Sunday, January 24, 2021

Selamat Jalan, Mama... Sampai Nanti Kita Bertemu Lagi Ya.

Sudah dua bulan sejak terakhir blog ini update. Saya butuh waktu untuk menenangkan dan memberanikan diri membuka dashboard blog untuk menceritakan kejadian terbaru dalam hidup saya. Karena apa yang akan saya ceritakan ini tidaklah mudah buat saya.

Sebentar... Izinkan saya menarik napas panjang terlebih dahulu.

.
.
.
.
.

Oke. Sudah. 
Share:

Monday, November 23, 2020

Teori-Teori Gender Bagian Ketiga

Chapter 2: Theoretical Perspectives on Gender

Di tulisan sebelumnya kita sudah membahas teori Skema Gender dan Sosiobiologi juga Psikologi Evolusi. Di tulisan ini kita akan membahas teori Peran Sosial (Social Role Theory) dan teori-teori dari Feminisme.

Baiklah. Kita langsung saja ya membahas satu per satu.

1. Social Role Theory

Psikolog Sosial Alice Eagly dan Wendy Wood (1999) mengkritik teori strategi seksual dari David Buss. Mereka mengajukan sebuah alternatif teori yang mereka sebut dengan Social Role Theory atau saya terjemahkan dengan teori Peran Sosial. Teori ini menekankan pada variabilitas pada pola-pola yang ada di berbagai budaya terkait dengan perbedaan gender. Menurut teori ini, pembagian kerja berdasarkan gender, atau peran gender, mendorong perbedaan lain dalam perilaku. Teori ini mengakui perbedaan biologis antara pria dan wanita, seperti perbedaan ukuran dan kekuatan tubuh, juga kapasitas tubuh wanita untuk hamil dan menyusui. Akan tetapi, mereka menekankan bahwa perbedaan ini semakin diperkuat oleh keyakinan budaya. Tubuh pria yang lebih besar dan lebih kuat membuat mereka melakukan aktivitas yang bersifat agresif, misalnya perang, yang pada akhirnya memberikan mereka status, kekayaan, dan wanita. Dengan demikian, membuat status wanita semakin menjadi subordinate.

Social role theory: A theory of the origin of psychological gender differences that focuses on the social structure, particularly the division of labor between men and women; also called social structural theory.

Seperti yang sudah ditulis di atas, perbedaan biologis antara pria dan wanita itu diperkuat oleh budaya setempat. Eagly dan Wood (1999) menganalisa ulang data 37 budaya dari Buss. Hasilnya adalah terdapat korelasi yang tinggi antara ketidaksetaraan gender dengan perbedaan wanita dan pria dalam memilih pasangan. Dengan kata lain, di negara-negara yang kesempatan antara pria dan wanita setara, maka pria dan wanitanya similar. Hal ini menunjukkan jika preferensi dalam memilih pasangan ditentukan dari hasil evolusi ratusan ribu tahun yang lalu, seharusnya tidak ada perbedaan dalam semua budaya. Hasil analisa ini mendukung teori Peran Sosial yang diajukan oleh Eagly dan Wood.
Share:

Sunday, November 22, 2020

[Review] Miss Peregrine's Home for Peculiar Children

Judul: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children
Sutradara: Tim Burton
Penulis: Ransom Riggs (novel), Jane Goldman (screenplay)
Pemain: Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson
Tanggal rilis: 29 September 2016 (UK)
Durasi: 127 menit
Rating: 5 dari 5⭐ - it was amazing

Jake Portman (Asa Butterfield) adalah seorang remaja yang biasa saja. Dia tidak populer dan tidak punya banyak teman. Suatu hari, kakeknya -- Abe Portman (Terence Stamp) -- ditemukan tewas dengan matanya hilang.

Jake sangat terpukul dengan kematian kakeknya karena hubungan mereka yang dekat. Sewaktu kecil, kakeknya selalu menceritakan kisah hidupnya dengan anak-anak peculiar di rumah panti asuhan yang dirawat oleh Miss Alma Peregrine (Eva Green). Karena sering merasa melihat monster, atau sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain, Jake merasa dirinya gila. Dia pun konseling ke Dr. Golan (Allison Janney).

Dr. Golan bilang adalah hal wajar Jake berhalusinasi karena kehilangan kakek yang dicintainya adalah sebuah pengalaman traumatis. Ketika Jake datang ke Dr. Golan membawa petunjuk dari kakeknya, Dr. Golan mendorong Jake untuk ke Wales dan melihat rumah panti yang sering disebut-sebut oleh Abe. Di sinilah petualangan Jake dimulai.
Share:

Thursday, November 19, 2020

Teori-Teori Gender Bagian Kedua

Chapter 2: Theoretical Perspectives on Gender

Pada tulisan Teori-Teori Gender Bagian Pertama, kita membahas tiga teori, yaitu teori Psikoanalisa (Psychoanalytic Theory), teori Belajar Sosial (Social Learning Theory), dan teori Perkembangan Kognitif (Cognitive-Developmental Theory). Di bagian kedua ini kita akan membahas dua teori, yaitu teori Skema Gender (Gender Schema Theory) dan teori Sosiobiologi dan Psikologi Evolusi (Sociobiology and Evolutionary Psychology Theory).

Mari kita langsung saja membahas teorinya satu per satu.
Share:

Monday, November 16, 2020

[Review] Road to Perdition

Judul: Road to Perdition
Sutradara: Sam Mendes
Penulis: Max Allan Collins (novel grafis), Richard Piers Rayner (novel grafis), David Self (screenplay)
Pemain: Tom Hanks, Jude Law, Paul Newman
Tanggal rilis: 27 September 2002
Durasi: 117 menit
Rating: 5 dari 5⭐ - it was amazing

Setiap anak pasti -- well, atau seharusnya -- tahu pekerjaan orangtuanya, tapi tidak dengan Michael Sullivan, Jr. (Tyler Hoechlin) dan Peter Sullivan (Liam Aiken). Mereka tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan dari ayah mereka, Michael Sullivan (Tom Hanks). Karena penasaran, pada suatu malam Michael, Jr. menyelinap di mobil mereka dan mengikuti ke mana ayahnya bekerja.

Saat itu, Michael menemani Connor Rooney (Daniel Craig) untuk menemui anak buah dari John Rooney (Paul Newman), yang merupakan ayah dari Connor. Connor, yang sifatnya gegabah, manja, dan semaunya karena dia merasa dia adalah anak dari seorang bos mafia, membunuh anak buah John yang ternyata adalah orang kepercayaan John.

Kejadian tersebut disaksikan oleh Michael, Jr. Michael sudah menjamin bahwa Michael, Jr. tidak akan berbicara kepada siapapun, tetapi Connor tidak yakin. Dan, sekali lagi, dengan gegabah dan semaunya saja dia membunuh Annie Sullivan (Jennifer Jason Leigh) -- istri Michael -- dan Peter, yang dikira Connor adalah Michael, Jr. Michael, Jr. sendiri baru pulang dengan sepedanya ketika peristiwa itu terjadi. Dia melihat Connor keluar dari rumahnya.
Share: