Sunday, March 10, 2019

Ketika Orang Baik Menjadi Jahat

**Tulisan ini dibuat untuk memenuhi janji saya sebelumnya.

***

Penelitian kontroversi yang akan dibahas kali ini adalah Stanford Prison Experiment (untuk seterusnya saya singkat menjadi SPE saja ya). Eksperimen ini masih berkaitan dengan studi yang dilakukan Stanley Milgram, yang sudah kita bahas di tulisan sebelumnya. Philip Zimbardo, psikolog sosial yang melaksanakan penelitian ini, merupakan teman satu sekolah Stanley Milgram di James Monroe High School.

Zimbardo tertarik dengan studi Milgram. Studi Milgram tersebut menginspirasinya melakukan penelitian yang kita kenal sampai 48 tahun kemudian, yaitu Stanford Prison Experiment. Dalam eksperimen tersebut Zimbardo ingin meneliti lebih dalam lagi efek situasi pada perilaku manusia.

What happens when you put good people in an evil place? Does humanity win over evil, or does evil triumph? (dari website Stanford Prison Experiment)

Zimbardo membuat setting penjara di ruangan basement Jordan Hall, Stanford University. 24 pria dewasa muda dipilih dari lebih tujuh puluh pelamar yang membaca iklan Zimbardo di koran. Setelah melewati asesmen, ke dua puluh empat orang ini dinilai yang paling stabil kondisi fisik dan psikis, juga tidak memiliki catatan kriminal dan tidak pernah memakai narkoba. Mereka akan mendapat $15 per hari untuk partisipasinya.

Dua puluh empat partisipan ditentukan secara random siapa yang akan menjadi sipir penjara dan tahanan. Mereka yang menjadi sipir mendapatkan briefing dari Zimbardo dan tim tentang hal apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan terhadap para tahanan. Beberapa isi briefing-nya, seperti mereka tidak boleh menyakiti secara fisik (misalnya memukul) tahanan, tetapi mereka diizinkan untuk menciptakan suasana bosan pada tahanan, membuat tahanan frustrasi dan takut, dan sampai batas tertentu para sipir diberikan kewenangan untuk berlaku semena-mena, untuk menyampaikan pesan kepada tahanan bahwa hidup mereka sepenuhnya berada dalam kontrol para sipir dan sistem penjara (Zimbardo dan tim), dan itu berarti mereka tidak akan punya ruang pribadi sama sekali.

Sementara itu, mereka yang menjadi tahanan disuruh pulang dulu. Nanti mereka akan dikabari lebih lanjut jika studi akan dimulai.

Tanggal 15 Agustus 1971 polisi menangkap para partisipan, yang mendapat peran tahanan, di kediaman mereka masing-masing. Aksi penangkapan itu dilakukan di pagi atau siang hari di mana para tetangga mereka dapat melihat kejadian tersebut. Kemudian, mereka dibawa ke kantor polisi. Mereka ditahan, diperiksa sidik jarinya, dicatat namanya, dan ditutup matanya untuk kemudian mereka akan dijemput dan dibawa ke Stanford.

Di penjara Stanford mereka disuruh telanjang, tubuh mereka ditaburi bedak, dan mereka disuruh memakai seragam tahanan khusus yang ada nomor tahanan. Di dalam eksperimen ini mereka tidak dikenal dengan nama mereka, melainkan dengan nomor yang tertera di seragam mereka. Mereka juga diberi stocking wanita untuk dipakai di kepala. Hanya itu yang tahanan boleh pakai. Mereka tidak boleh pakai yang lain lagi. Para sipir akan memasangkan gembok di salah satu kaki tahanan. Hal ini untuk menandakan secara simbolis mereka telah kehilangan kebebasan mereka.


gambar dari sini


Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan identitas individu mereka. Juga untuk menimbulkan rasa powerlessness pada mereka, bahwa mereka tidak punya kekuatan apapun. Hanya sipir penjara, pengawas, dan kepala penjara yang memiliki kuasa.

Para sipirnya diberikan seragam khusus sipir, alat pentungan, dan kacamata. Tujuan juga sama seperti tahanan, yaitu untuk menghilangkan identitas personal. Selain itu, untuk memunculkan anonimitas pada diri setiap sipir dan agar timbul perasaan bahwa mereka memiliki power terhadap tahanan.

Tentu saja seperti yang sudah kita ketahui studi ini kebablasan. Para sipir menjadi terlalu dalam menyelami perannya. Para tahanan pun demikian. Para sipir memang tidak menyakiti fisik para tahanan, namun mereka mempermalukan tahanan, memberi mereka tugas yang merendahkan, menyuruh mereka mensimulasikan perilaku sodomi, dan masih banyak lagi. Ini membuat para tahanan langsung merasakan stres hebat hanya dalam waktu 36 jam. Tahanan 8612 terpaksa dilepas lebih awal karena dia menunjukkan perilaku marah yang tidak terkontrol.

Seandainya kalian bertanya-tanya apakah para tahanan ini tidak melakukan perlawanan telah diperlakukan sewenang-wenang oleh sipir, maka jawabannya oh ya tentu mereka melawan. Mereka langsung melawan di hari kedua kok. Namun, hal tersebut membuat para sipir tidak senang dan (mungkin) merasa harga diri mereka dipermalukan karena tidak bisa mengontrol para tahanan. Itulah sebabnya para sipir semakin bertindak di luar batas. Anehnya, para tahanan pun seperti tidak punya keberanian lagi untuk melawan para sipir. Hanya sekadar protes mengingatkan, "Eh, kalian tidak usah lebay deh ya. Ini tuh cuma eksperimen. Kita tuh sama-sama dibayar di sini. Kalian itu sudah menyakiti kami tahu!" pun tidak mereka lakukan. Mereka malah jadi permisif, pasrah, dan lemah. Kondisi psikis mereka semakin turun setiap harinya.

Zimbardo dan tim peneliti bahkan menjadi bias. Dari semua orang yang terlibat dalam eksperimen tersebut tidak ada yang melihatnya itu di luar batas kewajaran. Mereka terlena dengan peran mereka sebagai supervisi para sipir. Zimbardo, sebagai kepala penjara, tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan perilaku anak buahnya. Mengutip dari sini Zimbardo menulis di dalam bukunya The Lucifer Effect:

"Only a few people were able to resist the situational temptations to yield to power and dominance while maintaining some semblance of morality and decency; obviously, I was not among that noble class."

Sampai akhirnya Christina Maslach datang ke madhouse (Zimbardo menyebutnya demikian) dan bilang ke Zimbardo, "Mas Philip, apa yang kamu lakukan ke mereka itu... JAHAT!" Lengkapnya, Maslach bilang begini, "You know what, it's terrible what you're doing to those boys. They're not prisoners nor guards, they're boys, and you're responsible."

Untunglah Zimbardo mendengarkan nasihat Maslach. Keesokan harinya Zimbardo langsung menghentikan eksperimennya yang baru berjalan enam hari dari empat belas hari yang direncanakan. Itulah bukti cinta kasih seseorang pada pasangannya. Dia mendengarkan. Satu tahun kemudian mereka menikah. Jadi, kalau pasangan kamu cuek meski kamu sudah mengingatkannya atau tidak pernah membuktikan apa-apa ke kamu, ya sudah berarti dia nggak sayang sama kamu. Langsung tinggalkan saja dia. Loh, loh, kok jadi melantur.

Ngomong-ngomong, apa nih yang membuat 24 pria dewasa muda, yang sama-sama sehat jasmani dan rohani, begitu ditempatkan di simulasi penjara, keadaan menjadi lepas di luar kendali? Profesor Scott Plous membahasnya di Social Psychology online course di Coursera. Beliau mengutip dari buku Zimbardo The Lucifer Effect:

"Good people can be induced, seduced, and initiated into behaving in evil ways... The primary simple lesson the Stanford Prison Experiment teaches is that situations matter. Social situations can have more profound effects on the behavior and mental functioning of individuals, groups, and national leaders than we might believe possible."

Akan tetapi, jangan sampai kita salah menginterpretasikan bahwa hanya situasilah yang penting atau karakteristik individu tidak penting, atau situasi lebih penting ketimbang karakteristik individu. Bukan, bukan seperti itu.

SPE tidak pernah bertujuan untuk menunjukkan bahwa hubungan peran sipir dan tahanan akan selalu membawa pada hasil penyiksaan, tetapi SPE menunjukkan bahwa ketika orang-orang yang berada di posisi otoritas mengalami deindividuasi, yaitu keadaan di mana mereka kehilangan identitas personal mereka dan identitasnya melebur ke dalam kelompok atau peran sosial, situasi menjadi di luar kontrol.

Deindividuasi ini kemudian membawa meningkatnya rasa anonimitas pada para sipir di SPE. Mereka harus selalu dipanggil Mr. Correctional Officer, ditambah dengan seragam sipir yang mereka kenakan, pentungan yang mereka bawa-bawa, dan kacamata yang mereka kenakan menambah rasa anonimitas tersebut. Jadi, mereka merasa punya kuasa untuk bertindak semaunya.

Pada partisipan pun mengalami deindividuasi ini, seperti yang sudah disinggung sedikit di atas. Dengan seragam yang mereka kenakan dan mereka dipanggil dengan nomor tahanan--bukan nama--membuat mereka untuk sementara waktu lupa siapa diri mereka sebenarnya. Mereka pun merasa bagian dari kelompok sesama tahanan ini. Selain itu, learned helplessness bisa juga dipakai untuk menjelaskan kenapa para tahanan pasrah dan menyerah pada para sipir. Mereka belajar bahwa apapun perlawanan yang mereka berikan tidak terlalu berdampak pada mereka. Terima kasih kepada para sipir yang sangat terbawa dalam perannya sehingga membuat para tahanan menyerah untuk melawan dan menjadi stres berlebihan, bahkan ada yang menunjukkan gejala depresi.

Meski SPE sangat terkenal dengan ketidaketisannya, bukan berarti kita tidak dapat belajar dari eksperimen tersebut. Apa saja yang hal dapat kita pelajari? Pertama, faktor situasional bisa membawa kita kepada perilaku jahat yang menghancurkan. Kedua, kita bisa melatih diri kita untuk berani melawan, menjadi deviant, pada hal-hal jahat yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Jangan pasif dan jangan pasrah! Kita bisa belajar untuk peka dan tidak tunduk begitu saja pada tekanan kelompok, figur otoritas, peran sosial yang disematkan kepada kita, dan lain sebagainya. Contoh dari SPE ini yang ada di kehidupan nyata kita, seperti penyiksaan para tahanan di penjara Abu Ghraib dan para satpol PP yang membubarkan lapak pedagang kaki lima dengan cara yang tidak manusiawi.

Saya sedikit kesulitan menemukan video dokumentasi SPE yang lengkap (durasinya 51 menit). Saya nonton videonya di Social Psychology Course di Coursera. Barangkali teman-teman bisa mencari video lengkapnya di YouTube. Bisa juga teman-teman ikutan daftar di online course tersebut barengan saya. Sama-sama kita belajar di bawah bimbingan Scott Plous. Asyik banget kok kuliahnya!

Atau, teman-teman bisa nonton versi singkatnya dari The Infographics Show di bawah ini:




Penelitian SPE di saat sekarang ini jelas tidak bisa direplikasi karena terbentur di kode etiknya. Namun, Michael D. Stevens, pemilik kanal YouTube VSauce, di dalam salah satu videonya seri "Mind Field" mencoba untuk mereplikasi SPE sedemikian rupa agar tidak melanggar kode etik dalam riset.




Hasilnya ternyata tidak sama dengan studi aslinya. Hal itu bisa dimengerti karena dari faktor kepribadian partisipannya sendiri. Mereka memiliki skor tinggi pada conscientious dan compassion, sehingga itu bisa menafikan the power of situation, yang sejak awal sudah kita gadang-gadang sebagai tersangka utama membuat orang baik bisa jadi jahat.

Kalau boleh saya tambahkan lagi, faktor deindividuasi dan anonimitas sebenarnya kurang berpengaruh di sini. Mereka tidak diberi seragam dan perlengkapan yang membuat mereka meluruhkan identitas personalnya dan menjadi peran yang diberikan kepada mereka. Mereka juga tidak melihat ada partisipan lain sebagai musuh mereka, melainkan mereka hanya diberitahu bahwa mereka punya musuh yang akan mengganggu mereka bekerja. Ada partisipan yang ngomong, "Eh, tahu nggak, saya kok nggak yakin ya ada tim lain di sini yang jadi musuh kita." Sepertinya hal-hal tersebut cukup membuat mereka kurang menjiwai peran mereka. Mereka masih bisa mengenal diri mereka sendiri. Itu bisa dimengerti karena akan sangat sulit mau mereplikasi SPE sesuai dengan aslinya tanpa harus melanggar kode etik yang sudah dibuat.

Akhirul kalam, terima kasih sudah mau membaca tulisan yang cukup panjang ini sampai habis. Semoga kalian tidak bosan dan bisa menikmatinya. Terutama sekali, semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman semua.

**Disclaimer: Tulisan ini sewaktu-waktu bisa mengalami perubahan disesuaikan dengan bacaan atau tontonan yang bisa saja bertambah di masa yang akan datang.
Share:

Sunday, March 3, 2019

Kepatuhan yang Membabi Buta

Stanley Milgram, lahir di tahun 1933 dari keluarga Yahudi, adalah salah satu psikolog sosial terkenal. Ada satu penelitiannya yang sangat terkenal. Penelitiannya itu dibahas di mana-mana dan menjadi salah satu materi yang wajib diajarkan di buku teks Introduction to Psychology bagi mahasiswa Psikologi. Orangtuanya pindah ke Amerika Serikat dari Romania dan Hungaria ketika terjadi Perang Dunia I. Perang Dunia II terjadi dan Holocaust meninggalkan efek yang sangat mendalam pada Milgram. Beberapa keluarga besarnya menjadi korban Holocaust dan mereka yang selamat tinggal bersama keluarga Milgram di Bronx.


gambar dari sini


Karena peristiwa Holocaust begitu personal buat Milgram, dia sejak kecil sudah tertarik dengan isu-isu sosial. Ketika dia remaja pun dia semacam punya ketakutannya tersendiri seperti apakah Holocaust bisa terjadi lagi? Mungkinkah Holocaust terjadi di Amerika? Apakah Milgram dan keluarganya akan berakhir di kamp konsentrasi?

Philip Zimbardo, yang ternyata adalah teman satu SMA di James Monroe High School, dalam salah satu interviewnya bilang meski orang-orang menenangkan Milgram bahwa itu tidak mungkin terjadi di Amerika dan orang-orang di sana tidak seperti Nazi, Milgram masih tidak yakin, "Dari mana kamu tahu? Kok kamu bisa seyakin itu? Bukannya sama saja ya mereka di tahun 1939 akan mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan sekarang?"

Zimbardo menambahkan:

And essentially, his basic message was, has been, how do you know what you would do? How can you predict with certainty what you would do in a new situation unless you are in the situation? Because when you're outside of the situation looking in, it's easy to make proscriptive judgments. I'm not that kind of person, we're not the kind of people who would do this, and so essentially, Milgram's research really put ordinary people in a new situation.

Thus, muncul lah ide penelitian Milgram tentang kepatuhan (Milgram's obedience experiment) yang terkenal itu.

Sebenarnya, Milgram bisa merancang penelitian sekeren itu karena juga mendapat inspirasi dari Solomon Asch (remember Asch's research on conformity, anyone?). Milgram dulu asisten penelitinya Asch. Scott Plous, profesor Psikologi di Wesleyan University dan psikolog sosial juga, bilang di salah satu video materi di Coursera:

Anyway, an interesting historical footnote is that Stanley Milgram was not only a research assistant for Solomon Asch, but in fact, he conducted his doctoral dissertation on the topic of conformity using a version of the Asch technique. So, Asch's research on conformity in the 1950s laid the groundwork for Milgram's research on obedience in the early 1960s. Throughout his adult life, Milgram considered Asch his main scientific influence, and he saw Asch's research as a kind of intellectual jewel that could be endlessly rotated to yield interesting results. 

Milgram memulai studinya di Juli 1961, satu tahun setelah pengadilan terhadap Adolf Eichmann dilakukan. Milgram merancang eksperimennya itu untuk menjawab pertanyaan apakah mungkin Eichmann dan anak buahnya melakukan Holocaust itu hanya untuk menuruti perintah dari atasan? Apakah bisa kalau kita menyebut mereka sebagai anak buah atau kaki tangan, bukannya sebagai pelaku utama?

Milgram penasaran ingin menjawab pertanyaan ini karena sepertinya sudah menjadi jawaban template bahwa tentara-tentara Jerman itu hanya menjalankan perintah, bukan atas dasar kemauan mereka sendiri. Jadi, jika dilanjutkan pertanyaannya, apakah kita, manusia biasa, akan menuruti kemauan atau perintah apapun dari figur otoritas?

Untuk menjalankan penelitiannya, Milgram memasang iklan di koran membutuhkan partisipan pria untuk ambil bagian dalam penelitian terkait proses belajar. Para partisipan mengira penelitian ini mengukur memori para partisipan. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya yang diukur nanti adalah seberapa patuh mereka pada sosok peneliti yang mengawasi mereka.

Prosedurnya mereka akan dipasangkan dengan orang lain, kemudian mereka akan diundi untuk menentukan siapa yang akan menjadi guru (teacher) dan siapa yang akan menjadi murid (learner). Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya undian ini sudah fix, yaitu para partisipan akan selalu menjadi guru dan Mr. Wallace akan selalu menjadi murid. Mr. Wallace ini adalah confederate yang sudah bekerja sama dengan peneliti.

Sebelum penelitian dimulai, Mr. Wallace memberitahu bahwa dia memiliki kondisi jantung yang agak bermasalah. Peneliti yang berada di situ menenangkan bahwa penelitian ini akan aman dan tidak berbahaya untuk Mr. Wallace. Kemudian, Mr. Wallace masuk ke ruang sebelah, yang berbeda dengan ruangan para guru. Di sana dia dipasangkan kabel (atau sejenisnya lah itu) yang tersambung dengan alat setrum yang ada di ruangan para partisipan alias para guru. Jadi, para guru ini akan menyebutkan pasangan kata yang harus diingat oleh Mr. Wallace. Misalnya, biru - wanita, topi - pria, dan lain sebagainya. Jika si guru menyebut satu kata, "biru", dan Mr. Wallace bisa menjawab dengan benar, maka dia tidak akan disetrum. Namun, jika salah, maka Mr. Wallace akan disetrum. Tegangan paling rendah adalah 15 volts dan akan terus meningkat setiap kali Mr. Wallace tidak dapat menjawab dengan benar.


gambar dari sini


Sebelum melakukan eksperimennya, Milgram bertanya kepada empat puluh psikiater. Kira-kira berapa persen dari penduduk Amerika yang sampai mau memencet tombol terakhir (450 volts)? Mereka menjawab hanya 1% karena itu sudah perilaku sadis. Karena, menurut mereka, hanya 1% dari penduduk Amerika yang sadistic. Hasilnya bagaimana? Apakah sesuai dengan prediksi para psikiater ini? Sabar. Mari kita lanjut pembahasannya.

Pada studi pertama partisipan berjumlah empat puluh pria dengan rentang usia 20 - 50 tahun. Pekerjaan mereka bervariasi, ada yang tukang cukur rambut, pegawai kantoran, dan bos. Dari segi pendidikan pun bervariasi, dari yang tidak lulus sekolah dasar sampai mereka yang memiliki gelar doktoral. Hasilnya? Ada juga partisipan yang mau kasih setrum lebih dari 150 volts ke Mr. Wallace, meski Mr. Wallace sebelumnya sudah minta berhenti karena sudah tidak kuat dan jantungnya terasa nyeri. Bahkan, ketika sudah tidak ada suara protes dari Mr. Wallace sekalipun, partisipan tetap terus kasih setruman karena dianggap Mr. Wallace tidak bisa menjawab pertanyaan dan harus dihukum dengan disetrum.

Semua partisipan sebenarnya ragu untuk melanjutkan begitu pertama kali mendengar teriakan dari Mr. Wallace, tetapi karena ada authority figure (dalam hal ini adalah peneliti yang memakai jubah putih) terus mendorong guru untuk melanjutkan tugasnya. Di dalam setiap protesnya mereka bertanya-tanya bagaimana kondisi si murid? Apakah dia baik-baik saja? Nanti kalau dia kenapa-kenapa siapa yang akan bertanggung jawab? Si peneliti menjawab, "Dia baik-baik saja. Setrumannya itu tidak berbahaya kok. Kamu jangan khawatir. Nanti saya yang bertanggung jawab. Sekarang lanjutkan tesnya, Teacher." Akhirnya, mereka pun tetap melakukan apa yang diperintahkan.

Ini video lengkap eksperimen Milgram. Videonya cukup panjang lebih dari 40 menit. Kalau kalian sedang banyak kuota atau sedang santai, mungkin bisa nonton videonya agar dapat gambaran lengkap bagaimana eksperimen ini berjalan.




Milgram bikin enam belas studi dengan seribu partisipan. Tidak cuma pria yang jadi partisipan, tetapi juga wanita. Kondisi eksperimen pun dibikin beragam. Ada kondisi di mana guru dan murid di ruangan terpisah dan murid baru akan memukul dinding sebagai tanda protes ketika sudah disetrum di angka 300 volts. Ada juga kondisi di mana guru dan murid berada dalam satu ruangan dengan jarak berbeda-beda, bahkan ada satu kondisi di mana guru memegang sendiri menahan lengan muridnya di atas piringan meja untuk disetrum. Kondisi lainnya adalah keberadaan si peneliti. Apakah tingkat kepatuhan para guru ini berpengaruh dengan ada atau tidaknya sosok otoritas ini? Ternyata berpengaruh. Jika peneliti tidak ada di ruangan, para guru cenderung tidak mematuhi perintah peneliti tersebut.

Bagaimana dengan pertanyaan sebelumnya apakah prediksi para psikiater itu benar? Ternyata, hasil studi Milgram menunjukkan lebih dari 65% partisipan memberikan setruman (yang mereka kira) fatal (450 volts) ke orang asing yang tidak mereka kenal sebelumnya. Semua partisipan lanjut sampai di angka 300 volts.

Kesimpulannya, eksperimen Milgram ini memberitahu kita bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mematuhi perintah yang diberikan oleh figur otoritas kepada mereka. Ini tidak ada kaitannya dengan perilaku sadis, seperti yang diungkapkan oleh para psikiater. Juga bahwa kecenderungan perilaku manusia tersebut lebih dipengaruhi oleh situasi ketimbang kepribadian mereka sendiri. Artinya, manusia baik pun jika berada di situasi yang tidak tepat dan mendapat perintah dari atasan, mereka tidak punya kuasa untuk melawan. Contoh nyatanya adalah tentara Nazi yang mematuhi perintah Hitler tanpa banyak pertanyaan. Atau, lebih dari 900 orang mati bunuh diri atau dibunuh oleh keluarga sendiri pada tahun 1978 di hutan Guyana. Mereka adalah pengikut dari cult yang dipimpin oleh Reverend Jim Jones. Berita lengkapnya bisa teman-teman baca di sini.

Jadi, jika ditanya, "Memang kamu mau menyakiti orang lain kalau disuruh?" tidak usah terlampau percaya diri dengan menjawab kalian akan bisa menolak perintah tersebut. Karena ya jika kita diletakkan pada situasi tersebut, belum tentu kita bisa menolaknya. Seperti yang Milgram bilang, "How do you know? How can you be so sure?" Kalau boleh ditambahkan, "How can you be so sure when you are not in that situation?"

Kenapa itu bisa terjadi? Well, sejak kecil kita diajarkan untuk selalu patuh pada figur otoritas, seperti orangtua, guru, pemuka agama, pemimpin, dokter, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan mematuhi otoritas, yang salah adalah ketika kita patuh secara membabi buta tanpa bersikap kritis. Istilah kerennya blind obedience. Oleh karena itulah, teman-teman semuanya, jangan sampai kita kehilangan daya kritis kita ya. Jangan asal nurut dan asal percaya sama orang yang kita anggap punya kuasa.

Ngomong-ngomong, seperti yang sudah disebut di awal tulisan penelitian ini cukup kontroversial. Dia dianggap kontroversial karena dianggap tidak etis sudah menyebabkan partisipan berada di situasi yang tidak nyaman (diharuskan untuk menyetrum si "murid") sehingga membuatnya merasa bersalah. Meski tidak ada orang yang disakiti secara fisik, tetapi secara psikis para partisipan ini merasa terganggu.

Oke, cukup sekian tulisan panjang lebar kali ini. Minggu depan saya akan membahas penelitian kontroversial lainnya. Masih ada kaitannya dengan eksperimen Milgram kok. 😁

**Disclaimer: Tulisan ini sewaktu-waktu bisa mengalami perubahan disesuaikan dengan bacaan atau tontonan yang bisa saja bertambah di masa yang akan datang.
Share:

Saturday, March 2, 2019

Film di Februari 2019

Setelah sudah kelar dengan berpusing-pusing ria, saya membalaskan dendam saya dengan banyak menonton film. Well, mungkin tidak banyak-banget banget sih, tapi ya cukup menghibur lah. Sembilan film dan dua seasons The Big Bang Theory bisa saya tamatkan. Lumayan kan? So, here they are.

1. Goodfellas (1990)

Henry Hill (Ray Liotta) sejak remaja memang sudah tertarik ingin masuk gerombolan mafia yang biasa mangkal di depan apartemennya. Awalnya dia jadi semacam tukang parkir dan seiring berjalannya waktu pelan-pelan dia diberi kepercayaan lebih dari bosnya. Begitu dia dewasa dia sudah memegang posisi cukup penting di sana.

Karena melakukan suatu kesalahan yang dianggap merugikan keluarga mafia tempat Hill bernaung, nyawa Hill dan keluarganya terancam. Hill terpaksa mengajukan permohonan witness protection meski itu berarti dia harus bersaksi melawan satu gerombolan mafia. But, hey, Hill lebih sayang nyawa dan keluarganya.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

2. American History X (1998)

Derek Vinyard (Edward Norton) seorang skinhead dan Neo-Nazi. Dia membenci semua ras, kecuali rasnya sendiri. Kelakuan brutalnya semakin menjadi setelah ayahnya meninggal. Dia bahkan tidak segan-segan membunuh dua pria kulit hitam yang mencoba mencuri mobilnya. Akibat perbuatannya tersebut dia diganjar hukuman 3 tahun penjara.

Keluar dari penjara, Derek berubah total. Dia keluar dari grup skinhead-nya. Dia sudah tidak sepakat lagi dengan idealisme kelompok tersebut. Derek juga berusaha membimbing adiknya agar tidak ikut-ikutan ke jalannya yang sesat kemarin itu. Karena adik laki-laki kesayangannya, Danny (Edward Furlong), sangat mengidolakan Derek dan ingin mengikuti jejak Derek.

Akhir ceritanya tidak perlu diceritakan ya. Nanti saya dimarahi pula karena sudah kasih spoiler. Ha, ha. Pokoknya di akhir film, ngenes banget deh. Si Derek sampai nangis-nangis teriak begitu.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

3. Captain America: Civil War (2016)

Nonton ulang film ini dan masih suka banget! One of my favorites from MCU. Film yang membuktikan bahwa yah superheroes pun hanyalah manusia biasa, yang masih bisa juga ribut sendiri dan ngambek nggak jelas.

Oh, dan Iron Man, idolaku. Bisa sendirian melawan Captain Amerika dan Winter Soldier sekaligus dan hampir menang! Cup cup muach buat kamu, Tony Stark! 




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

4. BlacKkKlansman (2018)

Diangkat dari kisah nyata Ron Stallworth yang menginfiltrasi organisasi Ku Klux Klan cabang Fort Carson. Ron melihat iklan Ku Klux Klan yang sedang membuka pendaftaran anggota di koran. Ron menelpon nomor yang tercantum dan membuat janji untuk ketemuan, tapi bukan dia yang berangkat bertemu dengan anggota Ku Klux Klan tersebut, melainkan rekannya, Phillip Zimmerman.

Adam Driver dinominasikan Best Supporting Actor, tapi si pemeran utamanya, John David Washington, sendiri tidak dinominasikan Best Actor.




Rating: 3 dari 5 - liked it

5. Primal Fear (1996)

Edward Norton itu tampangnya imut banget memang ya? Di film ini usia sebenarnya 27 tahun, tetapi perannya remaja usia 19 tahun atau 20-an awal gitu deh. Masih cocok aja kok kamu, Mas Edward, jadi remaja belasan tahun.

Well, ceritanya Aaron (Edward Norton) dituduh membunuh pendeta, tapi kenyataannya tidak segampang itu, Ferguso. Martin Vail (Richard Gere) memutuskan untuk membela Aaron tanpa memungut bayaran. Pada akhirnya ya dese kecele sih sama tampang polosnya Aaron.

Btw, Edward dapat nominasi Oscar untuk Best Supporting Actor gara-gara perannya di sini yang menurut saya kampret kerennya.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

6. Green Book (2018)

Tony Lip (Viggo Mortensen), dari bouncer yang rasis kemudian harus bekerja menjadi supir untuk pria kulit hitam, yang notabene dia sangat tidak nyaman dengan ras kulit hitam. Cuma apa boleh buat, he needed money. Bayarannya oke, meski harus jadi anak buah dari ras yang dia tidak suka, ya sudahlah ya dinikmati saja. Toh, pada akhirnya dari segala interaksi yang terjadi Tony semakin mengenal Don Shirley (Mahershala Ali) dan membuatnya mengubah pandangannya yang rasis menjadi, "Hey, kita semua ini bersaudara."




Rating: 4 dari 5 - really liked it

7. The Ghost Writer (2010)

Tokoh utamanya tidak dikasih nama. Hanya dikenal sebagai The Ghost, yang diperankan oleh Ewan McGregor. Dia harus melanjutkan naskah otobiografi hampir jadi milik Adam Lang (Pierce Brosnan), mantan Perdana Menteri Inggris.

Seharusnya dia menolak tawaran kerja tersebut karena ternyata project-nya kali ini mengancam nyawanya. Adam Lang menyimpan rahasia yang dia tutup sangat rapat. Saya kira mah rahasia macam apa yang sepertinya kok mencekam sekali. Ternyata, yaelah, begini doang rahasianya. Bawa-bawa CIA segala. Nothing special. Tapi, masih saya kasih skor 3 karena faktor Ewan McGregor.




Rating: 3 dari 5 - liked it

8. The Handmaiden (2016)

Kemarin sempat lihat sekilas sedikit ramai di Twitter. Kerumunan orang yang berada di keramaian tersebut bilang bahwa ini film bagus. Banyak twist-nya, berlapis-lapis. Karena penasaran saya nonton dong. Tapi, sayangnya saya bisa menebak twist-nya jadinya ya gak seru lagi. 😞

Ceritanya tentang seorang perempuan, Sook-Hee, yang disewa untuk menjadi asisten pribadinya Lady Hideko. Yang Lady Hideko tidak tahu Sook-Hee ini memiliki misi tersendiri untuk menipu Lady Hideko. Lama-lama cinta bersemi di antara mereka. Sook-Hee merasa tidak tega untuk melanjutkan misinya dan diapun berterus terang ke Lady Hideko, yang dijawabnya dengan, "Heh, kamu nggak tahu apa bahwa sebenarnya di sini yang dikibulin itu siapa?"

And, well, I got to be honest. Adegan seksnya di sini smooth banget.




Rating: 3 dari 5 - liked it

9. Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Masih berasa aneh Spider-Man bukan Peter Parker, tapi Miles Morales. Eh ternyata masih ada Spider-Man dan Spider-Woman dari dimensi lain. Ini otak masih agak sulit menerimanya, tapi ya sudahlah. Tidak apa. Yang penting filmnya bagus, animasinya bagus, dan kekuatan Spider-Man Miles Morales ini wuih keren. He can go stealth and electrocute his enemies. I think I'd better level him up in Strike Force. Btw, ini saya lagi ngomongin game. Buat yang tertarik, gih download Strike Force di hp kalian. Game-nya lumayan lah buat membunuh waktu.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

Nah, itu sembilan filmnya. Sekarang saya mau lanjut nonton film-film nominasi Oscar tahun ini yang belum saya tonton. Tapi, kayaknya saya mau lanjut belajar online course dulu deh. 
Share:

Tuesday, February 26, 2019

Mengapa Tuhan dan Agama Masih Relevan?

Tulisan kali ini dikirim oleh Handriatno Waseso, kakak tingkat saya di kampus dulu. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat buat teman-teman semua.



***



gambar dari sini


Keberadaan Tuhan selalu menjadi bahan perdebatan selama berabad-abad. Untuk banyak orang, hal ini tidak perlu lagi dipertanyakan: Tuhan ada. Bagaimana pun, mungkin mereka juga tak pernah melihatNya. Tapi bagi beberapa orang lainnya, keberadaan Sang Pencipta ini harus dibuktikan, khususnya dengan sesuatu yang bisa diindera oleh siapa pun. Sayangnya, sampai detik ini, bukti keberadaan Tuhan yang bisa diindera oleh semua orang, nyaris tidak ada.

“Celakanya”, golongan yang tidak percaya Tuhan atau mengabaikan Tuhan terbukti berhasil membangun kehidupan modern yang kita nikmati saat ini. Bila di zaman sebelumnya kepercayaan terhadap Tuhan telah mengorganisasi manusia menjadi kelompok-kelompok besar dan sukses membangun peradaban, saat ini justru penihilan fungsi agama menjadi kunci kemajuan zaman.

Kita bisa melihat banyak contoh dalam hal ini. Tanpa peduli pada kisah penciptaan oleh Tuhan, biologi menghasilkan pencapaian luar biasa dengan menjadikan evolusi sebagai basis utama riset tentang makhluk hidup. Psikologi bersama ilmu syaraf juga meraih kemajuan luar biasa dengan membuktikan bahwa pengalaman spiritual tak lebih dari kerja sel syaraf dan otak. Fisika, yang tidak menggubris paham kreasionis, juga tergolong luar biasa dengan merumuskan kosmologi yang bicara tentang alam semesta dari awal kejadiannya sampai kemungkinan berakhirnya, semua lewat eksperimentasi dan perhitungan matematika.

Lalu apakah Tuhan sudah mencapai masa redupnya? Apakah agama, sebagai hal yang dipercaya sebagai “pemikiran” Tuhan, segera musnah?

Untuk menjawabnya, kita perlu menelisik jauh ke takdir evolusi manusia. Kepercayaan pada Tuhan atau hal-hal tidak terlihat tidak muncul begitu saja. Ada desain otak yang menjadi basisnya. Ada faktor-faktor psikologis azali yang menyertai munculnya kepercayaan terhadap agama sejak nenek moyang kita tinggal di gua-gua sampai kita anak cucunya berdiam di rumah-rumah batu.

Agama (dan Tuhan) hadir untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan kebutuhan ketertiban sosial. Sampai hari ini, belum ada konsep lain yang sukses menjadi kanal pemuasan kegelisahan manusia secara kolektif selain agama. Alih-alih musnah, agama malah muncul dengan varian-varian yang makin beragam. Sebagian besar varian menginduk pada agama-agama besar dan sebagian lainnya muncul sebagai agama baru dengan pengikut yang terbatas.

Agama memberikan cara memaknai penderitaan yang tak terkalahkan oleh paham mana pun sampai saat ini. Tidak ada yang bisa meruntuhkan harapan atas adanya kekuatan besar tak terlihat yang akan mengangkat seorang manusia dari jurang keterpurukan. Apalagi, apapun yang nyatanya membuat orang itu bangkit, selalu bisa diartikan sebagai “Tangan Tuhan”.

Ya, agama menyediakan sumber pemaknaan yang kaya dan luwes/fleksibel. Gagasan yang fleksibel akan bertahan terus menerus di tiap zaman. Dalam hal ini, agama terbukti mampu menunjukkan elastisitasnya mengikuti zaman, di samping harus menerima serbuan gagasan baru yang mengikisnya dari hari ke hari.

Agama masih menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Agama juga telah digunakan untuk memotivasi kesuksesan ekonomi para pemeluknya. Ini terjadi di berbagai negara dan lintas agama. Orang-orang beriman (pada agamanya masing-masing) juga masih menjadikan ajaran agama yang dianut sebagai inspirasi mendidik generasi selanjutnya yang menjadi anak-anak mereka. Ini bukti bahwa agama tidak kehilangan relevansinya.

Agama tidak berhenti di kehidupan pribadi pemeluknya. Di Amerika Serikat, kebangkitan pemeluk Kristen evangelist konon telah mempengaruhi arah politik, khususnya semenjak Donald Trump berkuasa. Di belahan bumi bagian Afrika, Sudan Selatan berdiri sebagai negara baru yang memisahkan diri dari Republik Sudan yang sangat condong dalam keberpihakan pada mayoritas Muslim. Di negeri kita, polarisasi politik pun masih ditentukan oleh siapa yang meraih simpati umat Islam. Terbukti dengan adanya cawapres dari kalangan ulama dan capres cawapres yang dipilih berdasarkan kesepakatan ulama.

Jadi, siapa pun itu yang berharap agama akan segera tersingkir dari percaturan peradaban dunia, harus gigit jari. Sampai detik ini ajaran-ajaran agama masih sangat berpengaruh. Bahkan Jurgen Habermas, seorang filsuf, sampai harus merumuskan pemikirannya yang mengakui bahwa agama boleh saja dibawa ke ranah sosial politik dalam batas tertentu. Suka atau tidak, demikian Habermas, agama masih menjadi kunci dari nalar publik.

Sebagai genre ideologi yang sangat berakar dari proses evolusi, yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan azali manusia, agama akan tetap kuat bertahan sampai waktu yang sulit ditentukan. Keluwesannya tidak terkalahkan oleh jenis paham lain.

Di luar kapasitas spiritualnya dan keilahiannya, agama membuktikan diri masih perkasa dalam mengatur kehidupan manusia. Pemisahan “gereja” dan negara tidak benar-benar sukses. Agama kembali menyelusup masuk ke berbagai ranah. Ia tidak bisa dicegah untuk memancar keluar dari kotak sempit “ruang privat”, betapa pun banyak orang menginginkannya.

Sejumlah agama lahir dari naluri manusia, bukan sekedar produk zamannya. Ia juga terbukti lentur beradaptasi dengan zaman. Berbeda dengan yang disangkakan selama ini, agama ternyata menghasilkan banyak inovasi untuk mempertahankan relevansi. Jadi, bagaimana mungkin ia menjadi tidak relevan?

Sesuai fitrah.
Share:

Tuesday, February 19, 2019

Bye, Sisi!

Kemarin siang saya sedang berada di kantor ketika saya mendapat satu pesan di WhatsApp. Isinya dari orang rumah memberitahu salah satu anak Sisi meninggal dunia. Seketika saya merasa sedih. Saya tidak menyangka bisa secepat ini. Orang rumah mengabari saya bahwa kemarin kondisi anak-anak Sisi melemah. Padahal dua hari yang lalu mereka semua masih sehat dan masih lincah.

Sudah lebih dari seminggu saya memang sedang berjuang untuk menyembuhkan Sisi dan anak-anaknya yang saya beri nama Elektra, Fluffy, dan Ginger. Saya baru ngeh kalau anak-anak Sisi kena jamur. Bolak-balik saya bawa mereka semua ke dokter.

Kondisi Sisi sejak seminggu lalu memang sudah menurun. Dia tidak mau makan dan minum, tidak mau menyusui dan mengeloni anak-anaknya lagi, dan dia selalu tampak murung. Sisi terlihat lemas dan tidak berdaya.

Lalu, kemarin setelah saya pulang kantor, baru saja memasukkan motor ke garasi, kembali saya mendapat kabar anak Sisi yang lain meninggal juga. Tinggal Elektra yang masih bertahan. Itupun dia sudah lemah sekali. Elektra hanya bisa bernapas pelan.

Masih dengan seragam kantor, saya pesan Gocar dan membawa Sisi juga Elektra ke dokter hewan Nurcahyo Saksono. Kepada dokter Nurcahyo saya ceritakan kronologis lengkap asal mula Sisi dan anak-anaknya sakit, lengkap dengan cerita saya membawa mereka dari satu dokter ke dokter lain. Bahwa sebelumnya Sisi diberi obat jamur dari dokter A, tetapi oleh dokter B obat tersebut disuruh dihentikan minumnya dan dokter B memberi Sisi suntikan vitamin dan antibiotik. Karena hari Sabtu kemarin (16/02) saat dibawa ke dokter B, Sisi demam dengan suhu badan lebih dari 40℃.

Di klinik dokter Nurcahyo, Sisi diberi infus Glukosa 5%. Anehnya, setelah beberapa lama diinfus nafasnya malah menjadi memburu, seperti tersengal-sengal. Detak jantungnya juga cepat. Sisi lalu diinjeksi dengan antibiotik dan vitamin. Elektra juga diinfus dengan cairan yang sama, tetapi hanya sebentar.


Sisi dan Elektra sewaktu diinfus


Sesampainya di rumah, sebelum Maghrib, Elektra menyerah. Sekarang tinggal Sisi berjuang sendirian. Saya menunggui Sisi, duduk di sampingnya sambil menahan tangis dan mengelus-elus Sisi, "Ayo, Sisi, sembuh ya. Aku janji aku bakal urus kamu baik-baik. Aku bakal bikin kamu sehat dan bahagia. Ayo, Sisi, jangan menyerah ya."

Meski saya sudah berusaha sekuat mungkin menahan tangis, pertahanan saya ambrol juga begitu melihat dia kejang-kejang. Seperti orang bodoh, sambil memalingkan muka saya bilang, "Sudah, Sisi. Jangan kayak gitu. Aku gak kuat lihat kamu kayak begitu." Lalu, saya menangis kencang. Badan Sisi juga tampak kesakitan. Disentuh sedikit saja dia mengeong. Mulutnya tidak berhenti mengeluarkan air liur. Sekitar pukul 10.30 malam Sisi memutuskan untuk pergi.

Tidak ada tangisan lagi begitu dia pergi. Saya sudah ikhlas. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Sisi. 

Namun, rasa sedih itu masih ada. 

Hal yang membuat saya sedih kalau mengingat hidup Sisi sebelum dia bersama saya. 4,5 tahun dia tidak mendapat perhatian yang cukup. Perhatian dalam bentuk makan dan minumnya, kebersihannya, kesehatannya, dan hak-hak lainnya, seperti vaksin dan steril. Tidak usah saya ceritakan secara rinci ya. Hanya membuat saya semakin sedih. Cuma 1,5 bulan Sisi ikut saya, tapi saya sudah sayang sekali sama dia.

Kalau ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini, saya cuma ingin bilang: Please, jangan pelihara kucing dan anjing kalau kamu nggak bisa kasih dia perhatian sepenuhnya. Memelihara hewan itu komitmen seumur hidup. Itu berarti kamu harus mau dan ikhlas untuk keluar uang, waktu, dan tenaga. Jangan hanya pelihara pas mereka masih kecil dan imut atau pas lucunya saja, tetapi begitu sakit dan jorok langsung dibuang. Please, jangan. Kalau kamu tidak mau keluar uang untuk kasih dia makan yang baik, vitamin, vaksin, steril, membawanya ke dokter kalau sakit, dan keperluan dia yang lain, mending jangan. Jangan lempar tanggung jawabmu dengan membuangnya di jalan atau menyerahkannya ke orang lain. Mending dari awal kamu jangan pelihara hewan kalau kamu memang merasa tidak sanggup.

Akhirul kalam, tulisan ini dibuat untuk mengenang Sisi. Bahwa pernah hidup kucing betina lucu, imut, dan suaranya yang menggemaskan. Kucing betina yang sewaktu hamil galaknya bukan main, tetapi sayang banget sama anak-anaknya. Maafkan aku ya, Sisi, karena kurang lama membahagiakanmu. I did everything I could to help you and make you happy. Oh, girl, I miss you already!

*sekilas tentang Sisi pernah saya ceritakan di sini
Share: