Sepanjang tahun ini saya tidak terlalu produktif sepertinya dalam banyak hal. Saya tidak banyak membaca buku dan, tentu saja, tidak banyak menulis. Untuk menulis jurnal harian saja sangat jarang saya lakukan. Satu buku jurnal harian yang tulisan pertamanya di bulan September 2024 sampai sekarang belum ada separuh isinya saya tulis. Meski begitu, saya tetap rajin membeli pernak-pernik alat tulis (stationery).
Blog resensi buku dan akun Letterboxd saya juga sudah lama tidak saya isi. Karena apa yang mau diisi kalau saya jarang baca dan jarang nonton, ditambah juga sedang malas menulis?
Entahlah. Saya juga tidak tahu kenapa tahun ini, atau mungkin sejak tahun lalu, saya malas menulis. Padahal kan saya suka–bahkan mungkin cinta–menulis. Hanya saja sepertinya rasa cinta itu tidak cukup untuk tetap bisa membuat saya rajin menulis. Tetap perlu adanya paksaan dari dalam diri untuk menulis. Jika saya tidak memaksa diri untuk menulis, maka tulisan ini tidak akan terbit dan blog ini tetap tidak akan ada kiriman terbaru.
Selain karena memaksa diri, barangkali hal yang membuat saya kembali menulis adalah karena saya takut bodoh. Sejak 2008 saya menulis blog saya sudah merasakan manfaat menulis. Meskipun kemampuan menulis saya masih segini-segini saja, tetapi saya mendapatkan banyak sekali manfaat dari menulis.
Menulis membuat otak saya aktif bekerja. Saya jadi berlatih untuk berpikir kritis, logis, dan runut karena menulis. Menulis juga memaksa saya untuk rajin riset. Karena tidak mungkin saya membuat tulisan yang asal-asalan, isinya kosong, atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. Rajin menulis juga membuat kemampuan menulis saya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Saya bisa merangkai kata-kata lebih baik dan berlatih mencari diksi yang tidak hanya sekadar tepat, melainkan juga soal rasa dalam memilih kata. Tentu saja menulis membuat saya mau tidak mau memaksa diri untuk belajar tata bahasa Indonesia meskipun secara swadidik. Dan ternyata kemampuan menulis sangat saya rasakan manfaatnya di kantor.
Meski saya bisa berdalih kalau setiap hari saya tetap menulis, seperti menulis pesan singkat, surel, membuat laporan, menganalisis data, tetapi tetap beda rasanya dengan menulis yang saya ketahui selama ini. Menulis yang biasa saya lakukan di blog ini adalah campuran kegiatan dari riset sederhana, berlatih menulis secara mandiri, dan menyunting. Ketiganya membuat otak saya bekerja dan itu menyenangkan buat saya.
Hal yang sama juga saya rasakan saat saya menulis untuk tugas akhir studi saya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi rasanya sangat menyenangkan saat saya riset dengan membaca jurnal, merangkumnya, dan membuat inti sari untuk memperkuat argumen. Lalu, proses menulis tugas akhirnya itu sendiri juga sama menyenangkannya. Intinya mungkin karena saya memang suka proses yang melibatkan kognitif saya aktif bekerja sih. Barangkali karena itulah saat saya vakum menulis, praktis otak saya tidak banyak digunakan, lalu saya takut saya akan menjadi bodoh dan kemampuan menulis saya menjadi berkarat. Ha, ha, ha.
Sebenarnya tidak ada rugi menulis setiap hari karena banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan. Meski begitu kenapa saya masih sulit untuk rajin menulis, ya? Padahal saya ingin bisa menulis setiap hari. Katanya kemampuan menulis itu sama seperti membangun otot. Jika ingin membentuk otot kita harus berlatih setiap hari, maka demikian juga dengan menulis. Akan tetapi, untuk saat ini rasanya masih sulit.
Ya sudahlah. Mungkin untuk saat ini saya belum bisa menulis setiap hari, tetapi paling tidak dengan memiliki target menulis seminggu sekali di blog bisa membuat saya disiplin kembali untuk menulis. Berhubung blog ini memiliki tema beragam, maka saya akan menulis apapun yang menurut saya menarik. Mari memanfaatkan blog ini sesuai dengan slogannya, yaitu Ruang Kata, tempat belajar dan berbagi cerita.
Tidak hanya menulis di blog, melainkan saya juga ingin rajin menulis di jurnal pribadi. Saya ingin kembali tekun mencatat kejadian sehari-hari untuk saya kenang kembali di masa depan. Saya juga ingin bisa belajar untuk terbiasa menuliskan emosi yang saya rasakan. Tujuannya agar saya bisa mengenal emosi sendiri dan tidak langsung reaktif terhadap emosi yang dirasakan. Dengan rajin menulis jurnal harian, saya juga berharap saya bisa menjadi pribadi yang semakin matang emosinya.
Jadi, kalian sudah menulis apa hari ini?

Aku tunggu tulisan berikutnya ya kimi,
ReplyDeleteminggu depan! wkwkwk.
Semangat!
Hahaha siaaap! Kamu juga semangat menulis terus, ya!
Deletekok kita sama kak :") beberapa tahun ini juga lagi mager nulis dan benar memang harus dipaksa biar rajin lagi. semangat untuk kitaaa!
ReplyDeleteAyo, paksa diri untuk menulis biar bisa rajin lagi. Semangaaatt!!
DeleteSalam knl Kimi... 😉
ReplyDeleteSemangat ah!!!
Tulislah apa yg ingin km tulis, itu saja kok intinya.
Halo! Salam kenal juga, Kak. Iyaa... Siap. Niatnya juga begitu. Sekarang mau menulis apa saja yang ingin ditulis. Terima kasih ya.
DeleteKiiim ayooo kita blogwalking2 lagiii
ReplyDeleteAyooo... Mari kita blogwalking lagiii!
DeleteNgerasain juga, setelah skripsi, rasanya kayak udah susah lagi buat produktif nulis di blog. Hampir di semua platform malah. Saat banyak yang migrasi ke microblogging, rasanya malah ga bisa ngikutin karena otaknya kayak udah susah diajak berproses.
ReplyDeleteJalan satu-satunya memang harus dipaksa untuk menulis panjang. Tidak mudah memang karena saya juga masih mengalaminya.
DeleteHmm... Hari ini entah kenapa lagi semangat cari tema menarik terus komen di blog-blog yang ditemukan.
ReplyDeleteTapi memang benar, sih, kesibukan sehari-hari bisa mengurangi minat untuk menulis. Terlebih kalau kesibukan sehari-hari itu menulis. Waktu untuk membaca berkurang. Merenung akhirnya berkurang. Tanpa perenungan, tulisan yang dihasilkan seperti apa, ya... mungkin kurang ada pencapaian.
Tapi setiap kali lihat dropdown arsip di widget blog, saya jadi termotivasi untuk terus menulis di blog. Eman-eman. Sudah lama diisi masa ditinggalkan begitu saja. Hehehe.
Nah, itu juga yang menjadi alasanku tetap bertahan untuk ngeblog. Lihat menu dropdown arsip di widget blog yang sudah sepanjang itu kan sayang kalau mau ditutup. Hahaha.
Delete