Sunday, September 2, 2018

Postcrossing #7

September 02, 2018 2 Comments
Saatnya pamer kartu pos lagi dari Postcrossing! Bulan Agustus kemarin saya terima lima kartu pos dan tiga kartu pos dari teman saya.




Yuk, kita langsung lihat saja kartu posnya.

1. Dari Carla di Liguria, Itali.



Carla is from Liguria, Italy. She sent me a Pesto World Championship postcard. She told me that pesto is a traditional sauce of Liguria in North West Italy. It is made of basil leaves and pecorino sardo (cheese made from sheep milk) and traditionally prepared in a marble mortar with a wooden pestle. Pesto is commonly eaten with pasta, like spaghetti. To prepare a pesto sauce requires skills. That's why in Genoa they have a pesto world championship every year. Thank you so much for your postcard, Carla! I learnt something new from the postcard that you sent me. This is what I like from Postcrossing. There is always a possibility that you will learn something new from a postcard that you receive or even from a postcard that you send. Sent: 12 July 2018 Received: 3 August 2018 Days of traveling: 22 days Distance: 10,931 km #postcrossing #incoming #postcard #liguria #genoa #italy #pesto #food #pestochampionship
A post shared by Ranger Kimi (@insanayu) on



2. Dari Marion di Sehnde, Jerman.





3. Dari Dagma di Potsdam, Jerman.





4. Dari Vivien di Taiwan.





5. Dari Madeline di Seattle, USA.





6. Dari Imedh dan Rizky



A post shared by Ranger Kimi (@insanayu) on


Dari semua kartu pos di atas, kalian paling suka yang mana?

Saturday, September 1, 2018

Film di Agustus 2018

September 01, 2018 8 Comments
Empat belas film saya tonton selama satu bulan kemarin. Lumayan lah ya. Hidup woles itu bisa digunakan dengan banyak menonton film. Haha.

Ya sudah lah. Mari langsung saja ke daftar filmnya:

1. The Nightmare Before Christmas (1993)

Suatu hari Jack Skellington (Danny Elfman), seorang Raja dari Halloween Town, sedang berjalan-jalan. Tiba-tiba dia tersasar ke kota sebelah yang dia tidak tahu namanya. Kota tersebut sangat indah dan cerah dengan lampu-lampu berpijar. Suasana kota pun terasa hangat dan gembira meski salju turun dan cuaca dingin.

Jack merasa terheran-heran dengan keadaan kota tersebut. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan Halloween Town, sebuah kota di mana setiap harinya terasa suram. Setelah ditelisik lebih jauh, rupanya kota tersebut sedang menyambut Natal. Jack pun merasa berkewajiban ingin membawa Natal ke kotanya. Dia ingin agar Halloween Town juga merasakan aura kebahagiaan.

Sayangnya, niat baik saja tidak cukup. Penduduk Halloween Town justru kebingungan dengan konsep Natal yang diimpor oleh Jack. Namun, Jack tidak memperhatikan itu. Dia malah sibuk ingin menggantikan Santa Klaus. Alhasil, kekacauan terjadi ketika Jack menjadi Santa Klaus dan mengantarkan hadiah Natal ke setiap rumah di kota sebelah.




Rating: 3 dari 5 - liked it

2. Steve Jobs (2015)

Michael Fassbender sangat luar biasa dalam memerankan Steve Jobs. Aura menyebalkan Steve Jobs sangat terasa. Saya jadi jengkel banget melihat Jobs aslinya begitu. Keras kepala, galak, dan egois. Bahkan, anaknya sendiri tidak diakui olehnya. Tetapi, dia punya visi. Dia perfeksionis dan juga kreatif. Dengan sifatnya itulah dia bisa membawa Apple menjadi perusahaan yang sukses.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

3. Man of Steel (2013)

Henry Cavill stole the show. I don't have anything more to say.




Rating: 2 dari 5 - it was okay

4. Merantau (2009)

Iko Uwais masih unyu-unyu di sini. Badannya belum six pack dan belum sekekar sekarang. Dari segi cerita ya... Begitu deh.




Rating: 2 dari 5  - it was okay

5. The Raid (2011)

Ini adegan kelahinya keren banget gila! Adegan tembak-tembakan dan bacok-bacokannya juga terasa nyata. Ray Sahetapy sinting banget di sini. Ya wajar. Namanya juga aktor kawakan.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

6. Jagal (2012)

Film dokumenter tentang Peristiwa G30S PKI dilihat dari kacamata para pelaku. Mereka diberi dana untuk membuat film sendiri mengenai peristiwa tersebut. Terserah filmnya mau dibikin seperti apa. Joshua Oppenheimer memberikan kebebasan pada mereka.

Jagal membuat saya tercengang. Para pelaku dengan bangganya menceritakan pembunuhan yang mereka lakukan. Dengan bangga mereka bilang bahwa mereka membantu pemerintah dalam menumpas PKI. Maksud saya, bagaimana bisa seseorang bisa bangga memamerkan kisah pembantaian yang dia lakukan? Apakah dia tidak merasa terganggu dengan kenangan-kenangan tersebut? Tidak merasa dihantui? Tidak merasa bersalah?

Saya angkat topi untuk Oppenheimer yang berani untuk membuat film dengan tema sesensitif ini. Kabarnya dia sudah tidak berani lagi untuk datang ke Indonesia karena khawatir akan keselamatan nyawanya.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

7. Senyap (2014)

Jika Jagal dilihat dari kacamata pelaku, maka Senyap dilihat dari kacamata keluarga korban. Adi Rukun (adik dari korban pembunuhan G30S PKI) dengan berani mengkonfrontasi para pelaku. Dia ingin mencari jawaban kenapa kakaknya dibunuh, kenapa tidak ada yang mau bertanggung jawab, dan mengharapkan permintaan maaf dari mereka. Sayangnya, harapan Adi tersebut terlalu tinggi untuk menjadi kenyataan.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

8. Chicken Run (2000)

Sekelompok ayam di sebuah peternakan berencana melakukan pemberontakan. Mereka ingin bebas dan merdeka. Mereka tidak ingin nyawa mereka berada di tangan si pemilik peternakan.

Ceritanya agak membosankan kalau menurut saya.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

9. Beauty and the Beast (2017)

Surprise, surprise! Ternyata Emma Watson beneran nyanyi di sini dan suaranya oke juga. Meski kalau mau jujur, aktingnya dese ya so-so. But, somehow I really enjoyed watching the movie. Ada Ewan McGregor sang idolaku! Another surprise: ada Ian McKellen juga! Monmaap ye kalau saya baru tahu. Dan yang bikin saya happy sepanjang film adalah... LUKE EVANS! Oh boy, why do you have to be gay? Hilang sudah harapanku untuk dipacarin sama dia... 💔




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

10. La La Land (2017)

Tidak seheboh dan sebagus yang orang-orang bilang, tapi masih enjoyable untuk ditonton. Ceritanya tentang dua orang anak muda yang bercita-cita mengejar impian masing-masing. Jatuh cinta, lalu harus berpisah jalan. Ending-nya sangat realistis dan pantas untuk dikasih skor 4 dari 5.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

11. Storks (2016)

Konon bayi itu datangnya dari burung bangau. Jadi, burung bangau datang ke rumah-rumah mengantarkan bayi, tetapi itu dulu. Karena sekarang burung bangau mengantarkan kiriman paket barang. Baby delivery is sooo yesterday. Namun, kesalahan tidak disengaja yang dilakukan Tulip (Katie Crown) membuat dia dan Junior (Andy Samberg) harus sekali lagi mengantarkan bayi perempuan ke rumah orangtuanya.

Storks sangat lucu dan menghibur. Apalagi ketika Tulip dan Junior, sambil menggendong si Bayi, harus lari dari kejaran kawanan serigala. Kawanan serigala ini juga lucu. Mereka bisa koordinasi membentuk formasi jembatan, kapal terbang, kapal selam, bahkan emoji patah hati. Haha!




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

12. Wiro Sableng (2018)

Membaca review film ini yang berseliweran di lini masa Twitter membuat saya segera membeli tiketnya. Dan untuk film silat, Wiro Sableng oke lah. Jauh lebih oke ketimbang Pendekar Tongkat Emas yang dulu sempat bikin saya misuh-misuh.

Lucunya dapet, kostumnya oke, aktingnya oke-oke (kecuali Sherina. Maaf ya, Sherina). Akting Vino tidak usah kita ragukan lagi lah ya. Yang membuat kejutan tentu saja Andi /rif. Siapa sangka kalau dia ini yang berperan sebagai Dewa Tuak. Akting Fariz Alfarizi sebagai Bujang Gila Tapak Sakti oke juga untuk meladeni ke-sableng-an si Wiro. Akting Marcella Zalianty meski dialognya sedikit, ekspresi wajahnya sebagai permaisuri yang khawatir, cemas, takut itu kena banget. Paling suka ketika Werku Alit (Lukman Sardi) memberitahu kalau kerajaan telah jatuh, Permaisuri hanya menundukkan kepala. Raut wajahnya tergambar rasa sedih dan air matanya kemudian menetes. Keren!

Kalau boleh geregetan, saya geregetan banget sama properti yang ada. Contohnya, Kapak Naga Geni 212. Ini mah kayak kapak mainan. Atau senjata yang lain. Properti bangunan yang ada juga terlihat "lembek" banget. Pas adegan siapa gitu yang terlempar ke dinding sampai dindingnya roboh, ya dindingnya tipis banget.

Hal lain yang bikin geregetan, adegan berantem silatnya bagus sih, tapi tidak seindah dan seintens di The Raid dan The Raid: Berandal. Maaf ini mah kalau saya membandingkannya dengan keduanya. Habisnya setelah nonton kedua film tersebut, patokan film silat saya ya kedua film itu. Oh iya, adegan terbangnya juga masih kaku.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

13. Christopher Robin (2018)

Film terbaik di tahun 2018 versi saya. Tenang, saya akan menuliskan satu blog post khusus untuk review-nya. Ditunggu ya.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

14. Ocean's Eight (2018)

Tidak seperti film Ocean's sebelumnya, film Ocean's Eight ini terasa kurang greget dan kurang menegangkan. Untungnya masih tetap bisa dinikmati. Akting dari nama-nama besar memang menolong ya, seperti Sandra Bullock, Anne Hathaway, dan Helena Bonham Carter. Oh iya, jangan lupakan Cate Blanchett. She's a goddess.




Rating: 3 dari 5 - liked it

Itulah keempat belas film di bulan kemarin. Barangkali kalian ada rekomendasi film buat saya?

Friday, August 31, 2018

Berburu Sunset di Bali, Nggak Harus ke Beach Club Lho!

August 31, 2018 1 Comments

Menikmati indahnya matahari terbenam di beach club memang menyenangkan. Tetapi jika budget liburan kamu terbatas, Bali juga memberikan banyak pilihan pantai yang sebagian besar di antaranya bisa dikunjungi secara gratis untuk menikmati senja nan menawan di Pulau Dewata.

Seperti beberapa tempat wisata di Bali berikut ini, yang keindahan pantainya kala senja nggak kalah cantik dari pantai yang disewa secara khusus oleh beach club. Tempat-tempat ini pun juga tidak seramai Kuta atau Legian, sehingga kamu bisa menikmati senja dengan lebih tenang.

Double Six


foto:TheKencana/AkbarAkmal


Dua kilometer dari Kuta ke arah utara, kamu akan menemukan pantai Double Six. Tempat wisata di Bali ini diberi nama Double Six setelah sebuah diskotik dengan nama Double Six berdiri di sini. Kemudian hingga saat ini, pantai yang berada di pesisir barat Pulau Bali ini dikenal dengan nama demikian.

Karakter pantai ini mirip dengan Kuta, dengan ombak yang tidak terlalu besar dan pasir yang landai. Puluhan beanbag berjajar, siap untuk dijadikan tempat bersantai sambil memesan aneka minuman dari café yang berada di tepi pantai.

Tidak perlu membayar tiket masuk untuk menikmati senja di Pantai Double Six. Kecuali kamu membawa kendaraan, maka perlu membayar parkir.

Tanah Lot

foto:mybestplace.com


Menjadi destinasi favorit sejak dulu, rekomendasi nomor satu di halaman Traveloka, menikmati senja di Tanah Lot memang bukan hal baru. Tetapi keindahan matahari terbenam di tempat ini benar-benar memukau, sayang jika sampai dilewatkan.

Ketika mentari sudah berada di ufuk barat, air laut menyusut dan karang-karang di tepi pantai pun bermunculan. Kilau sinar matahari yang menerpa ombak dan menimpa Pura Tanah Lot di ujung pantai, membuat nuansa magis begitu terasa di tempat ini.

Pantai Amed


foto:travelizt.com


Bergeser ke arah Karanganyar, Pantai Amed adalah salah satu tempat wisata di Bali yang punya sunset berbeda. Ketika matahari mulai terbenam, ia bersembunyi di balik gunung yang tinggi menjulang. Bias sinarnya membuat pantai Amed jadi berkilauan warna jingga nan elok. Dan pemandangan ini bisa kamu dapatkan di bukit, di sisi pantai Amed.

Dreamland


foto:kumparan.com


Berlokasi di Pecatu, kawasan selatan Bali, pantai Dreamland yang juga dikenal dengan nama The New Kuta ini adalah tempat wisata di Bali yang sedang ngehits. Bukan tanpa alasan, keindahan pantai ini memang luar biasa. Selain memiliki pasir putih yang halus membentang luas dengan ombak tenang berwarna kebiruan, Dreamland juga memiliki pemandangan senja yang sangat indah.

Payung – payung besar yang dibentangkan di sisi pantai membuat Dreamland menjadi lebih cantik. Dan ketika cuaca sedang cerah, pemandangan senja di sini adalah salah satu yang terbaik di Bali.

Pantai Seminyak


foto:balitravelhub.com


Tidak jauh dari pantai Kuta terdapat Pantai Seminyak yang memiliki pemandangan senja tak kalah cantiknya. Pijar matahari yang perlahan terbenam di ufuk barat jelas terlihat dari pantai yang belakangan sedang ngehits di Bali ini.

Untuk menikmati senja di sini, kamu tak perlu membayar tiket masuk. Cukup dengan uang parkir jika membawa kendaraan, cantiknya pantai Seminyak adalah salah satu yang tak boleh terlewatkan.

Pantai Kelan


foto:reresapan.com


Pantai ini berada tepat di sebelah Bandara NgurahRai. Ketika senja tiba, langit memerah dengan pesawat yang terbang merendah hendak mendarat jadi pemandangan yang tidak akan kamu dapatkan di tempat lain. Sama seperti Kuta, tak perlu tiket untuk masuk ke Pantai Kelan.

Nikmati fenomena alam yang luar biasa indah ini secara gratis di pulau dengan banyak pantai menakjubkan. Pastinya selain sunset pantai ada banyak hal yang membuat Bali menjadi tempat wisata spesial bagi banyak orang, kepopulerannya hingga keseluruh dunia pastinya menggelitik kamu untuk datang dan melihat langsung ke sana. Yuk ke Bali!

Saturday, August 25, 2018

How Self-Compassion Helped Me

August 25, 2018 9 Comments
It's Saturday. It means weekend and I always love weekend. Weekend means the time to pamper myself by watching movies, reading a book or an ebook, going to post office, learning how to cook, or writing one (or two) blog post(s).

The weather outside is a little bit cloudy and cold. I can feel the wind is blowing. Still, I think it's a good time to write something. I'm in a good mood today.

Today I'm gonna tell you a story. It is a story about me, of course. It's about how a deep wound isn't easy to heal. It will always leave a mark and the wound can be cut open anytime no matter how long the wound is.

So, as you may already know (and I believe my friends are getting bored every time I'm saying this) that I have low self-esteem. I am not pretty and I am not smart. I also tend to ruminate things. It's exhausting. It's tiring.

Wanna know examples for my rumination?

Since I was a child I easily got sick. Until now. I can't help myself but thinking, "Why am I always getting sick? Am I gonna die at young age? Am I gonna get any terminal disease?" Or, "I think the world is gonna end anytime soon." Or, "Geez, I don't think human will survive for next hundreds of years. We're gonna suffer." Or, "Why did he cheat on me? Is it because I'm not attractive enough? Am I ugly? Am I stupid?" There you go.

These kinds of thought -- without me realizing it -- have been consuming me from inside. No wonder I'm physically and psychologically weak. I often deprecate myself. I often get stressed and panic. I worry too much. I think this is contributing to my bad health.

The last few years have not been really great for me. Deaths, illness, betrayals, disappointments, shocking news have made me exaggerating things. I called friends just to cry and blame every thing. To look at it clearly now, I made myself as the center of the universe at the time. I thought my problems were the most problematic and sophisticated ever in the whole world. These were hard for me. I viewed myself as a victim. At one point, those became my justification for me to be a jerk myself.

Just when I thought things were getting better, I had to be crushed again. The wound that caused by someone often times still open and bleed. I was never completely healed. Few months back I had relapses. I was so down. 

Then my psychologist suggested me to read about self-compassion. You know, it's funny that I've never heard of self-compassion before. I mean, I studied psychology. That made me doubt myself as a psychology student. Ha, ha.

Well, back to self-compassion.

The first thing I did was watching the TED Talk given by Kristin Neff. She studies self-compassion for more than 15 years now. Definitely she's one of the leading experts about self-compassion.




We are often our own worst critics. We are our own enemies. It's easy for us to say bad things--things that we will never say to our loved ones--to ourselves. Question is: Why? Why can't we treat ourselves with loving and kindness just like we treat our partner, family, and best friends? Do we ever realize how devastating the effect will be if we continue to be hard on ourselves?

After watching that, I was getting more curious. So, I read an ebook titled Self-Compassion by Kristin Neff. Though I think it's a little bit of autobiography, but it's still a cool book. It's an eye opener. It doesn't only write about self-compassion (or her life story), but also gives you guidance how to practice it.

I'm not gonna discuss the whole book here. It will be very long and boring. Besides, this post is about my story, remember? But, I'm still gonna give you a glimpse from the book.

First of all, what is self-compassion? From her website:

Having compassion for oneself is really no different than having compassion for others. ... Self-compassion involves acting the same way towards yourself when you are having a difficult time, fail, or notice something you don’t like about yourself. Instead of just ignoring your pain with a “stiff upper lip” mentality, you stop to tell yourself “this is really difficult right now,” how can I comfort and care for myself in this moment?

There are three components of self-compassion. They are:

1. Self-Kindness
that we be gentle and understanding with ourselves rather than harshly critical and judgmental.

2. Common Humanity
feeling connected with others in the experience of life rather than feeling isolated and alienated by our suffering.

3. Mindfulness
that we hold our experience in balanced awareness, rather than ignoring our pain or exaggerating it.

So, it's okay to have flaws. It's okay to be hurtful. It's okay to fail. We're human after all. We don't have to be perfect. What important is that you have to love and respect yourself and accept your flaws.

When I incorporate it into my life, I feel so much different now. In a good way. When I relapsed one more time, I tried to calm myself. I said, "Kimi, I know you're feeling hurt right now and it's suck. You're not who you think you are. You're a sweet, kind, and loving person. You're not ugly and you're not stupid. Stop blaming yourself. Believe me, you're gonna be okay. You're gonna get pass through this. You have to know that you're not alone. You're not the first person who experienced this. Other people experience this feeling as well. Don't alienate yourself. Don't ever think that this is the end of the world."

Or when there are flashbacks of bad memories suddenly interrupting me, I take a deep breath and pause for a moment. Instead of being reactive like I used to (by panicking or crying), I welcome those flashbacks. I'm watching them like I watch a movie, but no feelings involved. I aware of these memories. They already happened in the past and nothing that I can do to change them. So, what's the point of being angry, sad, and self-blaming? Nothing. I accepted the facts that I was foolish, reckless, and bad at decision-making. I will learn from them so it won't happen again in the future.

However, there is one important thing why it is so much easier for me to incorporate self-compassion. I have found the closure for the recurrent bleeding wound. I know what caused it and I accept it. That's the key: acceptance, so I can make peace with myself. Hopefully, it will last forever.

Thank you to my psychologist who has helped me to find my closure. And thank you for suggesting me to learn about self-compassion. It works, Mbak Icha. I'm so much better now. I promise that I will always practice self-compassion. It helps me in so many levels. This blog post is the proof. I can calmly write the most damaging wound that I ever had.

Wednesday, August 8, 2018

Tentang Take and Give

August 08, 2018 11 Comments
Dalam relationship (apa saja) saya punya prinsip it takes two to tango. I cannot do the tango dance alone. I need a partner. Dengan kata lain itu berarti dalam menjalin hubungan dengan orang lain itu harus resiprokal alias timbal-balik. Antara take and give harus seimbang.

Saya bukan manusia suci yang penuh welas asih dan bisa tulus ikhlas berbuat baik terus-menerus ke orang lain. Ya bisa sih asalkan saya juga mendapatkan balasan yang seimbang. Kalau saya baik melulu, tapi saya merasa saya tidak memperoleh kebaikan dari orang tersebut ya lama-lama saya juga malas. Sebaliknya, kalau ada orang yang baik banget sama saya, sebisa mungkin saya berusaha membalas kebaikannya. Saya nggak mau take it for granted. Saya orangnya tahu diri kok.

Prinsip saya sederhana: saya nggak bisa memberi terus-terusan dan saya juga nggak bisa terima terus-terusan.

Dan ini berlaku dalam segala macam jenis relationship yang saya punya, ya keluarga, romantic relationship, pertemanan, dan juga di kantor. Kalau kamu baik sama saya, saya bisa jauh lebih baik ke kamu. Kalau kamu jahat sama saya, ehm, saya tidak perlu jahat balik ke kamu, tapi saya akan memilih untuk pergi dari kamu. Sesederhana itu.

Dengan punya prinsip begini saya melihat segala macam relationship yang saya punya itu sebagai sebuah investasi. Kalau investasi dilakukan pada orang yang tepat, ya syukur Alhamdulillah. Saya bahagia sekali. Itu berarti saya punya hubungan yang sehat dan baik dengan orang tersebut. I'm looking at you, guys, dear family, my best friends, and mas-masnya. 😘




Namun, kalau investasi dilakukan pada orang yang salah, rasanya... Duh, bajingan. Kampret. Brengsek. Saya sudah investasi banyak sekali, katakanlah waktu, tenaga, perasaan, everything, tapi orang tersebut tidak melakukan apa-apa kok rasanya asem sekali ya... Rugi banget. Ujung-ujungnya kalau sudah begini saya berhenti berinvestasi. I walked out. Dan sisanya saya serahkan ke Tuhan semoga Tuhan membalas kebaikan saya. Saya akan menganggapnya sebagai menabung karma baik. Meski penuh dengan perasaan jengkel, masih terselip harapan di dalam hati semoga saya meninggalkan jejak kenangan yang bagus dalam hidup orang tersebut. And this I'm looking at you, dear prick, asshole, jerk ex(es).

Saya tidak tahu punya prinsip seperti ini apakah bagus atau buruk. Di satu sisi saya melihat ini sebagai cara saya bertahan dan melindungi diri. Ini adalah cara saya untuk tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Ketika saya sudah melakukan semuanya, lalu tidak dihargai ya buat apa bertahan. Betul tidak?

Namun, di sisi lain kok sepertinya saya ini penuh perhitungan sekali. Selalu melihat segala sesuatu dari untung dan rugi. Mental saya belum terlatih untuk bisa berperilaku baik serta tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.

But, I'm trying to learn. I want to. Saya harus selalu menanamkan wejangan ke otak saya, walaupun saya melakukan investasi yang buruk pada seseorang, saya percaya Tuhan tidak tidur. Tuhan akan membalas semua apa yang saya lakukan.

Jadi, jangan jadikan bad investment tersebut sebagai penghalang untuk terus berbuat baik ya, Kimi. Banyak-banyak menabung karma baik. And the rest will follow.