Saya baru saja menyelesaikan bacaan satu buku. Akhirnya. Buku terakhir yang saya baca ini adalah People We Meet on Vacation dari Emily Henry. Buku ini saya dapat setelah menang kuis dua atau tiga tahun lalu, tetapi baru saya baca sekarang. Dan yang membuat saya bangga adalah saya bisa menamatkannya dalam seminggu. Bagi seseorang yang sedang malas membaca, bisa tamat satu buku dalam satu minggu adalah sebuah kebanggaan.
Gambar dari Goodreads
Sebelum ini, buku yang saya baca adalah In Love: A Memoir of Love and Loss dari Amy Bloom. Buku itu selesai saya baca di akhir Agustus lalu. Bayangkan, hampir tiga bulan tidak ada lagi buku yang dibaca. Memang sudah separah itu sindrom malas membaca yang sedang saya alami. Huft.
Padahal awal tahun ini saya sudah membuat tantangan membaca di Goodreads sebanyak 50 buku. Saya terlalu percaya diri. Pertengahan tahun saya tidak bisa mengejar target. Seharusnya saya sudah baca minimal 25 buku, tetapi nyatanya tidak sampai 20 buku. Dengan kesibukan di kantor dan kemalasan yang terus mendera, saya menyerah. Saya mengubah target membaca jadi 24 buku. Itu lebih masuk akal untuk saya di tahun ini.
Dan dengan selesainya saya membaca People We Meet on Vacation maka saya berhasil menuntaskan target membaca saya tahun ini. Sekarang mari lanjutkan ke buku-buku berikutnya yang sudah lama dibeli, tetapi belum sempat dibaca bahkan sampul plastiknya pun belum sempat dirobek. Semoga setelah ini sudah tidak ada lagi sindrom malas membaca.
Oh, iya, berhubung membicarakan buku, sekalian saja saya promosi blog buku saya. Yuk, teman-teman sekalian pada mampir ke sana! Saya tunggu. 😁

Tahniah dan teruskan bersemangat untuk memperbanyakkan bacaan bukunya.
ReplyDeleteSiap. Terima kasih.
DeleteBeberapa waktu lalu saya sempat tersendat baca kumpulan cerpennya Kafka. Tapi untung Metamorfosis sudah lewat. Selepas itu rasanya jadi kayak antiklimaks. Saya jadi males baca.
ReplyDeleteTerus kepikiran baca lagi The Catcher in the Rye, yang sukses bikin semangat saya kayak anak umur belasan tahun lagi. Lalu diberi kejutan sama nyonya, cerpen lama Murakami yang diterbitkan versi tunggalnya, hard cover pula, "Super-Frog Saves Tokyo".
Tapi kejutannya justru setelahnya, Mbak Kimi. Saya coba baca "Frustrasi Puncak Gunung" karya Ashadi Siregar, terus lanjut "Bunga Cinta Kasih" Eddy D. Iskandar. Saya baru sadar kalau novel-novel lama Indonesia itu dialognya mengalir banget, dan bisa membangun suasana cuma pakai beberapa kalimat.
Sekarang lagi ngumpulin niat buat baca Motinggo Busye, "Barong". Tak intip-intip kayaknya ada sentuhan sejarah yang menarik.
Keren banget Bang Morish tetap rajin baca buku. Patut ditiru ini.
Deleteudah mampir, udah baca beberapa. Cuma mohon maaf, bukan salah Kimi, tapi karena saya memang sudah putus hubungan sama buku, jadi agak bingung mau komentar apa di sana. Komentar di sini saja deh
ReplyDeleteSemangat Kim... lanjutkan!
Siap, Bapak. Terima kasih.
Deleteasli mba keren banget blog bukunya masih aktif sampai sekarang. aku juga jadi ikut terpacu. kemarin sempet ketemu orang-orang baru yang hobinya review buku, memang ternyata sekarang platform yang mereka pakai beda, bukan blog, tapi instagram
ReplyDeleteSenang kalau kamu bisa ikut terpacu. Ayo, semangat ngeblog lagi!
Delete