Friday, August 31, 2018

Berburu Sunset di Bali, Nggak Harus ke Beach Club Lho!


Menikmati indahnya matahari terbenam di beach club memang menyenangkan. Tetapi jika budget liburan kamu terbatas, Bali juga memberikan banyak pilihan pantai yang sebagian besar di antaranya bisa dikunjungi secara gratis untuk menikmati senja nan menawan di Pulau Dewata.

Seperti beberapa tempat wisata di Bali berikut ini, yang keindahan pantainya kala senja nggak kalah cantik dari pantai yang disewa secara khusus oleh beach club. Tempat-tempat ini pun juga tidak seramai Kuta atau Legian, sehingga kamu bisa menikmati senja dengan lebih tenang.

Double Six


foto:TheKencana/AkbarAkmal


Dua kilometer dari Kuta ke arah utara, kamu akan menemukan pantai Double Six. Tempat wisata di Bali ini diberi nama Double Six setelah sebuah diskotik dengan nama Double Six berdiri di sini. Kemudian hingga saat ini, pantai yang berada di pesisir barat Pulau Bali ini dikenal dengan nama demikian.

Karakter pantai ini mirip dengan Kuta, dengan ombak yang tidak terlalu besar dan pasir yang landai. Puluhan beanbag berjajar, siap untuk dijadikan tempat bersantai sambil memesan aneka minuman dari café yang berada di tepi pantai.

Tidak perlu membayar tiket masuk untuk menikmati senja di Pantai Double Six. Kecuali kamu membawa kendaraan, maka perlu membayar parkir.

Tanah Lot

foto:mybestplace.com


Menjadi destinasi favorit sejak dulu, rekomendasi nomor satu di halaman Traveloka, menikmati senja di Tanah Lot memang bukan hal baru. Tetapi keindahan matahari terbenam di tempat ini benar-benar memukau, sayang jika sampai dilewatkan.

Ketika mentari sudah berada di ufuk barat, air laut menyusut dan karang-karang di tepi pantai pun bermunculan. Kilau sinar matahari yang menerpa ombak dan menimpa Pura Tanah Lot di ujung pantai, membuat nuansa magis begitu terasa di tempat ini.

Pantai Amed


foto:travelizt.com


Bergeser ke arah Karanganyar, Pantai Amed adalah salah satu tempat wisata di Bali yang punya sunset berbeda. Ketika matahari mulai terbenam, ia bersembunyi di balik gunung yang tinggi menjulang. Bias sinarnya membuat pantai Amed jadi berkilauan warna jingga nan elok. Dan pemandangan ini bisa kamu dapatkan di bukit, di sisi pantai Amed.

Dreamland


foto:kumparan.com


Berlokasi di Pecatu, kawasan selatan Bali, pantai Dreamland yang juga dikenal dengan nama The New Kuta ini adalah tempat wisata di Bali yang sedang ngehits. Bukan tanpa alasan, keindahan pantai ini memang luar biasa. Selain memiliki pasir putih yang halus membentang luas dengan ombak tenang berwarna kebiruan, Dreamland juga memiliki pemandangan senja yang sangat indah.

Payung – payung besar yang dibentangkan di sisi pantai membuat Dreamland menjadi lebih cantik. Dan ketika cuaca sedang cerah, pemandangan senja di sini adalah salah satu yang terbaik di Bali.

Pantai Seminyak


foto:balitravelhub.com


Tidak jauh dari pantai Kuta terdapat Pantai Seminyak yang memiliki pemandangan senja tak kalah cantiknya. Pijar matahari yang perlahan terbenam di ufuk barat jelas terlihat dari pantai yang belakangan sedang ngehits di Bali ini.

Untuk menikmati senja di sini, kamu tak perlu membayar tiket masuk. Cukup dengan uang parkir jika membawa kendaraan, cantiknya pantai Seminyak adalah salah satu yang tak boleh terlewatkan.

Pantai Kelan


foto:reresapan.com


Pantai ini berada tepat di sebelah Bandara NgurahRai. Ketika senja tiba, langit memerah dengan pesawat yang terbang merendah hendak mendarat jadi pemandangan yang tidak akan kamu dapatkan di tempat lain. Sama seperti Kuta, tak perlu tiket untuk masuk ke Pantai Kelan.

Nikmati fenomena alam yang luar biasa indah ini secara gratis di pulau dengan banyak pantai menakjubkan. Pastinya selain sunset pantai ada banyak hal yang membuat Bali menjadi tempat wisata spesial bagi banyak orang, kepopulerannya hingga keseluruh dunia pastinya menggelitik kamu untuk datang dan melihat langsung ke sana. Yuk ke Bali!

Share:

Saturday, August 25, 2018

How Self-Compassion Helped Me

It's Saturday. It means weekend and I always love weekend. Weekend means the time to pamper myself by watching movies, reading a book or an ebook, going to post office, learning how to cook, or writing one (or two) blog post(s).

The weather outside is a little bit cloudy and cold. I can feel the wind is blowing. Still, I think it's a good time to write something. I'm in a good mood today.

Today I'm gonna tell you a story. It is a story about me, of course. It's about how a deep wound isn't easy to heal. It will always leave a mark and the wound can be cut open anytime no matter how long the wound is.

So, as you may already know (and I believe my friends are getting bored every time I'm saying this) that I have low self-esteem. I am not pretty and I am not smart. I also tend to ruminate things. It's exhausting. It's tiring.

Wanna know examples for my rumination?

Since I was a child I easily got sick. Until now. I can't help myself but thinking, "Why am I always getting sick? Am I gonna die at young age? Am I gonna get any terminal disease?" Or, "I think the world is gonna end anytime soon." Or, "Geez, I don't think human will survive for next hundreds of years. We're gonna suffer." Or, "Why did he cheat on me? Is it because I'm not attractive enough? Am I ugly? Am I stupid?" There you go.

These kinds of thought -- without me realizing it -- have been consuming me from inside. No wonder I'm physically and psychologically weak. I often deprecate myself. I often get stressed and panic. I worry too much. I think this is contributing to my bad health.

The last few years have not been really great for me. Deaths, illness, betrayals, disappointments, shocking news have made me exaggerating things. I called friends just to cry and blame every thing. To look at it clearly now, I made myself as the center of the universe at the time. I thought my problems were the most problematic and sophisticated ever in the whole world. These were hard for me. I viewed myself as a victim. At one point, those became my justification for me to be a jerk myself.

Just when I thought things were getting better, I had to be crushed again. The wound that caused by someone often times still open and bleed. I was never completely healed. Few months back I had relapses. I was so down. 

Then my psychologist suggested me to read about self-compassion. You know, it's funny that I've never heard of self-compassion before. I mean, I studied psychology. That made me doubt myself as a psychology student. Ha, ha.

Well, back to self-compassion.

The first thing I did was watching the TED Talk given by Kristin Neff. She studies self-compassion for more than 15 years now. Definitely she's one of the leading experts about self-compassion.




We are often our own worst critics. We are our own enemies. It's easy for us to say bad things--things that we will never say to our loved ones--to ourselves. Question is: Why? Why can't we treat ourselves with loving and kindness just like we treat our partner, family, and best friends? Do we ever realize how devastating the effect will be if we continue to be hard on ourselves?

After watching that, I was getting more curious. So, I read an ebook titled Self-Compassion by Kristin Neff. Though I think it's a little bit of autobiography, but it's still a cool book. It's an eye opener. It doesn't only write about self-compassion (or her life story), but also gives you guidance how to practice it.

I'm not gonna discuss the whole book here. It will be very long and boring. Besides, this post is about my story, remember? But, I'm still gonna give you a glimpse from the book.

First of all, what is self-compassion? From her website:

Having compassion for oneself is really no different than having compassion for others. ... Self-compassion involves acting the same way towards yourself when you are having a difficult time, fail, or notice something you don’t like about yourself. Instead of just ignoring your pain with a “stiff upper lip” mentality, you stop to tell yourself “this is really difficult right now,” how can I comfort and care for myself in this moment?

There are three components of self-compassion. They are:

1. Self-Kindness
that we be gentle and understanding with ourselves rather than harshly critical and judgmental.

2. Common Humanity
feeling connected with others in the experience of life rather than feeling isolated and alienated by our suffering.

3. Mindfulness
that we hold our experience in balanced awareness, rather than ignoring our pain or exaggerating it.

So, it's okay to have flaws. It's okay to be hurtful. It's okay to fail. We're human after all. We don't have to be perfect. What important is that you have to love and respect yourself and accept your flaws.

When I incorporate it into my life, I feel so much different now. In a good way. When I relapsed one more time, I tried to calm myself. I said, "Kimi, I know you're feeling hurt right now and it's suck. You're not who you think you are. You're a sweet, kind, and loving person. You're not ugly and you're not stupid. Stop blaming yourself. Believe me, you're gonna be okay. You're gonna get pass through this. You have to know that you're not alone. You're not the first person who experienced this. Other people experience this feeling as well. Don't alienate yourself. Don't ever think that this is the end of the world."

Or when there are flashbacks of bad memories suddenly interrupting me, I take a deep breath and pause for a moment. Instead of being reactive like I used to (by panicking or crying), I welcome those flashbacks. I'm watching them like I watch a movie, but no feelings involved. I aware of these memories. They already happened in the past and nothing that I can do to change them. So, what's the point of being angry, sad, and self-blaming? Nothing. I accepted the facts that I was foolish, reckless, and bad at decision-making. I will learn from them so it won't happen again in the future.

However, there is one important thing why it is so much easier for me to incorporate self-compassion. I have found the closure for the recurrent bleeding wound. I know what caused it and I accept it. That's the key: acceptance, so I can make peace with myself. Hopefully, it will last forever.

Thank you to my psychologist who has helped me to find my closure. And thank you for suggesting me to learn about self-compassion. It works, Mbak Icha. I'm so much better now. I promise that I will always practice self-compassion. It helps me in so many levels. This blog post is the proof. I can calmly write the most damaging wound that I ever had.
Share:

Wednesday, August 8, 2018

Tentang Take and Give

Dalam relationship (apa saja) saya punya prinsip it takes two to tango. I cannot do the tango dance alone. I need a partner. Dengan kata lain itu berarti dalam menjalin hubungan dengan orang lain itu harus resiprokal alias timbal-balik. Antara take and give harus seimbang.

Saya bukan manusia suci yang penuh welas asih dan bisa tulus ikhlas berbuat baik terus-menerus ke orang lain. Ya bisa sih asalkan saya juga mendapatkan balasan yang seimbang. Kalau saya baik melulu, tapi saya merasa saya tidak memperoleh kebaikan dari orang tersebut ya lama-lama saya juga malas. Sebaliknya, kalau ada orang yang baik banget sama saya, sebisa mungkin saya berusaha membalas kebaikannya. Saya nggak mau take it for granted. Saya orangnya tahu diri kok.

Prinsip saya sederhana: saya nggak bisa memberi terus-terusan dan saya juga nggak bisa terima terus-terusan.

Dan ini berlaku dalam segala macam jenis relationship yang saya punya, ya keluarga, romantic relationship, pertemanan, dan juga di kantor. Kalau kamu baik sama saya, saya bisa jauh lebih baik ke kamu. Kalau kamu jahat sama saya, ehm, saya tidak perlu jahat balik ke kamu, tapi saya akan memilih untuk pergi dari kamu. Sesederhana itu.

Dengan punya prinsip begini saya melihat segala macam relationship yang saya punya itu sebagai sebuah investasi. Kalau investasi dilakukan pada orang yang tepat, ya syukur Alhamdulillah. Saya bahagia sekali. Itu berarti saya punya hubungan yang sehat dan baik dengan orang tersebut. I'm looking at you, guys, dear family, my best friends, and mas-masnya. 😘




Namun, kalau investasi dilakukan pada orang yang salah, rasanya... Duh, bajingan. Kampret. Brengsek. Saya sudah investasi banyak sekali, katakanlah waktu, tenaga, perasaan, everything, tapi orang tersebut tidak melakukan apa-apa kok rasanya asem sekali ya... Rugi banget. Ujung-ujungnya kalau sudah begini saya berhenti berinvestasi. I walked out. Dan sisanya saya serahkan ke Tuhan semoga Tuhan membalas kebaikan saya. Saya akan menganggapnya sebagai menabung karma baik. Meski penuh dengan perasaan jengkel, masih terselip harapan di dalam hati semoga saya meninggalkan jejak kenangan yang bagus dalam hidup orang tersebut. And this I'm looking at you, dear prick, asshole, jerk ex(es).

Saya tidak tahu punya prinsip seperti ini apakah bagus atau buruk. Di satu sisi saya melihat ini sebagai cara saya bertahan dan melindungi diri. Ini adalah cara saya untuk tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Ketika saya sudah melakukan semuanya, lalu tidak dihargai ya buat apa bertahan. Betul tidak?

Namun, di sisi lain kok sepertinya saya ini penuh perhitungan sekali. Selalu melihat segala sesuatu dari untung dan rugi. Mental saya belum terlatih untuk bisa berperilaku baik serta tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.

But, I'm trying to learn. I want to. Saya harus selalu menanamkan wejangan ke otak saya, walaupun saya melakukan investasi yang buruk pada seseorang, saya percaya Tuhan tidak tidur. Tuhan akan membalas semua apa yang saya lakukan.

Jadi, jangan jadikan bad investment tersebut sebagai penghalang untuk terus berbuat baik ya, Kimi. Banyak-banyak menabung karma baik. And the rest will follow.
Share:

Saturday, August 4, 2018

What Makes a Good Life?

Apa yang ingin kita kejar dalam hidup? Saya yakin kebanyakan dari kita akan menjawab ingin punya karir yang oke, punya uang banyak dan barang-barang high-end brand, atau ingin menjadi terkenal. Well, terima kasih kepada media sosial sekarang ini yang membuat ketenaran begitu mudah untuk diraih.

Akan tetapi, apakah uang, karir, dan ketenaran itu adalah jaminan yang dapat membuat kita bahagia? Kalau kata Prof. Robert Waldinger sih tidak.

Waldinger memimpin penelitian Harvard Study of Adult Development. Penelitian ini sudah berlangsung selama 75 tahun dan Waldinger adalah orang keempat yang memimpin penelitian tersebut. Barangkali ini adalah penelitian longitudinal yang paling lama, paling panjang, yang pernah ada.

Selama 75 tahun mereka meneliti kehidupan 724 pria, yang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah mahasiswa tingkat dua di Harvard College. Sedangkan kelompok kedua adalah remaja dari daerah miskin di Boston.

Para peneliti dengan penuh tekad kuat mengikuti kehidupan para partisipan penelitian mereka, sejak mereka masih muda. Dalam perjalanan hidupnya para partisipan ini ada yang menjadi buruh pabrik, pengacara, bahkan ada satu partisipan yang menjadi presiden Amerika Serikat (John F. Kennedy kalau kalian penasaran ingin tahu siapa yang dimaksud).

Setiap dua tahun para peneliti mengirimi mereka kuesioner untuk dijawab. Kuesioner tersebut berisi pertanyaan seputar tentang kehidupan mereka. Tidak hanya melalui kuesioner, para peneliti juga mewawancarai mereka secara langsung, meminta rekam medis dari dokter mereka, melakukan tes darah, meng-scan otak mereka, dan mencatat interaksi mereka dengan pasangan mereka.

Dari penelitian selama ini dengan data yang dikumpulkan sebanyak ini apa kesimpulan yang didapat? Waldinger bilang di video TED Talk-nya:

The clearest message that we get from this 75-year study is this: Good relationships keep us happier and healthier. Period.

Jadi, bukan karir mentereng dengan gaji bermeter-meter panjangnya, atau duit berkoper-koper, atau ketenaran yang bisa bikin kita bahagia, melainkan hubungan yang sehat dan menyenangkan.

Waldinger lebih lanjut menjelaskan tiga hal penting yang mereka pelajari dari relationships. Pertama, social connections are really good for us and the loneliness kills. Orang-orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan keluarganya, teman-temannya, dan komunitasnya ternyata lebih bahagia, lebih sehat, dan berumur panjang dibandingkan mereka yang less connected dengan lingkungan sosialnya. Selain itu, loneliness benar-benar sangat berbahaya buat kita. Orang-orang yang terisolasi, atau sengaja mengisolasi diri secara berlebihan, mereka menjadi kesepian. Hidup mereka less happy, kesehatan mereka menurun lebih cepat di paruh baya usia mereka, fungsi otak mereka juga menurun, dan mereka tidak berumur panjang dibandingkan orang-orang yang tidak kesepian.

Kedua, kualitas hubungan jauh, jauh lebih penting ketimbang kuantitas. Punya banyak teman di Facebook atau di media sosial manapun atau punya banyak nomor kontak di daftar telpon kalian tidak menjamin kalian bahagia. Karena yang paling penting adalah seberapa kualitasnya hubungan yang kalian punya dengan orang lain.

It turns out that living in the midst of conflict is really bad for our health. ... And living in the midst of good, warm relationships is protective.

Waldinger mencatat para partisipan penelitian ini yang bahagia dan puas dengan kualitas hubungan yang mereka punya dengan pasangannya di usia 50 adalah partisipan yang paling sehat ketika mereka di usia 80.

Ketiga, hubungan yang sehat tidak hanya melindungi tubuh kita, tetapi juga otak kita. Dari hasil penelitian ini juga menunjukkan para partisipan yang punya hubungan yang sangat dekat dengan pasangannya dan memiliki seseorang yang dapat mereka andalkan ternyata mereka memiliki ingatan tajam lebih lama dan tidak cepat pikun. Sebaliknya, partisipan yang tidak dapat mengandalkan pasangannya, mereka menjadi lebih cepat pikun.

Dengan demikian saya dapat menyimpulkan beberapa hal. Pertama, bahwa saya harus berhenti untuk terlampau membatasi diri (kalau tidak mau dibilang menutup diri) dari orang lain. Saya terlalu selektif jadi manusia. Saya tidak sembarangan mengijinkan orang untuk masuk ke dalam hidup saya. Karena ini adalah cara saya melindungi diri saya. Sudah berusaha mati-matian melindungi diri saja masih disakiti melulu, apalagi kalau tidak membentengi diri. Tidak harus soal pasangan sih, tetapi juga soal pertemanan, keluarga, rekan kerja.

Saya harus berhenti menutup diri dan belajar untuk lebih terbuka karena ya saya juga nggak mau cepat mati, cepat sakit, atau cepat pikun. Tapi ya ini kendala besar buat saya.

I see other people as a threat that they're going to hurt me one day. I don't trust them easily. Once I get hurt--I mean really really bad hurt--there is no turning back. I will walk away from their lives and erase them from my life.

Banyak yang bilang untuk belajar memaafkan, let go, dan move on supaya hidup jadi lebih lega, lebih bahagia, dan lebih tenang. Iya, saya percaya itu. Namun, itu tidak mudah buat saya. Sampai sekarang masih menjadi PR. I'm still working on it. Believe me.

Lah, terus kenapa ini jadi curhat ya? Maafkan. Baiklah, mari kita lanjutkan saja ke kesimpulan berikutnya.

Kedua, buat apa berada di dalam sebuah hubungan yang terus-menerus berkonflik tanpa henti? Buat apa mempertahankan hubungan yang toxic, yang tidak sehat? Jika memutuskan untuk bertahan, apakah hubungan tersebut sangat berharga jika dibandingkan dengan kesehatan dan kebahagiaan kalian? Karena percayalah, begitu berhasil lepas dari toxic relationship rasanya hidup jadi memang lebih sehat, tenang, dan enteng.

Apakah kalian mendeteksi curcol di sini? Heuheu. Tolong saya dimaafkan kembali ya.

By the way, sumber tulisan ini adalah video TED Talk Prof. Waldinger. Videonya sangat berkesan buat saya. Sangat relatable. Oleh karena itu, untuk sebagai pengingat pribadi makanya saya mencatat intisarinya di sini. Semoga bisa bermanfaat juga buat teman-teman semua.

Jika kalian berminat kalian bisa langsung nonton videonya di bawah ini.




Akhirul kalam, jangan lupa pesan dari Prof. Waldinger:

The good life is built with good relationships.

So, starting from now on let's build good relationships with everyone. Kecuali sama mantan brengsek. Heuheu.
Share:

Thursday, August 2, 2018

Film di Juli 2018

Hai, hai. Rekap film bulanan datang lagi. Dipikir-pikir blog ini sekarang isinya cuma rekap film dan rekap kartu pos. Mohon maaf kepada para penggemar. Barangkali kalian kecewa dengan isi blog yang begini-begini saja. Habisnya saya tiada punya ide ingin menulis apa yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Halah. Lebay.

Sudahlah. Mari kita langsung saja ke daftar film yang saya tonton di bulan Juli kemarin.

1. Annihilation (2018)

Film bertemakan alien yang dibintangi Natalie Portman. Meski yang main Natalie Portman, tetap saja saya tidak suka. Sepertinya saya harus berhenti nonton film dengan tema alien seperti ini. Nggak suka.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

2. The Martian (2015)

Mark Watney (Matt Damon) harus bertahan hidup sendirian di Mars. Teman-teman astronotnya meninggalkan dia karena mereka mengira Mark tewas sewaktu mereka berusaha pergi menghindari badai. Mark bisa bertahan hidup dengan bercocok tanam dan menghemat suplai makanan yang mereka bawa dari Bumi.




Rating: 3 dari 5 - liked it

3. Tomb Raider (2018)

Saya belum bisa melepaskan sosok Angelina Jolie sebagai Lara Croft. Tapi ya Alicia Vikander oke juga sih berperan sebagai Lara Croft.




Rating: 3 dari 5 - liked it

4. Dallas Buyers Club (2013)

Wajar deh Matthew McConaughey dan Jared Leto dapat penghargaan Piala Oscar untuk kategori Best Actor dan Best Supporting Actor. Totalitas Om Matthew lho sampai menurunkan berat badan sampai 21 kg untuk perannya sebagai Ron Woodroof.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

5. Suicide Squad (2016)

Wajar kalau film ini mendapat review jelek di mana-mana. Karena ya ceritanya memang aneh. Pertama-tama, entah apa maksud dan tujuan Amanda Waller (Viola Davis) merekrut para penjahat kelas kakap. Katanya untuk membentuk pasukan pembela Bumi (kan ceritanya Superman sudah meninggal). Oke, tapi siapa musuh yang dihadapi? Sampai di pertengahan film saya bingung. Nggak ada clue blas siapa yang jadi musuhnya.

Eh ternyata yang jadi musuh mereka adalah The Enchantress (Cara Delevingne). Lah, awalnya saya pikir The Enchantress ini termasuk penjahat yang mau direkrut oleh Amanda. Well, oke deh kalau di tengah-tengah perjalanan ternyata dia berhasil lepas dari pengawasan ketat dan malah melepas malapetaka di Bumi. Pertanyaan saya, seandainya nih ya The Enchantress tidak kabur dan dia ternyata anak penurut, lalu siapa yang jadi penjahatnya yang membuat Amanda bersusah payah merekrut para penjahat kelas kakap tersebut?

Dengan cerita yang berantakan begini, masih untung ada Margot Robbie dan Jared Leto yang aktingnya mumpuni. Both of them stole the show. Memang sih Jared Leto yang memerankan karakter Joker mau tidak mau bakal dibanding-bandingkan dengan almarhum Heath Ledger. Kalau menurut saya, aktingnya Mas Jared oke kok.




Rating: 2 dari 5 - it was okay

6. Shame (2011)

Pertama kali melihat Michael Fassbender bugil di film ini. Heuheu. Aku langsung merasa nista dan penuh dosa. Halah. Ceritanya tentang Brandon (Michael Fassbender) seseorang yang kecanduan seks. Harddisk komputernya penuh dengan film bokep berbagai versi. Dia tidak bisa melihat wanita karena dia sangat gampang bernafsu. Dalam sehari dia bisa berkali-kali melakukan masturbasi.

Kehidupan gelapnya tersebut harus terganggu dengan kedatangan adiknya, Sissy (Carey Mulligan), yang menumpang di apartemennya selama beberapa waktu. Brandon merasa Sissy menginvasi teritorinya dan dia menjadi sangat uring-uringan tiap ada Sissy. Sissy pun bukannya tanpa masalah. Dia memiliki kecenderungan bunuh diri yang cukup tinggi. Hubungan kakak-beradik ini jadi diuji di sepanjang film.




Rating: 2 dari 5 - it was okay

7. Requiem for a Dream (2000)

Moral cerita dari film ini adalah jauhi narkoba karena narkoba itu tiada bermanfaat dan bisa menghancurkan hidupmu dan hidup orang-orang yang berada di sekelilingmu. Jared Leto ganteng banget, btw, di film ini.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

8. Ant-Man and the Wasp (2018)

Scott Lang (Paul Rudd) membantu Hank Pym (Michael Douglas) dan Hope van Dyne (Evangeline Lily) untuk mencari Janet van Dyne (Michelle Pfeiffer) di quantum realm. Ngomong-ngomong, kostum Ant-Man dan The Wasp kok jelek banget ya?





Rating: 4 dari 5 - really liked it

9. The Prestige (2006)

Seperti biasa deh film-film yang disutradarai Christopher Nolan ini memang keren-keren dan The Prestige tanpa terkecuali. Saya sudah baca novelnya bertahun-tahun yang lalu, jadi agak lupa-lupa ingat ceritanya bagaimana. Untungnya saya lupa di bagian paling seru ceritanya. Di bagian yang ini lho... Yang bikin Robert Angier (Hugh Jackman) sampai pergi ke Amerika menemui Tesla (David Bowie) untuk menemukan rahasia trik sulap dari Alfred Borden (Christian Bale).




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

10. Mission: Impossible - Fallout (2018)

Menurut saya MI-Fallout ini film terbaik dari semua film MI. Yah meski rada-rada bagaimana gitu ya melihat Tom Cruise masih digambarkan sebagai Ethan Hunt yang gagah, pemberani, macho, dan jagoan sekali, sampai-sampai Henry Cavill saja bisa kalah. Dan di bagian siapa sesungguhnya John Lark atau siapa yang menjebak Ethan Hunt ini gampang banget ketebak, tapi yowis lah... Namanya juga film laga Hollywood. Dinikmati saja. Sekarang saya ingin nonton lagi dong filmnya. Ada yang mau bayarin tiketnya nggak buat saya? Hihi.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

Semoga bisa jadi rekomendasi buat teman-teman semua. Sampai jumpa di rekap film berikutnya!
Share: