Wednesday, August 8, 2018

Tentang Take and Give

August 08, 2018 6 Comments
Dalam relationship (apa saja) saya punya prinsip it takes two to tango. I cannot do the tango dance alone. I need a partner. Dengan kata lain itu berarti dalam menjalin hubungan dengan orang lain itu harus resiprokal alias timbal-balik. Antara take and give harus seimbang.

Saya bukan manusia suci yang penuh welas asih dan bisa tulus ikhlas berbuat baik terus-menerus ke orang lain. Ya bisa sih asalkan saya juga mendapatkan balasan yang seimbang. Kalau saya baik melulu, tapi saya merasa saya tidak memperoleh kebaikan dari orang tersebut ya lama-lama saya juga malas. Sebaliknya, kalau ada orang yang baik banget sama saya, sebisa mungkin saya berusaha membalas kebaikannya. Saya nggak mau take it for granted. Saya orangnya tahu diri kok.

Prinsip saya sederhana: saya nggak bisa memberi terus-terusan dan saya juga nggak bisa terima terus-terusan.

Dan ini berlaku dalam segala macam jenis relationship yang saya punya, ya keluarga, romantic relationship, pertemanan, dan juga di kantor. Kalau kamu baik sama saya, saya bisa jauh lebih baik ke kamu. Kalau kamu jahat sama saya, ehm, saya tidak perlu jahat balik ke kamu, tapi saya akan memilih untuk pergi dari kamu. Sesederhana itu.

Dengan punya prinsip begini saya melihat segala macam relationship yang saya punya itu sebagai sebuah investasi. Kalau investasi dilakukan pada orang yang tepat, ya syukur Alhamdulillah. Saya bahagia sekali. Itu berarti saya punya hubungan yang sehat dan baik dengan orang tersebut. I'm looking at you, guys, dear family, my best friends, and mas-masnya. 😘




Namun, kalau investasi dilakukan pada orang yang salah, rasanya... Duh, bajingan. Kampret. Brengsek. Saya sudah investasi banyak sekali, katakanlah waktu, tenaga, perasaan, everything, tapi orang tersebut tidak melakukan apa-apa kok rasanya asem sekali ya... Rugi banget. Ujung-ujungnya kalau sudah begini saya berhenti berinvestasi. I walked out. Dan sisanya saya serahkan ke Tuhan semoga Tuhan membalas kebaikan saya. Saya akan menganggapnya sebagai menabung karma baik. Meski penuh dengan perasaan jengkel, masih terselip harapan di dalam hati semoga saya meninggalkan jejak kenangan yang bagus dalam hidup orang tersebut. And this I'm looking at you, dear prick, asshole, jerk ex(es).

Saya tidak tahu punya prinsip seperti ini apakah bagus atau buruk. Di satu sisi saya melihat ini sebagai cara saya bertahan dan melindungi diri. Ini adalah cara saya untuk tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Ketika saya sudah melakukan semuanya, lalu tidak dihargai ya buat apa bertahan. Betul tidak?

Namun, di sisi lain kok sepertinya saya ini penuh perhitungan sekali. Selalu melihat segala sesuatu dari untung dan rugi. Mental saya belum terlatih untuk bisa berperilaku baik serta tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.

But, I'm trying to learn. I want to. Saya harus selalu menanamkan wejangan ke otak saya, walaupun saya melakukan investasi yang buruk pada seseorang, saya percaya Tuhan tidak tidur. Tuhan akan membalas semua apa yang saya lakukan.

Jadi, jangan jadikan bad investment tersebut sebagai penghalang untuk terus berbuat baik ya, Kimi. Banyak-banyak menabung karma baik. And the rest will follow.

Saturday, August 4, 2018

What Makes a Good Life?

August 04, 2018 2 Comments
Apa yang ingin kita kejar dalam hidup? Saya yakin kebanyakan dari kita akan menjawab ingin punya karir yang oke, punya uang banyak dan barang-barang high-end brand, atau ingin menjadi terkenal. Well, terima kasih kepada media sosial sekarang ini yang membuat ketenaran begitu mudah untuk diraih.

Akan tetapi, apakah uang, karir, dan ketenaran itu adalah jaminan yang dapat membuat kita bahagia? Kalau kata Prof. Robert Waldinger sih tidak.

Waldinger memimpin penelitian Harvard Study of Adult Development. Penelitian ini sudah berlangsung selama 75 tahun dan Waldinger adalah orang keempat yang memimpin penelitian tersebut. Barangkali ini adalah penelitian longitudinal yang paling lama, paling panjang, yang pernah ada.

Selama 75 tahun mereka meneliti kehidupan 724 pria, yang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah mahasiswa tingkat dua di Harvard College. Sedangkan kelompok kedua adalah remaja dari daerah miskin di Boston.

Para peneliti dengan penuh tekad kuat mengikuti kehidupan para partisipan penelitian mereka, sejak mereka masih muda. Dalam perjalanan hidupnya para partisipan ini ada yang menjadi buruh pabrik, pengacara, bahkan ada satu partisipan yang menjadi presiden Amerika Serikat (John F. Kennedy kalau kalian penasaran ingin tahu siapa yang dimaksud).

Setiap dua tahun para peneliti mengirimi mereka kuesioner untuk dijawab. Kuesioner tersebut berisi pertanyaan seputar tentang kehidupan mereka. Tidak hanya melalui kuesioner, para peneliti juga mewawancarai mereka secara langsung, meminta rekam medis dari dokter mereka, melakukan tes darah, meng-scan otak mereka, dan mencatat interaksi mereka dengan pasangan mereka.

Dari penelitian selama ini dengan data yang dikumpulkan sebanyak ini apa kesimpulan yang didapat? Waldinger bilang di video TED Talk-nya:

The clearest message that we get from this 75-year study is this: Good relationships keep us happier and healthier. Period.

Jadi, bukan karir mentereng dengan gaji bermeter-meter panjangnya, atau duit berkoper-koper, atau ketenaran yang bisa bikin kita bahagia, melainkan hubungan yang sehat dan menyenangkan.

Waldinger lebih lanjut menjelaskan tiga hal penting yang mereka pelajari dari relationships. Pertama, social connections are really good for us and the loneliness kills. Orang-orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan keluarganya, teman-temannya, dan komunitasnya ternyata lebih bahagia, lebih sehat, dan berumur panjang dibandingkan mereka yang less connected dengan lingkungan sosialnya. Selain itu, loneliness benar-benar sangat berbahaya buat kita. Orang-orang yang terisolasi, atau sengaja mengisolasi diri secara berlebihan, mereka menjadi kesepian. Hidup mereka less happy, kesehatan mereka menurun lebih cepat di paruh baya usia mereka, fungsi otak mereka juga menurun, dan mereka tidak berumur panjang dibandingkan orang-orang yang tidak kesepian.

Kedua, kualitas hubungan jauh, jauh lebih penting ketimbang kuantitas. Punya banyak teman di Facebook atau di media sosial manapun atau punya banyak nomor kontak di daftar telpon kalian tidak menjamin kalian bahagia. Karena yang paling penting adalah seberapa kualitasnya hubungan yang kalian punya dengan orang lain.

It turns out that living in the midst of conflict is really bad for our health. ... And living in the midst of good, warm relationships is protective.

Waldinger mencatat para partisipan penelitian ini yang bahagia dan puas dengan kualitas hubungan yang mereka punya dengan pasangannya di usia 50 adalah partisipan yang paling sehat ketika mereka di usia 80.

Ketiga, hubungan yang sehat tidak hanya melindungi tubuh kita, tetapi juga otak kita. Dari hasil penelitian ini juga menunjukkan para partisipan yang punya hubungan yang sangat dekat dengan pasangannya dan memiliki seseorang yang dapat mereka andalkan ternyata mereka memiliki ingatan tajam lebih lama dan tidak cepat pikun. Sebaliknya, partisipan yang tidak dapat mengandalkan pasangannya, mereka menjadi lebih cepat pikun.

Dengan demikian saya dapat menyimpulkan beberapa hal. Pertama, bahwa saya harus berhenti untuk terlampau membatasi diri (kalau tidak mau dibilang menutup diri) dari orang lain. Saya terlalu selektif jadi manusia. Saya tidak sembarangan mengijinkan orang untuk masuk ke dalam hidup saya. Karena ini adalah cara saya melindungi diri saya. Sudah berusaha mati-matian melindungi diri saja masih disakiti melulu, apalagi kalau tidak membentengi diri. Tidak harus soal pasangan sih, tetapi juga soal pertemanan, keluarga, rekan kerja.

Saya harus berhenti menutup diri dan belajar untuk lebih terbuka karena ya saya juga nggak mau cepat mati, cepat sakit, atau cepat pikun. Tapi ya ini kendala besar buat saya.

I see other people as a threat that they're going to hurt me one day. I don't trust them easily. Once I get hurt--I mean really really bad hurt--there is no turning back. I will walk away from their lives and erase them from my life.

Banyak yang bilang untuk belajar memaafkan, let go, dan move on supaya hidup jadi lebih lega, lebih bahagia, dan lebih tenang. Iya, saya percaya itu. Namun, itu tidak mudah buat saya. Sampai sekarang masih menjadi PR. I'm still working on it. Believe me.

Lah, terus kenapa ini jadi curhat ya? Maafkan. Baiklah, mari kita lanjutkan saja ke kesimpulan berikutnya.

Kedua, buat apa berada di dalam sebuah hubungan yang terus-menerus berkonflik tanpa henti? Buat apa mempertahankan hubungan yang toxic, yang tidak sehat? Jika memutuskan untuk bertahan, apakah hubungan tersebut sangat berharga jika dibandingkan dengan kesehatan dan kebahagiaan kalian? Karena percayalah, begitu berhasil lepas dari toxic relationship rasanya hidup jadi memang lebih sehat, tenang, dan enteng.

Apakah kalian mendeteksi curcol di sini? Heuheu. Tolong saya dimaafkan kembali ya.

By the way, sumber tulisan ini adalah video TED Talk Prof. Waldinger. Videonya sangat berkesan buat saya. Sangat relatable. Oleh karena itu, untuk sebagai pengingat pribadi makanya saya mencatat intisarinya di sini. Semoga bisa bermanfaat juga buat teman-teman semua.

Jika kalian berminat kalian bisa langsung nonton videonya di bawah ini.




Akhirul kalam, jangan lupa pesan dari Prof. Waldinger:

The good life is built with good relationships.

So, starting from now on let's build good relationships with everyone. Kecuali sama mantan brengsek. Heuheu.

Friday, August 3, 2018

Postcrossing #6

August 03, 2018 0 Comments
Bulan Juli kemarin saya bahagia. Apa pasal? Karena saya terima 16 kartu pos sekaligus! Alhamdulillah banget. Rasa bahagia sungguh tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Halah, lebay banget.

terlalu malas mencari gambar kartu pos
jadi menggunakan yang lama saja


Yuk, kita lihat kartu posnya apa saja!

1. Dari Boran di Turki


The Sultanahmet Mosque, also popularly known as Blue Mosque, is a historical mosque located in Istanbul, Turkey. It was constructed between 1609 to 1616 during Ahmed I's reign. It, and other parts of Historic Areas of Istanbul, was added to UNESCO World Heritage List in 1985. On 30 November 2006 Pope Benedict XVI visited this mosque during his visit to Turkey. It makes the second papal visit in history to a Muslim place of worship. Let me quote from Wikipedia (because I feel the need to write it here and because it just so beautiful): . . "...Having removed his shoes, the Pope paused for a full two minutes, eyes closed in silent meditation, standing side by side with Mustafa Çağrıcı, the Mufti of Istanbul, and Emrullah Hatipoğlu, the Imam of the Blue Mosque." . . Merhaba, @malidebirkardanadam ! Thank you so much for giving me The Sultanahmet Mosque postcard. It's so beautiful. I hope one day I can visit the mosque with you showing me around. Sent: 15 May 2018 Received: 13 July 2018 Days of traveling: 59 days Distance: 9,268 km #postcrossing #incoming #postcard #istanbul #turkey #thesultanahmedmosque #sultanahmet #mosque
A post shared by Ranger Kimi (@insanayu) on

2. Dari Nadya di Moscow





3. Dari Emil di Ceko





4. Dari Anastacia di Siberia, Rusia





5. Dari Tom di Virginia, USA





6. Dari Lucia di Slovakia





7. Dari Fei di Zongyang, China





8. Dari Shaz di Australia





9. Dari Georg di Sponheim, Jerman





10. Dari Tomoko di Jepang





11. Dari Valentina di Novisibirsk, Rusia





12. Dari Nora di Irlandia





13. Dari J. Tills di USA





14. Dari Marina di Wisconsin, USA





15. Dari Ronda di Kanada





Btw, sepertinya saya akan hiatus kembali main Postcrossing. Entah sampai kapan. Untuk sekarang ini saya menghabiskan dulu prangko yang ada. Kalau sudah habis, belum ada niat untuk stok prangko lagi. Jadi yah, mudah-mudahan hiatusnya tidak lama. Tetapi ya bisa juga saya tidak jadi hiatus. Tergantung mood juga sih. Haduh. Saya ini jadi manusia kok labil betul.

Buat kalian yang main Postcrossing juga, niat saya ini jangan ditiru. Kalian tetap semangat ya main Postcrossing-nya!

Thursday, August 2, 2018

Film di Juli 2018

August 02, 2018 0 Comments
Hai, hai. Rekap film bulanan datang lagi. Dipikir-pikir blog ini sekarang isinya cuma rekap film dan rekap kartu pos. Mohon maaf kepada para penggemar. Barangkali kalian kecewa dengan isi blog yang begini-begini saja. Habisnya saya tiada punya ide ingin menulis apa yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Halah. Lebay.

Sudahlah. Mari kita langsung saja ke daftar film yang saya tonton di bulan Juli kemarin.

1. Annihilation (2018)

Film bertemakan alien yang dibintangi Natalie Portman. Meski yang main Natalie Portman, tetap saja saya tidak suka. Sepertinya saya harus berhenti nonton film dengan tema alien seperti ini. Nggak suka.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

2. The Martian (2015)

Mark Watney (Matt Damon) harus bertahan hidup sendirian di Mars. Teman-teman astronotnya meninggalkan dia karena mereka mengira Mark tewas sewaktu mereka berusaha pergi menghindari badai. Mark bisa bertahan hidup dengan bercocok tanam dan menghemat suplai makanan yang mereka bawa dari Bumi.




Rating: 3 dari 5 - liked it

3. Tomb Raider (2018)

Saya belum bisa melepaskan sosok Angelina Jolie sebagai Lara Croft. Tapi ya Alicia Vikander oke juga sih berperan sebagai Lara Croft.




Rating: 3 dari 5 - liked it

4. Dallas Buyers Club (2013)

Wajar deh Matthew McConaughey dan Jared Leto dapat penghargaan Piala Oscar untuk kategori Best Actor dan Best Supporting Actor. Totalitas Om Matthew lho sampai menurunkan berat badan sampai 21 kg untuk perannya sebagai Ron Woodroof.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

5. Suicide Squad (2016)

Wajar kalau film ini mendapat review jelek di mana-mana. Karena ya ceritanya memang aneh. Pertama-tama, entah apa maksud dan tujuan Amanda Waller (Viola Davis) merekrut para penjahat kelas kakap. Katanya untuk membentuk pasukan pembela Bumi (kan ceritanya Superman sudah meninggal). Oke, tapi siapa musuh yang dihadapi? Sampai di pertengahan film saya bingung. Nggak ada clue blas siapa yang jadi musuhnya.

Eh ternyata yang jadi musuh mereka adalah The Enchantress (Cara Delevingne). Lah, awalnya saya pikir The Enchantress ini termasuk penjahat yang mau direkrut oleh Amanda. Well, oke deh kalau di tengah-tengah perjalanan ternyata dia berhasil lepas dari pengawasan ketat dan malah melepas malapetaka di Bumi. Pertanyaan saya, seandainya nih ya The Enchantress tidak kabur dan dia ternyata anak penurut, lalu siapa yang jadi penjahatnya yang membuat Amanda bersusah payah merekrut para penjahat kelas kakap tersebut?

Dengan cerita yang berantakan begini, masih untung ada Margot Robbie dan Jared Leto yang aktingnya mumpuni. Both of them stole the show. Memang sih Jared Leto yang memerankan karakter Joker mau tidak mau bakal dibanding-bandingkan dengan almarhum Heath Ledger. Kalau menurut saya, aktingnya Mas Jared oke kok.




Rating: 2 dari 5 - it was okay

6. Shame (2011)

Pertama kali melihat Michael Fassbender bugil di film ini. Heuheu. Aku langsung merasa nista dan penuh dosa. Halah. Ceritanya tentang Brandon (Michael Fassbender) seseorang yang kecanduan seks. Harddisk komputernya penuh dengan film bokep berbagai versi. Dia tidak bisa melihat wanita karena dia sangat gampang bernafsu. Dalam sehari dia bisa berkali-kali melakukan masturbasi.

Kehidupan gelapnya tersebut harus terganggu dengan kedatangan adiknya, Sissy (Carey Mulligan), yang menumpang di apartemennya selama beberapa waktu. Brandon merasa Sissy menginvasi teritorinya dan dia menjadi sangat uring-uringan tiap ada Sissy. Sissy pun bukannya tanpa masalah. Dia memiliki kecenderungan bunuh diri yang cukup tinggi. Hubungan kakak-beradik ini jadi diuji di sepanjang film.




Rating: 2 dari 5 - it was okay

7. Requiem for a Dream (2000)

Moral cerita dari film ini adalah jauhi narkoba karena narkoba itu tiada bermanfaat dan bisa menghancurkan hidupmu dan hidup orang-orang yang berada di sekelilingmu. Jared Leto ganteng banget, btw, di film ini.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

8. Ant-Man and the Wasp (2018)

Scott Lang (Paul Rudd) membantu Hank Pym (Michael Douglas) dan Hope van Dyne (Evangeline Lily) untuk mencari Janet van Dyne (Michelle Pfeiffer) di quantum realm. Ngomong-ngomong, kostum Ant-Man dan The Wasp kok jelek banget ya?





Rating: 4 dari 5 - really liked it

9. The Prestige (2006)

Seperti biasa deh film-film yang disutradarai Christopher Nolan ini memang keren-keren dan The Prestige tanpa terkecuali. Saya sudah baca novelnya bertahun-tahun yang lalu, jadi agak lupa-lupa ingat ceritanya bagaimana. Untungnya saya lupa di bagian paling seru ceritanya. Di bagian yang ini lho... Yang bikin Robert Angier (Hugh Jackman) sampai pergi ke Amerika menemui Tesla (David Bowie) untuk menemukan rahasia trik sulap dari Alfred Borden (Christian Bale).




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

10. Mission: Impossible - Fallout (2018)

Menurut saya MI-Fallout ini film terbaik dari semua film MI. Yah meski rada-rada bagaimana gitu ya melihat Tom Cruise masih digambarkan sebagai Ethan Hunt yang gagah, pemberani, macho, dan jagoan sekali, sampai-sampai Henry Cavill saja bisa kalah. Dan di bagian siapa sesungguhnya John Lark atau siapa yang menjebak Ethan Hunt ini gampang banget ketebak, tapi yowis lah... Namanya juga film laga Hollywood. Dinikmati saja. Sekarang saya ingin nonton lagi dong filmnya. Ada yang mau bayarin tiketnya nggak buat saya? Hihi.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

Semoga bisa jadi rekomendasi buat teman-teman semua. Sampai jumpa di rekap film berikutnya!

Saturday, July 14, 2018

Postcrossing #5

July 14, 2018 0 Comments
Di bulan Juni ada peningkatan jumlah kartu pos yang saya terima. Jika di bulan Mei saya terima empat buah kartu pos, maka bulan lalu saya terima lima kartu pos. Cuma bertambah satu, tapi lumayan lah ya. Tetap harus bersyukur. Alhamdulillah.


menggantung kartu pos di kamar kayaknya seru ya


Well, ini dia lima kartu posnya.

1. Dari Shanti di Jerman






2. Dari Birgit di Jerman




3. Dari Dora di USA




4. Dari Margarita di Minsk, Belarusia




5. Dari Iris di Amsterdam, Belanda.




Yaaa cuma segitu saja kartu posnya. Mohon doa dari teman-teman semua semoga di bulan Juli ini saya bisa kirim dan terima lebih banyak kartu pos. Btw, kok rasanya semakin lama kartu pos yang saya kirim semakin lambat sampai di negara tujuan. Tidak tahu apa penyebabnya. Saya jadi kesal sendiri. Huft.