

Kalau untuk tabungan dana darurat teman-teman semua pasti sudah tahu ya. Tidak perlu dijelaskan lebih dalam. Intinya tabungan ini dipakai kalau memang betul-betul dalam keadaan terdesak, misalnya tahu-tahu dipecat atau proyek kerjaan lagi kosong. Nah, dana darurat ini fungsinya untuk membiayai hidup kita sampai nanti kita dapat pekerjaan lagi.

2. Investasi

Saat ini saya berinvestasi dalam bentuk deposito, reksa dana saham, dan emas. Nominalnya masih sedikit semua, tapi tidak apa-apa. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Di sini konsistensi adalah kunci. Tiap bulan tabungan saya dipotong otomatis untuk reksa dana saham. Tiap bulan juga saya usahakan untuk menabung emas. Kalau ada uang tunai cukup, saya langsung belikan emas batangan. Kalau ada rejeki lebih, bisa untuk menambah nominal deposito. 

3. Asuransi


gambar dari sini


Apalah artinya kalau sudah rajin menabung dan berinvestasi, tapi tidak punya asuransi? Dalam perencanaan keuangan asuransi ini sangat penting. Asuransi dapat menolong kita jika sewaktu-waktu kita tertimpa musibah. Namanya juga hidup, tidak melulu yang bagus-bagus saja. Toh, kita juga harus sedia payung sebelum hujan karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Pengalaman ayah saya yang sakit kanker selama empat tahun merupakan pelajaran yang sangat berarti buat saya. Siapa yang menduga ayah saya bisa terkena kanker usus lalu menyebar ke hati dan paru-parunya? Tidak ada. Kami semua selalu beranggapan ayah saya sehat. Kemudian, kakak saya yang nomor 1 dan nomor 4. Mereka berdua sakit parah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengalaman ini semua mengajarkan pada saya betapa pentingnya asuransi kesehatan. 

Memang untuk saat ini asuransi saya hanya dari asuransi sosial yang diwajibkan Pemerintah. Namun, sesungguhnya sejak dahulu kala saya ingin beli polis asuransi kesehatan sendiri. Saya rasa jika mampu tidak ada salahnya membeli asuransi kesehatan lagi.

4. Zakat dan Sedekah

Saya ingin jujur lagi. Bertahun-tahun saya belajar perencanaan keuangan saya baru menerapkan zakat di tahun ini. Sungguh saya malu dan ini jangan ditiru. 

Sewaktu saya kerja di bank dulu gaji saya langsung dipotong 2.5% untuk zakat oleh bank karena saya tidak mau pusing. Di tempat kerja sekarang tidak ada fasilitas untuk meminta gaji langsung dipotong zakat. Sempat terlena dan tahu-tahu lebaran Idul Fitri kemarin ibu saya mengingatkan saya untuk bayar zakat. Saya kalang kabut. Berapa ini zakat penghasilan yang harus saya bayarkan? Jadinya saya pukul rata saja gaji saya selama satu tahun terakhir kemarin saya kalikan 2.5%. 

Saya tidak mau kejadian tersebut terulang. Jadinya saya langsung buka rekening khusus zakat untuk menampung uang zakat yang harus saya bayarkan nantinya. Tiap bulan setelah menerima gaji tidak lupa saya transfer sejumlah uang ke rekening ini. Saya juga punya buku catatan untuk mencatat semua gaji, honor, dan rejeki tidak terduga lainnya yang saya terima. Gunanya tentu saja untuk menghitung besaran zakat yang harus saya keluarkan. 

Zakat ini baru saya bayarkan mendekati Hari Raya Idul Fitri. Teman saya pernah bilang setiap kali terima uang sebaiknya zakat langsung dikeluarkan saat itu juga. Hanya saja saya pikir biar lebih banyak nominalnya dan terasa lebih besar, saya bayar setahun sekali saja. Saya juga bayar zakatnya ke lembaga zakat, jadi biar langsung sekali transfer saja begitu. 

Bagi saya zakat ini sangat penting. Dari harta saya ada hak orang lain, yaitu mustahik. Sombong saya jadi manusia kalau tidak mau membayar zakat. Zakat juga merupakan wujud syukur saya kepada Allah yang telah memberikan saya rejeki. 

Perihal zakat ini saya mendapat contoh langsung dari ayah saya. Semasa hidupnya beliau tidak pernah lupa membayar zakat. Beliau juga tidak jatuh miskin karena rajin bersedekah. Malah rejekinya selalu mengalir dari segala macam penjuru. Hidup beliau juga penuh berkah. Itu yang ingin saya tiru. InsyaAllah.

5. Membuat Anggaran dan Mencatat Pengeluaran

Membuat anggaran ini gampang, tapi susah untuk dipatuhi. Butuh komitmen kuat untuk mengikuti anggaran yang sudah dibuat. Dalam membuat anggaran ini saya tidak mau ribet. Komponen anggaran saya cuma zakat, tabungan dan investasi, belanja atau gaya hidup (skincare, baju, make up, nonton, dll), dan biaya hidup selama sebulan. Kalau ada yang tanya besarannya masing-masing berapa persen dari gaji, ya pokoknya sepandai-pandainya saya mengatur saja lah. Yang penting cukup.

Saya juga rajin mencatat pengeluaran. Saya mencatat di aplikasi Money Lover di ponsel pintar saya. Mencatat pengeluaran ini sangat penting biar saya tahu uang saya larinya ke mana saja. Juga untuk menjadi pengingat dan rem kalau-kalau saya sudah kebablasan mengeluarkan uang di kategori belanja/gaya hidup.

Demikianlah cara saya mengatur keuangan saya untuk saat ini. Mudah-mudahan saya tetap istiqomah dalam menjalankannya. Ini semua demi kebebasan finansial di masa yang akan datang. Amin!

19 comments:

  1. Dari semua rencana keuanganmu, yg nomor 4 paling bikin aku kagum. Aku yakin rejekimu ga bakal putus2 sampai akhir hayatmu & ga aneh kalo segala impianmu bakal terwujud. Keren kim, aku fansmu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku yakin rejekimu ga bakal putus2 sampai akhir hayatmu & ga aneh kalo segala impianmu bakal terwujud.

      AMIN!

      Keren kim, aku fansmu!

      Ah, Om ah... Aku jadi malu. Yang ada aku yang ngefans sama Om. :D

      Delete
  2. Semoga sukses dengan rencana keuanganmu.

    Yang mana pun, istiqomah itu yg utama. :D

    ReplyDelete
  3. Jadi untuk perihal zakat penghasilan itu, bisa langsung potong lewat bank,coba cari bank yang support untuk itu , jadi tiap gaji masuk dia langsung potong sesuai ketentuan zakat dan disalurkan ke lembaga zakat. Dulu aku begitu, trus bank yang aku pakai lama-lama mau bankrut, jadi pindah. hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malas pindah bank untuk gaji. Enak di bank yang sekarang bebas biaya apapun.

      Delete
  4. Hahahah..

    Perlu banget memang punya tabungan terpisah, jadi lebih terkontrol. Asal yaa mesti kuat iman juga buat nggak nyentuh tabungan lain, bisa abis semua nanti xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, iman yang kuat diperlukan di sini agar tidak tergoda. =))

      Delete
  5. boleh neh di coba,.. gajian besok langsung bagi ke rekening yang satunya, sebelum habis buat shoping2. :D

    ReplyDelete
  6. Aku punya reksa dana dan emas. Belum kepikiran reksa dana saham. Hahahaha.
    Zakat juga tiap dapet rejeki langsung dikeluarkan. Biar ngga bingung nunggu setahun. Gitu doang sih. >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang lebih baik zakat langsung dikeluarkan, Mbak. Biar gak lupa juga.

      Delete
  7. Wah Kimi kereeeen! Perencanaan keuangannya matang banget. Aduh aku jadi pengen nabung emas juga. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, Chika, mari kita nabung emas! Semangat!

      Delete
  8. Hollaaa kakak ranger, lama tak bersua.. hemmm nabung emas memang menggiurkan tuh kak, aku melakukan itu wikikik lumayan kak hasilnya meskipun cuma kelihatan kuning-kuning bukan tumpukkan kertas berseri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Icha, kamu apa kabar? Nomer kamu sekarang yang mana? Btw, bagus dong kamu sudah nabung emas. Lanjutkan!

      Delete
  9. Kerren Mbak Blog-nya. Isinya sangat bermanfaat. Salam kenal ya...! saya Blogger juga di Blog Strategi & Keuangan (strategikeuangan.com), jika berkenan mampir-mampir ke BLog Saya ya...

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;