Monday, March 23, 2020

Review Bookmate

Saya sudah pernah menulis review Gramedia Digital Premium sebelumnya dan sekarang mari kita bahas subscription based e-book service lainnya, yaitu Bookmate.


"Don't give a book. Give a library."
- Bookmate -
gambar dari sini


Kali pertama saya tahu tentang Bookmate setelah membaca tulisan Ayu di sini. Saya pernah mencoba free trial untuk langganan premiumnya, tetapi tidak saya perpanjang. Alasannya waktu itu saya sedang sibuk dengan buku-buku yang lain. Semacam sayang kan seandainya saya tetap berlangganan, tetapi tidak saya baca.

Nah, bulan lalu saya kembali membuka Bookmate dan tertarik untuk berlangganan setelah melihat biayanya yang cukup murah, hanya Rp49ribu/bulan. Dengan bayar segitu kita bisa baca e-book dan komik, juga dengar audio book sepuasnya.

Seperti Gramedia Digital, Bookmate pun memiliki kesan positif dan negatifnya. Mari kita bahas satu per satu apa saja kesan-kesannya tersebut.


Kesan Positif

1. Murah.

Tentu saja ini kesan positif pertama yang begitu menggoda. Biaya berlangganannya hanya Rp49ribu/bulan lebih murah daripada Gramedia Digital Premium yang sebulannya Rp89ribu. 

2. Bisa dipakai di tiga gawai.

Rp49ribu itu saja sudah murah untuk dibayar sendirian dan kalau dibagi tiga tentunya jadi semakin lebih murah lagi. Bookmate bisa dinikmati di iOS, Android, dan PC.

3. Koleksi buku impor yang banyak.

Di lamannya Bookmate mengklaim memiliki koleksi buku yang mencapai 12 juta dalam 12 bahasa dan bekerja sama dengan 600 penerbit. Klaim yang sungguh luar biasa sekali beraninya dan sejujurnya saya meragukan. Karena saya mencoba mencari beberapa buku populer, tetapi saya tidak menemukan di sini, misalnya A Clash of Kings.

Penggemar: Lho, jadi ini sesuatu yang positif atau negatif sih, Kim?

Saya tetap melihatnya sebagai kesan positif sih. Pasalnya, buku impornya memang banyak banget. Berhubung saya tipikal orang yang hobi iseng dan random mencari buku-buku dengan topik tertentu, ketika ketemu dengan judul yang menarik, ya why not? Namun, memang sepertinya untuk mencari buku laris atau buku baru agak susah.

Oh iya, tidak cuma buku impor, di sini juga ada buku berbahasa Indonesia juga. Hanya saja koleksi buku lokalnya tidak sebanyak di Gramedia Digital.

4. Bisa dibaca secara offline.

Kalau bukunya sudah diunduh, bebas deh bisa kita baca secara offline di mana pun dan kapanpun juga.

5. Tampilan ramah.

Screenshot di bawah ini adalah contohnya. Selain tampilannya ramah, Bookmate juga mudah pengaturan jenis huruf dan ukuran; spasi; dan margin kanan-kiri-atas-bawah. Lebih fleksibel ketimbang Gramedia Digital. Di mata juga jadinya lebih enak.

klik gambar untuk memperbesar


6. Opsi pembayaran yang lebih beragam.

Kita bisa bayar biaya berlangganannya pakai kartu kredit, voucher Google Play, atau potong pulsa kita. 

7. Bisa copy-paste.

Ini penting buat saya. Berhubung saya orangnya suka mencatat yang penting dari suatu bacaan, jadi dengan adanya fitur copy-paste ini bisa menghemat waktu dan tenaga. Saya tidak perlu mengetik ulang dan bolak-balik antar aplikasi (dari Bookmate ke notes atau Twitter) untuk mencatat. Cukup copy-paste dan voila!

8. Bisa dengan mudah pindah antar bab.

Kita tinggal klik menu daftar isi dari buku dan tinggal pilih kita mau ke bab yang mana. Sesuatu hal yang sungguh praktis kalau kita mau loncat bab.

Kesan Negatif

1. Pengguna bisa mengunggah e-book.

Begitu tahu Bookmate ternyata mengizinkan penggunanya untuk mengunggah e-book ke aplikasinya, itu membuat saya semacam agak ilfil dengan dia. Maksud saya, buat apa Bookmate bikin jasa berlangganan e-book kalau ujung-ujungnya pengguna boleh mengunggah e-book sendiri, yang notabene pasti e-book ilegal? Kayak kontradiksi gitu gak sih? Di satu sisi dia menarik biaya berlangganan, tentunya untuk memberi dukungan ke penulis dan penerbit, tetapi di sisi lain dia juga mendukung pembajakan. Dalam hal ini Bookmate tidak konsisten.

Kenapa dia tidak mencontoh Gramedia Digital? Buku-buku yang ada semuanya dari pihak Gramedia Digital, e-book-nya diproteksi, dan ada paket berlangganan dan juga jualan e-book. Ini baru totalitas mendukung penulis dan penerbit. Tidak setengah-setengah seperti Bookmate.

2. Tidak ada fitur search.

Buat saya, fitur search ini penting banget di aplikasi e-book reader manapun. Misalnya, tiba-tiba saya teringat ada satu kutipan atau satu kata kunci, tetapi saya lupa di halaman berapa, saya tinggal cari saja di kolom search. Kalau tidak ada fitur ini di satu aplikasi reader, rasanya kurang lengkap. Ibarat sayur kurang garam. Halah.

3. Koleksi buku baru dan populer sedikit.

Kalaupun buku baru dan populernya ada, biasanya itu dari unggahan pengguna. Saya agak gengsi kalau mau baca buku yang diunggah pengguna. Maksud saya, buat apa saya bayar Rp49ribu kalau saya masih juga baca buku bajakan? Jadinya, di Bookmate saya cuma mau baca e-book yang memang masuk ke dalam daftar buku premium-nya Bookmate.

Nah, itulah kesan-kesan saya selama menggunakan Bookmate versi berlangganannya. Saya hanya fokus di e-book karena hanya itu yang saya pakai di Bookmate. Saya tidak menikmati komik dan audio book-nya karena saya memang kurang suka saja. Jadi, kalau ditanya bagaimana kesan saya dengan komik dan audio book di sana, mohon maaf saya tidak bisa menjawabnya.

So, teman-teman ada yang pakai Bookmate juga? Share dong pengalaman kalian di kolom komentar!
Share:

2 comments:

  1. Kalau dilihat-lihat dari review ini, Bookmate ini semacam diskonan Gramedia ya, Mbak Kimi? Harganya murah tapi isinya buku-buku cuci gudang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. well... bisa juga dibilang begitu sih. hehehe.

      Delete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;