Thursday, June 14, 2018

Koleksi Masker Saat Ini #2

June 14, 2018 0 Comments
Teman-teman pasti sudah tahu ya kalau saya suka banget maskeran. Saya pernah menuliskan koleksi masker saya saat itu di sini. Berhubung masker yang ada di tulisan tersebut sudah habis semua dan sekarang saya punya koleksi masker baru, jadi mari kita lihat masker apa saja yang sedang saya pakai sekarang ini.




1. Freeman Detoxifying Charcoal + Black Sugar Mud Mask

Masker ini menggantikan masker lumpur (clay mask) saya sebelumnya, yaitu Freeman Purifying Avocado + Oatmeal Clay Mask. Masker tersebut saya berikan ke kakak saya. Tadinya saya tidak mau pakai Freeman lagi untuk mud/clay mask, tetapi apalah daya kalau sudah terkena racun. Apa boleh buat deh saya menyerah. Habisnya membaca review di mana-mana pada bilang dari semua varian Freeman yang ada masker ini yang paling dicari, paling laku, dan paling sering mendapat review oke.

Sejujurnya saya baru satu kali pakai, tetapi saya sudah berani bilang saya suka sama hasilnya. Saya lebih suka pakai varian charcoal + black sugar ketimbang avocado + oatmeal. Teksturnya yang creamy gampang banget untuk diratakan di seluruh wajah. Wanginya enak dan segar seperti wangi teh lemongrass, tetapi tidak terlalu tajam. Meski namanya black sugar, tetapi tidak ada butiran gulanya. Setelah dibilas muka terasa jadi lebih halus dan bersih. Tidak ada rasa kesat, kering, atau kasar.

Harganya berkisar di Rp 85ribu - Rp 140ribu di e-commerce. Waktu itu saya beli di teman saya dengan harga Rp 115ribu ditambah ongkos kirim Rp 19ribu, jadi semuanya Rp 134ribu.

2. Freeman Hydrating Honeydew + Chamomile Overnight Cream Mask

Belakangan ini saya lebih senang pakai sleeping mask karena lebih praktis. Tinggal pakai dan langsung ditinggal tidur deh tanpa perlu dibilas. Dibilasnya baru di keesokan paginya.

Nah, salah satu sleeping mask saya kali ini dari Freeman juga. Wanginya enak banget, sumpah! Wangi melonnya terasa sekali, tapi wanginya tidak tajam. Wanginya manis mengingatkan saya akan permen. Wanginya ini bikin ketagihan. Buktinya saya sering banget buka maskernya cuma buat saya cium-ciumin wanginya.

Sayangnya, performa maskernya tidak sebanding dengan wanginya. Kegunaannya hanya untuk melembabkan wajah. Itupun rasa lembabnya sepertinya biasa-biasa saja. Tidak spesial. Kalau teman-teman mencari sleeping mask hanya untuk melembabkan, ya boleh lah kalian mencobanya. Hanya saja perlu saya ingatkan kekurangan dari masker ini, yaitu ketika diaplikasikan di dekat daerah mata langsung terasa pedih.

Harganya Rp 100ribu-an something. Saya lupa. Soalnya saya beli di Malaysia. Harganya tidak begitu jauh dengan di online shop, tetapi masih lebih murah.

3. Emina Green Tea Latte Face Mask

Sudah saya tulis review lengkapnya di sini. Tulisan tersebut ditulis di bulan Februari 2018 yang lalu dan sampai sekarang maskernya belum habis juga. Padahal saya rutin lho pakainya 2x seminggu. Awet banget ya?

Saya tidak akan membahas lagi maskernya seperti apa. Monggo diklik saja tautannya ya. ✌

4. Holika Holika Aloe 99% Soothing Gel

Sudah pernah juga saya tulis review lengkapnya. Awalnya saya berniat menjadikannya sebagai krim malam. Kemudian saya putuskan untuk menggunakannya sebagai sleeping mask saja. Untuk krim malamnya saya tetap setia pakai Hada Labo Perfect 3D Gel.

Penggemar: Lho, Kim, ternyata aloe vera soothing gel macam ini bisa dijadikan sleeping mask juga toh?

Tentu saja bisa. Kenapa tidak bisa? Tinggal dipakai saja tebal-tebal di seluruh wajah dan leher. Dipakainya enak banget. Diaplikasikan di bawah mata pun aman-aman saja dan tidak perih. Holika Holika Aloe Soothing Gel cepat meresap meski sudah diaplikasikan setebal apapun. Jeleknya adalah begitu sudah meresap, dia meninggalkan residu (halah!) seperti daki. Ini serius. Jadinya sebelum cuci muka besok paginya saya harus gosok-gosok dulu deh wajah saya untuk mengangkat "daki"-nya.

5. COSRX Ultimate Nourishing Rice Overnight Spa Mask

Terdapat lebih dari 68.9% kandungan beras di sleeping mask keluaran dari COSRX ini. Seperti yang sudah kita ketahui bersama beras banyak banget manfaatnya untuk kulit, terutama untuk mencerahkan. Atas alasan itulah yang membuat saya tergoda ingin mencobanya. Padahal kulit saya kurang putih apa lagi coba ya? Kenapa masih ingin pakai produk untuk mencerahkan? Karena saya punya banyak flek hitam dan bekas jerawat. Barangkali dengan pakai produk-produk mencerahkan bisa mengurangi flek hitam dan bekas jerawat yang ada.

Well anyway, maskernya bisa juga dipakai sebagai pelembap dan masker bilas. Kalau ingin dipakai sebagai sleeping mask, diaplikasikannya tebal-tebal saja. Saya punya prinsip kalau yang namanya sleeping mask itu harus dipakai tebal-tebal. Tujuannya juga untuk menghidrasi dan menjaga kelembaban kulit sepanjang malam kan?

Keesokan paginya begitu bangun tidur kulit memang masih terjaga kelembabannya. Sementara untuk mencerahkan saya kurang tahu. Saya tidak terlalu ngoyo sih untuk yang satu ini. Bagi saya, ya sudahlah pakai-pakai saja. Putih atau tidak, mencerahkan atau tidak, bekas jerawat mau hilang atau tidak, ya terserah deh. Yang penting maskernya rajin dipakai. Oh iya, maskernya tidak ada wanginya. So, buat yang sensitif sama wewangian di skincare, insya Allah produk ini aman untuk kalian.

Harganya Rp 162ribu. Saya beli di Shopee.

So, itulah kelima masker yang menjadi koleksi saya saat ini. Tadinya saya juga pakai Laneige water sleeping mask yang lavender. Saya suka banget pakai itu karena benar-benar nampol lembabnya. Berhubung saya cuma mampunya beli yang travel size dan sekarang sudah habis, jadi tidak saya tuliskan di sini.

Kalian sendiri bagaimana? Masker apa yang sedang kalian pakai saat ini? Share dong!

Saturday, June 2, 2018

Postcrossing #4

June 02, 2018 2 Comments
Berbeda di bulan April yang lalu di mana saya terima 21 kartu pos (sudah saya pamerkan kartu posnya di sini dan di sini), di bulan Mei kemarin saya cuma terima empat buah kartu pos official. Hiks. Menyedihkan sekali. Mana kartu pos yang saya kirim juga sampainya pada lama. Alhasil saya cuma bisa menanti dengan setia meski bosan juga sih. Sama kayak menunggu gebetan buat nyamperin saya. Heuheu.


sekadar ingin saja pakai gambar ini


Ya sudah. Mari kita langsung lihat saja kartu pos yang saya terima.

1. Dari Sigita di Lithuania





2. Dari Peter di Rosenheim, Jerman


This is from Peter in Rosenheim, Germany. It took 186 days to reach me! For as long as I can remember since the first day I registered in Postcrossing, it never happened to me before for a postcard to travel that long to reach its destination. I don't know what's wrong. Well anyway, Peter told me that he loves books. He has more than 800 of them. He doesn't know who his favourite authors or what his favourite books are. He loves all kinds of books, from thriller to science fiction. Now about the postcard. It depicts Dom St. Peter und Rathausturm in Regensberg, or also known as The Regensburg Cathedral, dedicated to St. Peter. It's the most important church and landmark of Regensburg, Germany. Sent: November 20, 2017 Received: May 25, 2018 Days of traveling: 186 days Distance: 10,688 km #postcrossing #incoming #postcard #rosenheim #regensburg #cathedral #theregensburgcathedral #germany
A post shared by Ranger Kimi (@insanayu) on



3. Dari Brigitta di Austria





4. Dari Michael di Ludwigshafen, Jerman






Okeee... Cuma segitu saja kartu pos yang bisa dipamerkan kali ini. Semoga bulan Juni ini saya bisa lebih banyak kirim dan menerima kartu pos. Amin. By the way, kalian sudah ikutan Postcrossing belum?

Friday, June 1, 2018

Film di Mei 2018

June 01, 2018 0 Comments
Tiga belas film berhasil (kayak sebuah pencapaian luar biasa saja) saya tonton selama bulan Mei. Lumayan kan? Saya cinta hidup saya, meski begitu woles dan membosankan, tapi saya bisa punya waktu banyak bersantai untuk nonton film. Heuheu.

Mari kita langsung saja ke daftar film yang saya tonton kemarin:

1. Ponyo (2008)

Ponyo tadinya seekor ikan mas. Ketika dia bertemu dengan Sosuke serta-merta Ponyo ingin bisa berubah menjadi manusia. Ayahnya tidak mengijinkan Ponyo untuk dekat-dekat lagi dengan Sosuke, tapi Ponyo tetap nekat. Demi Sosuke dia memakai kekuatannya yang berujung pada menciptakan badai besar dan banjir bandang.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

2. Star Wars: The Last Jedi (2017)

Durasi film yang cukup panjang (2,5 jam) dengan cerita yang sedikit membosankan. Entahlah, mungkin karena saya memang bukan penggemar Star Wars. Saya cuma suka Star Wars I - III di mana masih ada Ewan McGregor, Hayden Christensen, dan Natalie Portman.




Rating: 2 dari 5 - it was okay

3. Castle in the Sky (1986)

Sheeta dan Pazu dikejar-kejar gerombolan perompak dan tentara pemerintah karena batu kristal ajaib yang dimiliki Sheeta. Batu kristal tersebut merupakan kunci ke sebuah negeri dongeng.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

4. Prometheus (2012)

Ceritanya mau mencari asal-muasal kehidupan manusia. Petunjuk yang didapat katanya harus ke suatu bulan yang jaraknya jauh banget dari Bumi. Pas sudah sampai sana ternyata sekelompok manusia yang penasaran ini tidak sendirian. Sudah ada makhluk alien yang menanti mereka dan ingin menghabisi kehidupan manusia di Bumi.

Jiwa ilmuwan Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) ingin menemukan jawabannya. Makhluk-makhluk ini yang katanya adalah pencipta manusia kok mereka berubah pikiran ingin menghancurkan manusia. Elizabeth ingin tahu alasannya kenapa.

Sepertinya saya memang tidak cocok dengan film-film alien seperti ini. Meskipun ceritanya diangkat dari pertanyaan filosofis banget. Hanya saja ide cerita boleh filosofis, tapi kalau bikin ngantuk dan nggak seru ya percuma saja.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

5. Breakfast at Tiffany's (1961)

Holly Golightly (Audrey Hepburn) adalah seorang wanita yang berjiwa bebas. Dia tidak mau dikekang. Menurutnya menjalin hubungan romantis dengan seseorang merupakan bentuk ketidakbebasan. Dia ingin bebas, tidak ingin dimiliki oleh siapapun. Sementara itu, Paul Varjak (George Peppard) berusaha membuktikan kasih sayangnya yang tulus kepada Holly.

Cerita di film dan di bukunya sedikit berbeda, terutama di bagian ending. Mungkin di film dibikin beda ending-nya biar menuruti selera pasar. Bukankah penonton lebih suka cerita yang berakhir bahagia?

Trivia: Konon Truman Capote sempat ngambek karena dia ingin Marilyn Monroe yang membintangi film ini, tapi peran Holly malah dikasih ke Audrey Hepburn.



Rating: 3 dari 5 - liked it

6. Planet of the Apes (2001)

Rating di IMDb cuma dapat 5.7 yang membuat saya tadinya jadi ogah-ogahan buat nonton. Namun, begitu saya paksakan kok lama-lama menikmati. Berkisah tentang Leo Davidson (Mark Wahlberg), seorang pilot astronot Air Force, yang terdampar di planet antah-berantah di mana kera menjadi superior dan mendominasi manusia.

Di planet tersebut para kera sangat membenci manusia. Mereka menjadikan manusia sebagai budak belian. Tapi, tetap saja ada anomali. Ari (Helena Bonham Carter) tidak seperti kera lainnya. Dia membela manusia. Dengan bantuan Ari, Leo berusaha untuk kembali ke tempatnya. Sayangnya, ini ending-nya bikin kesal geregetan. Haha.

Film ini seharusnya dapat membuat siapa saja yang menontonnya jadi wawas diri. Manusia yang acap kali merasa sombong, membuat kerusakan dan kehancuran, mbok ya sekarang dikurang-kurangi sombongnya. Besok-besok kalau kera atau kucing berevolusi dan punya otak jauh lebih berkembang ketimbang manusia, gantian deh manusia yang dijajah hewan lain. ๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ




Rating: 4 dari 5 - really liked it

7. Rise of the Planet of the Apes (2011)

Film reboot dari Planet of the Apes. Ceritanya mengambil premis dari novel yang berjudul sama, Planet of the Apes, karangan Pierre Boulle. Tapi, ceritanya sama sekali berbeda. Will Rodman (James Franco) menemukan virus yang membuat kera menjadi cerdas. Tadinya virus tersebut diciptakan dengan harapan dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer.

Ibunya Caesar (Andy Serkis) tadinya yang mendapatkan suntikan virus tersebut dan menurunkannya ke Caesar. Maka tumbuhlah Caesar menjadi simpanse yang luar biasa cerdasnya dan pada akhirnya memimpin pemberontakan para kera.




Rating: 4 dari 5 - really liked it

8. Dawn of the Planet of the Apes (2014)

Film ini keren banget. Plot ceritanya mengalir dengan smooth banget. Kita tidak cuma dikasih story line yang oke, tapi juga dikasih efek visual yang wow. Coba deh bagaimana tidak wow melihat ratusan (atau ribuan) kera mengangkat senjata dan menyerang manusia. I mean like, they really looked like apes.

Di film ini saya jadi benar-benar bisa memvisualisasikan trik dan intrik dalam politik simpanse. Saya pernah menuliskan dongeng (dari jurnal tentu saja) konflik Nikkie, Yeroen, dan Luit di sebuah koloni simpanse. Selama saya nonton filmnya saya tidak bisa berhenti memikirkan dongeng tersebut. Kenapa mereka tidak puas dengan alpha male di koloni tersebut, bagaimana cara mereka merebut kekuasaan, dan bagaimana mereka rekonsiliasi setelah terjadinya konflik. Persis banget!

Perbedaan karakter Caesar (Andy Serkis) dan Koba (Toby Kebbell) menarik untuk dieksplor lebih dalam. Caesar dibesarkan dengan penuh cinta kasih oleh manusia, sementara Koba hampir sebagian besar hidupnya dikurung dan dijadikan hewan percobaan. Tak heran keduanya memiliki perbedaan cara pandang menghadapi manusia.

Di tengah-tengah film saya dibuat mewek terharu di adegan Caesar kembali pulang ke rumah masa kecilnya. Dia yang dalam keadaan sekarat memilih minta diantarkan ke teman manusianya ke tempat yang dia tahu memberikan rasa aman. Di sini saya sudah mulai berkaca-kaca. Lalu, semakin banjir air mata yang keluar ketika ada adegan Alexander (Kodi Smit-McPhee) melihat foto Caesar berdua dengan Will Rodman (James Franco) dan adegan di mana Caesar menonton video ketika dia masih kecil diajari bahasa isyarat oleh Will. Sialan banget deh ini film mempermainkan emosi saya.




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

9. War for the Planet of the Apes (2017)

Waaah waaah... Mengecewakan filmnya. Setelah nonton Dawn of the Planet of the Apes saya kira film ini bakal sama kerennya. Ekspektasi saya terlalu tinggi, makanya saya kecewa.

Berlatar waktu lima tahun setelah pemberontakan Koba, Caesar harus hidup dalam perburuan tentara AS. Keluarganya dibunuh dan kera yang tersisa ditangkap dan dijadikan pekerja oleh Kolonel (Woody Harrelson). Caesar bertekad memburu Kolonel untuk menuntaskan dendamnya.

Yang menarik, virus 113 yang memusnahkan hampir seluruh manusia ternyata bermutasi. Mereka yang selamat dan memiliki antibodi terhadap virus 113 yang lama mulai harap-harap cemas tertular virus yang telah bermutasi tersebut. Virus tersebut menyebabkan manusia menjadi bisu dan perilakunya lama-kelamaan akan menjadikannya manusia primitif.

Kolonel yang tidak ingin manusia punah karena virus tersebut memutuskan untuk membunuh siapa saja yang telah terkena virus. Keputusannya ini membuatnya dianggap membangkang dari militer dan akan mendapat hukuman dari militer lain yang akan menyerang Kolonel.

Ceritanya di sini kayaknya banyak banget bolongnya. Tidak selancar dan seasyik di Dawn of the Planet of the Apes. Dia juga gagal memainkan emosi penonton (baca: saya). Waktu Caesar meninggal pun saya nggak ada sedih-sedihnya. Padahal Caesar kurang heroik apa coba. Kurang baik dan kurang bijaksana apa coba. Tapi, ya tetap tidak mampu menyentuh hati saya. Tsah.

Karakter Caesar mengalami perkembangan cukup pesat. Kemampuan berbicaranya sudah sangat lancar seperti manusia dan tubuhnya tidak lagi seperti simpanse biasa, tapi sudah mirip manusia purba. Dan yang ingin saya protes di sini kenapa penulis cerita memaksakan Caesar untuk menjadi pahlawan ala film laga Hollywood banget?




Rating: 2 dari 5 - it was okay

10. Deadpool 2 (2018)

Tadinya saya tidak antusias dengan film Deadpool 2. Tidak ada niat untuk nonton malah. Berhubung sekarang saya sedang rajin main Strike Force di ponsel saya dan di game tersebut Deadpool digambarkan sangat jagoan, saya jadi penasaran. Maka saya pun akhirnya nonton juga dan... surprise, surprise... Turned out I really loved the movie! It was very hilarious. In Deadpool movie I didn't get the jokes, probably that's why I didn't like him. Dulu saya mikirnya ini si Ryan Reynolds berusaha sekuat tenaga untuk lucu, tapi gagal. Tapi, di Deadpool 2, sumpah saya ngakak melulu. Definitely my favorite!




Rating: 5 dari 5 - it was amazing

11. John Wick (2014)

Saya mikir kenapa sih Abang Keanu harus banget model rambutnya kayak begini? Benar-benar ganggu tahu gak sih, Bang. Filmnya juga ganggu. Apa-apaan sih hanya karena mobilnya dicuri dan anjingnya dibunuh John Wick (Keanu Reeves) sampai harus memburu satu gangster. Motifnya absurd banget. Adegan berantemnya juga sedikit. Kebanyakan tembak-tembakan. Abang Keanu juga terlihat kaku di adegan berantem. Faktor umur barangkali ya. Dua bintang karena mengobati rasa rindu ke Abang Keanu. I still love you, Bang. ๐Ÿ˜˜




Rating: 2 dari 5 - it was okay

12. John Wick: Chapter 2 (2017)

Kali ini ceritanya agak masuk akal. John Wick harus kembali dari masa pensiunnya karena ditagih utang jasanya oleh Santino D'Antonio (Riccardo Scamarcio). Santino meminta John untuk membunuh Gianna D'Antonio (Claudia Gerini) yang tak lain adalah adik kandung Santino sendiri. Demi membayar utangnya tersebut mau tak mau John harus melakukan apa yang diminta Santino. Setelah misi berhasil dilaksanakan ternyata Santino malah memburu John.

Berhubung ceritanya lebih bisa diterima ketimbang film John Wick yang pertama, ratingnya naik 1 angka. Adegan berantemnya biasa saja, kurang seru malah. Masih sedikit dan masih kaku. Lebih banyak adegan tembak-tembakan. Jadi penasaran bagaimana jadinya John Wick: Chapter 3 nanti yang katanya ada Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman. Mudah-mudahan adegan berantemnya lebih banyak. Karena sayang banget kalau mereka berdua disia-siakan dan cuma dikasih sedikit adegan berantem.




Rating: 3 dari 5 - liked it

13. The Terminator (1984)

Booooooring! Yah mungkin karena film lama ya jadi efek teknologinya cupu banget dan bikin ganggu. Mau bagaimana lagi kan saya generasi Y yang sudah terbiasa dimanjakan dengan film-film dengan efek yang keren. Apa sih istilahnya? CGI ya? Ya itulah pokoknya.




Rating: 1 dari 5 - didn't like it

Oke. Semoga bisa jadi rekomendasi buat teman-teman semua. ๐Ÿ˜

Sunday, May 20, 2018

Face Oils Apa yang Pas untuk Kulitmu?

May 20, 2018 6 Comments
Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan memasukkan face oils ke dalam skincare routine saya. Awalnya saya berpikir buat apa lagi sih pakai face oils? Rangkaian skincare routine sudah segini panjang kok mau dibikin panjang lagi dengan pakai face oils. Lagian apa sih manfaatnya pakai face oils itu?

Setelah banyak baca sana-sini dan nonton berbagai video di YouTube, saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa saya juga ingin pakai face oils. Manfaat face oils bukan hanya untuk melembapkan wajah, tetapi bisa juga untuk mengurangi kerutan, bahkan untuk mencegah kerut datang (mungkin lebih tepatnya memperlambat datangnya kerutan kali ya). Juga bisa bikin tekstur kulit jadi lebih smooth dan cerah. Bisa memperkuat lipid barrier kita juga. Dan masih banyak manfaat lainnya. Makanya saya jadi mupeng.

Tetapi, setelah kalian pakai face oils bukan berarti kalian berhenti pakai pelembap wajah ya.

Penggemar: Tapi, Kim, bukannya nanti kalau sudah pakai face oils terus pakai pelembap lagi wajah jadi lengket banget ya? Jadi tebal banget begitu nggak sih rasanya karena sudah kebanyakan nemplokin produk ke wajah?

Well, menurut paham Paula Begoun -- pemilik Paula's Choice -- tidak ada namanya one single brilliant ingredient or product yang bisa menyelesaikan semua masalah kulit kamu. Face oils memang banyak mengandung antioksidan dan bisa sebagai emollient (ingat oklusif kan di sini?), tapi face oils bukan sumber yang cukup untuk bahan skin-restoring (kayak niacinamide dan retinol) atau hydration-boosting ingredient (kayak hyaluronic acid). Lebih lengkapnya dari website Paula's Choice:

Facial oils are helpful for keeping skin's vital hydration locked in and they have incredible, instantaneous skin-smoothing properties. But as wonderful as facial oils are, they don't replace many other essential ingredients for skin. Think of a plant oil or a blend of plant oils as a booster to supplement your skincare routine. 
Plant oils are a rich source of antioxidants and replenishing emollients but they're not good sources of skin-restoring ingredients (such as niacinamide, retinol, or peptides) or hydration-boosting ingredients (such as ceramides and hyaluronic acid). Nor do they give dry skin the rich mix of emollients it needs for lasting improvement. That's why we don't recommend replacing your moisturizer with a face oil. 
Your skin is a complex organ that can never have all of its needs satisfied by a single product or single brilliant ingredient. Think of facial oils as supporting players rather than the leading role in a complete skincare routine.

Jadi, anggap face oils itu sebagai suplemen tambahan perawatan wajah kamu. Mau pakai ya syukur karena berarti bisa mendapat tambahan manfaat. Tidak pakai ya tidak apa-apa juga, yang penting jangan pernah skip pelembap andalan kalian.

Buat kulit berminyak atau kulit kombinasi biasanya masih takut untuk pakai face oils kan. Kulit saya sekarang ini kombinasi (berminyak di bagian T dan kering di pipi) dan sensitif juga (karena gampang banget kulit saya ini merah-merah), tapi saya memberanikan diri pakai face oils setelah tahu face oils cocok untuk semua jenis kulit wajah. Menambahkan face oils ke wajah tidak akan membuat kulit semakin berminyak kok. Dengan catatan, pilih face oils yang memang sesuai untuk jenis kulit kamu.

Sekarang kita ke pertanyaan sesuai dengan judul tulisan ini: Face oils apa sih yang pas untuk kulit kita? Tenang. Jangan bingung. Karena itulah tujuan tulisan ini dibuat, yaitu untuk membantu kalian memilih face oils.

Panduan saya dalam memilih face oils kemarin dari videonya Renรฉe di kanal YouTube-nya. Ini videonya:




Kalau kalian malas nonton videonya, sudah saya rangkum kok ke dalam satu gambar. Hihi.


klik gambar untuk memperbesar


Tuh, kurang baik apa coba saya ini? ๐Ÿ™Š

Penggemar: Terus, sekarang kamu pakai face oils apa, Kim?

Setelah browsing sana-sini dan setelah melalui pertimbangan matang (halah!) sebagai percobaan perdana pakai face oils, saya memutuskan untuk mencoba Sukin Rose Hip Oil karena harganya ramah banget di kantong.


Setelah tiga bulan pakai saya suka sama hasilnya! Nanti ya kapan-kapan saya tulis review-nya.

Sekarang saya jadi tidak sabar supaya face oil saya ini segera habis karena saya ingin mencoba face oils yang lain. Saya sedang mengincar Goodness Chia Seed Oil. Review-nya banyak yang bilang bagus dan harganya cocok banget di kantong #sobatkismin kayak saya. Huhuhu. Jadi pengen kan... Dan memang dasar saya ini orangnya mudah tergoda. Huft.

Oh iya, cara pakai face oils ini ada yang bilang sebelum pelembap dan setelah pelembap. Renรฉe dan Affi Assegaf (pasti kalian tahu Affi dong?) sendiri menyarankan pakai face oils setelah cleansing, toner, dan essence/serum (misalnya kalian pakai essence/serum) dan sebelum pelembap. Berhubung saya percaya dengan mereka jadi saya mah ngikut saja apa kata mereka.

Kalau kata Renรฉe, pelembap dipakai setelah face oils agar pelembap mengunci semua kandungan dari face oils. Maksudnya, biar tidak menguap ke mana-mana lagi itu kandungan face oils (masih ingat soal oklusif kan?). Cara pakainya juga cukup 2 - 3 tetes, digosok-gosok di tangan terlebih dahulu biar rata di tangan, lalu deh ditepuk-tepuk di wajah. Tepuk-tepuk terus sampai face oils benar-benar terasa meresap di wajah.

Oke, baiklah. Segitu dulu sharing soal face oils kali ini. Kalau teman-teman ada rekomendasi face oils yang oke atau ingin berbagi cerita pengalaman selama pakai face oils, boleh lho sharing di kolom komentar. Terima kasih. ๐Ÿ™

Thursday, May 17, 2018

10 Beauty Myths Debunk with Liah Yoo

May 17, 2018 0 Comments
Setelah sebelumnya saya penganut DIY skincare aliran Mbak Lintang Rinastiti, lalu beralih ke 10-steps (nggak benar-benar 10-steps sih) Korean skincare. Namun, sekarang ini saya sedang rajin mengikuti Mbak Liah Yoo. Dan semakin saya rajin mengikuti beliau, semakin saya berani bilang bahwasanya saya pengikut aliran Liah Yoo.

Kali ini saya ingin berbagi video YouTube dari Liah Yoo yang membahas beauty myths yang sering kali kita dengar. Saya merasa berkewajiban untuk berbagi info penting seperti ini biar kita sama-sama pintar.

Baiklah, mari kita langsung saja membahas apa saja beauty myths-nya.




1. Produk apapun yang kita pakai di kulit akan terserap dalam darah

Mbak Liah bilang ini mitos. Pasalnya kulit kita ini resilien banget. Seperti yang sudah kita ketahui kulit kita terdiri dari tiga lapisan epidermis, dermis, dan hypodermis. Lengkapnya sila lihat gambar di bawah ini.


gambar dari sini


Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit. Di bawah epidermis ada dermis tempat diproduksinya kolagen, hyaluronic acid, dan lain-lain. Hypodermis, lapisan paling bawah dan paling tebal, tempat menyimpan fat cells.

Nah, pada kenyataannya produk skincare susah buat tembus ke dalam untuk masuk ke lapisan dermis. Untuk bisa melewati lapisan epidermis saja susah banget. Di kulit terluar kita ini ada yang namanya skin barrier. Tugasnya buat melindungi apa yang sudah ada di dalam kulit dan menjaga kelembapan juga. Efeknya adalah skin barrier bekerja menolak substansi apapun yang mencoba masuk ke lapisan dermis. Karena itulah perusahaan skincare dalam memproduksi semua produknya selalu memikirkan cara bagaimana nih supaya produk mereka bisa masuk melewati skin barrier dan tembus ke lapisan dermis.

Kesimpulannya, kalau buat masuk ke lapisan dermis saja susah, bagaimana ceritanya bisa masuk sampai ke aliran darah?

2. Produk-produk "noncomedogenic, hypoallergenic, dermatologists tested/recommended" itu lebih baik

Masalahnya untuk bisa ngeklaim produk lebih baik itu harus melalui penelitian yang sahih. Maksudnya, sampel penelitiannya berapa orang, kondisi kulit para sampel, dan lain-lain. Mbak Liah memberi contoh penelitian yang terdiri dari 10 partisipan dengan kondisi kulit wajah yang tidak bermasalah atau tidak memiliki alergi, ya nggak bisa dong untuk kemudian dibilang produk tersebut lebih baik dari produk lain. Karena penelitian tersebut tidak menggambarkan situasi sebenarnya.

Mbak Liah menyarankan cara terbaik untuk mengetahui suatu produk baik atau tidak dengan kita mencobanya sendiri. Kita perhatikan formulasi produknya secara keseluruhan (seperti bahannya apa saja, komposisinya bagaimana, dan lain-lain), dibandingkan hanya fokus pada satu bahan dari produk tersebut.

3. Produk pelembap yang masuk ke dalam kategori oklusif membuat kulit tidak bisa bernapas


Penggemar: Oklusif itu apa, Kim?

Sebelum menjawab pertanyaan itu terlebih dahulu kita harus tahu perbedaan hydrating dan moisturizing. Dua-duanya memang bertujuan sama, yaitu melembapkan kulit. Bedanya di cara kerja mereka. Kalau hydrator kerjanya dengan "menarik" air dari luar untuk menjaga kelembapan wajah, sementara moisturizer itu bertugas "mengunci" kelembapan wajah tersebut biar tidak hilang. Istilahnya, sudah capek-capek menarik air dari luar, ya masa' nanti air menguap hilang begitu saja karena tidak ada yang menahannya. Akibatnya, kulit menjadi kering, thus jadi lebih cepat menua.

Penggemar: Lho, kenapa air di kulit bisa menguap begitu, Kim?

Di kulit kita ada yang namanya lipid barrier yang tugasnya melindungi kulit kita dari kerusakan dan kehilangan air atau bahasa kerennya TEWL alias transepidermal water loss. Nah, kalau lipid barrier ini rusak berarti kulit kita tidak mampu bekerja dengan baik menjaga kulit kita dari kehilangan air tersebut. Di sinilah gunanya moisturizer.

Dikutip dari sini:

Our skin has a natural lipid barrier that protects itself from damage and water loss. If you’re prone to having dry, flaky skin, that’s a tell-tale sign that your skin isn’t producing enough lipid cells to form a protective barrier, making it unable to lock in moisture. And that’s where moisturizers come in. They help trap the natural oils and lipids on the surface of your skin, prevent water from evaporating, and maintain a healthy moisture balance. Hydration, on the other hand, refers to the amount of water in the skin, and hydrators are specially formulated with ingredients called humectants for this purpose: to increase water content by catching moisture from the air and delivering it down to the skin’s layers.

Bahan-bahan hydrator berbeda dengan bahan-bahan moisturizer. Untuk hydrator biasanya disebut dengan humectant. Dan yang termasuk humectant ini seperti glycerin, madu, dan hyaluronic acid. Sementara bahan moisturizer biasanya disebut dengan oklusif dan yang termasuk oklusif ini, seperti petroleum jelly, mineral oil, shea butter, cocoa butter, oils, dan beeswax.

Kembali ke pernyataan oklusif dapat membuat kulit tidak bernapas, itu sangat tidak benar. Memangnya kita pakai plastik di kulit sampai bikin kita ngap-ngapan susah napas. Jadi, tenang saja. Pakai occlusives tebal-tebal tidak apa-apa kok. Tidak akan bikin kalian tewas karena tidak bisa bernapas.

4. Kalau kandungan bahannya sama, cari produk yang lebih murah

Ehehe. Ini saya banget. Ehehe.

Kalian pasti tahu dong harga FTE SK II yang kandungan utamanya fermentasi Galactomyces itu harganya mahal banget. Sementara, produk COSRX yang namanya Galactomyces 95 Whitening Power Essence itu harganya amit-amit murah banget kalau dibandingkan dengan FTE SK II. Nggak percaya? Monggo dicek sendiri harganya. Hihi.

Hanya saja kita sering melupakan ada proses yang dilakukan untuk menghasilkan produk tersebut. Kita tidak tahu bagaimana formulasinya, bagaimana cara mereka diproduksi, dan teknologinya bagaimana. So, kalau harga FTE SK II bisa selangit ya wajar. Barangkali memang cara pembuatannya sophisticated banget. Teknologi yang dipakai memang canggih. Kalau orang bilang, ada harga ada rupa.

Tapi bukan berarti setelah tahu begini langsung memaksakan diri untuk beli produk yang mahal ya. Karena ya realistis saja. Sesuaikan beli skincare dengan kemampuan isi dompet kalian. Dahulukan kebutuhan utama. Buat apa beli skincare mahal, tapi sesudahnya harus makan indomie selama sebulan? Karena biar bagaimanapun makan jauh lebih penting ketimbang skincare. Ya kecuali skincare-nya bisa dimakan sih. Haha.

5. Apple cidar vinegar (ACV) alias cuka apel bagus dijadikan toner untuk kulit berjerawat

Saya belum pernah pakai cuka apel sebagai toner. Nggak berani. Tapi, Mbak Liah pernah pakai untuk mengobati jerawatnya dan katanya sih berhasil. Hal penting yang perlu dicatat jangan pernah langsung mengaplikasikan cuka apel ke wajah kalau tidak mau iritasi. Dilarutkan dulu cuka apelnya ke dalam air dan jangan keseringan juga pakainya. Seminggu 1-2x dipakai sepertinya sudah cukup.

6. Cuci muka keseringan itu bagus biar bersih banget

Yang namanya segala berlebihan itu tidak baik. Dua kali sehari cuci muka itu sudah cukup. Mbak Liah malah bilang cleanser is inevitably the most damaging skincare product and that's because it contains surfactant. Keseringan cuci muka malah bisa membuat natural hydration dan natural moisture yang ada di wajah jadi ikut kegerus. Lama-lama skin barrier jadi rusak. Kalau sudah rusak, banyak masalah jadi muncul.

7. Kulit gelap tidak perlu sunscreen

Tet tot salah besar! Mau kulit terang, kulit gelap, kulit pelangi, apapun warna kulitmu tetap wajib pakai sunscreen. Kapanpun dan di mana pun. Tidak ada pengecualian. Kecuali situ mau cepat tua, atau penuh bintik hitam di wajah, ya terserah.

Jangan lupa pilih sunscreen yang broad spectrum. Yang bisa buat UVA dan UVB itu lho. Nggak perlu SPF tinggi-tinggi. Maksimal SPF 30 itu sudah oke. Yang penting ada PA+++ nya. Dan harus rajin reapply setiap 2 jam kalau kita sering berada di luar. Kalau saya di kantor reapply sunscreen tiap habis sholat Zuhur saja sih.


this is why you need sunscreen
gambar dari sini


8. Semakin cepat pakai skincare antiaging, semakin baik

Saya agak berbeda dengan Mbak Liah. Saya pernah menulis soal ini sebelumnya. Sementara dia bilang sebaiknya mulai usia 20an akhir atau 30an awal baru mencari produk skincare antiaging. Kalau saya sih, mungkin usia 20an awal sudah bisa concern untuk ke urusan antiaging ini.

Yang jelas dia bilang ada dua hal terkait antiaging ini, yaitu usaha untuk mencegahnya dan usaha untuk memperbaiki/mengurangi efek dari antiaging. Usaha untuk mencegah itu, seperti rajin pakai sunscreen dan pelembap. Rajin exfoliate juga. Karena semakin kering kulit kita maka semakin rentan untuk mengalami penuaan. Wajah juga jangan digosok-gosok terlalu kencang, tapi perlu dipijat lembut. Sementara usaha untuk memperbaiki itu barangkali seperti pakai botox atau operasi plastik kali ya.

Nah, kalau masih remaja (masih kata Mbak Liah) nggak perlu dulu deh pakai skincare antiaging. Nggak perlu exfoliate sendiri pakai AHA dan BHA karena kulit remaja masih bisa beregenerasi sendiri dengan lancar tanpa perlu dibantu. Nggak perlu pakai produk mengandung vitamin C dan retinol atau retinoids. Tapi, yang penting tetap cleansing - toning (ini opsional) - moisturizing - protection.

9. Apa bedanya purging dan breakout?

Purging itu pada intinya mendetoksifikasi kulit wajah. Biasanya ini terjadi kalau kita baru memakai produk retinoid, retinol. vitamin C, AHA, dan BHA. Karena kan bahan-bahan tersebut tugasnya membantu mempercepat proses ganti sel kulit. Seandainya kalian memakai produk skincare yang tidak ada bahan-bahan tersebut lalu muncul banyak jerawat dan berkepanjangan, bisa jadi kalian mengalami breakout. Tapi, bisa juga jerawat terjadi karena pengaruh hormonal dan makanan.

10. Kalau sudah terlalu lama pakai satu produk yang sama, produknya jadi tidak efektif lagi

Saya pernah baca di mana gitu deh yang bilang satu produk skincare itu bisa berkurang efektifnya kalau sudah rutin dipakai selama 1 atau 1,5 tahun. Kalau sudah begitu, saatnya ganti produk lain. Saya nggak percaya klaim tersebut. Karena menurut saya ya nggak masuk akal saja.

Mbak Liah bilang ini benar-benar mitos. Kulit kita tidak akan immune terhadap produk yang kita pakai. Hanya saja bisa jadi mitos ini muncul karena setelah kita pakai produk semacam retinol, vitamin C, AHA, dan BHA yang tugasnya untuk meregenerasi kulit. Kulit kita yang tadinya kusam, lalu setelah pakai produk tersebut jadi cerah. Ini kan perbedaan yang terlihat banget. Lalu, setelah rutin pakai kita tidak lagi melihat perbedaan sesignifikan tadi (dari kusam ke cerah). Kenapa? Ya karena kulit kita kan sudah cerah. Lantas, kita bilang deh produknya tidak efektif. Padahal ya nggak gitu juga, tapi percayalah produknya tetap bekerja dengan baik kok.

Fyuuuh... Akhirnya selesai juga bahas 10 mitosnya. Semoga bermanfaat ya buat teman-teman semuanya. Kalau teman-teman ada yang ingin menambahkan, kolom komentar terbuka lebar untuk kalian.