Tuesday, February 19, 2019

Bye, Sisi!

February 19, 2019 2 Comments
Kemarin siang saya sedang berada di kantor ketika saya mendapat satu pesan di WhatsApp. Isinya dari orang rumah memberitahu salah satu anak Sisi meninggal dunia. Seketika saya merasa sedih. Saya tidak menyangka bisa secepat ini. Orang rumah mengabari saya bahwa kemarin kondisi anak-anak Sisi melemah. Padahal dua hari yang lalu mereka semua masih sehat dan masih lincah.

Sudah lebih dari seminggu saya memang sedang berjuang untuk menyembuhkan Sisi dan anak-anaknya yang saya beri nama Elektra, Fluffy, dan Ginger. Saya baru ngeh kalau anak-anak Sisi kena jamur. Bolak-balik saya bawa mereka semua ke dokter.

Kondisi Sisi sejak seminggu lalu memang sudah menurun. Dia tidak mau makan dan minum, tidak mau menyusui dan mengeloni anak-anaknya lagi, dan dia selalu tampak murung. Sisi terlihat lemas dan tidak berdaya.

Lalu, kemarin setelah saya pulang kantor, baru saja memasukkan motor ke garasi, kembali saya mendapat kabar anak Sisi yang lain meninggal juga. Tinggal Elektra yang masih bertahan. Itupun dia sudah lemah sekali. Elektra hanya bisa bernapas pelan.

Masih dengan seragam kantor, saya pesan Gocar dan membawa Sisi juga Elektra ke dokter hewan Nurcahyo Saksono. Kepada dokter Nurcahyo saya ceritakan kronologis lengkap asal mula Sisi dan anak-anaknya sakit, lengkap dengan cerita saya membawa mereka dari satu dokter ke dokter lain. Bahwa sebelumnya Sisi diberi obat jamur dari dokter A, tetapi oleh dokter B obat tersebut disuruh dihentikan minumnya dan dokter B memberi Sisi suntikan vitamin dan antibiotik. Karena hari Sabtu kemarin (16/02) saat dibawa ke dokter B, Sisi demam dengan suhu badan lebih dari 40℃.

Di klinik dokter Nurcahyo, Sisi diberi infus Glukosa 5%. Anehnya, setelah beberapa lama diinfus nafasnya malah menjadi memburu, seperti tersengal-sengal. Detak jantungnya juga cepat. Sisi lalu diinjeksi dengan antibiotik dan vitamin. Elektra juga diinfus dengan cairan yang sama, tetapi hanya sebentar.


Sisi dan Elektra sewaktu diinfus


Sesampainya di rumah, sebelum Maghrib, Elektra menyerah. Sekarang tinggal Sisi berjuang sendirian. Saya menunggui Sisi, duduk di sampingnya sambil menahan tangis dan mengelus-elus Sisi, "Ayo, Sisi, sembuh ya. Aku janji aku bakal urus kamu baik-baik. Aku bakal bikin kamu sehat dan bahagia. Ayo, Sisi, jangan menyerah ya."

Meski saya sudah berusaha sekuat mungkin menahan tangis, pertahanan saya ambrol juga begitu melihat dia kejang-kejang. Seperti orang bodoh, sambil memalingkan muka saya bilang, "Sudah, Sisi. Jangan kayak gitu. Aku gak kuat lihat kamu kayak begitu." Lalu, saya menangis kencang. Badan Sisi juga tampak kesakitan. Disentuh sedikit saja dia mengeong. Mulutnya tidak berhenti mengeluarkan air liur. Sekitar pukul 10.30 malam Sisi memutuskan untuk pergi.

Tidak ada tangisan lagi begitu dia pergi. Saya sudah ikhlas. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Sisi. 

Namun, rasa sedih itu masih ada. 

Hal yang membuat saya sedih kalau mengingat hidup Sisi sebelum dia bersama saya. 4,5 tahun dia tidak mendapat perhatian yang cukup. Perhatian dalam bentuk makan dan minumnya, kebersihannya, kesehatannya, dan hak-hak lainnya, seperti vaksin dan steril. Tidak usah saya ceritakan secara rinci ya. Hanya membuat saya semakin sedih. Cuma 1,5 bulan Sisi ikut saya, tapi saya sudah sayang sekali sama dia.

Kalau ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini, saya cuma ingin bilang: Please, jangan pelihara kucing dan anjing kalau kamu nggak bisa kasih dia perhatian sepenuhnya. Memelihara hewan itu komitmen seumur hidup. Itu berarti kamu harus mau dan ikhlas untuk keluar uang, waktu, dan tenaga. Jangan hanya pelihara pas mereka masih kecil dan imut atau pas lucunya saja, tetapi begitu sakit dan jorok langsung dibuang. Please, jangan. Kalau kamu tidak mau keluar uang untuk kasih dia makan yang baik, vitamin, vaksin, steril, membawanya ke dokter kalau sakit, dan keperluan dia yang lain, mending jangan. Jangan lempar tanggung jawabmu dengan membuangnya di jalan atau menyerahkannya ke orang lain. Mending dari awal kamu jangan pelihara hewan kalau kamu memang merasa tidak sanggup.

Akhirul kalam, tulisan ini dibuat untuk mengenang Sisi. Bahwa pernah hidup kucing betina lucu, imut, dan suaranya yang menggemaskan. Kucing betina yang sewaktu hamil galaknya bukan main, tetapi sayang banget sama anak-anaknya. Maafkan aku ya, Sisi, karena kurang lama membahagiakanmu. I did everything I could to help you and make you happy. Oh, girl, I miss you already!

*sekilas tentang Sisi pernah saya ceritakan di sini

Sunday, February 3, 2019

Film di Januari 2019

February 03, 2019 4 Comments
Saya tidak banyak nonton film di bulan lalu. Hanya dua film. Tumben banget ya. Habisnya saya tadinya berniat mengurangi waktu nonton dan menggantikannya dengan banyak baca atau rajin belajar. Kenyataannya mah nol besar. Tetap saja saya menghabiskan waktu dengan scrolling timeline atau main game. Sungguh sebuah kegiatan yang tidak berfaedah. Mending waktunya dipakai buat nonton film kan.

Baiklah. Cukup sudah melanturnya. Mari langsung saja kita lihat film apa saja yang saya tonton kemarin.

1. A Star is Born (2018)

Melihat Lady Gaga dengan make up naturalnya bikin agak terkejut dan aslinya dia memang cantik ya. Kalau filmnya sendiri sih, nothing special buat saya. Biasa saja. Saya masih agak terganggu dengan konsep love at first sight di sini. Di mana Jack (Bradley Cooper) langsung jatuh cinta begitu pertama melihat Ally (Lady Gaga). Ya sudahlah. Mungkin itu karena saya memang aslinya bitter jadi nonton film saja jadi terbawa pahitnya. Ha, ha.




Rating: 2 dari 5 - it was okay

2. Bumblebee (2018)

Tiga bintang karena faktor Bumblebee yang lucu dan menggemaskan. Saya tidak terlalu peduli dengan Hailee Steinfeld dan John Cena. Kenapa? Pertama, melihat akting Hailee sebagai remaja labil, galau, sedih melulu, dan demen marah-marah, ya membosankan. Padahal saya suka waktu dia main di The Edge of Seventeen. Apa mungkin karena di sini aktingnya Hailee kurang ngena ya? Kedua, saya nggak ngerti apa manfaatnya John Cena di film ini. Saya melihatnya dia di sini hanya sebagai pemanis belaka bahwa perlu ada tokoh di militer yang akan berperan di bagian tembak-tembakannya. You know what I mean, right? Juga, aktingnya masih kaku banget, njir. Saya masih belum bisa melepas dia dari bayang-bayang John Cena di WWE.




Rating: 3 dari 5 - liked it

Nah, cukup dua film itu saja. Semoga bulan ini saya ada mood untuk banyak nonton film.

Sunday, January 20, 2019

Random #34

January 20, 2019 9 Comments
Random 1

Sudah lama banget saya tidak menulis dengan label random. Jadinya ya sudah deh saya nulis lagi. Halah, random banget. Ya, judul tulisannya juga random, Malih.

Random 2

Sekarang di rumah saya ada kucing lho! Dulu setiap mau pelihara kucing, Mama nggak pernah ngasih ijin. Setiap ada anak kucing yang ngikut dan lama-lama jadi tinggal di rumah, pasti sama Mama disuruh dibuang. Akibatnya, saya jadi agak-agak takut sama kucing. Nggak pernah mau megang. Cuma senang melihat dari jauh. 

Sampai akhirnya datanglah Bubu ke rumah. 

Saya juga nggak paham Bubu pakai pelet apa sampai-sampai Mama membolehkan kami merawat Bubu. Malah satu rumah (tiga rumah kalau rumah dua kakak saya dihitung juga) pada sayang semua sama Bubu. Sekarang saya sudah mau gendong kucing kok. Tapi, saya masih takut sama kucing galak. Si Bubu ini kalau lagi galak, saya nggak berani dekat-dekat dia. Mau ngelus, apalagi ngegendong, saya takut. Takut digigit dan dicakar. :))

Awal mulanya Bubu ini ngikut saudara saya dari warung. Sama saudara saya dikasih makan. Lama-lama Bubu betah dan nggak mau pergi. Karena melihat tidak ada protes dari Mama, ya sudah saya putuskan, "Oke, kalau memang beneran mau merawat kucing mari kita sungguh-sungguh merawatnya." So, vaksin, steril, dan kasih Bubu makanan enak. Dari anak kucing yang kurus sampai akhirnya sekarang Bubu jadi sebesar ini...





Random 3

Setelah Bubu, datanglah Miko. Miko ini sebenarnya anaknya Sisi, kucing saudara saya. Berhubung Sisi beranak tiga dan saudara saya nggak bisa ngurusnya, jadilah tiga anak Sisi dibuang. Dibuangnya ke mana coba? Dianterin ke rumah saya dulu! Ini kejadiannya pas saya lagi di Jakarta. Nah, Mama, yang entah kenapa sekarang jadi pecinta kucing, mengambil satu anaknya Sisi, ya si Miko ini.

Terus, dua saudara Miko ke mana? Saya nggak bisa adopsi semua. Saya nggak mampu. Jadinya, mereka ditaruh di tanah kosong di depan rumah saya. Tolong, saya jangan dimarah-marahin ya. Niatnya saya mau kasih mereka makan aja. Street feeding, gitu ceritanya. Tapi, pas saya pulang dari Jakarta, terus tanya bagaimana kabar saudaranya Miko, eh orang rumah bilang mereka sudah nggak ada lagi di sana. Semoga siapapun yang mengambil kalian bisa merawat kalian dengan baik ya, saudara-saudara kandungnya Miko.

Dan ini yang namanya Miko.




Miko sudah divaksin lengkap. Tinggal disteril aja nih yang belum. Masih ngumpulin duit dulu. Hihi.

Random 4

Terakhir, Sisi. Yep, Sisi yang tak lain dan tak bukan emaknya Miko. Saudara saya memutuskan untuk membuang Sisi karena mereka sekeluarga tidak sanggup untuk mengurusnya. Karena saya orangnya baik hati dan nggak tegaan, saya tampung Sisi untuk sementara. Saya urus dia sampai dia sehat, cakep, gemuk, dan bahagia. Bebas dari segala macam cacing dan kutu. Tentunya akan saya vaksin dan steril juga. Baru setelah itu akan saya lepas untuk diadopsi.

Tapi, ternyata setelah saya bawa Sisi ke dokter hewan, saya dikasih tahu kalau Sisi... Hamil. Haduh. Saya jadi bingung. Sempat panik. Ya kebayang dong nanti di rumah bakal serame apa kalau Sisi sudah melahirkan. Tapi, sekarang ya sudahlah. Diurus saja dulu baik-baik. Nanti baru open for adoption.

Sisi ini tadinya sudah mau diadopsi sama sepupu saya. Terakhir, saya dapat kabar kalau dia nggak jadi ambil Sisi karena maminya nggak ngasih. Alasannya, di rumahnya sudah ada dua kucing. Ya sudah, nggak apa-apa ya, Sisi. Kamu sama aku dulu ya. Nanti kita cari orangtua yang sayang sama kamu.




Random 5

Semalam saya coba untuk melepas Sisi di grup kantor. Ada teman saya yang berminat. Dia nanya saya lepas Sisi gratis atau pakai mahar. Kalau pakai mahar, dia nggak mau. Saya jawab, ya gratis lah. Asalkan mau merawat Sisi dengan sungguh-sungguh. Benar-benar bertanggung jawab. Mau rugi waktu, tenaga, dan uang buat Sisi. Kasih Sisi hak-haknya. Sisi harus divaksin, disteril, rutin dikasih obat cacing, dikasih vitamin, dan dikasih makanan yang bener! Pas saya omongin begitu, eh teman saya langsung pamit mundur. "Ijin dulu ya sama istri. Soalnya masih banyak pengeluaran. Padahal mah aku pengen banget punya kucing."

Yaelah, gentong aer, mau merawat kucing tapi gak mau keluar duit. Mau dirawat kayak begitu-begitu doang. Nanti kalau Sisi sakit, apa dia mau bawa Sisi ke dokter? Kayaknya, sih, gak ya.

Komitmen melihara hewan itu komitmen seumur hidup. Kalau nggak mau keluar duit, nggak mau rugi, plis, dari awal jangan piara hewan. Banyak kan kejadian beli kucing atau anjing ras yang lucu-lucu, tapi perawatannya asal-asalan. Pas sudah jelek dan sakit-sakitan, eh dibuang. Nanti beli lagi kucing dan anjing yang lucu, tapi nggak kerawat lagi. Gitu aja terus sampai Dajjal turun.

Random 6

Karena sekarang saya mulai agak concern sama hewan, saya jadi punya cita-cita. Jelas saya tidak bisa mengadopsi semua kucing yang ada. Punya tiga kucing saja sudah kelimpungan begini. Tapi, seandainya nanti saya punya banyak duit dan kaya raya, saya mau steril kucing-kucing liar yang ada di sekitar rumah. Pakai prinsip TNR, yaitu trap, neuter, and release. Biar populasi mereka terkendali. Biar tidak semakin banyak kucing liar di jalanan. Tahu sendiri kan kalau nggak disteril kucing dalam setahun bisa beranak berapa kali dan sekali beranak bisa melahirkan berapa ekor kucing.

Nah, untuk itu mohon doa dari teman-teman semua semoga saya kaya raya ya! Hahaha.

Random 7

Dari kucing mari beralih ke serial televisi. Satu atau dua minggu lalu saya nonton Daredevil season 1 dan 2. Sekarang saya jadi semacam punya misi ingin nonton semua serial MCU, mulai dari Jessica Jones, Luke Cage, Iron Fist, dan Defenders. Banyak banget ya. Daredevil yang season 3 aja belum saya tonton. Sudah semacam mulai hilang mood-nya untuk nonton.

Random 8

Lagi bosan sama hidup yang gini-gini aja. Butuh tantangan. Pengen kuliah lagi, tapi saya terlalu kere untuk bayar sendiri dan terlalu bodoh untuk dapat beasiswa.

Random 9

Ya ampun, blog ini semakin lama isinya semakin tidak bermutu saja.

Saturday, January 5, 2019

Film di Desember 2018

January 05, 2019 4 Comments
Halo, teman-teman semua! Selamat Tahun Baru! Telat lima hari nggak apa-apa ya? Mumpung masih dalam suasana tahun baru. May you all have a wonderful year!

Baiklah, tidak usah berpanjang-panjang. Mari langsung saja ke daftar film yang saya tonton di bulan Desember kemarin.

1. Ralph Breaks the Internet (2018)

Saya tidak nonton full filmnya karena saya tertidur di tengah-tengah film. Bukan karena filmnya membosankan, tetapi karena saya yang sepertinya kecapekan parah dan sudah tidak tidur berhari-hari.

Kisah persahabatan antara Ralph (John C. Reilly) dan Vanellope (Sarah Silverman) membuat saya terharu. Ketika akhirnya Ralph bisa mengikhlaskan Vanellope untuk berkembang dan tidak terkungkung di tempat video game mereka itu membuat saya, "Ahhh... Ralph so sweet banget sih."




Rating: 3 dari 5 - liked it

2. Robin Hood (2018)

Ini film apa sih. Saya kira karena ada Taron Egerton dan Jamie Foxx sudah pasti jaminan mutu. Ternyata, nggak juga tuh. Dan yang saya sebalnya filmnya ini seperti memaksakan sekali untuk menyatukan Marian dan Robin. Maksud saya, ya sudahlah ya Marian sudah pacaran sama cowok lain kok. Kenapa sih harus balikan lagi sama Robin?




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

3. Wind River (2017)

Nonton Wind River ini bikin saya stres deh. Sungguh. Bagaimana tidak stres kalau wanita suku Indian yang hilang, menurut data statistik yang ada, ditulisnya "unknown". Kan itu artinya mereka tidak dianggap. Belum lagi melihat kehidupan suku Indian di Wind River Indian Reservation, Wyoming, yang keras dan khususnya wanita mereka selalu terancam keamanannya. Untung ada Jeremy Renner yang membuat saya agak terhibur, meski yah karakternya dia di sini juga ceritanya menyedihkan. 😭

Rating: 5 dari 5 - it was amazing

4. Wreck-It-Ralph (2012)

Kalau butuh tontonan yang tidak mau berat dan menghibur, Wreck-It-Ralph bisa dijadikan pilihan.




Rating: 3 dari 5 - liked it

5. Molly's Game (2017)

Jadi anak yang selalu dituntut lebih oleh orangtua memang bikin stres. Molly Bloom (Jessica Chastain) seorang mantan atlet ski harus mengubur mimpinya untuk mengikuti Olimpiade karena dia mengalami cedera parah yang membuatnya pensiun dari ski. Hubungannya dengan Larry Bloom (Kevin Costner), sang ayah, sangat tidak harmonis. Molly bertanya-tanya sendiri ke dirinya, "Why am I never good enough for my father?"

Lepas dari dunia ski, Molly merantau. Kerja sana-sini sampai akhirnya dia menjadi pegawai Dean Keith (Jeremy Strong). Lama-lama dia diminta oleh Dean untuk mengatur penyelenggaraan judi poker ilegal yang dibikinnya. Dari situ Molly belajar seluk-beluk tentang poker. Dia pun akhirnya menguasai bisnis judi poker.

Sayangnya, bisnis judinya tidak selalu berjalan mulus. Molly dihajar oleh mafia dan dia mulai menjadi incaran FBI. Ketika Molly harus menjalani sidang, ayahnya datang menemui Molly. This is my favorite scene of the movie.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

6. Ratsasan (2018)

Film Tamil pertama yang saya tonton. Ternyata oke juga. Sepertinya saya memang perlu mengembangkan sayap nonton film dari negara-negara lain juga, tidak terbatas Hollywood. Biar menambah referensi perfilman.

Well anyway, Ratsasan bercerita tentang Arun Kumar. Dia ingin membuat film tentang psikopat, tetapi naskahnya selalu ditolak. Akhirnya, dia banting setir menjadi polisi. Di awal karirnya dia sudah harus berhadapan dengan kasus pembunuhan serial. Kalau kalian mau ikut main tebak-tebakan siapa yang jadi pembunuhnya, ternyata tidak gampang, Ferguso. Saya sendiri sok-sokan menebak, eh salah melulu. Karena penjahatnya baru terungkap di akhir film.



Rating: 3 dari 5 - liked it

7. Susah Sinyal (2017)

Film-film dari Ernest Prakasas memang jaminan mutu. Lucunya, iya. Pesan moralnya juga dapat. Termasuk Susah Sinyal. Tema utamanya adalah bagaimana menjalin kembali eratnya hubungan antara orangtua dan anak. Oh iya, Adinia Wirasti idolaku.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

8. Love for Sale (2018)

Wah, beneran nggak nyangka akting Gading Marten ternyata bisa keren banget di film ini. Wajar deh dia dapat penghargaan Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Pria. Cerita Love for Sale juga keren. Tentang seorang pria yang sudah terlalu lama hidup sendiri dan harus membiasakan diri dengan kehadiran seorang wanita. Tanpa disadarinya wanita tersebut telah mengubah hidupnya.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

9. My Stupid Boss (2016)

Ini si Bossman (Reza Rahadian) ngeselin banget ya ampun. Oon pula. Haha.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

10. Mencari Hilal (2015)

Apakah kesimpulan akhir dari film ini merupakan sindiran si Bapak kepada anaknya karena Bapaknya mencari Hilal ke mana-mana, yang mana nama anaknya juga Hilal? Sindirannya, "Ya ampun, Nak, kamu kok sombong betul. Nggak pulang-pulang. Lupa kamu sama bapakmu? Bapak harus cari kamu ke mana?"




Rating: 3 dari 5 - liked it

11. Posesif (2017)

Akhirnya berkesempatan juga nonton film ini. Sudah lama dengar di mana-mana hype-nya. Banyak banget yang bilang Posesif ini bagus. Bukan film kacangan. Pas ditonton, eh ya ternyata memang beneran bagus. Adipati Dolken meyakinkan sekali menjadi pacar yang saiko (ngetiknya begini disengaja kok) dan abusive. Dan Putri Moreno, ya ampun ayunya... Nggak perlu pakai riasan tebal sudah cukup memancarkan kecantikannya. Wajahnya itu juga lho awet muda banget. Cocok lah dapat peran anak SMA.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

12. Test Pack (2012)

Satu hal yang saya nggak paham sama Shinta (Renata Kusmanto). Dia dicerai suaminya karena dia mandul, lalu balik kanan pengen balikan sama Rahmat (Reza Rahadian). Padahal dia tahu Rahmat sudah punya istri. Padahal dia yang meninggalkan Rahmat demi pria lain yang akhirnya menceraikan dia. Egomu itu lho, Mbak...




Rating: 4 dari 5 - really liked it

13. Shy Shy Cat (2016)

Tertarik nonton karena ada Acha Septriasa dan Nirina Zubir. Lucu lucu norak gimana gitu. In a good way. Sayangnya, aku kurang suka sama ending-nya.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

14. Aquaman (2018)

Can I just say that this is, by far, the best movie from DC Universe? I enjoyed watching it.



Rating: 4 dari 5 - really liked it

15. Blindspotting (2018)

Nonton karena Barack Obama ngasih rekomendasi film ini. Saya penasaran dong. Ceritanya menarik. Tentang pria kulit hitam yang berusaha menghilangkan stigma negatif ras kulit hitam, sementara sahabatnya yang notabene kulit putih melakukan berbagai upaya agar diakui dan diterima sebagai orang kulit hitam.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

16. The Usual Suspects (1995)

Karena saya anak cerdas mudah saja untuk menebak siapa itu sebenarnya Keyser Söze. Hihi.



Rating: 3 dari 5 - liked it

Cukup sekian rekap film kali ini. Sampai jumpa di rekap film berikutnya!

Saturday, December 8, 2018

Film di November 2018

December 08, 2018 2 Comments
Bulan kemarin saya hanya nonton tiga film. Maklum, orang sibuk. Halah. Bohong banget. Well, langsung saja ke daftar filmnya yuk!

1. Bohemian Rhapsody (2018)

Rami Malek keren banget!! Gaya bicaranya, gaya dia berjalan, pokoknya semuanya bisa mirip banget sama Freddie Mercury! Film ini juara banget buat saya. Saingan dengan Christopher Robin buat film terbaik di 2018 versi saya.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

2. Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018)

CGI-nya oke. Ceritanya ya biasa saja. Saya lebih suka Fantastic Beasts yang pertama. Di sini jadi timbul banyak pertanyaan dan bikin penasaran juga sih, seperti bagaimana nanti ceritanya Nagini bisa jadi jahat? Oh iya, dan saya jadi kesal sama Credence. Buat saya Credence ini kok menyebalkan banget ya. Menyebalkan karena sudah bikin saya geregetan. Haha.




Rating: 3 dari 5 - liked it

3. Sicario: Day of the Soldado (2018)

Tetap sadis jika dibandingkan dengan Sicario (2015). Tetap seru dengan banyak adegan tembak-tembakannya. Alejandro (Benicio del Toro) tetap dingin dan misterius, yah agak meleleh sedikit sih karena ada Isabel Reyes (Isabela Moner), anak dari mantan bosnya. Matt Graver (Josh Brolin) tetap tengil, tapi tetap menyenangkan karena, ya, maaf saya ngefans sama Om Josh. Hihihi.




Rating: 3 dari 5 - liked it

Oke. Segini dulu perjumpaan kita di tulisan kali ini. Sampai jumpa di update rekap film berikutnya. Kalau saya mood ya. 😝