Monday, September 25, 2017

# curhat

Kok Tidak Pasang Foto?

Ketika teman-teman untuk pertama kali mampir ke blog ini -- bisa jadi dari Google atau entah dari mana saja -- kemudian setelah baca beberapa tulisan merasa tertarik dan penasaran dengan saya (huek!), lalu iseng-iseng ubek-ubek blog untuk cari foto saya, lalu... Kok fotonya tidak ada?! (sekarang sudah ada karena baru diunggah, red.) Apakah kalian makin penasaran atau masa bodoh?

Teman-teman lama saya di internet sudah paham kecenderungan saya yang memilih untuk tidak sering-sering mengunggah foto personal (yang menampakkan wajah, maksudnya) di media sosial mana pun. Bertahun-tahun saya pakai avatar yang sama di semua akun media sosial saya.

Pertanyaannya sekarang kenapa?


Dulu saya masih suka mengunggah foto sendiri. Di akun Facebook saya yang lama (dan sudah hapus akun tersebut) cukup banyak foto saya. Hingga pada suatu hari saya memutuskan, "Oke. Cukup. Kurang-kurangi mengunggah foto di internet."




Sejujurnya sejak dulu saya tidak pernah merasa cantik atau keren di foto (maupun tidak di foto). Setiap kali melihat foto sendiri, lama-lama saya perhatikan, kok ya tidak ada cakep-cakepnya sama sekali makanya saya ditinggal oleh mantan. Pernah ada di suatu masa saya bahkan benci melihat foto saya sendiri. Saya merasa saya tidak cukup cantik untuk diambil fotonya. Dan saya selalu iri melihat mbak-mbak di luar sana yang tampak cantik di setiap fotonya.

Yep, self-esteem saya serendah itu memang.

Itu alasan pertama. Alasan berikutnya adalah biar saya rada susah untuk di-stalking. Ya kali mantan ingin stalking. Heuheuheu. GR sekali saya ini.

Penggemar: Iya, Kim. Kamu GR banget. Memangnya siapa sih yang mau stalking kamu? Memangnya kamu itu siapa? Makhluk insignifikan dan medioker gitu kok...

Iya, iya. Saya tahu saya memang makhluk insignifikan dan medioker.

Jadi begini lho, teman-teman. Sudah dari sananya sih saya selalu berpikir mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Template-nya sudah begitu. Siapa tahu orang-orang di sekitar saya (sanak saudara, handai taulan, teman-teman lama, rekan kerja) ketika sedang iseng googling menemukan akun saya di internet.

Oke, itu bukan stalking. Tetapi, kalian paham maksud saya kan?

Saya tidak merasa nyaman kalau mereka tahu akun media sosial saya. Saya bisa marah dan kesal kalau tahu-tahu saya dapat notifikasi mereka mengikuti akun saya. Saya bisa bete dan ngomel-ngomel sepanjang waktu. Sampai punya pemikiran kelewat ekstrem ingin saya hapus semua akun media sosial saya. Atau, jangan-jangan ternyata mereka sudah tahu blog ini? Waduh, gawat ini!

Alasannya karena saya tidak yakin begitu mereka tahu sepak terjang saya di internet (halah, memang saya sehebat apa sih?) -- seperti interaksi saya dengan teman-teman dunia maya, tulisan-tulisan saya, dan berbagai status yang saya buat -- mereka bisa menerima saya.

Maksud saya, dengan pemikiran saya yang rada-rada bebas, semaunya saja, cuek, pokoknya antimainstream banget dibandingkan dengan mereka, takutnya mereka mempermasalahkan. Kalau mereka terlalu sensitif dan jadi baper, bisa-bisa saya diajak ribut. Nanti saya semakin terkucilkan. 😔

Itu namanya mekanisme pertahanan diri, Saudara-saudara. Yang mana mekanisme pertahanan diri ini juga masih ada kaitannya dengan alasan ketiga: takut ada orang iseng di internet yang bikin akun palsu pakai nama saya dan foto-foto saya. Eaaa... Ketakutan yang berlebihan banget memang. Eh, tapi jangan salah. Dulu pernah ada orang yang mengaku-ngaku jadi saya lho. Dia tahu saya, tahu tempat kerja saya, dan dia menghubungi teman saya di Facebook.

Saya pernah curhat soal ini ke Om Ayah. Beliau paham kecenderungan saya yang ini, yang membuat beliau bertanya, "Kamu mau sampai kapan kayak begini?" Maksudnya, dengan reaksi dan ketakutan saya yang berlebihan itu. Iya ya, mau sampai kapan? Kalau tidak mau dikenal orang, tidak mau orang-orang di sekitar sampai mengikuti akun media sosial kita, ya jangan bikin akun tersebut. Atau tutup semua akun. Masuk gua. Dan silakan menikmati hiruk-pikuk dunia maya dari pinggir jalan.

Tetapi, belakangan ini saya terpikir untuk membuka diri saya sedikit. Setelah bertahun-tahun di Twitter selalu pakai avatar yang sama, saya mulai berani untuk pasang foto sendiri (karena yang mengambil foto adalah teman saya yang saya hormati jadi saya harus menghargai beliau). Di Facebook saya beberapa kali mengunggah foto saya. Terakhir unggah foto di sana empat hari yang lalu, yang sampai sekarang visibility-nya belum saya ubah menjadi only me. Sungguh, ini adalah suatu kemajuan.

Oh, harap tenang... Saya juga tidak akan serta merta langsung jor-joran unggah swafoto (meskipun sebenarnya saya mulai sering swafoto belakangan ini, tetapi untuk konsumsi sendiri) di akun saya. Saya tetap akan berusaha untuk meminimalisir frekuensi mengunggah foto di internet. Jangan sering-sering lah. Takutnya hanya memperbanyak sampah di internet. Heuheuheu.

6 comments:

  1. Daaaaaaaaaan akhirnya kita nggak jadi ketemu mbak :"))))))))))

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Iya, akhirnya! Setelah bertahun-tahun ya... hihihihi...

      Delete
  3. Sama mba, saya juga males selfie klo gak di endorse #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gpp. Hak setiap orang untuk malas selfie. Hehehe...

      Delete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;