Saturday, March 6, 2021

Prince Bruno Tampan Kesayangan

Hai, teman-teman semuanya! Masih ingat dengan Bruno? Dia sudah tidak bersama kami lagi. Sekarang dia bersama teman saya di Pringsewu, Lampung. Ini ada alasannya kenapa dia sekarang bersama teman saya, yang akan saya ceritakan sekarang sesuai dengan janji saya di sini

Jadi begini ceritanya...

Oktober 2020 saya sedang di Bandarlampung. Mumpung waktu itu Jakarta sedang PSBB jadi saya manfaatkan untuk pulang kampung dan melepas rindu dengan Mama.

Suatu hari, tiba-tiba Bruno terlihat tidak tenang. Dia mengeluarkan suara erangan. Kalau di manusia barangkali semacam menggigil. Dia berjalan ke sana ke mari, keluar masuk, sampai akhirnya ke kamar saya dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. 


Prince Bruno
kucing kesayangan kami semua


Tante saya memberitahu jika bagian perut Bruno dipencet dia akan teriak kesakitan. Dia juga susah pipis. Saya ketakutan. Khawatir terjadi apa-apa dengan Bruno. Segera saya membuat janji dengan dokter hewan langganan yang biasa menangani kucing-kucing kami di rumah. 

FYI, kucing-kucing saya itu saya beri nama Big Boss Bubu, Lord Miko, dan Prince Bruno. 


Begitu diperiksa oleh dr. Taat -- nama dokter hewan kami -- beliau langsung bilang Bruno harus dikateter. Saluran kencingnya bermasalah. Ada form yang harus saya isi dan tanda tangani yang isinya saya menyetujui tindakan dokter. Seandainya terjadi apa-apa dengan Bruno, saya tidak boleh protes. Kira-kira begitulah isi formnya.

Tanpa pikir panjang saya iyakan saja. Yang penting Bruno cepat ditangani. Saya tidak tega melihat dia kesakitan. Sakitnya kala itu sepertinya membuat Bruno menderita sekali. 

Saya dan tante saya menunggu di luar ruang tindakan. Cukup lama kami menunggu sebelum akhirnya diberitahu bahwa tindakan berhasil dan Bruno masih belum sadar akibat dibius. Saya diminta untuk ke kasir dan melakukan pembayaran, yang setelahnya saya mau menangis karena ternyata biaya kateter dan segala macam tetek bengek tindakan Bruno saat itu mahal sekali. Lebih dari Rp1juta.

Tapi, tidak apa-apa. Yang penting Bruno selamat. Yang penting Bruno sehat. Begitu cara saya menghibur hati saya.

dr. Taat mengingatkan kami agar Bruno dijaga makannya. Dia tidak boleh makan sembarangan lagi. Dengan kata lain Bruno tidak boleh makan makanan kering merek tertentu yang selama ini biasa dia konsumsi. Bruno harus makan pakan khusus urinary. Beliau menyebut satu merek terkenal yang, yah, mahal banget untuk ukuran kantong saya. Bisa dibilang merek sultan lah. Selama setidaknya enam bulan Bruno harus mengonsumsi pakan khusus urinary S/O tersebut. Bebas mau yang makanan kering atau basah yang penting khusus urinary S/O.

Saya yang waktu itu malas mencari tahu tentang penyakit Bruno dan bandel tidak menuruti apa kata dr. Taat, harus membayar mahal. Saya tidak memberi Bruno pakan urinary S/O, melainkan hanya ikan biasa. Bruno, yang memang sangat suka ikan, dikasih ikan doang ya bocahnya senang-senang saja. Ketidaktahuan dan ketidakpedulian saya itu menyebabkan Bruno harus sakit lagi di bulan Desember 2020.

Kali ini sakitnya Bruno tidak begitu membuat Bruno menderita seperti sakitnya yang pertama kali. Dia masih mau makan, masih mau main, dan masih manja. Namun, saya curiga begitu Bruno tidak bisa pipis. Setiap kali pipis, dia seperti kesakitan. Juga pipisnya seperti berwarna merah. Khawatir dia sakit lagi, saya langsung bawa dia ke dr. Taat.

Lagi-lagi dr. Taat bilang Bruno harus dikateter. Ditambah dr. Taat bilang kalau Bruno sudah ada batu di ginjalnya. Tidak ada pilihan lain selain menuruti apa kata dr. Taat meski itu berarti minimal Rp1juta kembali melayang.

Di sini saya mulai kapok. Sikap ignorance saya berakibat pada Bruno yang kembali sakit. Saya tidak mau Bruno di masa mendatang sakit lagi karena belum tentu saya punya uang untuk mengobatinya. Hewan belum punya JKN soalnya. Jadi, sakitnya Bruno ini terasa sekali di kantong saya.

Setelah baca-baca di sana sini, ternyata Bruno sakit feline lower urinary tract disease (FLUTD) atau feline urologic syndrome (FUS). Kesimpulan saya semena-mena ini semacam infeksi saluran kemih pada manusia. Kalau saya salah, mohon dikoreksi ya. Penyakit ini penyakit kambuhan jika tidak ditangani dengan baik sampai tuntas. Pada kasus parah dan tidak tertangani bisa menyebabkan kematian. 

Salah satu penyebabnya adalah kucing hanya mengonsumsi makanan kering. Buruknya kualitas makanan yang dikonsumsi si kucing menambah semakin besar kemungkinannya untuk terkena FLUTD. Saya akui, lagi-lagi karena ketidaktahuan saya, saya memberikan makanan kering yang sangat murah untuk Bubu, Miko, dan Bruno. Tidak sampai Rp400ribu, saya bisa membawa pulang 20kg makanan kering kucing tersebut. Tidak perlu saya sebut mereknya. 

Saya punya tiga kucing dan saya punya banyak tanggungan lain, jadi faktor harga sangat saya pertimbangkan di sini. Saya tidak bisa memberi kucing-kucing saya tersebut dengan makanan kucing sultan karena saya belum mampu. Solusinya ya makanan yang murah. 

Saya pikir waktu itu makanan murah aman-aman saja untuk kucing. Apalagi setelah mendengar wejangan dari seorang teman yang lain bilang tidak apa-apa makanan murah asalkan kucingnya tetap banyak minum, yang mana ini jadi penyebab berikutnya kenapa Bruno sakit. Bruno banyak makan makanan kering berkualitas buruk, tetapi tidak diimbangi dengan minum air yang cukup. Maka jadilah dia terkena FLUTD.

Dan saya jadi kapok (lagi) sudah memberi makanan murah untuk kucing-kucing kami. Saya tidak mau Bubu dan Miko ikut-ikutan sakit. Oleh karena itu, saya ganti pakannya dengan merek yang lebih bagus (bukan, tetap bukan merek sultan itu kok) dari merek yang lama. Saya dendam banget dengan merek lama yang sudah bikin Bruno sakit. Huh!

Dari hasil baca-baca lagi pengobatannya memang harus dikateter. Kalau sudah sampai timbul batu, ya batunya harus dipecah dulu dengan konsumsi obat. Dan, si kucing cuma boleh makan makanan khusus urinary, sama seperti yang dr. Taat bilang. Tetapi, ada satu dokter hewan, yang saya tonton videonya di YouTube, bilang ketika seekor kucing sudah terkena FLUTD maka seumur hidupnya dia hanya boleh mengonsumsi makanan urinary. 

Sekarang, ada berapa merek sih yang menjual makanan khusus urinary di Indonesia? Sejauh yang saya tahu hanya ada dua. Yang satu merek terkenal dan harganya mahal banget. Yang satu harganya masih bisa dijangkau, tapi jarang banget ada di pet shop di Bandarlampung. Mau beli via daring ya mahal di ongkos. So, pilihannya cuma merek sultan itu. 

Oh iya, makanan urinary ini terbagi menjadi dua jenis. Pertama, urinary S/O. Kedua, urinary care. Urinary S/O dikonsumsi pada saat kucingnya dalam masa penyembuhan. Kalau sudah sembuh, bisa diteruskan dengan mengonsumsi urinary care untuk menjaga kesehatan saluran kencing si kucing. Makanan urinary care bisa juga dikonsumsi kucing sehat jika teman-teman ingin menjaga supaya kucingnya tidak sakit FLUTD. Setidaknya ini yang saya simpulkan dari hasil baca-baca.

Balik lagi ke soal merek sultan tadi.

Seperti yang saya sering bilang ke teman-teman, saya bukan anaknya Setya Novanto. Memberikan makanan urinary S/O merek sultan ke Bruno selama minimal enam bulan (atau bahkan untuk selamanya kalau mengikuti kata dokter hewan yang videonya saya tonton di YouTube) itu berat banget buat saya. Tanggungan saya bukan cuma mengurus tiga ekor kucing yang lucu-lucu. Tanggungan saya lumayan banyak untuk ukuran orang yang masih lajang. Saya juga masih punya banyak wish list barang belanjaan dan cita-cita ingin ke sana ke mari yang belum kesampaian.

Meski saya sayang dengan kucing-kucing kami di rumah, saya tetap berprinsip saya tidak mau mengurangi kesejahteraan saya sebagai manusia. Maksud saya, jangan sampai hanya karena demi memberi mereka makan yang mahal, saya harus rela konsumsi mie instan selama sebulan. Atau makan tempe doang. Tidak, saya tidak mau seperti itu. 

Jadinya, dengan berat hati saya memberikan Bruno ke teman saya untuk diadopsi. Saya yakin sama teman saya ini. Insya Allah dia amanah karena dia juga pecinta kucing. Pengalamannya dalam merawat kucing jauh lebih banyak ketimbang saya. Kebetulan adiknya juga seorang dokter hewan, jadi kalau penyakitnya Bruno kambuh bisa dengan mudah ditangani. Terakhir saya dapat kabar dari teman saya, Bruno sekarang sudah sehat dan ceria. Penyakitnya tidak kambuh lagi. Alhamdulillah.

Sebenarnya tidak gampang bagi saya untuk melepas Bruno. Saya sayang sekali sama Bruno. Dia ini kucing yang manja dan sangat dekat dengan manusia. Dibandingkan bermain-main dengan kedua saudaranya, dia lebih memilih untuk menemani kami memasak di dapur. Kalau dia sendirian, dia suka teriak-teriak minta ditemani. Kalau dipanggil, dia cepat datang dan langsung merebahkan badannya minta dielus. Dengan segala tingkah polahnya yang macam-macam itu, bagaimana hati ini tidak berat untuk melepasnya? Hiks.

Saya yakin ini keputusan yang tepat buat Bruno. Saya tahu saya harus melepas dia untuk kesejahteraan dia. Untuk saat ini, saya tidak yakin saya adalah orang yang tepat untuk merawatnya. Dan saya percaya teman saya bisa merawat Bruno dengan baik. Sejak tanggal 23 Januari 2021 Bruno sudah bersama teman saya.

Terima kasih ya, Bruno, sudah pernah menjadi bagian keluarga kami. Terima kasih sudah mengisi hari-hari kami dengan penuh warna. Maafkan aku yang terpaksa melepasmu. Maafkan aku juga jika selama kita bersama aku memiliki kekurangan dalam merawatmu. Semoga kamu bahagia di tempatmu yang sekarang. Sehat-sehat terus ya, Prince Bruno tampan kesayanganku.


Prince Bruno bersama keponakan
sebelum Prince Bruno diadopsi teman


Share:

8 comments:

  1. Semoga di keluarga yang baru Bruno menjadi lebih sehat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin amiiin... Terima kasih, Mas Didut. 😁

      Delete
  2. Sepertinya Bruno mudah membuat orang jatuh cinta, ya? Haha.
    Semoga sehat selalu sama siapa saja, Brun, dan dijauhkan dari berbagai mara bahaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin amin amin. Terima kasih, Mas Dewanto, doanya buat Bruno.

      Delete
  3. Wah...kucing saya juga pernah kena penyakit yang konon jamak terjadi pada kucing2 jantan yang dikebiri ini. Waktu itu juga harus pasang kateter, tapi untungnya di Jakarta tindakan ini tidak memerlukan biaya sebesar di Lampung. Waktu itu saya membayar 500ribu dan dapat 2 kaleng makanan urinary gratis (karena dokternya lagi dapat endorse-an dari sebuah merek).
    Uniknya, tepat di hari kateter itu bisa dicabut, kucing saya mencabutnya sendiri. Jadi tidak perlu ke dokter lagi (dan mungkin keluar biaya lagi). :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kucingnya Mas Danang pengertian banget berarti ya... Dia bisa mencabut sendiri selang kateternya, jadi nggak perlu ke dokter. Hihihi.

      Delete

Saya sangat menantikan komentar dari kalian. Asal jangan spam, jangan anonim, dan tetap sopan ya. Mari kita menghargai satu sama lain. Terima kasih.