Sunday, February 18, 2018

Postcrossing #1

February 18, 2018 4 Comments
Sejak saya aktif kembali di Postcrossing, saya sudah kirim 12 kartu pos yang sampai di tujuan. Kalau tidak salah ingat, sepertinya saya kirim 14 kartu pos. Duanya entah nyasar ke mana. Tetapi, tidak apa-apa. Saya tetap bahagia kok karena saya menerima tujuh kartu pos sejak Desember 2017 kemarin. Hore! Anggap saja kartu pos yang saya terima ini sebagai pelipur lara karena dua kartu pos yang hilang di tengah jalan.

Rasa-rasanya akan menyenangkan kalau saya mengunggah gambar kartu pos yang saya terima di sini. Selain untuk kenang-kenangan, ya tentu saja untuk pamer ke kalian juga. Siapa tahu nanti kalian tergerak hatinya untuk ikutan main di Postcrossing.

Langsung saja ya saya pamernya.

1. Dari Naho di Jepang.


Dikirim: 20 November 2017 
Diterima: 6 Desember 2017. 


Di kartu posnya Naho menulis kalau dia suka main ke museum. Dia bilang dia suka atmosfer museum yang tenang.

2. Dari Doreen di Brandenburg/Havel, Jerman.


Dikirim: 2 Januari 2018
Diterima: 20 Januari 2018


Doreen bercerita tentang kotanya yang dikelilingi danau dan hutan. Dia suka jalan-jalan menikmati alam. Dia bekerja sebagai guru dan dia hobi membaca. Buku favoritnya adalah Pope Joan dan penulis favoritnya adalah Stephen King.

3. Dari Tatyana di Rusia.


Dikirim: 21 November 2017
Diterima: 9 Februari 2018


Tatyana suka memasak makanya dia kirim kartu pos yang gambarnya resep. Sepertinya resepnya mudah. Kapan-kapan saya coba deh. Tatyana juga suka traveling.

4. Dari Irine di Ivanovo, Rusia.


Dikirim: 21 November 2017
Diterima: 9 Februari 2018


Irine bilang di gambar ini namanya Park of Catherine II. Letaknya dekat St. Petersburg. Dia suka jalan ke sana.

5. Dari Marta di Belarus.


Dikirim: 20 November 2017
Diterima: 9 Februari 2018


Gambar kartu pos ini merupakan ilustrasi dari Kati Babok. Dia dari Belarus juga.

6. Dari Kievit di Heythuysen, Belanda.


Dikirim: 20 November 2017
Diterima: 17 Februari 2018


Usia Kievit 76 tahun. Serta-merta saya langsung merasa takjub di usia segitu beliau masih semangat untuk aktif kirim kartu pos. Hobinya memang mengoleksi perangko. Jadi ya bisa dimengerti juga sih kalau beliau senang main di Postcrossing.

7. Dari Egor di Budapest, Hungary.


Dikirim: 24 Januari 2018
Diterima: 17 Februari 2018


Egor tidak banyak bercerita di kartu posnya. Dia hanya menuliskan bahwa ini adalah kartu pos keduanya yang dikirim untuk saya. Kartu pos yang pertama tidak saya terima dan entahlah nasibnya sekarang berada di mana.

Kartu posnya bagus-bagus ya? Membuat saya jadi kembali bersemangat untuk kirim kartu pos lagi. Sejujurnya sih kemarin saya sempat melempem semangat main Postcrossing, tapi sekarang sudah semangat lagi kok. 💪💪💪

Yuk, kalian juga main Postcrossing!

Saturday, February 10, 2018

Salah Kaprah Soal Psikologi Evolusi

February 10, 2018 0 Comments
Teman-teman yang sudah lama kenal saya pasti tahu dalam ranah Psikologi saya juga tertarik dengan Psikologi Evolusi, selain Psikologi Sosial. Dulu pernah ada masanya saya cukup rajin membahas jurnal dan artikel dari Psikologi Evolusi. Sekarang sepertinya sudah lama sekali ya sepertinya kita tidak membahas Psikologi Evolusi.

Nah, karena itulah kali ini saya ingin berbagi satu artikel dari Psychology Today yang berjudul 10 Evolutionary Psychological Concepts that People Don't Get. Tujuan saya berbagi artikel ini tentu saja untuk menyegarkan kembali ingatan saya akan Psikologi Evolusi. Karena cukup lama juga saya tidak bersentuhan dengan cabang ilmu Psikologi tersebut.

Baiklah. Mari kita langsung saja membahas artikelnya.

Sampai saat ini Psikologi Evolusi masih saja suka disalahpahami. Tidak cuma hubungan dengan pacar saja yang bisa terjadi salah paham, melainkan juga dalam dunia saintifik. Biasa itu mah. Psikologi Evolusi dianggap ilmu yang basis ilmiahnya lemah? Sudah sering baca. Psikologi Evolusi itu ilmu yang tidak valid? Psikologi Evolusi dianggap ilmu yang terlalu menyederhanakan permasalahan? Banyak yang bilang begitu. Psikologi Evolusi bikin geregetan? Ini kata saya. Haha.

Untuk itu, perlu diluruskan miskonsepsi tentang Psikologi Evolusi yang ada di luar sana. Apa saja miskonsepsi yang ada perihal Psikologi Evolusi? Di artikel tersebut ada sepuluh miskonsepsi, tapi tidak usah saya bahas semuanya ya. Saya akan bahas yang paling umum saja. Selain malas, saya juga takut tulisan ini nanti bakal kepanjangan. Terus, nanti kalian malas untuk membacanya deh.

Well anyway, berikut ini adalah beberapa miskonsepsi tentang Psikologi Evolusi:

1. Psikologi Evolusi cuma membahas soal manusia kawin. 

Kalian tentu masih ingat dong tulisan saya yang ini, ini, ini, ini, dan ini? Lima tulisan tersebut bertemakan mating dari sudut pandang Psikologi Evolusi. Tidak salah sih kalau kalian juga beranggapan demikian. Tapi, kan itu tet tot banget alias salah.

Psikologi Evolusi tidak hanya membahas urusan seks manusia, tetapi juga membahas soal altruism, cinta, agama, kecemasan, identifikasi kelompok, dan masih banyak lagi. Silakan cari sendiri jurnal dan artikelnya ya seandainya kalian penasaran. 🙈

2. Psikologi Evolusi cuma soal perbedaan antar jenis kelamin.

Psikologi Evolusi itu tidak cuma membahas perbedaan perilaku antar jenis kelamin. Misalnya, perbedaan pria dan wanita dalam memandang hubungan seks. Ilmu ini membahas semua fenomena psikologis yang dilihat dari prinsip teori Darwinian.

3. Evolutionary psychologists menyakini kalau evolusi menciptakan adaptasi yang sempurna.

Tunggu deh. Ini maksudnya bagaimana? Maksudnya begini, misalnya dari hasil penelitian Psikologi Evolusi diketahui bahwa bagi wanita yang memiliki waist-to-hip ratio 0.7 itu adalah wanita yang paling atraktif dan menarik di mata pria. Loh, kalau begitu karena manusia sekarang sudah melewati jutaan tahun evolusi dan survive sampai sekarang berarti seharusnya wanita yang bertahan sampai sekarang adalah wanita yang memiliki waist-to-hip ratio 0.7. Iya kan? Kan katanya manusia yang bisa beradaptasi adalah manusia yang bisa bertahan hidup.

Sesungguhnya bukan itu yang dimaksud oleh penelitian ini. Proses evolusi tidak menciptakan kesempurnaan. Wanita dengan waist-to-hip ratio 0.7 barangkali memang paling menarik bagi pria. Tingkat adaptasinya dan bertahan hidupnya sangat besar karena kemungkinan pria untuk memilihnya juga lebih besar. Tetapi, bukan berarti tidak ada alternatif wanita lain dengan waist-to-hip ratio yang berbeda dari 0.7. Tetap ada yang namanya variabilitas.

4. Evolutionary psychologists percaya bahwasanya budaya tidak memiliki efek mempengaruhi perilaku manusia.

Ini salah banget. Kenapa? Karena budaya itu merupakan produk dari perilaku manusia, yang mana manusianya sendiri telah melalui proses evolusi. Dengan kata lain budaya adalah hasil dari proses evolusinya sendiri. Untuk bagian ini, saya kutip langsung dari tulisan aslinya ya karena sudah sangat pas penjelasannya.


Culture is, without question, a major part of the human evolutionary story, and as such, many evolutionists who study human behavior focus largely on factors associated with cultural evolution. Culture is a product of human behavior — and culture ends up being the result of its own evolutionary processes. 


5. Evolutionary psychologists berkeyakinan kalau kita sebaiknya makan daging mentah.

Ngok. Apalagi ini? Saya baru tahu ada miskonsepsi yang ini. Serius ini aneh banget. Seperti yang pernah saya bahas juga di sini, manusia purba bisa berevolusi menjadi manusia modern sekarang ini karena otak kita yang berevolusi memiliki neuron dengan jumlah 86 miliar. Itu berarti otak kita perlu energi yang sangat besar. Manusia mendapatkan energi untuk mencukupi kebutuhannya ya dari makanan. Makanan yang dimasak membantu kita dalam menghemat waktu untuk memproses makanan dan energi yang didapat juga lebih besar. Selain itu, sistem pencernaan kita sekarang setelah melalui proses evolusi yang begitu panjang memang sudah disiapkan untuk makan makanan yang dimasak.


Penggemar: Tapi, Kim, kalau saya suka makan salmon sashimi bagaimana?


Sama, saya juga suka. Duh, ya ampun, salmon sashimi memang enak banget! Eh tapi sepertinya tidak apa-apa kalau makannya cuma sekali-sekali ya? Setahun sekali begitu. Kalau daging ayam mentah atau daging merah mentah, big no no buat saya.

6. Evolutionary psychologist meyakini kalau manusia berevolusi untuk menjadi egois.

Untuk menjawab ini mah simpel banget: Manusia tidak akan survive sampai saat ini kalau manusia itu egois. Manusia bisa survive karena manusia lain. Manusia ini tergabung dalam kelompok dan harus saling membantu agar mereka bisa bertahan hidup. Dan jangan salah, gosip itu juga berperan penting dalam keberhasilan mereka dalam kelompok.  Berikutnya satu kelompok mau tidak mau harus bekerja sama dengan kelompok lain. Begitu terus sampainya akhirnya kita bisa sampai di titik sekarang.

7. Psikologi Evolusi itu ilmu pop psychology banget.

Pop psychology ini maksudnya yang seperti ini ya?


Common understand of psychology, as acquired through newspaper and magazine articles and books about psychology aimed at a common audience and written by non-psychologists. 
Pop psychology is what everyone believes about psychology. It's almost invariably out of date and most often completely untrue.


Contohnya, ibu hamil kalau rajin dengar musik klasik maka anaknya nanti akan jadi jenius.

Kalau maksudnya begitu, ya salah! Sudah banyak kok jurnal akademik Psikologi Evolusi yang di peer-reviewed. Penelitiannya sendiri, insya Allah, pastinya sudah didesain seketat dan seteliti mungkin agar tidak melenceng dari kaidah ilmiah.

Psikologi Evolusi bukan mitos. Dia dapat dikatakan sebagai sebuah ilmu karena sudah memenuhi syarat-syaratnya. Heck, psychology is a science.






Itulah tujuh hal yang bikin orang lumayan salah paham soal Psikologi Evolusi. Kalau penjelasan ini dirasa kurang dan kalian ingin menambahkan, kolom komentar terbuka banget lho. 😁

Happy Birthday to Me

February 10, 2018 2 Comments
Sepertinya saya hampir tidak pernah menulis soal ulang tahun saya di blog ini ya? Nah, saya kepikiran mulai tahun ini saya akan membuat ritual baru, yaitu menulis di hari ulang tahun saya. Entah itu untuk refleksi diri atau hanya sekadar catatan bagaimana saya menghabiskan hari ulang tahun saya.

Oleh karena itulah, tulisan itu akan dimulai di tahun ini.


happy birthday to me!


Hari Senin kemarin, tanggal 5 Februari, saya berulang tahun. Tidak perlu saya sebutkan angkanya ya. Pokoknya saya sudah tua. Kalau ada yang bilang age is just numbers, sini saya keplak kepalanya. Heuheu.

Pagi-pagi saya bangun sudah ada ucapan selamat ulang tahun. Di WAG dan Tele Grup ada yang mengucapkan juga. Buka Twitter dan Facebook, Alhamdulillah, ada juga yang bilang selamat ulang tahun beserta doa-doanya. Terima kasih kepada teman-teman semua ya.

Saya menjalani hari seperti biasa. Santai, leyeh-leyeh, kemudian janjian sama bos saya untuk ketemu di kantor Pemprov sini. Malamnya saya mengajak Mama makan di luar. Rasanya ada yang kurang jika tidak ada acara makan-makan di luar di hari istimewa keluarga kami.




Tadinya ingin mengajak kakak juga, tapi kakak sedang tidak bisa. Ya sudah deh jadi saya berdua saja dengan Mama. Tidak apa-apa. Anggap saja ini ngedate ibu dan anak.

Tentunya saya berharap di umur yang semakin tua ini saya tetap dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. Hidup selalu sehat dan dikelilingi orang-orang yang saya cintai dan juga mencintai saya. Buat masnya terima kasih ucapan dan doanya. Kadonya jangan lupa ya. Pokoknya aku tunggu. Haha.

Buat teman-teman di sini barangkali ada yang mau mengirimi saya kado dengan senang hati saya terima. 🙊🙊🙊

Sunday, February 4, 2018

Random #33

February 04, 2018 4 Comments
Random 1.

Sudah lebih dari satu tahun sejak saya ikut yoga di studio dekat rumah. Selama ini saya selalu latihan di kelas saja. Dalam seminggu saya bisa latihan 3 hingga 4 kali. Tahun ini saya mendadak mendapat ilham bahwasanya latihan di studio saja tidak cukup. Tidak ada salahnya saya menambah latihan sendiri di rumah. Maka matras, balok, dan tali strap saya beli untuk memudahkan saya latihan di rumah.


matrasnya lucu ya? tapi licin. maklum murah.


Saya unduh aplikasi Daily Yoga di ponsel pintar saya. Saya suka aplikasi yoga ini. Panduannya dalam bentuk video. Tidak seperti aplikasi lainnya yang pernah saya unduh. Di aplikasi tersebut instruksinya diberikan dalam bentuk suara. Kurang afdol dong ya kalau hanya mendengar suara tanpa ada videonya. Benar tidak? Nanti deh kapan-kapan saya tulis ulasan lebih lengkapnya ya.

Random 2.

Menciptakan kebiasaan baru itu memang tidak mudah. Harus disiplin untuk konsisten. Sekarang ini saya sedang berusaha menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang insya Allah baik untuk saya. Kalau sedang semangat, ya semangat banget. Subhanallah deh semangatnya. Tetapi, kalau sedang malas, ya ampun...

Katroknya adalah dengan pedenya saya langsung bikin target lumayan banyak kebiasaan yang ingin saya bentuk. Tidak apa-apa deh. Mudah-mudahan saya bisa. Anggap saja ini sebagai sarana saya untuk mendisiplinkan diri sendiri.

Sebagai bukti niat baik saya untuk disiplin, saya unduh aplikasi HabitBull. Yah semoga saja niat baik saya juga diikuti dengan konsistensi. Karena niat baik tentu saja tidak cukup.

Random 3.

Pelan-pelan saya membatasi diri untuk membuka media sosial. Detoks media sosial yang saya lakukan sekarang ini lumayan memberikan efek yang menyenangkan. Saya jadi tidak terpapar konten-konten yang bisa bikin saya rusuh dan kesal sendiri. Waktu yang biasanya suka habis dipakai untuk scrolling timeline, jadi bisa lebih bermanfaat saya pakai untuk... Tidur. Heuheu. Becanda. Yang benar saya jadi lebih banyak baca artikel di Flipboard atau di Feedly. Atau nonton YouTube. Atau nonton film dan serial. Sungguh woles sekali hidup saya ini.

Random 4.

Tidur ah. Saya ngantuk.

Saturday, February 3, 2018

Skincare: Perlu atau Tidak?

February 03, 2018 4 Comments
Seperti biasa saya membuka-buka Flipboard saya dan membaca skimming artikel dengan topik "Beauty". Lalu, saya terhenti di satu artikel dengan judul "The Skincare Con". Keesokannya saya membuka kembali Flipboard sudah ada beberapa tulisan tandingan membantah artikel tersebut.

Sebenarnya ini menarik untuk dibahas. Lebih tepatnya untuk saya mengeluarkan uneg-uneg mengingat saya sangat mencintai skincare. Baiklah, mari saya ikut urun suara mengenai hal ini. Namun, yang perlu sangat ditekankan ini adalah opini pribadi berdasarkan pengalaman pribadi. Saya tidak perlu membahas hal-hal ilmiah, seperti sains di balik skincare dan sejenisnya, karena (sudah jelas) saya bukan ahlinya.

Menurut Krithika Varagur, si penulis artikel, industri skincare sekarang ini merupakan scam alias penipuan. Perusahaan sangat paham akan kebutuhan wanita yang selalu ingin tampil cantik, muda, dan menarik. Industri kecantikan (skincare dan make up) ini sangat besar. Pasarnya luas. Oleh karena itu, perusahaan berlomba-lomba menciptakan produk untuk dilempar ke pasar.

But all of this is a scam. It has to be. Perfect skin is unattainable because it doesn’t exist. The idea that we should both have it and want it is a waste of our time and money. Especially for women, who are disproportionately taxed by both the ideal of perfect skin and its material pursuit.

Hold on. Perfect skin is unattainable because it doesn't exist? Maybe it's true. So, we have to embrace our imperfection, right? Right. And I totally agree. But, embracing our imperfection and neglecting our own body (and don't care with what our body needs) are totally two different things.

Perusahaan-perusahaan itu tujuannya menguras dompet kita dengan menawarkan berbagai produk mengandung berbagai bahan yang katanya dapat membuat kulit kita selalu muda, menarik, halus dan mulus bagaikan porselen. Coba tengok harga sheet mask yang bisa mencapai ratusan ribu untuk 5 lembar. Atau harga masker lumpur yang harganya Rp 700-800ribu. Serum dan pelembap dengan harga jutaan rupiah? Ada. Banyak. Kalian tinggal pilih. Semuanya menjanjikan hal yang intinya kurang lebih sama.

Tidak heran wanita (dan pria) berbondong-bondong membeli berbagai produk perawatan, seperti toner, essence, serum, pelembap, dan lain-lain. Kita menerapkan 10 hingga belasan langkah perawatan ala Korea. Kita mengikuti tips dan rekomendasi produk dari selebritis Hollywood, YouTuber, blogger, dan influencer lainnya.

Varagur lanjut mengatakan kulit manusia bisa bertahan jutaan tahun evolusi tanpa bantuan krim pelembap dan sejenisnya. Lantas, kenapa kita sekarang jadi terobsesi begini dengan skincare?

Like other human organs, skin has withstood millions of years of evolution without the aid of tinctures and balms. How could we be getting it so wrong now?

Untuk memperkuat argumennya, dia mengutip beberapa sumber.

And despite the scientific gestures of skincare companies, a Harvard Medical School newsletter once concluded that “routine skin care is a realm where there's little science to be found.” According to some dermatologists, many women can even skip daily moisturizer, the most basic skincare product; a 2016 study in the Indian Journal of Dermatology found that no one really knew what moisturizer even did. But we have come to see the pursuit of perfect skin through a rotating buffet of products as an empowering choice.

Tentu saja hal tersebut dibantah di artikel "Skincare is Good and Also Works". Saya tidak akan mengutip semua argumennya di sini. Karena tulisan ini nantinya bakal panjang dengan kutipan. Soalnya semuanya rasa-rasanya ingin saya kutip. Haha. Biar lebih lengkap dan jelas juga bisa teman-teman baca langsung di artikelnya. Saya kutip sedikit saja dari artikel tersebut.

First of all, people used to die in their 30s. My skin looked fucking amazing when I was 33. Now, thanks to modern medicine, I get to live a longer life, which also means I get to have dark spots, wrinkles, a weaker skin barrier, maybe skin cancer, and a saggy neck in my 40s.

Nah, ini on point banget. Saya ingin membahas ini sedikit.

Semakin kita bertambah usia, kulit semakin berkurang elastisitasnya. Kulit kita menua, masbro dan mbaksis. Kulit jadi kendur, muncul keriput, juga flek hitam. Masalahnya faktor penuaan itu tidak cuma dari dalam, tetapi juga dari luar, seperti sinar matahari, polusi, dan gaya hidup tidak sehat. Gaya hidup yang tidak sehat seperti apa nih? Seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, makan sembarangan, kurang tidur, kurang minum air putih, malas membersihkan make up, dan masih banyak lagi lainnya.

Di jaman sekarang semuanya itu kita temui sehari-hari. Maksud saya, sinar matahari yang makin terik, polusi yang semakin menjadi, dan kita yang semakin cuek untuk menerapkan pola hidup sehat. Semuanya itu sangat berpengaruh ke kita. Tidak jarang kan kita sekarang bertemu dengan orang yang terlihat jauh lebih tua dibandingkan usianya?

Sekarang dengan ancaman dari luar yang begitu banyak, yakin kita bisa mengandalkan kekuatan kulit hanya dari dalam tubuh dan tidak membutuhkan bantuan apapun dari luar? Saya sih tidak yakin. Jangan lupa, semakin kita tua, produksi alami hyaluronic acid, kolagen, dan lain-lain di dalam tubuh kita itu semakin berkurang. Lalu, kalau produksi alaminya saja sudah berkurang, kita masih pede nih untuk tidak mau membantu kulit kita sendiri?

Saya pernah skip tidak pakai apapun selama dua atau tiga hari karena saya sedang malas banget. Hasilnya kulit saya jadi kering dan sungguh tidak enak dilihat. Sejak saat itu saya semakin percaya kalau skincare memang memberikan manfaat untuk kulit.

Lalu, soal industri skincare yang katanya scam ini. Ngomongin skincare sebagai industri scam kok rasanya nganu sekali ya... Karena saya secara pribadi merasakan manfaatnya. Memang ada orang yang secara genetik kulitnya sudah halus mulus seperti porselen tanpa perlu pakai apapun (oh, I envy you!). Tetapi, banyak juga kok cerita orang yang rutin pakai skincare kulitnya jadi sehat, bersih, glowing, dan jadi enak dilihat. Pernah dengar kan cerita orang yang jadi sembuh dari jerawat dengan memakai skincare yang tepat dan cocok untuk dirinya? Atau cerita orang yang kulitnya sensitif bisa membaik dengan skincare yang dipakainya? Kalau salah satu cerita saya dulu pernah bermasalah dengan jerawat dan bekasnya yang, duh, banyak. Sekarang Alhamdulillah dengan skincare yang cocok saya sudah jarang berjerawat dan bekas jerawat sudah mulai pudar.

Kalau ada yang bilang si A sudah pakai ini itu, tetapi kulitnya masih begitu-begitu saja atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Ah, kalau ada yang komentar begini sih, saya agak ragu. Mungkin memang dia belum menemukan produk yang cocok di kulitnya. Seperti saya dulu yang harus coba banyak produk, berbagai trial and error, sebelum akhirnya menemukan produk yang cocok untuk saya. Hasilnya jelas-jelas ada. Kulit saya sekarang jauh, jauh lebih baik ketimbang bertahun-tahun lalu yang tidak terawat, kusam, dan dekil. Belum sehalus, semulus, dan secantik Chelsea Islan atau Raissa memang, tetapi ya mendingan lah ketimbang dulu.

Harus diakui memang ada produk skincare yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah, tetapi ada juga kok produk dengan harga belasan dan puluhan ribu rupiah dengan manfaat yang tidak kalah dengan produk mahal. Lagian kalau memang mampu beli serum dan krim pelembap yang harganya jutaan rupiah, kenapa tidak? Kenapa harus orang lain yang sewot? Kan mampu ini.

Kalau memang tidak mampu, masih banyak kok produk dengan harga ramah di kantong dan kualitasnya oke. Kalian bisa mempertimbangkan untuk mencoba produk-produk dari COSRX, Wardah, Mustika Ratu, Hada Labo, Innisfree, Emina, dan Skinfood. Produk dari merek-merek tersebut sudah saya coba dan cocok di saya. Mudah-mudahan di kalian juga cocok.

Yang ingin saya sampaikan adalah industri kecantikan ini industri besar dan menggiurkan. Di mana ada lahan yang bisa menghasilkan uang pasti orang akan datang ke sana, tidak terkecuali industri kecantikan. Sekarang kita sebagai konsumen harus jadi konsumen yang cerdas dan kritis. Jangan mudah tergoda dan jangan asal beli. Apalagi di jaman sekarang ini informasi bertebaran di mana-mana. Kalau mau beli produk, cari dulu review-nya. Tinggal googling saja kok atau buka YouTube. Kita juga sebagai konsumen harus mengedukasi diri sendiri. Banyak baca. Jangan malas. Jangan menelan mentah-mentah informasi yang diterima.

Sekarang jika kalian menanyakan ke saya apakah kita perlu skincare atau tidak, sudah jelas jawaban saya perlu. Sangat manusiawi kok kalau wanita ingin terlihat muda, cantik, dan menarik. Siapa sih yang nggak kepengen terlihat segar dan menyenangkan dengan kulit yang sehat, cerah, dan glowing? Kalau saya sih, kepengen banget. Saya punya #skincaregoals yang salah satunya adalah kulit saya bisa terlihat sehat, bersih, segar, cerah, dan glowing tanpa saya harus pakai make up.

Selain soal ingin bisa memiliki kulit halus semulus porselen dan sejenisnya itu, pakai skincare itu juga memberikan efek menenangkan. Bagi saya, ketika sudah melakukan ritual (saya menyebutnya ritual) pagi dan malam -- memakai rangkaian skincare, mulai dari mencuci muka, toner, maskeran, hingga pakai pelembap -- itu rasanya menyenangkan. Ini adalah me time buat saya. Ini adalah #bahagiaitusederhana versi saya: ketika melakukan ritual pakai skincare di pagi dan malam hari. Skincare memang bisa bikin saya bahagia.

Saya punya paham bahwa merawat diri merupakan salah satu cara kita untuk menghormati dan menghargai diri kita sendiri. Merawat diri juga merupakan salah satu cara berterima kasih kepada Tuhan yang sudah menganugerahi kita kehidupan.

Tetapi, merawat diri dengan memakai skincare tidak akan ada artinya jika tidak didukung dengan menerapkan pola sehat juga. Jangan merokok dan jangan minum minuman beralkohol, perbanyak makan buah dan sayuran, tidur cukup, olahraga, jangan kebanyakan stres, cukup minum air putih (kebanyakan minum air putih juga tidak bagus).

Ini menurut saya. Bagaimana menurut kalian?