Friday, April 3, 2020

Moral Licensing

Bayangkan skenario ini: Suatu hari kalian berencana ingin pergi ke taman kota. Sesampainya di sana ternyata sedang ada acara bersih-bersih taman. Bagi yang mau bantu-bantu dipersilakan daftar di booth yang tersedia dan ada upah capek bagi yang sudah membantu. Kalian pun berminat dan mendaftar.

Bersih-bersih beres, kalian pun duduk-duduk beristirahat di tenda khusus. Uang lelah sudah kalian terima. Di tenda itu disediakan air minum botol, baik air putih, teh, coke, dan minuman ringan lainnya. Sedang asyik kalian beristirahat, tiba-tiba pengemis lewat. Pengemis tersebut dengan memelas berkata, "Bapak/Ibu/Mas/Mbak, permisi... Boleh minta sedekahnya? Saya belum makan dari kemarin. Saya lapar sekali. Boleh ya?" Pertanyaannya, apakah kalian akan memberi sedekah ke pengemis tersebut?

Barangkali sebagian besar dari kalian menjawab akan memberi uang ke si pengemis. Tentu saja kalian akan memberi uang kan kalian baru saja menerima uang lelah dari panitia bersih-bersih. Iya, 'kan?

Eits. Nanti dulu. Kalau ditanya begini, biasanya pasti jawaban kita pasti akan sedekah. Atau, ketika ditanya apakah kita akan membantu orang yang dipukul, maka dengan yakin kita bilang kita akan membantu. Kita merasa kita memiliki nilai moral yang baik. Philip Zimbardo menyebutnya dengan proscriptive judgment. Ingat dengan tulisan saya yang "Kenapa Kita Tidak Mau Menolong"? Nyatanya, moral yang kita rasa kita punya, pada praktiknya belum tentu kita lakukan.

Terkait dengan contoh skenario di atas, itu adalah penelitian eksperimen yang telah dilakukan oleh tim MindField VSauce. Eksperimen itu dilakukan untuk menguji apakah setelah partisipan ikut membantu memungut sampah, dia mau memberi uangnya ketika ada pengemis meminta sedekah. Teman-teman bisa menontonnya di sini:




Dari hasil eksperimen itu, dari delapan orang partisipan, hanya dua orang yang mau membantu bersih-bersih dan mereka juga mau memberikan uang ke pengemis. Sisanya, antara tidak membantu, tetapi memberi uang; ikut membantu, tetapi tidak memberi uang; atau tidak membantu, tidak memberi uang, tetapi memberi minuman botol ke si pengemis.

Sejujurnya, saya cukup kaget setelah nonton episode 2 season 3 MindField tersebut. Saya kaget karena bagaimana bisa orang yang baru terima uang, tetapi bisa begitu pelit ketika ada pengemis lewat yang meminta-minta? Saya terbiasa dengan konsep bagi-bagi rejeki. Biasanya kalau saya baru dapat rejeki, saya berbagi kebahagiaan, entah sedekah dengan nominal tidak seberapa ataupun mentraktir teman saya. Ditambah, terms moral licensing adalah sesuatu hal yang baru buat saya. Jadi, ya, masih cukup kaget.

Apa Itu Moral Licensing?

Menurut Blanken, van de Ven, dan Zeelenberg (2015):

Moral licensing refers to the effect that when people initially behave in a moral way, they are later more likely to display behaviors that are immoral, unethical, or otherwise problematic.

Moral licensing adalah suatu keadaan di mana ketika individu telah berbuat baik, berikutnya mereka cenderung untuk menunjukkan perilaku yang immoral, tidak etis, atau perilaku bermasalah lainnya. Mudahnya begini, "Eh, gue kan sudah jadi relawan nih ya di acara ini, jadi boleh dong kalau gue nyolong duit sumbangan sedikit aja?" Kalau terkait eksperimen MindField tersebut, "Gue sudah capek bersih-bersih ya, jadi gue males ngasih duit ke pengemis."

Ide dari teori moral licensing ini adalah perbuatan baik yang sudah kita lakukan menjadi semacam justifikasi atau pembenaran buat kita untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Teori ini agak bertentangan dengan teori-teori yang sudah kita kenal lainnya, misalnya self-perception theory. Teori ini bilang ketika kita mempersepsikan diri kita sebagai orang baik karena selama ini kita selalu berlaku baik, maka seterusnya kita akan menganggap diri kita orang yang bermoral baik dan akan selalu berperilaku baik. Nyatanya, kita tidak sesuci yang kita bayangkan. Tidak usah kepedean kamu, Ferguso.


gambarnya tidak ada hubungannya dengan tulisan
tapi saya ingin pakai gambar ini


Banyak penelitian yang sudah dilakukan dan menunjukkan bahwa moral licensing ini sungguhan terjadi. Blanken, van de Ven, dan Zeelenberg (2015) menyebut beberapa penelitian yang menunjukkan moral licensing terjadi di banyak lingkup, misalnya dalam merekrut pegawai, sikap rasis, donasi di lembaga amal, perilaku konsumen, dan perilaku tidak jujur. Bagi teman-teman yang penasaran, monggo dicari jurnalnya satu-satu. Jangan malas. Ha, ha.

Jadi, jangan heran seandainya kalian melihat orang-orang yang selama ini kita kenal -- atau orang-orang tenar -- sebagai orang baik, eh ternyata kelakuannya blangsak juga. Artikel Refinery29 ini memberikan contoh pria-pria yang mengaku-ngaku mereka liberal dan feminis, ternyata brengsek, misoginis, dan penjahat kelamin. Misalnya, Harvey Weinstein donasi jutaan dolar ke Partai Demokrat dan dia ikutan  di acara Women's March. Tentu saja kalian tahu siapa Harvey Weinstein kan? Orang-orang seperti itu sangat berhati-hati membangun personanya.

Namun, sebenarnya kalau seperti itu muncul pertanyaan baru di otak saya. Harvey Weinstein berbuat immoral (melecehkan dan memerkosa perempuan) dulu baru kemudian dia mendonasikan uangnya untuk menutupi rasa bersalahnya (itupun kalau dia punya, tapi sepertinya sih dia melakukan itu untuk membangun citra positif dan menutupi aibnya) atau dia mendonasikan uangnya terlebih dahulu lalu merasa berhak untuk berperilaku immoral? Karena menurut saya, dua hal tersebut adalah hal yang berbeda. Dan apakah untuk yang pertama sesuai jika dijelaskan dari definisi dan contoh moral licensing yang sudah diberikan? Well, ternyata jawabannya adalah untuk yang pertama bisa juga dijelaskan dengan teori moral licensing

Jordan, Mullen, dan Murnighan (2009) dalam Merritt, Effron, dan Monin (2010) melakukan penelitian moral licensing dengan variabel dependennya prosocial intentions atau kecenderungan untuk melakukan perilaku prososial. Ada tiga kelompok dalam penelitiannya. Kelompok pertama diminta untuk menceritakan pengalaman mereka berbuat baik, entah itu mendonorkan darah, jadi relawan, atau berdonasi. Kelompok kedua adalah kelompok partisipan yang menceritakan pengalaman mereka berbuat immoral. Kelompok ketiga adalah kelompok kontrol. Hasilnya, kelompok pertama cenderung untuk tidak mau berperilaku prososial ketimbang kelompok kontrol dan kelompok kedua cenderung mau untuk berperilaku prososial daripada kelompok kontrol.

Oh iya, tidak harus perbuatan yang memang sudah pernah kita lakukan di masa lampau bisa membuat kita melakukan moral licensing, tetapi hanya sekadar membayangkan alias berimajinasi pun kita sudah bisa melakukan moral licensing.

Akhirul kalam, apakah kalian sudah kaget juga seperti saya? Sampai detik saya menulis kalimat ini pun saya masih kaget. Saya jadi tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut terkait moral licensing. Baru sedikit belajar moral licensing saja sudah membuat saya semakin memahami motivasi dan perilaku manusia apalagi kalau saya terus mendalami ya? Nanti barangkali kalau saya lanjut S2 tesisnya saya ambil topik moral licensing sajalah. Barangkali, lho. Barangkali. Saya tidak mau janji buat kuliah S2. Ha, ha.

Referensi:

1. Blanken, I., van de Ven, N., & Zeelenberg, M. (2015). A meta-analytic review of moral licensing. Personality and Social Psychology Bulletin. doi:10.1177/0146167215572134.

2. Merritt, A. C., Effron, D. A., & Monin, B. (2010). Moral self-licensing: When being good frees us to be bad. Social and Personality Psychology Compass4/5, 344-357. doi:10.1111/j.1751-9004.2010.00263.x.

3. Stieg, C. (2017). Why "liberal" men can be misogynists in their personal lives. Retrieved April 3, 2020, from https://www.refinery29.com/en-gb/liberal-men-sexual-harassment-moral-licensing-misogyny
Share:

4 comments:

  1. Menarik juga penelitiannya, Mbak Kimi. Tapi saya jadi penasaran dengan latar belakang subjek penelitiannya. Mungkin ini bisa ngasih pencerahan soal hubungan laku "moral licensing" dengan kepercayaan yang dianut. Soalnya kan ada ajaran (institusi) agama samawi yang mengusung konsep dosa dan pahala.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin kalau kamu tertarik untuk bikin penelitiannya, agama bisa dijadikan variabel. :D

      Delete
  2. Kak Kimi! Aku mendaulat blogmu sebagai penerima Award blog terkece versiku. Diterima yaa awardnya! Keterangannya ada di blogku ;)

    Thanks!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih sekali lho award-nya! Aku merasa bahagia berarti blogku ada yang baca juga. Hahaha.

      Delete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;