Pernah, dan sepertinya cukup sering, saya membaca keluhan orang-orang bahwa akal imitasi (AI) "mencuri" tulisan-tulisan mereka di blog atau di medium apa saja. Blog mereka yang biasanya ramai sekarang trafik pengunjungnya tidak seramai dulu. Mereka menyalahkan AI karena AI melatih diri mereka dengan mempelajari konten-konten yang ada di internet tanpa seizin si pemilik konten. AI mendapat cuan, sementara si pemilik konten tidak mendapatkan apa-apa.
Sejujurnya membaca keluhan seperti itu dan melihat penggunaan AI yang semakin masif dengan segala dampak negatifnya, sempat terbersit saya ingin berhenti menulis di internet. Ini juga alasan lain kenapa satu tahun lebih kemarin saya menghilang dari blog. Saya tidak mau berkontribusi membuat AI semakin pintar dan semakin kaya, sementara saya masih kere dan tidak mendapatkan kompensasi apapun dari AI.
Hanya saja setelah dipikir-pikir kembali, saya pasrah. Biarlah kalau AI semakin pintar dan semakin kaya dengan "belajar" dari konten-konten yang ada di internet, termasuk blog ini idih GR sekali saya. Jangan biarkan hal tersebut membuat semangat saya surut dalam menulis blog. Biarpun sekarang AI sudah canggih dan akan semakin canggih, biarpun AI memudahkan kita semua dan semakin banyak orang yang bergantung, tetapi saya masih percaya ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI, yaitu rasa. AI tidak bisa menggantikan hubungan antarindividu yang tulus. AI tidak bisa memberikan empati dan compassion yang sungguh-sungguh.
Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tetap menulis di blog. Saya mencoba untuk tetap mempertahankan blog ini. Tujuannya? Selain untuk mencatat kenangan, juga untuk bertahan dan melawan godaan agar tidak bergantung dengan AI. Saya tidak mau tenggelam dalam AI sampai mengobrol sedemikian intens lalu sampai tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang rekaan. Saya tidak mau terjebak dalam penggunaan AI hingga membuat kemampuan berpikir kritis saya tumpul. Saya tidak mau berlarut-larut memakai AI sampai membuat saya lupa untuk menjalin koneksi dengan manusia nyata. Itulah kenapa saya kembali ke blog. Karena saya ingin kembali berinteraksi dengan teman-teman semua dan mencari teman baru.
Lantas, apakah saya antipati dengan AI? Tidak juga. Saya tetap menggunakan AI seperlunya dan secukupnya. Semoga kalianpun demikian.

Nggak cuma tulisan loh Kimi, di dunia desain grafis, image/vid generator, arsitektur, riset bahkan coding juga AI udah bisa. Lebih mudah dan efisien asal pandai promt-nya.
ReplyDeleteTapi ya itu, sepandai - pandainya AI, kita nggak bisa percaya 100% karena dia tidak punya nalar dan insting seperti manusia.
AI cukup sebagai tool aja buat membantu kita. Kalau mengandalkan AI 100% bisa tamat kita. AI kan konsumsi apa yang ada di internet. Selagi kontribusi manusia di internet seperti jurnal dll berkualitas maka hasil AI nya berkualitas. Tapi kalau sebaliknya ya jadinya sampah.
Betul. AI sebaiknya digunakan hanya sebagai tool untuk membantu, bukan untuk mengerjakan semuanya. Dan harus berhati-hati juga dalam menggunakannya karena bisa bikin ketagihan. Terus kita jadinya manja dan malas berpikir. Jadi bahaya banget.
DeleteSempat baca artikel di Forbes dan laporan UN kalau AI mempercepat hilangnya Sumber Daya Air karena, dari sumber lain ada yang bilang, kalau satu kali prompt membutuhkan dua botol minum untuk membantu mendinginkan server. Semenjak itu lebih mindful lagi menggunakan AI. Di satu sisi kita sudah tidak bisa kembali ke jaman sebelum ada AI.
ReplyDeleteIya, aku juga pernah mendengar itu. Ngeri juga ya. :(
DeleteSetuju sekali lah saya bu Kimi.. hahaha AI secukupnya. Juga jangan khawatir untuk bersaing dengan AI karena bagaimanapun, ia juga tidak bisa meniru sisi personal kita.
ReplyDeleteTetap menulis yah
Siap. Terima kasih, Pak.
Delete