Thursday, March 30, 2017

# sok pinter

Kenapa Kita Bergosip?

Tulisan kali ini saya ingin mengambil intisari dari ebook yang sudah saya baca berjudul Moral Origins karangan Bapak Christopher Boehm. Saya ingin membagi dengan teman-teman semua karena menurut saya tema dalam Moral Origins menarik untuk dibahas. Semoga teman-teman semua betah membacanya ya.

Pertama-tama, moral itu dari mana sih? Bagaimana cara manusia bisa mengenal moral?


Sebelum membahas lebih jauh kita cari tahu dulu latar belakang Boehm biar kita bisa memahami cara berpikir beliau. Dari laman Wikipedia beliau tertulis bahwa beliau adalah cultural anthropologist yang spesialisasinya di primatologi dan area penelitiannya tentang resolusi konflik, altruism, asal-muasal moral, perselisihan, dan peperangan. Beliau pernah meneliti kehidupan simpanse liar di Gombe Stream National Park, Tanzania, tempat yang sama di mana Jane Goodall melakukan penelitiannya selama berpuluh-puluh tahun.

Jadi, tidak usah heran jika Boehm menulis bukunya ini berpijak dari teori evolusi. Di dalam bukunya Boehm banyak mengutip Charles Darwin.

Kembali ke pertanyaan awal dari manakah moral berasal Boehm membuka jawabannya dengan menulis:

Darwin clearly thought our conscience and moral sense were as "naturally selected" as our large brains, our upright posture, and our general capacity for culture.

Dengan kata lain moral ini sudah tercetak dalam DNA kita. Kita, sebagai manusia modern, mendapatkan sisa-sisa warisan dari manusia purba, termasuk moral.

Dalam evolusi sudah biasa kita dengar survival of the fittest. Maksudnya adalah siapa yang bisa beradaptasi dengan baik maka peluangnya untuk bertahan hidup (dan mempertahankan spesiesnya) semakin besar.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk egois. Akan tetapi, mengapa manusia memiliki keinginan dan kemampuan untuk menolong orang lain?

Darwin also realized that this kind of advantage could be helped along by family connections because close relatives who naturally helped each other tended to share the same heredity.

Bayangkan skenario dua anak gadis yang tidak bisa berenang terjatuh ke dalam kolam. Mereka berdua butuh pertolongan. Di kolam renang tersebut hanya ada Andi. Salah satu dari dua anak gadis itu adalah anak Andi, tokoh fiksi dalam skenario ini. Menurut kalian, siapakah yang akan diselamatkan oleh Andi? Ya, tentu saja anak kandungnya. Merupakan hal yang wajar jika Andi menyelamatkan anak kandungnya. Dari sudut pandang evolusi, Andi menyelamatkan anaknya demi keberlanjutan gen Andi.

Pada prakteknya bisa saja Andi menyelamatkan anaknya dan juga menyelamatkan anak gadis satunya lagi. Kita tidak hanya menolong orang yang memiliki hubungan darah dengan kita, melainkan juga dengan orang lain yang tidak kita kenal sama sekali. Boehm menulis:

From a biological standpoint giving such altruistic assistance will be costly to their fitness because there is no shared heredity. In theory, generosity should stay within the family because nepotists who refrain from altruism will be able to compete with altruists.

Sebenarnya altruisme itu apa sih? Menurut Boehm:

Altruism means: 
1. Being genetically generous to anybody, including kin. 
2. Being generous to people lacking any blood tied to the generous party.

Altruisme ini "biayanya" sangat besar. Tujuan kita hidup kan untuk meneruskan gen-gen kita kepada keturunan kita. Lalu, kenapa kita mau menolong orang lain yang di mana kita tidak punya hubungan darah dengan mereka dan bisa saja merugikan kita? Menurut Boehm, kita harus mempertimbangkan interaksi antara gen dan budaya, juga pengaruh lingkungan sosial. Contohnya, ceramah agama seperti berbuat baiklah kepada sesama manusia bisa sangat berpengaruh kuat pada perilaku altruisme kita.

Boehm juga memberikan alternatif penjelasan dengan memberi contoh suku pemburu.

Three things about classical hunter-gatherer bands: 
1. They always involve a mix of related and unrelated families. 
2. They predictably cooperate in certain activities with no expectation of immediate or exact reciprocation. 
3. They actively preach in favor of wider generosity within the group, precisely because human propensities to be selfish or nepotistic are so strong in our species.

Dari penjelasan di atas bisa ditarik kesimpulan manusia berperilaku altruisme karena dia mengharapkan di masa yang akan datang dia akan mendapat balasan kebaikan. Masih dari penjelasan di atas anggota-anggota suku malah rajin berceramah untuk berperilaku altruisme karena mereka tahu manusia itu cenderungnya egois dan hanya mementingkan diri sendiri dan keluarganya. Kelompok yang memiliki lebih banyak individu yang mau bekerja sama akan lebih berhasil untuk survive ketimbang kelompok yang anggotanya sedikit yang bisa diajak bekerja sama. Jadi sebenarnya perilaku altruisme ini dibutuhkan karena altruisme ini bisa membantu tingkat survival manusia.

Demi keberlangsungan kelompok tentunya dibutuhkan kerja sama yang baik. Namun, jika ada anggotanya yang tidak bisa bekerja sama tentunya akan dihukum.

The punishing of deviants occurs because people feel individuality threatened or dispossessed by social predators, but also, in a larger sense, because socially disruptive wrongdoers so obviously lessen a group's ability to flourish through cooperation.

Manusia menginternalisasikan nilai-nilai dari agama/sosial/norma kelompoknya. Kita dengan senang hati mematuhi nilai-nilai tersebut dan akan merasa berdosa jika melanggarnya. Kesadaran kita untuk menginternalisasi nilai-nilai ini bermanfaat untuk menghindarkan kita dari masalah. Misalnya, kita tahu mencuri itu perbuatan hukum maka kita tidak mencuri karena kalau kita mencuri kita bisa dipenjara.

At the same time, a conscience can help us to maintain respect for ourselves, for basically we judge ourselves by the same group moral standards that we use in judging others.

Untuk menjaga moral di dalam kelompok maka digunakanlah gosip. Gosip di sini bukan berarti mengada-ada atau terang-terangan memfitnah. Gosip di sini berguna untuk mengevaluasi anggota kelompok. Boehm menjelaskan lebih lanjut:

Such "talking" with trusted associates permits people not only to evaluate their peers, but also to intuitively mull over what is useful or disruptive in human social life and to keep in place a moral consensus about how group members shouldn't or should act toward one another.

Gunanya gosip ini akan terasa sekali dalam menghadapi free riders dalam kelompok. Free riders ini adalah orang-orang yang mau seenaknya saja. Mereka tidak mau bekerja, tapi mau mendapatkan kenikmatan dan kemudahan yang sama dengan yang lain. Di saat anggota kelompok sudah capek bekerja untuk kepentingan bersama tentu mereka tidak terima ketika ada orang yang tidak ikut bekerja tapi bisa menikmati hasil bersama-sama. Atau ketika orang tersebut sudah bekerja dan berburu, tapi hasil buruannya tidak dibagikannya ke kelompok melainkan untuk dinikmati sendiri dan bersama keluarganya.

Di sinilah manfaat dari gosip. Gosip mempermudah kita untuk melakukan seleksi sosial. Dia sebagai penyebar informasi di dalam suatu kelompok. Hasil dari evaluasi individu, apakah dia mendapatkan reputasi yang baik atau buruk, disebar dari mulut ke mulut. Bagi yang bereputasi baik tentunya secara sosial dia akan semakin dihormati dan dipercaya. Sementara bagi yang bereputasi buruk, seperti free riders, dia akan mendapat sanksi sosial seperti pengasingan. Kalau yang Boehm bilang:

Gossip functions as a court of public opinion.

Jadi, kalau sekarang ada yang bertanya kenapa manusia senang sekali bergosip, dari sudut pandang ilmiah kita bisa menjawab ya untuk berbagi informasi demi keberlangsungan hidup umat manusia.

Sebenarnya, ada satu poin penting yang tidak saya bahas di sini, yaitu hipotesis teori asal-mula moral itu sendiri. Tetapi, itu nanti kita bahas di lain kesempatan saja. Karena kalau saya bahas juga di sini, saya khawatir tulisan ini akan terlalu panjang, topiknya nanti melebar kemana-mana, dan jadinya nanti malah membingungkan.

Akhirul kalam, kalian ada gosip apa hari ini?

6 comments:

  1. :D
    Kita suka bilang kalo bergosip itu g penting..
    Tp sebenernya,
    dalam beberapa hal, kita perlu juga bergosip untuk bisa saling berinteraksi..
    well,,
    mungkin boleh kali yah kalo bergosipnya tentang sesuatu yang lebih bermanfaat..
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gosip itu sebenarnya untuk merekatkan hubungan kita dengan orang lain kok. Ehehe...

      Delete
  2. Gosip? Kmrn pagi baru nimbrung di acara ibu2, yg nggosip masalah kepanitiaan suatu acara yg baru lalu. Substansinya sih baik, mengkritisi kekurangan. Yg biaa jadi bahan perbaikan ke dpn.
    Masalahnya kalau di bicarakan di forum gosip apa ada efek manfaat ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paling tidak manfaat gosipnya bisa buat meningkatkan kedekatan hubungan dengan orang lain, Mbak. 😀

      Delete
  3. Tapi sekarang ini gosip sudah bergeser ke aktivitas yang selalu diartikan negatif. Ntuh tuuuh yg banyak muncul di tipi swasta terutama soal artis. Sampe net bikin slogan #nogossip :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya sih memang begitu kenyataannya. Malah sampai jadi cenderung fitnah. 😢

      Delete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;