Monday, November 23, 2020

Teori-Teori Gender Bagian Ketiga

Chapter 2: Theoretical Perspectives on Gender

Di tulisan sebelumnya kita sudah membahas teori Skema Gender dan Sosiobiologi juga Psikologi Evolusi. Di tulisan ini kita akan membahas teori Peran Sosial (Social Role Theory) dan teori-teori dari Feminisme.

Baiklah. Kita langsung saja ya membahas satu per satu.

1. Social Role Theory

Psikolog Sosial Alice Eagly dan Wendy Wood (1999) mengkritik teori strategi seksual dari David Buss. Mereka mengajukan sebuah alternatif teori yang mereka sebut dengan Social Role Theory atau saya terjemahkan dengan teori Peran Sosial. Teori ini menekankan pada variabilitas pada pola-pola yang ada di berbagai budaya terkait dengan perbedaan gender. Menurut teori ini, pembagian kerja berdasarkan gender, atau peran gender, mendorong perbedaan lain dalam perilaku. Teori ini mengakui perbedaan biologis antara pria dan wanita, seperti perbedaan ukuran dan kekuatan tubuh, juga kapasitas tubuh wanita untuk hamil dan menyusui. Akan tetapi, mereka menekankan bahwa perbedaan ini semakin diperkuat oleh keyakinan budaya. Tubuh pria yang lebih besar dan lebih kuat membuat mereka melakukan aktivitas yang bersifat agresif, misalnya perang, yang pada akhirnya memberikan mereka status, kekayaan, dan wanita. Dengan demikian, membuat status wanita semakin menjadi subordinate.

Social role theory: A theory of the origin of psychological gender differences that focuses on the social structure, particularly the division of labor between men and women; also called social structural theory.

Seperti yang sudah ditulis di atas, perbedaan biologis antara pria dan wanita itu diperkuat oleh budaya setempat. Eagly dan Wood (1999) menganalisa ulang data 37 budaya dari Buss. Hasilnya adalah terdapat korelasi yang tinggi antara ketidaksetaraan gender dengan perbedaan wanita dan pria dalam memilih pasangan. Dengan kata lain, di negara-negara yang kesempatan antara pria dan wanita setara, maka pria dan wanitanya similar. Hal ini menunjukkan jika preferensi dalam memilih pasangan ditentukan dari hasil evolusi ratusan ribu tahun yang lalu, seharusnya tidak ada perbedaan dalam semua budaya. Hasil analisa ini mendukung teori Peran Sosial yang diajukan oleh Eagly dan Wood.
Share:

Sunday, November 22, 2020

[Review] Miss Peregrine's Home for Peculiar Children

Judul: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children
Sutradara: Tim Burton
Penulis: Ransom Riggs (novel), Jane Goldman (screenplay)
Pemain: Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson
Tanggal rilis: 29 September 2016 (UK)
Durasi: 127 menit
Rating: 5 dari 5⭐ - it was amazing

Jake Portman (Asa Butterfield) adalah seorang remaja yang biasa saja. Dia tidak populer dan tidak punya banyak teman. Suatu hari, kakeknya -- Abe Portman (Terence Stamp) -- ditemukan tewas dengan matanya hilang.

Jake sangat terpukul dengan kematian kakeknya karena hubungan mereka yang dekat. Sewaktu kecil, kakeknya selalu menceritakan kisah hidupnya dengan anak-anak peculiar di rumah panti asuhan yang dirawat oleh Miss Alma Peregrine (Eva Green). Karena sering merasa melihat monster, atau sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain, Jake merasa dirinya gila. Dia pun konseling ke Dr. Golan (Allison Janney).

Dr. Golan bilang adalah hal wajar Jake berhalusinasi karena kehilangan kakek yang dicintainya adalah sebuah pengalaman traumatis. Ketika Jake datang ke Dr. Golan membawa petunjuk dari kakeknya, Dr. Golan mendorong Jake untuk ke Wales dan melihat rumah panti yang sering disebut-sebut oleh Abe. Di sinilah petualangan Jake dimulai.
Share:

Thursday, November 19, 2020

Teori-Teori Gender Bagian Kedua

Chapter 2: Theoretical Perspectives on Gender

Pada tulisan Teori-Teori Gender Bagian Pertama, kita membahas tiga teori, yaitu teori Psikoanalisa (Psychoanalytic Theory), teori Belajar Sosial (Social Learning Theory), dan teori Perkembangan Kognitif (Cognitive-Developmental Theory). Di bagian kedua ini kita akan membahas dua teori, yaitu teori Skema Gender (Gender Schema Theory) dan teori Sosiobiologi dan Psikologi Evolusi (Sociobiology and Evolutionary Psychology Theory).

Mari kita langsung saja membahas teorinya satu per satu.
Share:

Monday, November 16, 2020

[Review] Road to Perdition

Judul: Road to Perdition
Sutradara: Sam Mendes
Penulis: Max Allan Collins (novel grafis), Richard Piers Rayner (novel grafis), David Self (screenplay)
Pemain: Tom Hanks, Jude Law, Paul Newman
Tanggal rilis: 27 September 2002
Durasi: 117 menit
Rating: 5 dari 5⭐ - it was amazing

Setiap anak pasti -- well, atau seharusnya -- tahu pekerjaan orangtuanya, tapi tidak dengan Michael Sullivan, Jr. (Tyler Hoechlin) dan Peter Sullivan (Liam Aiken). Mereka tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan dari ayah mereka, Michael Sullivan (Tom Hanks). Karena penasaran, pada suatu malam Michael, Jr. menyelinap di mobil mereka dan mengikuti ke mana ayahnya bekerja.

Saat itu, Michael menemani Connor Rooney (Daniel Craig) untuk menemui anak buah dari John Rooney (Paul Newman), yang merupakan ayah dari Connor. Connor, yang sifatnya gegabah, manja, dan semaunya karena dia merasa dia adalah anak dari seorang bos mafia, membunuh anak buah John yang ternyata adalah orang kepercayaan John.

Kejadian tersebut disaksikan oleh Michael, Jr. Michael sudah menjamin bahwa Michael, Jr. tidak akan berbicara kepada siapapun, tetapi Connor tidak yakin. Dan, sekali lagi, dengan gegabah dan semaunya saja dia membunuh Annie Sullivan (Jennifer Jason Leigh) -- istri Michael -- dan Peter, yang dikira Connor adalah Michael, Jr. Michael, Jr. sendiri baru pulang dengan sepedanya ketika peristiwa itu terjadi. Dia melihat Connor keluar dari rumahnya.
Share:

Sunday, November 15, 2020

Series I Watched on Netflix #2

Sejak tulisan yang ini -- di mana saya membagikan daftar serial yang saya tonton -- saya masih berlangganan Netflix tentu saja. Serial yang saya tonton semakin bertambah. Saya punya begitu banyak waktu luang sehingga saya bisa banyak nonton serial dan film. Ha, ha.

Baiklah, mari kita langsung saja ke daftar serialnya.

1. The Umbrella Academy




Saya selalu suka film dan serial yang berbau superheroes. Manusia-manusia yang punya kekuatan super ini bikin saya mupeng. Iri. Yah, namanya juga makhluk mediocre. Ha, ha. 

Well, anyway, saya lupa saya tahu dari mana The Umbrella Academy. Kalau tidak salah, saya nonton trailer-nya di suatu tempat atau baca artikelnya, ya pokoknya langsung saja ke Netflix dan nonton serialnya. Seketika saya langsung suka, apalagi ada Ellen Page di sana. 

Ceritanya bermula dari 43 wanita di seluruh dunia yang melahirkan di tanggal 1 Oktober 1989. Tujuh orang di antara mereka diadopsi oleh seorang miliarder nyentrik Sir Reginald Hargreeves dan kemudian membentuk sekumpulan superheroes yang diberi nama The Umbrella Academy. Suatu hari Hargreeves meninggal dan mereka semua yang sudah berpencar terpaksa berkumpul lagi. Selain mencari tahu penyebab kematian ayah mereka, para anggota The Umbrella Academy harus berupaya mencegah kiamat yang akan datang.

2. 13 Reasons Why




13 Reasons Why terdiri dari empat musim dan saya sudah nonton habis semuanya. Musim pertama berkisah tentang Hannah Baker yang meninggal bunuh diri. Sebelum meninggal dia membuat kaset rekaman yang berisi tiga belas alasan kenapa dia melakukannya. Cerita musim kedua berkisar di persidangan antara orangtua Hannah yang melawan SMA tempat Hannah bersekolah. Orangtua Hannah menuntut SMA tersebut karena dianggap gagal melindungi Hannah dari perundungan. 

Musim ketiga tentang mencari siapa pelaku pembunuhan Bryce Walker. Sementara musim terakhir adalah tahun terakhir mereka di SMA dan Clay Jensen (Dylan Minnette) yang mulai terbebani dengan rahasia besar. Dan beragam masalah lainnya.

Kesan saya setelah nonton ini adalah keren, tapi serial ini tidak untuk semua orang karena isu-isu yang diangkat sangat sensitif, seperti bunuh diri, rasisme, sexual assault, kecanduan narkoba, kesehatan mental, termasuk self-harm, dan masih banyak lagi. Jujur, saya sendiri pun sempat ke-triggered ketika menonton. Saya sempat tidak kuat untuk menonton, tapi saya paksakan karena saya penasaran dengan ceritanya. Yah, memang sayanya juga barangkali ya yang cari penyakit. Namun, saya tertolong dengan para pemainnya yang ganteng-ganteng. Mwahaha. 

3. Breaking Bad




Serial lama (2008 - 2013) terdiri dari lima musim yang baru saya selesai tonton beberapa hari yang lalu. Inilah yang saya suka dari Netflix. Dia juga menayangkan serial-serial lama yang bagus. 

Awalnya saya penasaran dengan berbagai komentar orang-orang yang saya dengar. Mereka bilang ini serial bagus. Akhir ceritanya keren, tidak seperti ending Game of Thrones yang menyebalkan itu. Karena penasaran, maka saya tonton dan memang dong ceritanya keren.

Saya salut dengan perkembangan ceritanya bagaimana seorang bapak-bapak yang seorang guru Kimia SMA, bermoral baik, menjadi seorang kingpin dan pembuat meth sempurna. Yang tadinya dia tidak mau membunuh, menjadi seseorang yang mau membunuh siapa saja yang menghalangi dia. Alasannya selalu, "Every thing that I do is for my family." Atau, "It has to be done." Ternyata Walter White (Bryan Cranston) adalah orang yang manipulatif. Dia sangat cerdas, tapi pembohong dan manipulatif.

4. Inuyasha




Saya sebal karena di Netflix Inuyasha hanya ada dua musim, tetapi tidak apa-apalah karena saya bisa nonton karena saya dulu tidak teratur nontonnya di salah satu saluran televisi swasta Indonesia (halah). Penasaran sih kelanjutannya bagaimana karena setahu saya Inuyasha ada enam musim. Cuma ya sudahlah. Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa dengan rasa penasaran. I think I can deal with that.

Okelah. Cukup sekian empat serial televisi yang saya tonton di Netflix. Sebenarnya masih ada dua lagi, yaitu The End of F***ing World dan The Amazing World of Gumball, tapi saya belum selesai nontonnya. Nanti kalau sudah selesai, pasti saya bahas di sini. 

Bagaimana dengan teman-teman? Lagi nonton apa nih sekarang di Netflix?
Share: