Thursday, January 12, 2017

Fight Or Flight?

Day 19.

Di tulisan sebelumnya saya bilang saya jarang banget ya cerita soal pekerjaan saya. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang tempat saya bekerja. Sedikit saja, tidak usah banyak. Karena di tulisan ini saya mau lebih banyak melantur ketimbang membahas pekerjaan atau kantor saya. 🙊

Saat ini saya bekerja di salah satu perkantoran di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Kabupaten Pringsewu lho ya, bukan Rumah Makan Pringsewu. Kabupaten Pringsewu ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tanggamus di tahun 2008 yang lalu.

Pringsewu letaknya sekitar 37 km dari Bandar Lampung. Bisa ditempuh dari rumah saya sekitar 1 jam kalau berangkat pagi banget, bawa mobil sendiri, dan jalanan tidak macet jadi bisa ngebut. Kalau nggak ngebut, nyampenya sekitar 1,5 jam lah. Kalau naik bus, sekitar 1,5 jam juga. Kalau macet, ya dikira-kira sendiri saja deh. Pokoknya paling lama itu kalau saya harus naik angkot. Bisa 2 jam lebih baru sampe. Huft.


Biasanya kalau ke kantor saya lebih sering naik bus ketimbang nebeng teman yang bawa mobil. Baru pas pulang saya cari tebengan. Entahlah, pas berangkat ini saya lebih suka naik bus. Mungkin karena pas pagi-pagi itu masih ngantuk-ngantuknya dan bisa curi-curi waktu tidur di bus itu rasanya nikmat. Kalau nebeng sama teman (seringnya bos yang suka kasih tebengan), kan saya tidak enak kalau saya tidur sementara teman (atau bos saya) nyetir.

Tetapi, terkadang saya tidak bisa tidur di bus. Seperti tadi pagi. Tumben saya tidak ngantuk. Mata saya melek. Lalu saya harus ngapain? Mendengarkan lagu yang diputar sopir bus sepanjang perjalanan? Lagunya tadi tampak tidak menarik. Kalian tahu kan lagu-lagu dangdut remix? Nah, saya mana tahan kalau harus mendengarkan lagu seperti itu selama 1,5 jam. Baiklah, mari kita nyalakan Joox saja dan pilih playlist sesuai kata hati.

Saya melempar pandangan ke luar jendela bus. Pandangan saya menerawang. Melihat deretan ruko, rumah, pohon-pohon, dan sawah. Pikiran saya berkelana. Macam-macam. Berlompatan dari satu pikiran ke pikiran berikutnya.

Misalnya, sampai saat ini saya masih berpikir dan bertanya-tanya sendiri kenapa saya mau kerja di Pringsewu? Kenapa tidak di Bandar Lampung saja supaya lebih dekat dengan rumah? Saya mengingat-ingat kembali semua pertimbangannya. Salah satunya supaya saya bisa keluar lumayan jauh dari rumah. Mau jauh beneran dan keluar dari Lampung untuk saat ini saya belum bisa. Opsi yang paling baik dan menyenangkan bagi semua pihak terkait ya kerja di Pringsewu.

Kenapa saya begitu ingin pergi jauh dari rumah? Saya tidak tahu. Sejak SMA dulu sudah ada keinginan untuk keluar dari rumah, keluar dari Bandar Lampung. Pergi. Jauh. Bisa jadi sejak dulu saya punya kecenderungan untuk lari.

Iya, saya hobi lari dari masalah. Dari apapun yang mengganggu pikiran saya dan membuat saya tidak tenang. Ketika saya merasa kepala saya sudah penuh dan dada saya sesak, pilihan yang saya buat antara membuat tembok tinggi untuk melindungi saya atau saya masuk ke gua. Saya tidak ingin diganggu oleh siapapun. Saya ingin sendirian. Lalu, saya memenuhi kepala saya dengan banyak sekali pertanyaan untuk saya jawab sendiri. Agar saya bisa tenang.

Dalam masa-masa pengasingan itu saya melakukan kegiatan macam-macam, seperti olahraga, mendengarkan lagu, menulis jurnal, menghabiskan uang di kafe, naik motor keliling kota, atau hanya sekadar tidur-tiduran di kasur. Yang ketika melakukan berbagai kegiatan itu saya banyak berdialog dengan diri saya sendiri. Ini apa yang sedang terjadi? Apa yang saya rasakan? Apa yang seharusnya saya lakukan? Bagaimana caranya? Apa saya harus berbicara pada seseorang? Kepada siapa saya harus berbicara? Apa yang akan saya katakan? Kenapa saya lari dan bersembunyi?

Iya ya. Kenapa saya harus lari dan bersembunyi?

Kalau kata Lulu, flight adalah cara saya merespon ancaman atau serangan yang datang kepada saya. She's right. Saya membangun tembok atau kabur ke gua, lalu tenggelam dalam dunia saya. Ketika saya kabur itu dalam prosesnya nyatanya toh saya memikirkan strategi juga. Sayangnya, saking fokusnya memikirkan strategi, saya malah sering tersesat dalam dunia saya sendiri.

Wait, lagu apa ini? Lagu ini sejak pagi tadi mengganggu saya di bus.




I'm beyond repair, let me be.

Dafuq!

10 comments:

  1. kebayang capeknya 1,5 jam demi kerja, saya aja ga kebayang bisa ngga seandainya menempuh perjalanan segitu nyaris setiap hari

    saya cuma bisa bilang : keep on fight dan smoga badai cepat berlalu \m/

    ReplyDelete
  2. Pertimbangan aku milih Pringsewu cuma karena formasi hehe...

    Semangat Kimi. Jangan lari lama-lama. Nanti kejauhan..;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ditemani sama Mbak Anggi, kayaknya larinya gak bakal lama deh. Ehm. Entah ini maksudnya apa.

      Delete
  3. Yeyeyeyeyeyeyeyeyeeeeeee.....
    Hwaiting Kim!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waiting opo? Tadi siang sudah ketemu kok. :P

      Delete
  4. jangan kelamaan di dalam pagar :)

    ReplyDelete
  5. Semangat!! Jadi ingat dulu... sayapun juga pernah punya perasaan pengen keluar rumaaah aja, keluar dari Malang... Baru kesampean setelah nikah 😆

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;