Saturday, October 31, 2020

Karena Rasa Sakit Adalah Satu-satunya yang Mereka Tahu

Saya ingin percaya karma itu ada. Saya ingin orang-orang yang sudah jahat ke orang lain mendapatkan karma buruknya. Akan tetapi, saya jadi ragu kalau karma itu ada. Orang-orang jahat itu bahagia dengan hidupnya. Mereka masih bisa tersenyum dan tertawa. Sementara orang-orang yang mereka sakiti harus berjuang memperbaiki yang rusak, entah itu harga dirinya, hatinya, atau hidupnya secara umum. Dan itu bukan perjuangan yang mudah. Terkadang mereka bisa bangkit berdiri, juga berlari. Namun, ada kalanya mereka kembali jatuh terjerembap ke dalam kubangan yang sama. Atau bahkan jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam. 

Ketika itu terjadi, hanya ada satu yang ada di dalam pikiran, "Tolong, hancurkan saja saya sekalian. Hancurkan hingga menjadi abu. Tanpa tersisa." Di sini mode self-destruction mulai aktif ke tombol on. Misi penghancuran diri sendiri dimulai. Mereka tidak mau diselamatkan. They want to hurt themselves into oblivion. Melupakan rasa sakit dengan menyakiti diri sendiri. Rasanya ingin menghilang dalam kehampaan.  Terdengar ironis, tetapi itu benar adanya.

Mengingat bagaimana rasanya disakiti, dikhianati, tidak diakui, dibuat tidak berharga itu... membunuh. Traumatis. It is that hurt. Menyakitkan. Dan mereka tidak tahu bagaimana caranya untuk menangani rasa sakit itu. Mereka menjadi gelisah. Mereka ingin mencari kenyamanan. Dan dengan menyakiti diri sendiri adalah satu-satunya cara yang mereka tahu. Karena rasa sakit adalah satu-satunya yang mereka tahu.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;