Sunday, April 7, 2019

A New Kid on the Block

Hari Selasa (02/04) kemarin saya pulang sedikit telat dari kantor. Sampai rumah berbarengan dengan azan Maghrib berkumandang. Ketika dibukakan pintu tante saya langsung menyampaikan berita. Beliau bilang kucing putih yang kemarin pernah nyasar ke rumah sekarang datang lagi. Saya segera menemui kucing putih tersebut. Langsung saya elus-elus dan ajak ngobrol.

Ini sudah kedua kalinya dia main ke rumah saya. Waktu pertama kali dia ke rumah, kami semua senang sekali, terutama Salwa, keponakan saya. Dia sangat manja. Dia mendatangi semua orang untuk minta dielus-elus. Salwa, yang memang sudah lama sekali ingin punya kucing manja (FYI, Bubu dan Miko nggak ada manjanya sama sekali), seketika jatuh hati sama si kucing. Kami semua berharap tidak ada yang datang mencari dia jadi kami bisa pelihara kan. Hihi.

Sayangnya, waktu itu ada yang mencari si kucing. Awalnya kami tidak tahu dia milik siapa. Ternyata dia milik tetangga saya. Rumahnya hanya berjarak tiga rumah. Salwa sedih sekali begitu si kucing diambil.

Nah, kemarin itu tidak ada yang mencari dia. Saya bilang sama tante saya besok pagi saja kami antar ke yang punya. Kan besok libur juga jadi saya bisa ikut mengantarkan si kucing.

Keesokan paginya kami langsung ke rumah tetangga. Begitu ketemu dengan mbak tetangga beliau bilang memang beliau sudah ada rencana mau melepas kucingnya itu. Karena beliau merasa tidak sanggup untuk mengurusnya. Beliau jarang di rumah. Jadi kan kasihan kucing-kucingnya kalau sampai tidak terawat. Kemudian, Mbak Tetangga bilang, "Kalau Mbak mau pelihara Moli (nama kucing putih jantan tersebut), asal dipelihara sungguh-sungguh, nggak apa-apa Mbak adopsi. Ambil saja."

Kebetulan sekali beberapa hari sebelumnya Mama sempat bilang ke saya kalau beliau mau kucing lagi, tapi Mama maunya kucing yang besar dan gagah seperti Miko. Sementara Salwa masih sedih karena gagal mengadopsi kucing hitam yang manja dari klinik dokter hewan. Apa ini yang namanya rejeki ya? Alhamdulillah kalau memang iya. Dengan senang hati saya menerima Moli, yang kemudian saya ganti namanya menjadi Bruno. Mama dan Salwa pasti senang sekali. Oh iya, kata Mbak Tetangga, usia Bruno sekitar satu tahun lebih sedikit. 




Hari itu juga saya bawa Bruno ke dokter hewan langganan. Sebelum resmi diadopsi Bruno harus dicek dulu kesehatannya. Kan takutnya dia sakit atau bagaimana. Khawatir dong nanti dia menulari Bubu dan Miko. Meski yah kalau dilihat secara kasatmata Bruno memang tampak tidak terawat. Dia kotor, terutama di bagian buntutnya, seperti Miko kemarin. Saya curiga ada jamur tumbuh di buntut Bruno. Bulunya rontok cukup parah. Belum lagi dia bau sekali. Entahlah sudah berapa lama dia tidak dimandikan. Badannya juga kecil.

Dokternya berasa amazed melihat Bruno. Saya jadi curiga jangan-jangan dokternya dalam hati ngomong ini si Mbak Kimi demen amat ya mengangkut kucing-kucing bermasalah. Miko dan Sisi dulu begitu juga. Tidak terawat. Mereka kutuan dan jamuran. Selain itu, tampaknya Pak Dokter juga amazed begitu tahu saya mendapatkan Bruno secara gratis. Bruno kan kucing mahal. Kalau kata Mama saya, sih, kucing bule.

Dokter menyuntikkan vitamin, obat anti jamur, obat cacing, dan obat kutu juga. Dokter juga berpesan seminggu yang akan datang (which is Rabu besok) jangan lupa bawa Bruno lagi ke sana untuk divaksin. Siap, Pak Dokter!

Nah, Bruno, semoga kamu betah dan bahagia bersama kami keluarga barumu. Cepetan dong akur sama Bubu dan Miko. Semoga kamu cepat sembuh dari jamurmu ya. Dan semoga kamu selalu sehat. Insya Allah kami akan merawatmu dengan baik dan sepenuh hati.
Share:

Monday, April 1, 2019

Film di Maret 2019

Halo, teman-teman semuanya! Tanggal 1 berarti saatnya kita merekap film. Hore!

Inilah daftar film yang saya tonton di bulan Maret kemarin:

1. The Shawshank Redemption (1994)

Entah sudah ada beberapa orang yang merekomendasikan film ini ke saya. Akhirnya, setelah menunda-nunda karena merasa tidak yakin, saya nonton juga dan... WOW! Moral ceritanya adalah kalau mau balas dendam itu yang sabar. Ini adalah contoh kalau revenge is a dish best served cold. You will get your time. And to you, I will make a sweet, sweet revenge.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

2. The Favourite (2018)

Menyaksikan dua orang wanita, Lady Sarah (Rachel Weisz) dan Abigail Hill (Emma Stone), bersaing memperebutkan perhatian Queen Anne (Olivia Colman). Wanita yang satu memang sudah berteman lama dengan sang ratu, sementara yang lain wanita muda yang baru datang ke istana. Dia begitu berambisi ingin kembali menikmati kehidupan glamor para bangsawan.

Queen Anne begitu mudah dimanipulasi. Tipikal anak manja yang cuma peduli sama kesenangan pribadi. Beri dia sedikit kesenangan maka dia akan menyerahkan negaranya padamu. Maka tak heran kalau Lady Sarah dan Abigail saling menerkam satu sama lain. Mereka memiliki agendanya masing-masing. Awalnya pertarungan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, lambat-laun menjadi pertempuran terbuka.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

3. Captain Marvel (2019)

Cerita Captain Marvel (Brie Larson) adalah cerita kisah hidup Carol Danvers. Perjalanan hidupnya yang sejak kecil diremehkan karena dia wanita, namun bisa menjadi pilot Angkatan Udara AS. Lalu, cerita bagaimana dia mendapatkan kekuatannya dan memulai karirnya sebagai pahlawan super.

By the way, akhirnya kita jadi tahu kenapa Nick Fury tidak pernah meminta pertolongan dari Carol setiap Bumi diserang musuh-musuh ajaib. Hilang sudah rasa penasaran dari pertanyaan, "If Captain Marvel is that powerful how come Nick never asked her for help?"




Rating: 4 dari 5 - really liked it

4. The Stanford Prison Experiment (2015)

Saya tidak suka karena film ini terlalu mendramatisir penelitian aslinya. Setahu saya, pada eksperimen sebenarnya Philip Zimbardo sudah menekankan penjaga tidak boleh melakukan serangan fisik kepada para tahanan, tapi di film ini penjaganya menyerang tahanan dengan memukul, mendorong ke dinding, atau serangan lain yang bersifat fisik. Saya nontonnya jadi tidak nyaman sendiri. Maksud saya, itu sangat esensial, tapi filmnya mengabaikan hal penting tersebut. Bisa juga karena saya tidak nyaman melihat perlakuan para penjaga ini terhadap para tahanan. Saya jadi tidak kuat dan memutuskan tidak nonton sampai habis.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

5. Vice (2018)

Stunning performance from Christian Bale, as usual. Mirip banget. Kalaupun ada kurangnya, di film ini Dick Cheney terlihat lebih tua ketimbang aslinya untuk di tahun 2000-an. Saya sempat googling foto-fotonya Dick Cheney. Hihihi.

Well, ada satu dialog dari narator yang ingin saya kutip di sini:

For man like Donald Rumsfeld, he only wanted three things from his lackey. He had to keep his mouth shut, do what he was told, and always, always, be loyal.

Njir, saya kalau suatu saat nanti jadi bos bakal setipe kayak Donald Rumsfeld nih. πŸ™ˆ




Rating: 3 dari 5  - liked it

6. Roma (2018)

Film yang membosankan ditambah dengan hitam-putih makin membosankan.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

7. Room (2015)

Saya tidak sanggup membayangkan disekap selama tujuh tahun, tapi masih bisa bertahan untuk tetap waras selama disekap tersebut. Ma (Brie Larson) bisa terlihat cool, composed, sewaktu dia disekap, tapi begitu dia keluar langsung deh keluar semua emosinya. Wajar kalau dia diganjar Piala Oscar sebagai Aktris Terbaik. Oh, dan sampai sekarang saya masih bingung dan semacam tidak terima Jacob Tremblay dengan akting sekeren ini kenapa tidak dapat nominasi Oscar?




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

8. The Wife (2017)

Dalam perjalanan menemani suaminya ke Stockholm untuk menerima Nobel Sastra membuat Joan Castleman (Glenn Close) mempertanyakan jalan hidupnya selama tiga puluh tahun lebih terakhir. Dia menjadi ghostwriter untuk suaminya yang tukang selingkuh, self-grandeur, egois, sombong, dan hobi merendahkan orang lain. Dia bahkan membuat suaminya bisa menang Nobel karena novel yang ditulisnya atas nama Joe Castleman (Jonathan Pryce), tapi apa yang dia dapat? Sebuah penghinaan dari suaminya yang bilang ke mana-mana kalau, "My wife doesn't write."?

Nanti di film kita akan disuguhkan kilas balik hidup Joan dan Joe. Bagaimana awal mula mereka bertemu, jatuh cinta dan menikah, dan kenapa untuk seseorang yang memiliki bakat menulis luar biasa seperti Joan memutuskan untuk bersembunyi di balik layar dan malah membesarkan nama Joe di dunia sastra.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

9. The Concubine (2012)

Ini kenapa ya film-film Korea meski semi-semi begitu, tapi plot ceritanya tetap keren? Termasuk The Concubine ini.




Rating: 3 dari 5 - liked it

10. Kung Fu Panda (2008)

Po (Jack Black) terobsesi ingin menjadi jagoan kung fu. Sampai nasib mempertemukannya dengan Oogway yang bilang kalau Po adalah The Dragon Warrior. Lha, kok bisa padahal kan dia belum pernah latihan kung fu sebelumnya? Tapi, ya bisa. Selama Po percaya sama dirinya sendiri bahwa dia adalah The Dragon Warrior. Eh, ngomong-ngomong, Viper di sini membuat ular itu jadi hewan yang lucu dan menggemaskan.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

11. Kung Fu Panda 2 (2011)

Po dan teman-temannya akan mengalahkan penjahat bernama Shen (Gary Oldman) yang punya senjata canggih. Namun, tidak disangka oleh Po menghadapi Shen berarti dia juga harus menghadapi masa lalunya.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

12. Kung Fu Panda 3 (2016)

Musuh lama Oogway, Kai, harusnya sudah lama mati. Tapi, dia di dunia arwah menyerap energi chi dari semua jagoan di sana, jadinya dia bisa kembali ke dunia yang fana ini. Ambisinya dia akan mengalahkan The Dragon Warrior dan menyerap semua chi ahli kung fu, termasuk chi milik Po.

Untuk mengalahkan Kai, Po harus menjadi The Chi Master. Sayangnya, itu tidak mudah, Ferguso. Bagaimana caranya Po bisa menguasai chi hanya dalam waktu sebentar sebelum Kai datang dan membuat mereka semua jadi giok?




Rating: 4 dari 5 - really liked it

13. Shoplifters (2018)

Ternyata ini ceritanya bukan cuma soal satu keluarga yang hobi ngutil, tapi lebih dari itu. Ada rahasia gelap yang mengikuti. Sebuah drama tentang keluarga yang pahit dan getir. Setelah mereka memutuskan untuk menculik seorang anak kecil (tapi, Nobuyo membantahnya. Itu bukan menculik namanya karena mereka tidak minta tebusan), satu per satu ditunjukkan kepada kita cerita sebenarnya yang tersembunyi di balik keluarga Shibata.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

14. How to Train Your Dragon: The Hidden World (2018)

Dengan ancaman yang terus datang Hiccup mengusulkan untuk mencari tempat tersembunyi yang pernah disebut-sebut ayahnya sewaktu Hiccup masih kecil. Dalam usaha pencarian tempat tersebut mereka dikejar-kejar oleh Grimmel dan anak buahnya. Grimmel ingin membunuh semua Night Furies yang ada, termasuk Toothless.

Tentu saja Hiccup tidak membiarkan itu terjadi. Bersama-sama Hiccup dan Toothless bertarung dan mengalahkan si penjahat. Seharusnya cerita berakhir bahagia di mana mereka berhasil mengalahkan penjahat, mereka menemukan tempat rahasia tersebut, dan mereka semua hidup bahagia selamanya. Namun, di sepanjang film Hiccup merenung. Hidup mereka--hidup para naga--akan selalu terancam selama mereka masih bersama. Jadi, Hiccup mengambil keputusan yang tidak mudah: Ucapan perpisahan harus disampaikan.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

15. The Nice Guys (2016)

Ryan Gosling di sini koplak banget. Jadi detektif swasta, tapi goblo goblo gimana gitu. Ada Jackson Healy (Russell Crowe) yang sifatnya bertolak belakang dengan Holland March (Ryan Gosling). Saya paling suka dengan karakter Holly March yang diperankan Angourie Rice. Jadi dewasa sebelum waktunya dan tukang "ngeplak" bapaknya. Dan, oh, suaranya Om Russell itu lho bikin kagak nahan! Haduh...




Rating: 3.5 dari 5

Wuih. Lumayan juga ya 15 film dalam sebulan. ditambah satu (eh atau dua ya?) season The Big Bang Theory. Semoga bulan April ini saya semakin produktif nonton film (dan mengabaikan kehidupan. Xixixixixi).
Share:

Sunday, March 31, 2019

Kenapa Kita Tidak Mau Menolong?

Dini hari sekitar pukul 3 pagi tanggal 13 Maret 1964 Kitty Genovese keluar dari mobilnya. Dia baru saja sampai apartemen dari tempat kerjanya di bar. Ketika dia menuju apartemennya dia melihat seorang pria, yang kemudian diketahui namanya Winston Moseley, memegang pisau dan mendekatinya. Kitty segera lari menuju pintu apartemen, namun sayang dia berhasil ditangkap oleh laki-laki jahat tersebut. Punggungnya ditikam dua kali. Kitty teriak, "Oh my God! He stabbed me! Help me!" Tidak ada yang bergerak menolong. Hanya ada suara pria yang berteriak dari dalam apartemen, "Let that girl alone!" Winston langsung kabur meninggalkan Kitty.


Kitty Genovese
gambar dari sini


Sepuluh menit kemudian Winston kembali datang dan menemukan Kitty dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Kitty tergeletak di depan pintu apartemennya yang terkunci. Menggunakan tenaganya yang tersisa Kitty masih bisa melawan Winston yang berusaha memperkosanya. Winston terlalu perkasa dan Kitty terlalu lemah. Winston masih menyerangnya, lalu memperkosa Kitty, mencuri uangnya, kemudian pergi meninggalkan Kitty yang berlumuran darah. Kitty meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Kemudian, ada Deletha Word. Di suatu dini hari di bulan Agustus 1995, Deletha sedang dalam perjalanan pulang. Tanpa sengaja dia menyerempet mobil Martell Welch Jr. Deletha tidak berhenti dan Martell mengejar Deletha. Malang bagi Deletha karena dia terjebak macet dan berhasil dikejar Martell. Martell mengamuk bagai kesetanan. Dia memukuli Deletha, membantingnya ke aspal, mencekiknya, bahkan merobek-robek pakaian Deletha. Dua kali dia berusaha kabur dari Martell, dua kali itu pula Martell berhasil menangkapnya kembali. Dia berhasil kabur sekali lagi dan lari ke arah jembatan. Namun, begitu melihat Martell mendekat, dia tampak sangat ketakutan dan jatuh terjun 30 kaki ke dalam Sungai Detroit. Deletha tidak bisa berenang dan jasadnya baru ditemukan keesokan paginya.

Apa persamaan dari dua peristiwa ini? Yup, tidak ada satu pun orang yang berusaha menyelamatkan mereka berdua. Pada kasus Kitty, beberapa tetangga di apartemen Kitty mendengar jeritan minta tolong Kitty, tetapi tidak ada yang tergerak untuk keluar dari apartemen mereka dan menolong Kitty (hanya ada satu orang yang bereaksi dengan berteriak dari dalam apartemen). Bahkan, untuk saat itu langsung menelpon polisi pun tidak ada. Padahal kejadian berlangsung sekitar 35 menit. Memang ada tetangganya yang menelpon polisi, tetapi dia menelpon polisi sekitar satu jam kemudian. Sudah sangat terlambat.

Pada kasus Deletha pun demikian. Kejadian penyerangan brutal terhadap Deletha terjadi di tengah kemacetan. Penyerangan itu terjadi sekitar 25 menit. Namun, sayangnya tidak ada yang menghentikan Martell. Sekadar untuk menelpon polisi pun tidak ada padahal beberapa dari mereka punya ponsel. Atau, lari ke kantor polisi yang ada di ujung jalan jembatan juga tidak. Mereka hanya diam dan menonton serangan Martell ke Deletha.

Di Psikologi Sosial fenomena yang terjadi di dua peristiwa ini kita kenal dengan bystander effect, yaitu situasi di mana individu merasa tidak berkewajiban untuk menolong seseorang -- yang sedang dalam kesulitan, situasi genting, atau ancaman -- jika ada individu lain juga yang ada di tempat tersebut. Semakin banyak individu, semakin kecil kemungkinan mereka mau menolong. Akan tetapi, besar kemungkinan individu mau menolong jika mereka sendirian atau hanya terdiri dari segelintir orang.

Terminologi bystander effect pertama kali dipopulerkan oleh John M. Darley dan Bibb LatanΓ© pada tahun 1968 karena tertarik dengan kasus Kitty. Kok bisa sih ada banyak orang di apartemen tersebut, tapi tidak ada satupun yang tergerak untuk menolong Kitty? Mereka melakukan serangkaian eksperimen untuk meneliti fenomena bystander effect ini.

Salah satu eksperimen Dr. Darley adalah partisipan diminta untuk menyaksikan sebuah video dan meminta komentar mereka akan video tersebut. Mereka diberi insentif $10 untuk berpartisipasi. Sebelum mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka melewati seorang pria yang terlihat sebagai petugas pemeliharaan (maintenance worker). Petugas tersebut sedang bekerja memasang kabel atau sejenisnya.

Ketika partisipan sedang asyik menonton video, tiba-tiba mereka mendengar suara pria terjatuh dari tangga dan berteriak kesakitan. Awalnya, para partisipan ini hanya sendirian. Mendengar suara gaduh sebagian besar dari mereka berhenti dari aktivitas mereka dan segera keluar dari ruangan untuk menolong pria tersebut.

Namun, apa jadinya jika ada tambahan dua orang lagi di dalam ruangan? Dua orang ini adalah confederates dari Dr. Darley. Mereka diminta untuk tidak melakukan apapun jika mendengar suara pria yang terjatuh tadi. Dr. Darley dan rekan ingin melihat bagaimana reaksi dari partisipan. Seperti yang sudah diduga, dengan adanya dua orang tambahan yang tidak melakukan apa-apa, sebagian besar dari partisipan juga tidak melakukan apapun begitu mendengar suara pria terjatuh dan mengerang kesakitan.

Dari reaksi yang terekam oleh kamera Dr. Darley, para partisipan hanya kaget, kemudian mengevaluasi dua orang yang ada di samping kanan dan kirinya. Begitu melihat dua orang confederates tersebut tidak melakukan tindakan apapun, para partisipan juga ikut mengabaikan.

Ada beberapa penjelasan dari perilaku bystander effect tersebut. Pertama, misinterpretasi. Pada kasus Kitty para tetangga melaporkan mereka mendengar ada keributan. Hanya saja mereka tidak mau mengintervensi karena mereka mengira itu pertengkaran antar sepasang kekasih.

Kedua, diffusion of responsibility, yaitu situasi di mana ketika individu berada di dalam sebuah kelompok yang besar maka kecil kemungkinan individu tersebut untuk mengambil tindakan. Mudahnya begini, saling lirik-lirikan dan lempar-lemparan tanggung jawab. "Eh, harusnya elo nih yang nolongin. Atau elo. Atau elo. Atau elo." Begitu kira-kira. Asumsi saya yang terjadi pada kasus Deletha bisa saja para bystanders di sana saling tunggu siapa yang mau maju duluan menghentikan Martell. Atau, "Ah, barangkali yang lain sudah ada yang menelpon polisi." Mereka mengandalkan atau berharap orang lain yang akan melakukan sebuah tindakan dan bukannya mereka sendiri yang bertindak.

Ketika kita tidak berada di dalam situasi sebagai bystander yang ada di kasus Kitty, Deletha, atau kasus-kasus serupa lainnya, kita merasa memiliki nilai moral. Kalau kata Dr. Philip Zimbardo proscriptive judgment. "Tidak mungkin saya akan diam begitu saja. Kalau saya di sana, pasti saya akan melakukan sesuatu." Masalahnya, seperti yang sudah kita bahas di atas, kita tidak selalu bisa bertindak sesuai moral dan kata hati.

Sekarang apa yang harus kita lakukan seandainya kita berada di dalam situasi tersebut? Semoga otak kita cukup cepat berpikir dan teringat akan kasus Kitty dan Deletha. Jangan sampai diamnya kita mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Kalau kita tidak bisa melawan sendirian, telpon polisi. Karena itulah kita wajib untuk menyimpan nomor-nomor penting di ponsel kita, seperti nomor telpon kantor polisi. Saya juga tidak menganjurkan untuk melawan sendirian sih. Karena kalau mau menolong orang juga harus dipikirkan keselamatan kitanya. Jangan sampai karena niat baik kita ingin menolong, justru malah membawa kita celaka. Egois? Tidak. Itu logis.

Dr. Darley ketika ditanya di sebuah wawancara apa yang harus kita lakukan jika kita adalah korban, misalnya kita terkena serangan jantung, sementara orang-orang hanya berkerumun dan diam mematung. Apa yang harus kita lakukan? Dr. Darley menjawab:

I'm saying, "I'm the victim. I really need help. Everybody, I really need help, and you, Mister, you—I'm looking you in the eyes. Will you please do, whatever?" ... Pick a face out of the crowd. That person knows the responsibility rests with him, with her. 

Dengan meminta tolong langsung ditujukan ke satu orang dan menjadikannya sebagai sebuah permintaan tolong yang personal, orang tersebut akan sulit untuk menolak. Karena menurut Dr. Darley hanya butuh satu orang untuk maju dan ambil tindakan bisa mengubah kerumunan (atau kelompok) besar dari pasif cuma menonton menjadi aktif membantu korban.

Selain dua cara di atas, barangkali teman-teman ada yang mau menambahkan?

Sumber berita:
1. A Woman's Plunge to Death Transfixes Detroit.
2. Kitty Genovese.
Share:

Sunday, March 24, 2019

Selamat Wisuda, Yasmin!

Hari Jumat tanggal 15 Februari 2019 saya sengaja ijin tidak masuk kantor. Keponakan saya akan sidang skripsi hari itu dan saya ingin menemaninya. Kapan lagi coba kan bisa menemani keponakan tertua sidang skripsi? Kalau kakek dan papanya masih hidup, pasti mereka juga akan ikut menemani. Ibunya tidak bisa datang karena harus bekerja di kabupaten sebelah. Jadi, hari itu saya dan kakak saya menemaninya. Ngomong-ngomong, nama keponakan saya itu Yasmin.

Sejak pagi saya sudah di Fakultas Hukum Universitas Lampung. Duduk-duduk sambil ngobrol-ngobrol sama kakak saya. Yasmin hanya sebentar bersama kami karena dia harus segera kembali masuk ke ruangan menanti kedatangan penguji dan pembimbing skripsinya. "Haduh, Uncu, aku deg-degan lho." Tenang, Anak Muda. Perasaanmu itu wajar. Semua pejuang skripsi pasti akan mengalami jantung berdetak kencang tidak beraturan ketika akan menghadapi sidang. Kamu akan baik-baik saja.

Cukup lama kami menunggu. Saya sudah mulai bosan ngobrol dan mengghibah dengan kakak saya. Saya buka ponsel saya dan main game Strike Force, tapi baterainya sekarat. Shoot. Untungnya saya bawa charger. Charger ini barang wajib yang harus saya bawa ke mana-mana karena nasib punya ponsel yang baterainya soak.

Main game sudah kelar, tetapi belum ada tanda-tanda dari Yasmin. Ini bunga yang sudah dibawa hampir layu karena kelamaan menunggu.

"Dek, itu nakannya (keponakan, red.) sudah keluar!" teriak kakak saya. Saya langsung berdiri sambil memegang bunga. Wajah Yasmin berseri-seri bahagia. Dengan tersenyum sangat lebar saya mendatanginya. Seperti seorang ibu yang bangga dengan anaknya, saya memeluknya erat dan mencium pipinya. "Ini bunganya. Selamat yaaa... Gimana tadi sidangnya?" Yasmin dengan pongah menjawab, "Aku bisa jawab semua dong. Gampang!"

Kakak saya terisak-isak menangis. Saya mengerti perasaan kakak saya. Ini adalah Yasmin. Keponakan tertua saya. Cucu kesayangan ayah saya. Cucu pertama yang jadi sarjana. Lulus kurang dari empat tahun dengan predikat Cum Laude. Kakak saya menangis pasti karena teringat kakek dan papanya Yasmin tidak bisa melihat ini semua.





Dan kemarin Yasmin diwisuda.





Malamnya kami sekeluarga dan teman-teman Yasmin merayakan kelulusan dengan makan bersama di Taman Santap Rumah Kayu, Bandar Lampung. Lebih dari tiga puluh orang berkumpul. Kami makan enak, mengobrol, dan berfoto-foto. Dua orang teman Yasmin dengan penuh kepercayaan diri menghibur kami dengan bernyanyi. Dan hal yang paling menyenangkan adalah keponakan saya, Haikal, datang dari Bandung demi menghadiri wisuda kakaknya. Saya langsung menodongnya untuk foto bersama.





Ini foto personil lengkap Yasmin bersama adik-adiknya dan mamanya.




Sementara ini foto yang tidak jelas banget.




Seandainya ada kalian yang penasaran dan ingin bertanya, iya, itu saya pinjam toga dan selendang "predikat pujian" punya Yasmin. Anggap saja itu sebagai balas dendam saya karena sewaktu S1 dulu tidak lulus dengan predikat tersebut. πŸ™ˆ

Curhat sedikit ya. Perasaan menjadi seorang tante dengan keponakan yang pada pintar-pintar banget anjir: Saya semakin merasa hanya sebagai selepehan biji semangka. Hahaha.

Jadi, teman-teman semuanya, begitulah cerita singkat kebahagiaan kami sekeluarga. Bagaimana dengan kalian? Ada kabar bahagia apa hari ini?
Share:

Sunday, March 10, 2019

Ketika Orang Baik Menjadi Jahat

**Tulisan ini dibuat untuk memenuhi janji saya sebelumnya.

***

Penelitian kontroversi yang akan dibahas kali ini adalah Stanford Prison Experiment (untuk seterusnya saya singkat menjadi SPE saja ya). Eksperimen ini masih berkaitan dengan studi yang dilakukan Stanley Milgram, yang sudah kita bahas di tulisan sebelumnya. Philip Zimbardo, psikolog sosial yang melaksanakan penelitian ini, merupakan teman satu sekolah Stanley Milgram di James Monroe High School.

Zimbardo tertarik dengan studi Milgram. Studi Milgram tersebut menginspirasinya melakukan penelitian yang kita kenal sampai 48 tahun kemudian, yaitu Stanford Prison Experiment. Dalam eksperimen tersebut Zimbardo ingin meneliti lebih dalam lagi efek situasi pada perilaku manusia.

What happens when you put good people in an evil place? Does humanity win over evil, or does evil triumph? (dari website Stanford Prison Experiment)

Zimbardo membuat setting penjara di ruangan basement Jordan Hall, Stanford University. 24 pria dewasa muda dipilih dari lebih tujuh puluh pelamar yang membaca iklan Zimbardo di koran. Setelah melewati asesmen, ke dua puluh empat orang ini dinilai yang paling stabil kondisi fisik dan psikis, juga tidak memiliki catatan kriminal dan tidak pernah memakai narkoba. Mereka akan mendapat $15 per hari untuk partisipasinya.

Dua puluh empat partisipan ditentukan secara random siapa yang akan menjadi sipir penjara dan tahanan. Mereka yang menjadi sipir mendapatkan briefing dari Zimbardo dan tim tentang hal apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan terhadap para tahanan. Beberapa isi briefing-nya, seperti mereka tidak boleh menyakiti secara fisik (misalnya memukul) tahanan, tetapi mereka diizinkan untuk menciptakan suasana bosan pada tahanan, membuat tahanan frustrasi dan takut, dan sampai batas tertentu para sipir diberikan kewenangan untuk berlaku semena-mena, untuk menyampaikan pesan kepada tahanan bahwa hidup mereka sepenuhnya berada dalam kontrol para sipir dan sistem penjara (Zimbardo dan tim), dan itu berarti mereka tidak akan punya ruang pribadi sama sekali.

Sementara itu, mereka yang menjadi tahanan disuruh pulang dulu. Nanti mereka akan dikabari lebih lanjut jika studi akan dimulai.

Tanggal 15 Agustus 1971 polisi menangkap para partisipan, yang mendapat peran tahanan, di kediaman mereka masing-masing. Aksi penangkapan itu dilakukan di pagi atau siang hari di mana para tetangga mereka dapat melihat kejadian tersebut. Kemudian, mereka dibawa ke kantor polisi. Mereka ditahan, diperiksa sidik jarinya, dicatat namanya, dan ditutup matanya untuk kemudian mereka akan dijemput dan dibawa ke Stanford.

Di penjara Stanford mereka disuruh telanjang, tubuh mereka ditaburi bedak, dan mereka disuruh memakai seragam tahanan khusus yang ada nomor tahanan. Di dalam eksperimen ini mereka tidak dikenal dengan nama mereka, melainkan dengan nomor yang tertera di seragam mereka. Mereka juga diberi stocking wanita untuk dipakai di kepala. Hanya itu yang tahanan boleh pakai. Mereka tidak boleh pakai yang lain lagi. Para sipir akan memasangkan gembok di salah satu kaki tahanan. Hal ini untuk menandakan secara simbolis mereka telah kehilangan kebebasan mereka.


gambar dari sini


Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan identitas individu mereka. Juga untuk menimbulkan rasa powerlessness pada mereka, bahwa mereka tidak punya kekuatan apapun. Hanya sipir penjara, pengawas, dan kepala penjara yang memiliki kuasa.

Para sipirnya diberikan seragam khusus sipir, alat pentungan, dan kacamata. Tujuan juga sama seperti tahanan, yaitu untuk menghilangkan identitas personal. Selain itu, untuk memunculkan anonimitas pada diri setiap sipir dan agar timbul perasaan bahwa mereka memiliki power terhadap tahanan.

Tentu saja seperti yang sudah kita ketahui studi ini kebablasan. Para sipir menjadi terlalu dalam menyelami perannya. Para tahanan pun demikian. Para sipir memang tidak menyakiti fisik para tahanan, namun mereka mempermalukan tahanan, memberi mereka tugas yang merendahkan, menyuruh mereka mensimulasikan perilaku sodomi, dan masih banyak lagi. Ini membuat para tahanan langsung merasakan stres hebat hanya dalam waktu 36 jam. Tahanan 8612 terpaksa dilepas lebih awal karena dia menunjukkan perilaku marah yang tidak terkontrol.

Seandainya kalian bertanya-tanya apakah para tahanan ini tidak melakukan perlawanan telah diperlakukan sewenang-wenang oleh sipir, maka jawabannya oh ya tentu mereka melawan. Mereka langsung melawan di hari kedua kok. Namun, hal tersebut membuat para sipir tidak senang dan (mungkin) merasa harga diri mereka dipermalukan karena tidak bisa mengontrol para tahanan. Itulah sebabnya para sipir semakin bertindak di luar batas. Anehnya, para tahanan pun seperti tidak punya keberanian lagi untuk melawan para sipir. Hanya sekadar protes mengingatkan, "Eh, kalian tidak usah lebay deh ya. Ini tuh cuma eksperimen. Kita tuh sama-sama dibayar di sini. Kalian itu sudah menyakiti kami tahu!" pun tidak mereka lakukan. Mereka malah jadi permisif, pasrah, dan lemah. Kondisi psikis mereka semakin turun setiap harinya.

Zimbardo dan tim peneliti bahkan menjadi bias. Dari semua orang yang terlibat dalam eksperimen tersebut tidak ada yang melihatnya itu di luar batas kewajaran. Mereka terlena dengan peran mereka sebagai supervisi para sipir. Zimbardo, sebagai kepala penjara, tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan perilaku anak buahnya. Mengutip dari sini Zimbardo menulis di dalam bukunya The Lucifer Effect:

"Only a few people were able to resist the situational temptations to yield to power and dominance while maintaining some semblance of morality and decency; obviously, I was not among that noble class."

Sampai akhirnya Christina Maslach datang ke madhouse (Zimbardo menyebutnya demikian) dan bilang ke Zimbardo, "Mas Philip, apa yang kamu lakukan ke mereka itu... JAHAT!" Lengkapnya, Maslach bilang begini, "You know what, it's terrible what you're doing to those boys. They're not prisoners nor guards, they're boys, and you're responsible."

Untunglah Zimbardo mendengarkan nasihat Maslach. Keesokan harinya Zimbardo langsung menghentikan eksperimennya yang baru berjalan enam hari dari empat belas hari yang direncanakan. Itulah bukti cinta kasih seseorang pada pasangannya. Dia mendengarkan. Satu tahun kemudian mereka menikah. Jadi, kalau pasangan kamu cuek meski kamu sudah mengingatkannya atau tidak pernah membuktikan apa-apa ke kamu, ya sudah berarti dia nggak sayang sama kamu. Langsung tinggalkan saja dia. Loh, loh, kok jadi melantur.

Ngomong-ngomong, apa nih yang membuat 24 pria dewasa muda, yang sama-sama sehat jasmani dan rohani, begitu ditempatkan di simulasi penjara, keadaan menjadi lepas di luar kendali? Profesor Scott Plous membahasnya di Social Psychology online course di Coursera. Beliau mengutip dari buku Zimbardo The Lucifer Effect:

"Good people can be induced, seduced, and initiated into behaving in evil ways... The primary simple lesson the Stanford Prison Experiment teaches is that situations matter. Social situations can have more profound effects on the behavior and mental functioning of individuals, groups, and national leaders than we might believe possible."

Akan tetapi, jangan sampai kita salah menginterpretasikan bahwa hanya situasilah yang penting atau karakteristik individu tidak penting, atau situasi lebih penting ketimbang karakteristik individu. Bukan, bukan seperti itu.

SPE tidak pernah bertujuan untuk menunjukkan bahwa hubungan peran sipir dan tahanan akan selalu membawa pada hasil penyiksaan, tetapi SPE menunjukkan bahwa ketika orang-orang yang berada di posisi otoritas mengalami deindividuasi, yaitu keadaan di mana mereka kehilangan identitas personal mereka dan identitasnya melebur ke dalam kelompok atau peran sosial, situasi menjadi di luar kontrol.

Deindividuasi ini kemudian membawa meningkatnya rasa anonimitas pada para sipir di SPE. Mereka harus selalu dipanggil Mr. Correctional Officer, ditambah dengan seragam sipir yang mereka kenakan, pentungan yang mereka bawa-bawa, dan kacamata yang mereka kenakan menambah rasa anonimitas tersebut. Jadi, mereka merasa punya kuasa untuk bertindak semaunya.

Pada partisipan pun mengalami deindividuasi ini, seperti yang sudah disinggung sedikit di atas. Dengan seragam yang mereka kenakan dan mereka dipanggil dengan nomor tahanan--bukan nama--membuat mereka untuk sementara waktu lupa siapa diri mereka sebenarnya. Mereka pun merasa bagian dari kelompok sesama tahanan ini. Selain itu, learned helplessness bisa juga dipakai untuk menjelaskan kenapa para tahanan pasrah dan menyerah pada para sipir. Mereka belajar bahwa apapun perlawanan yang mereka berikan tidak terlalu berdampak pada mereka. Terima kasih kepada para sipir yang sangat terbawa dalam perannya sehingga membuat para tahanan menyerah untuk melawan dan menjadi stres berlebihan, bahkan ada yang menunjukkan gejala depresi.

Meski SPE sangat terkenal dengan ketidaketisannya, bukan berarti kita tidak dapat belajar dari eksperimen tersebut. Apa saja yang hal dapat kita pelajari? Pertama, faktor situasional bisa membawa kita kepada perilaku jahat yang menghancurkan. Kedua, kita bisa melatih diri kita untuk berani melawan, menjadi deviant, pada hal-hal jahat yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Jangan pasif dan jangan pasrah! Kita bisa belajar untuk peka dan tidak tunduk begitu saja pada tekanan kelompok, figur otoritas, peran sosial yang disematkan kepada kita, dan lain sebagainya. Contoh dari SPE ini yang ada di kehidupan nyata kita, seperti penyiksaan para tahanan di penjara Abu Ghraib dan para satpol PP yang membubarkan lapak pedagang kaki lima dengan cara yang tidak manusiawi.

Saya sedikit kesulitan menemukan video dokumentasi SPE yang lengkap (durasinya 51 menit). Saya nonton videonya di Social Psychology Course di Coursera. Barangkali teman-teman bisa mencari video lengkapnya di YouTube. Bisa juga teman-teman ikutan daftar di online course tersebut barengan saya. Sama-sama kita belajar di bawah bimbingan Scott Plous. Asyik banget kok kuliahnya!

Atau, teman-teman bisa nonton versi singkatnya dari The Infographics Show di bawah ini:




Penelitian SPE di saat sekarang ini jelas tidak bisa direplikasi karena terbentur di kode etiknya. Namun, Michael D. Stevens, pemilik kanal YouTube VSauce, di dalam salah satu videonya seri "Mind Field" mencoba untuk mereplikasi SPE sedemikian rupa agar tidak melanggar kode etik dalam riset.




Hasilnya ternyata tidak sama dengan studi aslinya. Hal itu bisa dimengerti karena dari faktor kepribadian partisipannya sendiri. Mereka memiliki skor tinggi pada conscientious dan compassion, sehingga itu bisa menafikan the power of situation, yang sejak awal sudah kita gadang-gadang sebagai tersangka utama membuat orang baik bisa jadi jahat.

Kalau boleh saya tambahkan lagi, faktor deindividuasi dan anonimitas sebenarnya kurang berpengaruh di sini. Mereka tidak diberi seragam dan perlengkapan yang membuat mereka meluruhkan identitas personalnya dan menjadi peran yang diberikan kepada mereka. Mereka juga tidak melihat ada partisipan lain sebagai musuh mereka, melainkan mereka hanya diberitahu bahwa mereka punya musuh yang akan mengganggu mereka bekerja. Ada partisipan yang ngomong, "Eh, tahu nggak, saya kok nggak yakin ya ada tim lain di sini yang jadi musuh kita." Sepertinya hal-hal tersebut cukup membuat mereka kurang menjiwai peran mereka. Mereka masih bisa mengenal diri mereka sendiri. Itu bisa dimengerti karena akan sangat sulit mau mereplikasi SPE sesuai dengan aslinya tanpa harus melanggar kode etik yang sudah dibuat.

Akhirul kalam, terima kasih sudah mau membaca tulisan yang cukup panjang ini sampai habis. Semoga kalian tidak bosan dan bisa menikmatinya. Terutama sekali, semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman semua.

**Disclaimer: Tulisan ini sewaktu-waktu bisa mengalami perubahan disesuaikan dengan bacaan atau tontonan yang bisa saja bertambah di masa yang akan datang.
Share: