Tuesday, October 1, 2019

Film di September 2019

Halo, teman-teman semuanya! Saatnya saya merekap film yang saya tonton selama satu bulan terakhir. Di bulan September 2019 kemarin saya nonton tujuh belas film lho! Lumayan banyak kan ya? Alhamdulillah masih dikasih waktu lowong yang banyak sehingga saya bisa memanfaatkannya dengan nonton film. Haha.

Yuk langsung saja kita lihat film apa saja yang saya tonton kemarin:

Share:

Saturday, September 28, 2019

Random #36

Random 1.


Tanggal 15 - 20 September 2019 kemarin saya dan teman-teman seruangan (beserta bos dan atasan langsung, tentu saja) di kantor jalan-jalan ke Jogja dan Solo. Tadinya saya ingin membuat satu tulisan khusus tentang jalan-jalan ini. Berhubung saya sudah terlampau lelah dan perjalanannya juga tidak terlalu menyenangkan jadinya saya tulis singkat sajalah.

Bayangkan bagaimana tidak lelah coba kalau waktu kami habis di jalan. Kami melakukan perjalanan darat dari Bandar Lampung sampai ke Jogja. Kembali pun lewat darat lagi. Mending kalau perjalanannya enak ya, tapi ini kebanyakan muter-muter nggak jelas dan banyak mampirnya. Mampir untuk belanja, maksudnya. Saya sih nggak ikutan belanja ya. Dan menunggu orang belanja ketika badan sudah capek itu rasanya... Ya ampun. Saya bisa berubah jadi Hulk deh kayaknya.

Meski tidak terlalu menyenangkan, di perjalanan ini ada obat yang cukup menghibur, yaitu Keraton Yogyakarta, Candi Borobudur, Pantai Parangtritis, dan rafting di Kali Elo. 14 atau 15 tahun yang lalu saya sudah pernah ke Candi Borobudur. Sementara ketiga tempat lainnya, saya belum pernah ke sana.

Ini foto-fotonya:

Share:

Wednesday, September 11, 2019

Review Gramedia Digital Premium

Ada banyak alasan kenapa saya mencintai buku. Pertama, buku bisa membuka cakrawala saya. Banyak pengetahuan yang bisa saya dapat dari buku. Ia membantu saya untuk tidak menjadi kuper juga. Ketika lagi ngobrol dengan teman-teman, saya jadi tahu apa yang mereka obrolkan.

Kedua, buku membawa saya bertemu dengan banyak orang hebat, baik yang sudah meninggal atau yang masih hidup. Lewat buku saya bisa bertemu dengan Umberto Eco, misalnya. Atau, saya bisa mengobrol dengan Ziggy Z., salah satu penulis favorit saya, sambil menikmati segelas teh artichoke di sore hari. Buku juga membawa saya jalan ke sana ke mari. Bersama dengan buku, saya bisa ke masa sebelum peradaban atau ke masa depan lima puluh tahun dari sekarang.

Ketiga, buku menghibur saya. Ia merupakan tempat pelarian ketika saya sedang sedih. Tidak berlebihan jika saya sebut buku adalah teman saya. Keempat, buku membuat saya lebih baik. Buku membantu saya berkembang sebagai manusia.

Sebenarnya masih banyak alasan lainnya, tetapi empat alasan itu sudah cukup menunjukkan kecintaan saya terhadap buku. Keempat alasan itulah yang membuat saya berusaha menyempatkan diri untuk membuka buku setiap harinya, meskipun itu hanya sepuluh halaman.

Sekarang ketika harga buku semakin mahal dan saya bukan termasuk golongan kaya raya yang bisa dengan bebas membelanjakan uangnya, maka harus dicari jalan keluar agar saya bisa tetap menjalankan hobi saya itu. Cara terbaik adalah dengan meminjam buku di perpustakaan. Berhubung perpustakaan di kota saya sangat tidak menggoda, saya mencari perpustakaan lain yang ada di internet.

Jika kalian membayangkan iPusnas dan iJak, itu bisa juga menjadi pilihan. Kalau ingin perpustakaan daring berbayar, mungkin bisa menyebut Kindle Unlimited, Bookmate Premium, Scribd, dan Gramedia Digital Premium. Saya tidak akan membahas semuanya karena saya belum mencoba semuanya. Saya hanya akan membahas layanan yang sudah saya coba, yaitu Gramedia Digital Premium.

Share:

Sunday, September 8, 2019

Film di Agustus 2019

Tidak usah berbelit-belit ya. Mari kita langsung saja membahas film yang saya tonton di bulan Agustus kemarin.

1. John Wick: Chapter 3 - Parabellum (2019)

Di antara semua John Wick saya paling suka yang ini. Menurut saya, filmnya yang ini lebih ada "cerita"-nya. Saya jadi lebih nyambung dan lebih menikmati ketimbang film yang sebelumnya. Meski, yah, adegan naik kuda itu tetap lebay sih kalau kata saya. Ha, ha.




Rating: 4 dari 5 -  really liked it

Share:

Thursday, August 22, 2019

Hal-Hal yang Dilakukan Ketika Patah Hati

Patah hati itu menyakitkan. Kalau ada yang bilang menyenangkan, well, terserah ya. Itu mungkin buat dia, tapi buat saya tidak.

Namun, seiring berjalannya waktu patah hati yang saya rasakan di umur yang semakin menua ini terasa lebih santai jika dibandingkan sewaktu saya masih remaja dulu. Waktu masih awal-awal mengeksplorasi perasaan, jatuh cinta dengan lawan jenis, lalu disakiti, duh rasanya dunia mau kiamat. Menangis berhari-hari, langit seperti mau runtuh, tidak nafsu makan, dan malas mau ngapa-ngapain.


gambar dari sini


Sekarang kalau saya patah hati, saya tahu apa yang terjadi dan apa yang harus saya lakukan. Sehingga tidak perlu berlarut-larut. Proses kognitif saya bisa lebih cepat mencerna semuanya. Kalau becandaan dengan teman, saya bilangnya, "Sudah terlatih." Ha, ha, ha!

Dibilang sudah mati rasa sepertinya tidak juga. Buktinya saya masih bisa jatuh cinta dan bisa merasakan sakit hati. Inginnya sih begitu, bisa numb, sayangnya saya belum bisa.

Kali ini berhubung saya sedang iseng dan sedang semangat menulis, saya ingin berbagi cerita saja tentang hal-hal yang biasa saya lakukan ketika saya patah hati.

Share: