Friday, May 10, 2019

That I Would Be Good

Last night one of my friends sent me a message on Telegram asking me how I was doing. I told her that I was fine. Well, to be honest, I wasn't fine. I am still not fine. I'm just pretending.

Work has been dull. The atmosphere at office makes me feel like suffocated. Every morning I have been dragging my self so hard to go to work. Every second I have to remind myself that I need money so I can feed my family.

Now about my personal life. Things have been not doing great at home. There are a lot of bickers. My mood changes as fast as the speed of light. I don't know how many nights already that I have spent just by whining, crying, or simply silently staring at the wall of my bedroom. I tried to humor myself by watching Samurai X anime series and The Big Bang Theory. I tried to pick up books, but my brain refused them. It's funny actually. Last month only I could read 11 books, but now I have zero interest in reading. It's funny because that I can devour many books just in a month before bad mood strikes and it makes me doesn't want to read anything.

Another funny thing is the reason I read those many books was I needed an escape. I always have these awful and infuriating memories that keep coming back. I often have these recurring dreams which make me cry in my sleep. And when I wake up it feels like a large rock has been dropped onto my chest.

And the thoughts of longing for someone. That I miss him. Terribly. That I love him. So much. That I cannot tell that directly to him just because I don't want to get another rejection.


picture was from here


I am fighting. Sometimes I can stand tall and put all those miseries and traumas behind me. But, at other times I surrender myself to the sorrow.

I don't know whether I am too weak, love exaggerating things, or else. I have no idea.

I am struggling. Hey, aren't we all?

But, don't worry. Just like Alanis Morissette once sang "That I Would Be Good". So, rest assured, my friends, that we would be good.
Share:

Wednesday, May 1, 2019

Film di April 2019

Bulan April kemarin saya hanya nonton enam film. Tumben ya cuma sedikit? Soalnya, bulan kemarin saya terpaksa harus berjauhan dari wifi di rumah. Hiks. Saya sedih sekali. Halah.

Well, anyway, enam film yang saya tonton itu adalah:

1. The Time Traveler's Wife (2009)

Saya pernah punya novelnya dan saya tidak suka. Karena buat saya bukunya bikin capek. Henry pergi menjelajah waktunya maju-mundur-maju-mundur dan akhirnya membuat saya bingung sendiri. Saya yang bacanya saja terasa lelah apalagi Henry ya?

Meski saya tidak suka bukunya, saya tetap terbuka pada pengalaman baru kok. Saya memberanikan diri untuk menonton filmnya. Kenapa coba? Karena Eric Bana tentu saja. Om-om tampan kesayangan saya. Ha, ha.

So, what do I think after watching the movie? Bagus! Filmnya tidak membingungkan malah bikin mengharu biru. Kayak mana coba rasanya ketika kita bisa melihat di masa depan kita akan meninggal? Kemudian, mempersiapkan diri kita dan keluarga kita bahwa kita akan pergi. Tapi, kita masih bisa pergi ke masa depan dan masa lampau. Kebayang nggak sih perasaan keluarga yang kita tinggalkan?




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

2. Her (2013)

Sebagai manusia introvert yang terlalu sering merasa kesepian karena terlalu menjaga jarak dari manusia lain (hell, manusia itu jahat) saya sangat bisa merasakan perasaan Theodore (Joaquin Phoenix). Di masa depan di mana semuanya serba A.I., Theodore bisa menemukan kehangatan dan kedekatan pada device yang tugasnya memenuhi semua keinginan Theodore. Butuh teman ngobrol? Checked. Butuh seseorang yang bisa membantu pekerjaan? Checked. Butuh partner bercinta? Checked. Dan, Theodore pun jatuh cinta pada Samantha (Scarlett Johansson). Atau lebih tepatnya, dia jatuh cinta pada imajinasinya tentang Samantha. Sebegitu desperate-nya dia membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dia, tidak akan menyakitinya, bisa membuatnya bahagia, sampai-sampai jatuh cinta pada A.I. pun tidak masalah.

Jadi, kalau melihat pria-pria yang sekarang kayaknya sangat banyak yang jahat dan pria baik semakin langka, perlu nggak nih ya saya mengikuti jejak Theodore? Ehm.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

3. Searching (2018)

David Kim (John Cho) sangat mengkhawatirkan anaknya, Margot (Michelle La), yang menghilang dari rumah. David harus membuka laptop Margot untuk menemukan kemungkinan keberadaan dia. Semakin David menyelidiki laptop Margot, semakin David menyadari bahwa dia tidak mengenal anaknya sendiri.

Filmnya sangat unik. Kita hanya menyaksikan semua scene dari layar laptop, kamera ponsel, dan televisi.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

4. Avengers: Endgame (2019)

Penilaian saya terbelah antara film ini memang bagus banget atau bagus. Dari segi cerita, it was great. Perfect closure, kalau kata Kitin. Dan memang ending-nya memang harus dibuat seperti itu. Tapi, yang membuat saya nggak sreg soal time traveling-nya, Clint dan Natasha di Vormir, dan Captain Marvel. Mungkin ada baiknya saya membuat tulisan terpisah membahas Endgame.




Rating: 4.5 dari 5 - really really liked it

5. Badla (2019)

Iseng-iseng nonton karena melihat posternya di salah satu website film streaming bajakan. Di situ ada rating filmnya dengan angka 8.5. Oke, jadi penasaran dong sebagus apa sih ini filmnya, apalagi ada Amitabh Bachchan. Ternyata... Keren banget anjir!

Filmnya bergenre crime thriller. Arjun Joseph (Tony Luke) ditemukan tewas di kamar hotel dengan Naina Sethi (Tapsee Pannu) yang langsung dicurigai sebagai pembunuhnya. Untuk membebaskannya dari tuduhan, Naina menyewa jasa pengacara terkenal Badal Gupta (Amitabh Bachchan). Gupta tidak pernah kalah satu kasus pun. Akan tetapi, untuk memenangkan kasus Naina tersebut, Naina harus menceritakan semuanya yang berkaitan dengan kasus tersebut. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Tidak boleh ada rahasia, sekecil apapun rahasia itu. Dan, twist-nya itu lho... Bikin ternganga dan nggak tahan buat ngomong, "Kampret banget lo, Om Amitabh!" in a good way, of course.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

6. The Devil's Advocate (1997)

Film yang sudah terlalu lama di IMDb watchlist saya akhirnya saya tonton juga. Dan saya tidak suka. Ini film horor nggak jelas sih kalau menurut saya.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

Oke. Itulah daftar film yang saya tonton selama satu bulan kemarin. Sampai jumpa di rekap film berikutnya! ๐Ÿ˜
Share:

Sunday, April 7, 2019

A New Kid on the Block

Hari Selasa (02/04) kemarin saya pulang sedikit telat dari kantor. Sampai rumah berbarengan dengan azan Maghrib berkumandang. Ketika dibukakan pintu tante saya langsung menyampaikan berita. Beliau bilang kucing putih yang kemarin pernah nyasar ke rumah sekarang datang lagi. Saya segera menemui kucing putih tersebut. Langsung saya elus-elus dan ajak ngobrol.

Ini sudah kedua kalinya dia main ke rumah saya. Waktu pertama kali dia ke rumah, kami semua senang sekali, terutama Salwa, keponakan saya. Dia sangat manja. Dia mendatangi semua orang untuk minta dielus-elus. Salwa, yang memang sudah lama sekali ingin punya kucing manja (FYI, Bubu dan Miko nggak ada manjanya sama sekali), seketika jatuh hati sama si kucing. Kami semua berharap tidak ada yang datang mencari dia jadi kami bisa pelihara kan. Hihi.

Sayangnya, waktu itu ada yang mencari si kucing. Awalnya kami tidak tahu dia milik siapa. Ternyata dia milik tetangga saya. Rumahnya hanya berjarak tiga rumah. Salwa sedih sekali begitu si kucing diambil.

Nah, kemarin itu tidak ada yang mencari dia. Saya bilang sama tante saya besok pagi saja kami antar ke yang punya. Kan besok libur juga jadi saya bisa ikut mengantarkan si kucing.

Keesokan paginya kami langsung ke rumah tetangga. Begitu ketemu dengan mbak tetangga beliau bilang memang beliau sudah ada rencana mau melepas kucingnya itu. Karena beliau merasa tidak sanggup untuk mengurusnya. Beliau jarang di rumah. Jadi kan kasihan kucing-kucingnya kalau sampai tidak terawat. Kemudian, Mbak Tetangga bilang, "Kalau Mbak mau pelihara Moli (nama kucing putih jantan tersebut), asal dipelihara sungguh-sungguh, nggak apa-apa Mbak adopsi. Ambil saja."

Kebetulan sekali beberapa hari sebelumnya Mama sempat bilang ke saya kalau beliau mau kucing lagi, tapi Mama maunya kucing yang besar dan gagah seperti Miko. Sementara Salwa masih sedih karena gagal mengadopsi kucing hitam yang manja dari klinik dokter hewan. Apa ini yang namanya rejeki ya? Alhamdulillah kalau memang iya. Dengan senang hati saya menerima Moli, yang kemudian saya ganti namanya menjadi Bruno. Mama dan Salwa pasti senang sekali. Oh iya, kata Mbak Tetangga, usia Bruno sekitar satu tahun lebih sedikit. 




Hari itu juga saya bawa Bruno ke dokter hewan langganan. Sebelum resmi diadopsi Bruno harus dicek dulu kesehatannya. Kan takutnya dia sakit atau bagaimana. Khawatir dong nanti dia menulari Bubu dan Miko. Meski yah kalau dilihat secara kasatmata Bruno memang tampak tidak terawat. Dia kotor, terutama di bagian buntutnya, seperti Miko kemarin. Saya curiga ada jamur tumbuh di buntut Bruno. Bulunya rontok cukup parah. Belum lagi dia bau sekali. Entahlah sudah berapa lama dia tidak dimandikan. Badannya juga kecil.

Dokternya berasa amazed melihat Bruno. Saya jadi curiga jangan-jangan dokternya dalam hati ngomong ini si Mbak Kimi demen amat ya mengangkut kucing-kucing bermasalah. Miko dan Sisi dulu begitu juga. Tidak terawat. Mereka kutuan dan jamuran. Selain itu, tampaknya Pak Dokter juga amazed begitu tahu saya mendapatkan Bruno secara gratis. Bruno kan kucing mahal. Kalau kata Mama saya, sih, kucing bule.

Dokter menyuntikkan vitamin, obat anti jamur, obat cacing, dan obat kutu juga. Dokter juga berpesan seminggu yang akan datang (which is Rabu besok) jangan lupa bawa Bruno lagi ke sana untuk divaksin. Siap, Pak Dokter!

Nah, Bruno, semoga kamu betah dan bahagia bersama kami keluarga barumu. Cepetan dong akur sama Bubu dan Miko. Semoga kamu cepat sembuh dari jamurmu ya. Dan semoga kamu selalu sehat. Insya Allah kami akan merawatmu dengan baik dan sepenuh hati.
Share:

Monday, April 1, 2019

Film di Maret 2019

Halo, teman-teman semuanya! Tanggal 1 berarti saatnya kita merekap film. Hore!

Inilah daftar film yang saya tonton di bulan Maret kemarin:

1. The Shawshank Redemption (1994)

Entah sudah ada beberapa orang yang merekomendasikan film ini ke saya. Akhirnya, setelah menunda-nunda karena merasa tidak yakin, saya nonton juga dan... WOW! Moral ceritanya adalah kalau mau balas dendam itu yang sabar. Ini adalah contoh kalau revenge is a dish best served cold. You will get your time. And to you, I will make a sweet, sweet revenge.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

2. The Favourite (2018)

Menyaksikan dua orang wanita, Lady Sarah (Rachel Weisz) dan Abigail Hill (Emma Stone), bersaing memperebutkan perhatian Queen Anne (Olivia Colman). Wanita yang satu memang sudah berteman lama dengan sang ratu, sementara yang lain wanita muda yang baru datang ke istana. Dia begitu berambisi ingin kembali menikmati kehidupan glamor para bangsawan.

Queen Anne begitu mudah dimanipulasi. Tipikal anak manja yang cuma peduli sama kesenangan pribadi. Beri dia sedikit kesenangan maka dia akan menyerahkan negaranya padamu. Maka tak heran kalau Lady Sarah dan Abigail saling menerkam satu sama lain. Mereka memiliki agendanya masing-masing. Awalnya pertarungan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, lambat-laun menjadi pertempuran terbuka.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

3. Captain Marvel (2019)

Cerita Captain Marvel (Brie Larson) adalah cerita kisah hidup Carol Danvers. Perjalanan hidupnya yang sejak kecil diremehkan karena dia wanita, namun bisa menjadi pilot Angkatan Udara AS. Lalu, cerita bagaimana dia mendapatkan kekuatannya dan memulai karirnya sebagai pahlawan super.

By the way, akhirnya kita jadi tahu kenapa Nick Fury tidak pernah meminta pertolongan dari Carol setiap Bumi diserang musuh-musuh ajaib. Hilang sudah rasa penasaran dari pertanyaan, "If Captain Marvel is that powerful how come Nick never asked her for help?"




Rating: 4 dari 5 - really liked it

4. The Stanford Prison Experiment (2015)

Saya tidak suka karena film ini terlalu mendramatisir penelitian aslinya. Setahu saya, pada eksperimen sebenarnya Philip Zimbardo sudah menekankan penjaga tidak boleh melakukan serangan fisik kepada para tahanan, tapi di film ini penjaganya menyerang tahanan dengan memukul, mendorong ke dinding, atau serangan lain yang bersifat fisik. Saya nontonnya jadi tidak nyaman sendiri. Maksud saya, itu sangat esensial, tapi filmnya mengabaikan hal penting tersebut. Bisa juga karena saya tidak nyaman melihat perlakuan para penjaga ini terhadap para tahanan. Saya jadi tidak kuat dan memutuskan tidak nonton sampai habis.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

5. Vice (2018)

Stunning performance from Christian Bale, as usual. Mirip banget. Kalaupun ada kurangnya, di film ini Dick Cheney terlihat lebih tua ketimbang aslinya untuk di tahun 2000-an. Saya sempat googling foto-fotonya Dick Cheney. Hihihi.

Well, ada satu dialog dari narator yang ingin saya kutip di sini:

For man like Donald Rumsfeld, he only wanted three things from his lackey. He had to keep his mouth shut, do what he was told, and always, always, be loyal.

Njir, saya kalau suatu saat nanti jadi bos bakal setipe kayak Donald Rumsfeld nih. ๐Ÿ™ˆ




Rating: 3 dari 5  - liked it

6. Roma (2018)

Film yang membosankan ditambah dengan hitam-putih makin membosankan.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

7. Room (2015)

Saya tidak sanggup membayangkan disekap selama tujuh tahun, tapi masih bisa bertahan untuk tetap waras selama disekap tersebut. Ma (Brie Larson) bisa terlihat cool, composed, sewaktu dia disekap, tapi begitu dia keluar langsung deh keluar semua emosinya. Wajar kalau dia diganjar Piala Oscar sebagai Aktris Terbaik. Oh, dan sampai sekarang saya masih bingung dan semacam tidak terima Jacob Tremblay dengan akting sekeren ini kenapa tidak dapat nominasi Oscar?




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

8. The Wife (2017)

Dalam perjalanan menemani suaminya ke Stockholm untuk menerima Nobel Sastra membuat Joan Castleman (Glenn Close) mempertanyakan jalan hidupnya selama tiga puluh tahun lebih terakhir. Dia menjadi ghostwriter untuk suaminya yang tukang selingkuh, self-grandeur, egois, sombong, dan hobi merendahkan orang lain. Dia bahkan membuat suaminya bisa menang Nobel karena novel yang ditulisnya atas nama Joe Castleman (Jonathan Pryce), tapi apa yang dia dapat? Sebuah penghinaan dari suaminya yang bilang ke mana-mana kalau, "My wife doesn't write."?

Nanti di film kita akan disuguhkan kilas balik hidup Joan dan Joe. Bagaimana awal mula mereka bertemu, jatuh cinta dan menikah, dan kenapa untuk seseorang yang memiliki bakat menulis luar biasa seperti Joan memutuskan untuk bersembunyi di balik layar dan malah membesarkan nama Joe di dunia sastra.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

9. The Concubine (2012)

Ini kenapa ya film-film Korea meski semi-semi begitu, tapi plot ceritanya tetap keren? Termasuk The Concubine ini.




Rating: 3 dari 5 - liked it

10. Kung Fu Panda (2008)

Po (Jack Black) terobsesi ingin menjadi jagoan kung fu. Sampai nasib mempertemukannya dengan Oogway yang bilang kalau Po adalah The Dragon Warrior. Lha, kok bisa padahal kan dia belum pernah latihan kung fu sebelumnya? Tapi, ya bisa. Selama Po percaya sama dirinya sendiri bahwa dia adalah The Dragon Warrior. Eh, ngomong-ngomong, Viper di sini membuat ular itu jadi hewan yang lucu dan menggemaskan.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

11. Kung Fu Panda 2 (2011)

Po dan teman-temannya akan mengalahkan penjahat bernama Shen (Gary Oldman) yang punya senjata canggih. Namun, tidak disangka oleh Po menghadapi Shen berarti dia juga harus menghadapi masa lalunya.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

12. Kung Fu Panda 3 (2016)

Musuh lama Oogway, Kai, harusnya sudah lama mati. Tapi, dia di dunia arwah menyerap energi chi dari semua jagoan di sana, jadinya dia bisa kembali ke dunia yang fana ini. Ambisinya dia akan mengalahkan The Dragon Warrior dan menyerap semua chi ahli kung fu, termasuk chi milik Po.

Untuk mengalahkan Kai, Po harus menjadi The Chi Master. Sayangnya, itu tidak mudah, Ferguso. Bagaimana caranya Po bisa menguasai chi hanya dalam waktu sebentar sebelum Kai datang dan membuat mereka semua jadi giok?




Rating: 4 dari 5 - really liked it

13. Shoplifters (2018)

Ternyata ini ceritanya bukan cuma soal satu keluarga yang hobi ngutil, tapi lebih dari itu. Ada rahasia gelap yang mengikuti. Sebuah drama tentang keluarga yang pahit dan getir. Setelah mereka memutuskan untuk menculik seorang anak kecil (tapi, Nobuyo membantahnya. Itu bukan menculik namanya karena mereka tidak minta tebusan), satu per satu ditunjukkan kepada kita cerita sebenarnya yang tersembunyi di balik keluarga Shibata.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

14. How to Train Your Dragon: The Hidden World (2018)

Dengan ancaman yang terus datang Hiccup mengusulkan untuk mencari tempat tersembunyi yang pernah disebut-sebut ayahnya sewaktu Hiccup masih kecil. Dalam usaha pencarian tempat tersebut mereka dikejar-kejar oleh Grimmel dan anak buahnya. Grimmel ingin membunuh semua Night Furies yang ada, termasuk Toothless.

Tentu saja Hiccup tidak membiarkan itu terjadi. Bersama-sama Hiccup dan Toothless bertarung dan mengalahkan si penjahat. Seharusnya cerita berakhir bahagia di mana mereka berhasil mengalahkan penjahat, mereka menemukan tempat rahasia tersebut, dan mereka semua hidup bahagia selamanya. Namun, di sepanjang film Hiccup merenung. Hidup mereka--hidup para naga--akan selalu terancam selama mereka masih bersama. Jadi, Hiccup mengambil keputusan yang tidak mudah: Ucapan perpisahan harus disampaikan.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

15. The Nice Guys (2016)

Ryan Gosling di sini koplak banget. Jadi detektif swasta, tapi goblo goblo gimana gitu. Ada Jackson Healy (Russell Crowe) yang sifatnya bertolak belakang dengan Holland March (Ryan Gosling). Saya paling suka dengan karakter Holly March yang diperankan Angourie Rice. Jadi dewasa sebelum waktunya dan tukang "ngeplak" bapaknya. Dan, oh, suaranya Om Russell itu lho bikin kagak nahan! Haduh...




Rating: 3.5 dari 5

Wuih. Lumayan juga ya 15 film dalam sebulan. ditambah satu (eh atau dua ya?) season The Big Bang Theory. Semoga bulan April ini saya semakin produktif nonton film (dan mengabaikan kehidupan. Xixixixixi).
Share:

Sunday, March 31, 2019

Kenapa Kita Tidak Mau Menolong?

Dini hari sekitar pukul 3 pagi tanggal 13 Maret 1964 Kitty Genovese keluar dari mobilnya. Dia baru saja sampai apartemen dari tempat kerjanya di bar. Ketika dia menuju apartemennya dia melihat seorang pria, yang kemudian diketahui namanya Winston Moseley, memegang pisau dan mendekatinya. Kitty segera lari menuju pintu apartemen, namun sayang dia berhasil ditangkap oleh laki-laki jahat tersebut. Punggungnya ditikam dua kali. Kitty teriak, "Oh my God! He stabbed me! Help me!" Tidak ada yang bergerak menolong. Hanya ada suara pria yang berteriak dari dalam apartemen, "Let that girl alone!" Winston langsung kabur meninggalkan Kitty.


Kitty Genovese
gambar dari sini


Sepuluh menit kemudian Winston kembali datang dan menemukan Kitty dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Kitty tergeletak di depan pintu apartemennya yang terkunci. Menggunakan tenaganya yang tersisa Kitty masih bisa melawan Winston yang berusaha memperkosanya. Winston terlalu perkasa dan Kitty terlalu lemah. Winston masih menyerangnya, lalu memperkosa Kitty, mencuri uangnya, kemudian pergi meninggalkan Kitty yang berlumuran darah. Kitty meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Kemudian, ada Deletha Word. Di suatu dini hari di bulan Agustus 1995, Deletha sedang dalam perjalanan pulang. Tanpa sengaja dia menyerempet mobil Martell Welch Jr. Deletha tidak berhenti dan Martell mengejar Deletha. Malang bagi Deletha karena dia terjebak macet dan berhasil dikejar Martell. Martell mengamuk bagai kesetanan. Dia memukuli Deletha, membantingnya ke aspal, mencekiknya, bahkan merobek-robek pakaian Deletha. Dua kali dia berusaha kabur dari Martell, dua kali itu pula Martell berhasil menangkapnya kembali. Dia berhasil kabur sekali lagi dan lari ke arah jembatan. Namun, begitu melihat Martell mendekat, dia tampak sangat ketakutan dan jatuh terjun 30 kaki ke dalam Sungai Detroit. Deletha tidak bisa berenang dan jasadnya baru ditemukan keesokan paginya.

Apa persamaan dari dua peristiwa ini? Yup, tidak ada satu pun orang yang berusaha menyelamatkan mereka berdua. Pada kasus Kitty, beberapa tetangga di apartemen Kitty mendengar jeritan minta tolong Kitty, tetapi tidak ada yang tergerak untuk keluar dari apartemen mereka dan menolong Kitty (hanya ada satu orang yang bereaksi dengan berteriak dari dalam apartemen). Bahkan, untuk saat itu langsung menelpon polisi pun tidak ada. Padahal kejadian berlangsung sekitar 35 menit. Memang ada tetangganya yang menelpon polisi, tetapi dia menelpon polisi sekitar satu jam kemudian. Sudah sangat terlambat.

Pada kasus Deletha pun demikian. Kejadian penyerangan brutal terhadap Deletha terjadi di tengah kemacetan. Penyerangan itu terjadi sekitar 25 menit. Namun, sayangnya tidak ada yang menghentikan Martell. Sekadar untuk menelpon polisi pun tidak ada padahal beberapa dari mereka punya ponsel. Atau, lari ke kantor polisi yang ada di ujung jalan jembatan juga tidak. Mereka hanya diam dan menonton serangan Martell ke Deletha.

Di Psikologi Sosial fenomena yang terjadi di dua peristiwa ini kita kenal dengan bystander effect, yaitu situasi di mana individu merasa tidak berkewajiban untuk menolong seseorang -- yang sedang dalam kesulitan, situasi genting, atau ancaman -- jika ada individu lain juga yang ada di tempat tersebut. Semakin banyak individu, semakin kecil kemungkinan mereka mau menolong. Akan tetapi, besar kemungkinan individu mau menolong jika mereka sendirian atau hanya terdiri dari segelintir orang.

Terminologi bystander effect pertama kali dipopulerkan oleh John M. Darley dan Bibb Latanรฉ pada tahun 1968 karena tertarik dengan kasus Kitty. Kok bisa sih ada banyak orang di apartemen tersebut, tapi tidak ada satupun yang tergerak untuk menolong Kitty? Mereka melakukan serangkaian eksperimen untuk meneliti fenomena bystander effect ini.

Salah satu eksperimen Dr. Darley adalah partisipan diminta untuk menyaksikan sebuah video dan meminta komentar mereka akan video tersebut. Mereka diberi insentif $10 untuk berpartisipasi. Sebelum mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka melewati seorang pria yang terlihat sebagai petugas pemeliharaan (maintenance worker). Petugas tersebut sedang bekerja memasang kabel atau sejenisnya.

Ketika partisipan sedang asyik menonton video, tiba-tiba mereka mendengar suara pria terjatuh dari tangga dan berteriak kesakitan. Awalnya, para partisipan ini hanya sendirian. Mendengar suara gaduh sebagian besar dari mereka berhenti dari aktivitas mereka dan segera keluar dari ruangan untuk menolong pria tersebut.

Namun, apa jadinya jika ada tambahan dua orang lagi di dalam ruangan? Dua orang ini adalah confederates dari Dr. Darley. Mereka diminta untuk tidak melakukan apapun jika mendengar suara pria yang terjatuh tadi. Dr. Darley dan rekan ingin melihat bagaimana reaksi dari partisipan. Seperti yang sudah diduga, dengan adanya dua orang tambahan yang tidak melakukan apa-apa, sebagian besar dari partisipan juga tidak melakukan apapun begitu mendengar suara pria terjatuh dan mengerang kesakitan.

Dari reaksi yang terekam oleh kamera Dr. Darley, para partisipan hanya kaget, kemudian mengevaluasi dua orang yang ada di samping kanan dan kirinya. Begitu melihat dua orang confederates tersebut tidak melakukan tindakan apapun, para partisipan juga ikut mengabaikan.

Ada beberapa penjelasan dari perilaku bystander effect tersebut. Pertama, misinterpretasi. Pada kasus Kitty para tetangga melaporkan mereka mendengar ada keributan. Hanya saja mereka tidak mau mengintervensi karena mereka mengira itu pertengkaran antar sepasang kekasih.

Kedua, diffusion of responsibility, yaitu situasi di mana ketika individu berada di dalam sebuah kelompok yang besar maka kecil kemungkinan individu tersebut untuk mengambil tindakan. Mudahnya begini, saling lirik-lirikan dan lempar-lemparan tanggung jawab. "Eh, harusnya elo nih yang nolongin. Atau elo. Atau elo. Atau elo." Begitu kira-kira. Asumsi saya yang terjadi pada kasus Deletha bisa saja para bystanders di sana saling tunggu siapa yang mau maju duluan menghentikan Martell. Atau, "Ah, barangkali yang lain sudah ada yang menelpon polisi." Mereka mengandalkan atau berharap orang lain yang akan melakukan sebuah tindakan dan bukannya mereka sendiri yang bertindak.

Ketika kita tidak berada di dalam situasi sebagai bystander yang ada di kasus Kitty, Deletha, atau kasus-kasus serupa lainnya, kita merasa memiliki nilai moral. Kalau kata Dr. Philip Zimbardo proscriptive judgment. "Tidak mungkin saya akan diam begitu saja. Kalau saya di sana, pasti saya akan melakukan sesuatu." Masalahnya, seperti yang sudah kita bahas di atas, kita tidak selalu bisa bertindak sesuai moral dan kata hati.

Sekarang apa yang harus kita lakukan seandainya kita berada di dalam situasi tersebut? Semoga otak kita cukup cepat berpikir dan teringat akan kasus Kitty dan Deletha. Jangan sampai diamnya kita mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Kalau kita tidak bisa melawan sendirian, telpon polisi. Karena itulah kita wajib untuk menyimpan nomor-nomor penting di ponsel kita, seperti nomor telpon kantor polisi. Saya juga tidak menganjurkan untuk melawan sendirian sih. Karena kalau mau menolong orang juga harus dipikirkan keselamatan kitanya. Jangan sampai karena niat baik kita ingin menolong, justru malah membawa kita celaka. Egois? Tidak. Itu logis.

Dr. Darley ketika ditanya di sebuah wawancara apa yang harus kita lakukan jika kita adalah korban, misalnya kita terkena serangan jantung, sementara orang-orang hanya berkerumun dan diam mematung. Apa yang harus kita lakukan? Dr. Darley menjawab:

I'm saying, "I'm the victim. I really need help. Everybody, I really need help, and you, Mister, you—I'm looking you in the eyes. Will you please do, whatever?" ... Pick a face out of the crowd. That person knows the responsibility rests with him, with her. 

Dengan meminta tolong langsung ditujukan ke satu orang dan menjadikannya sebagai sebuah permintaan tolong yang personal, orang tersebut akan sulit untuk menolak. Karena menurut Dr. Darley hanya butuh satu orang untuk maju dan ambil tindakan bisa mengubah kerumunan (atau kelompok) besar dari pasif cuma menonton menjadi aktif membantu korban.

Selain dua cara di atas, barangkali teman-teman ada yang mau menambahkan?

Sumber berita:
1. A Woman's Plunge to Death Transfixes Detroit.
2. Kitty Genovese.
Share: