Tuesday, September 26, 2017

Ke Psikolog? Kenapa Tidak?

Sudah sebulan lebih saya sakit gastritis kronis. Sakitnya luar biasa. Setiap kali makan dada bagian tengah terasa sakit sekali. Sakitnya juga terasa kalau saya sedang tidur dan melakukan aktivitas biasa. Tidur menjadi tidak pernah nyenyak karena saya selalu terbangun tiap malam menahan sakit.

Awalnya saya tahan saja. Lama-lama sakitnya cukup mengganggu karena sakitnya bisa menembus sampai ke bagian punggung. Badan juga terasa lemas. Beberapa kali saya ke dokter umum di UGD dan obat yang dikasih tetap saja sama: obat maag.

Saya juga berkonsultasi dengan teman latihan yoga saya yang juga seorang dokter. Beliau menyuruh saya untuk bersabar karena ya kalau sudah parah memang begitu. Yang penting obatnya tetap rutin diminum, makan yang halus-halus dulu (kalau mau makan daging, ya dagingnya diblender), jangan makan buah-buahan dulu, jangan minum susu dan makan produk olahannya, dan... JANGAN STRES! Beliau sangat menekankan yang terakhir ini. Saya disuruhnya bersenang-senang. "Lo jalan-jalan sana, nonton film lucu, baca komik lucu. Lo jangan banyak pikiran deh. Sakit lo ini juga jangan lo pikirin. Nanti lo makin kepikiran, makin stres, makin lama sembuhnya."


Teman saya itu juga bilang stres dapat memicu produksi asam lambung menjadi berlebih. Sudah mah jadwal makan saya suka berantakan karena tidak ada yang mengingatkan saya untuk makan, terus ditambah saya stres. Tetapi, tunggu dulu deh...

...ini apa yang saya pikirkan ya sampai-sampai saya stres? Karena saya merasanya baik-baik saja. Ya, itu sih kata saya, tetapi tidak kata tubuh saya. Buktinya tubuh saya memberi alarm dengan sakit gastritis kronis ini.

Kakak saya menyuruh saya untuk dokter spesialis penyakit dalam biar saya diperiksa lebih menyeluruh. Namun, saya tolak mentah-mentah. Sungguh saya bosan ke dokter spesialis. Pengalaman beberapa bulan kemarin yang mengharuskan saya bolak-balik ke dokter spesialis membuat saya sedikit trauma. Bisa jadi traumanya banyak, tapi saya tidak sadar. Saya lebih memilih untuk menahan sakit selama sebulan terakhir ini.

Kemudian saya berpikir nasihat teman saya tadi. Katanya saya jangan stres kan? Daripada saya ke dokter spesialis dan nanti dikasih obatnya itu-itu lagi, kenapa saya tidak ke psikolog saja? Biar sekalian mencari tahu sebenarnya apa sih yang bikin saya stres. Karena sudah menjadi rahasia umum kondisi psikis seseorang bisa memengaruhi kondisi fisiknya.


karena terkadang merasa sendirian, kesepian, terkucilkan, juga bisa membuat stres


Maka saya pun ke psikolog.

Alhamdulillah pertemuan pertama berjalan lancar. Mungkin juga karena saya langsung membuka diri dan tidak menutup-nutupi ya. Saya ceritakan semua keluhan saya. Apa yang Mbak Psikolog tanyakan, saya jawab sejelas mungkin. Tidak ditanya pun saya ceritakan. Saya berprinsip kalau konseling mau berjalan lancar dan berhasil, saya sebagai klien harus percaya dengan psikolog saya. Jangan "melawan". Sebagai pasien saya harus bekerja sama dengan Mbak Psikolog.

Pada pertemuan pertama itu saya dikasih PR oleh Mbak Psikolog. Saya diharuskan untuk menulis jurnal harian. Dengan catatan, isinya bukan hanya mencatat kegiatan saya sehari-hari, tetapi juga disertakan pemaknaannya. Maksudnya, tulis juga emosi saya pada hari itu. Apa yang saya rasakan ketika melakukan suatu kegiatan? Apa emosi yang hadir jika ada suatu kejadian tertentu?

Tentu saja ini bukan masalah buat saya. Menulis jurnal harian kan sudah menjadi kebiasaan saya. Cukup rutin saya menulis jurnal, tetapi biasanya hanya sebatas mencatat kegiatan sehari-hari. Saya hanya menulis emosi yang saya rasakan ketika saya sedang ada uneg-uneg, kesal, marah, atau bahagia. Intinya kalau saya ingin curhat.

Penggemar: Kenapa kamu harus ke psikolog sih, Kim? Bukannya kamu sering ya kontemplasi? Sering ngobrol dengan diri sendiri? Mencoba mencerna sendiri apapun yang kamu rasakan?

Iya, memang betul. Saya sadar ada yang salah dengan diri saya. Atau kalau itu terlalu berlebihan saya ralat menjadi: saya sadar ada yang kurang dalam diri saya. Mengobrol dengan diri sendiri itu penting. Kita jadi lebih aware dengan diri kita sendiri. Tetapi, ada kalanya kita butuh pihak eksternal yang lebih objektif, dalam hal ini ya psikolog.

Karena kalau saya hanya ngobrol dengan diri sendiri tanpa membaginya dengan orang lain -- yang profesional -- saya takut menjadi bias. Atau menyangkal. Atau melakukan pembenaran. Untuk kemudian saya terjebak dalam dunia saya sendiri, menjadi clueless, dan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Karena saya merasa, "Hey, I'm doing fine. I'm okay. I'm doing this and that because of this and that. That's okay, I think."

Kira-kira begitu. Lagipula tujuan yang ingin saya raih dengan ke psikolog untuk mencari tahu penyebab saya stres, 'kan? Atas nama kesehatan. Biar saya lekas sembuh.

Jadi, selama seminggu saya menulis jurnal. Saya melakukan yang disuruh oleh Mbak Psikolog dengan menulis juga emosi saya saat itu.

Setelah menulis jurnal selama seminggu saya merasa ada yang berubah dalam saya menulis. Cerita saya menjadi lebih banyak. Tulisan saya di jurnal semakin mengalir. Tidak lagi kaku seperti sebelum-sebelumnya yang hanya bercerita kegiatan saya, seperti saya ke kantor, makan siang di sini, makan malam di sana, nonton film ini, jalan sama si anu, dan selesai.

Dan saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya, tetapi setelah saya rutin menulis jurnal dengan pemaknaan emosi, rasa sakit di dada sudah jauh berkurang (bisa juga karena pengaruh obat yang rutin saya minum). Makan pun sudah tidak terlalu sakit lagi. Saya sudah bisa makan nasi sekarang dan yang jelas sudah bisa makan es krim! Yeay!

Di pertemuan kedua dua hari yang lalu saya menyampaikan hal tersebut ke Mbak Psikolog. Beliau juga membaca jurnal saya. Iya, saya memberi beliau akses untuk itu karena saya percaya beliau dan demi keberhasilan konseling juga kan. Di pertemuan kedua itu juga ada banyak hal yang dibahas. Ada beberapa kesimpulan yang diambil. Dan ada beberapa PR yang harus saya kerjakan dari Mbak Psikolog.

Tulisan ini juga sebenarnya ingin menyampaikan kepada teman-teman bahwa ke psikolog itu bukan sesuatu hal yang tabu. Tidak harus gila untuk ke psikolog kok. Hanya untuk curhat remeh-temeh atau untuk menangis sejam tanpa henti juga boleh. Saya sih menyebut ke psikolog itu untuk curhat terstruktur.

Jadi, teman-teman sebangsa dan setanah air, kalau memang ada masalah yang cukup mengganggu, ketika curhat ke orang terdekat sudah tidak membantu, atau ada hal-hal yang terjadi pada diri kita namun tidak kita pahami, tidak ada salahnya kita mencari bantuan profesional. 


jangan ragu untuk meminta tolong


Bagi kalian yang sedang ada masalah ringan ataupun berat, cukup mengganggu atau tidak, semoga kalian segera menemukan jalan keluarnya ya. Semangat, teman-teman! 💪💪💪



10 comments:

  1. Psikolog, malah terpercaya ya... Kita cerita apapun akan didengar tanpa perlu takjt sampai bocor, dan komentarpun bukan yang mengintimidasi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Inge. Aku malah jadi kepikiran meski curhat remeh temeh mending ke psikolog aja deh. Mending rugi bayar tapi terjamin kerahasiaannya dan tidak judging juga.

      Delete
  2. Tapi kadang kalau ke psikolog dikira sakit jiwa T.T
    Mungkin perlu digalakkan kalau psikolog itu tempat tertepat berkeluh kesah, ya. Gak cuma mau mendengar...tapi juga kasih solusi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang begitulah stigmanya. Padahal ke psikolog itu bukan berarti gila kok. Kan masalah kejiwaan tidak cuma gila.

      Delete
  3. Saya pernah dikirimin hal yg seperti yg selalu saya simpan di hp saya.. obat paling mujarab. Silahkan mba coba dulu.. :)

    -------


    { Al Qur’an Adalah Obat Untuk Semua Penyakit }

    Alquran adalah obat untuk segala jenis penyakit, tapi sayang banyak kaum muslimin yg menjauhinya.

    Allah ta'ala telah berfirman (yg artinya): "Kami telah menurunkan dari Alquran; sesuatu yg bisa menjadi OBAT dan rahmat bagi kaum mukminin". [QS. Isro':82]

    Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan: "Alquran adalah obat yg sempurna dari semua penyakit hati dan badan. Ia juga obat dari penyakit dunia dan akherat. Dan barangsiapa tidak disembuhkan oleh Alquran, maka Allah tidak memberikan kesembuhan baginya". [Kitab Zadul Ma'ad, karya Ibnul Qoyyim, 4/323]

    Saudaraku kaum muslimin, mari jadikan Alquran ini sebagai obat hati dan badan kita, obat utk dunia dan akherat kita. Ambillah keberkahan darinya dg cara-cara yg dituntunkan oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam.

    Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny Lc, MA
    Dewan Pembina RisalahIslam.or.id

    ReplyDelete
  4. Mbak biayanya berapa untuk tiap pertemuan.?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung sih, Mas. Masnya tinggal di mana? Mungkin bisa ditanya dulu dengan temannya yang lebih mengerti.

      Delete
  5. Pas berkunjung lagi ke blognya mba Kim, taunya udah muncul pic si mpunya blog.. Mantabs :)

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;