Sunday, January 24, 2021

Selamat Jalan, Mama... Sampai Nanti Kita Bertemu Lagi Ya.

Sudah dua bulan sejak terakhir blog ini update. Saya butuh waktu untuk menenangkan dan memberanikan diri membuka dashboard blog untuk menceritakan kejadian terbaru dalam hidup saya. Karena apa yang akan saya ceritakan ini tidaklah mudah buat saya.

Sebentar... Izinkan saya menarik napas panjang terlebih dahulu.

.
.
.
.
.

Oke. Sudah. 

Tanggal 23 November 2020 siang saya ditelpon kakak saya. Saya masih di kantor saat itu. Suara kakak saya terdengar panik. Beliau mengabarkan kondisi ibu saya yang masuk UGD karena sesak napas. Saya mulai ikutan panik. Kemudian, telpon dimatikan. Tidak lama kakak saya kembali menelpon. Dengan suara terisak kakak saya bilang, "Dek, Mama sudah henti napas. Sekarang lagi dipacu jantungnya. Lo bisa pulang sekarang gak?" Segera saya pamit dengan atasan saya. Saya pulang ke kosan, membereskan baju, dan ke rumah paman saya di Pamulang. Rencananya kami akan berangkat bersama-sama ke Bandar Lampung malam itu juga.

Di tengah perjalanan ke rumah paman, kakak saya mengabari kondisi ibu saya. Mama sudah kembali bernapas, tetapi kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Beliau langsung dirawat di ICU. Mendengar kondisi terakhir Mama, kami jadi berangkat malam itu juga.

Saya tidak henti-hentinya menangis. Dunia saya terasa runtuh. Saya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk karena kondisi Mama yang sudah parah. 

Begitu di rumah sakit, saya segera ke ICU menemui Mama. Melihat Mama yang tidak sadarkan diri, dengan berbagai mesin yang menopang hidupnya, membuat saya lemah. Segera saya hampiri Mama, mengusap rambutnya, dan berbisik di telinganya, "Mama, aku pulang. Aku datang buat nemuin Mama. Aku sudah bawa hasil kristikku yang sudah selesai. Katanya Mama mau kristikku yang sudah selesai ini. Mama bangun ya..." Saya cium Mama dan air mata saya menetes jatuh di kening Mama.

Keluar dari ICU, saya menangis di pelukan kakak saya. Saya belum siap kalau Mama harus pergi. Hubungan saya dengan Mama baru dekat ketika saya dewasa. Kami semakin dekat sejak Papa meninggal. Kami tidur bareng, kami sering berpelukan, saya sering menciumi Mama, saya yang manja sama Mama dan Mama yang manja sama saya... Saya tidak siap kalau saya harus kehilangan itu semua.

"Dek, jangan nangis. Doain yang terbaik buat Mama," ujar kakak saya seraya memeluk saya.

Saya hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Setiap malam saya tidur di rumah sakit. Menunggui Mama dari luar ruangan ICU. Saya tidak mau ketinggalan kabar terbaru apapun yang berkaitan dengan Mama, yang sayangnya kabarnya tidak pernah bagus. Setiap kali saya atau kakak saya dipanggil dokter, kabar yang saya dengar kondisi Mama yang terus memburuk.

Sewaktu Mama masuk UGD siang itu, Mama ternyata terkena serangan jantung. Beliau sempat henti napas selama satu jam sebelum akhirnya jantungnya kembali berdetak. Napas yang terhenti selama satu jam ini berarti suplai oksigen ke otak ikut terhenti yang mana itu juga berarti berakibat fatal. Mama jadi koma. Kalaupun Mama sadar dari koma, kondisinya tidak akan sama lagi.

Kondisi jantungnya juga buruk. Jantungnya agak membesar dan paru-parunya ada cairan. Ginjalnya juga tidak bagus. So, yeah, otak, jantung, ginjal, tiga organ penting Mama bermasalah. Mama mengalami komplikasi yang disebabkan oleh diabetesnya yang sudah menahun. 

Saya tahu saya harus mempersiapkan diri. Siap tidak siap, saya harus siap. Saya tahu pada akhirnya saya akan kehilangan Mama. Ini hanya soal waktu. Namun, seandainya saya boleh meminta pada Tuhan, jangan ambil ibu saya dalam waktu dekat. Tetapi, Tuhan berkehendak lain.

29 November 2020, sekitar pukul 11 malam, saya dipanggil dokter jaga. Saya diberitahu kondisi Mama yang terus memburuk, bahwa dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, dan pihak keluarga harus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Saya hanya bisa bilang, "Terima kasih, Dok. Tolong buat ibu saya senyaman mungkin."

Dan saya tidak bisa tidur. Kenangan akan Mama teringat kembali dan saya tidak kuasa menahan air mata. Saya tahu malam itu Mama bisa pergi sewaktu-waktu. Dan dugaan saya benar.

30 November sekitar pukul 03.19 dini hari saya dipanggil suster untuk segera masuk ke ICU. Begitu masuk dokter jaga bilang berbagai istilah teknis yang saya tidak paham dan saya sudah lupa yang intinya jantung Mama sudah tidak berdetak lagi dan harus dipastikan dengan mesin EEG atau apalah namanya. Setelah dipasang alatnya, dokter menunjukkan hasil detak jantung Mama berupa garis lurus. Pukul 03.29 dokter menyatakan Mama meninggal. Dalam usia 73 tahun Mama meninggalkan kami semua yang menyayanginya dan menyusul menemani Papa dan kedua kakak saya.

Saya hancur.
Saya menangis hebat.
Saya memeluk Mama.




Jujur saja, dulu sekali hubungan saya dengan Mama pernah berada di satu titik yang saya dengan sombongnya berjanji saya tidak akan menangis atau bersedih kalau Mama meninggal. Ternyata saya salah besar. Saya sayang Mama. Sangat, sangat sayang. Kalau bukan karena Mama (dan Papa), saya tidak akan menjadi seperti saya yang sekarang ini. Saya menyesalkan hubungan kami yang baru dekat sekitar 8 atau 10 tahun terakhir. Seharusnya kami bisa dekat lebih lama. Dan sekarang Mama sudah tidak ada rasanya seperti ditinggal pas lagi sayang-sayangnya sama pacar, tapi ribuan kali lebih sakit. 

Di sinilah saya sekarang. Menulis ini sebagai sebuah bentuk penghargaan dan kasih sayang saya buat Mama. Saya ingin menyimpan Mama dalam kenangan yang abadi, dalam tulisan.

Mohon doa dari teman-teman semua untuk Mama. Semoga Mama diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya, dan diampuni segala dosa-dosanya. 


Mama dan Papa.
Dua orang yang paling saya sayangi dalam hidup saya
I love you. Now and always. Across space and time.
Share:

12 comments:

  1. Ikut merasakan pedih dan sedihnya lewat tulisan ini, Kimi... Semoga mama mendapat tempat terbaik di sisi Allah ya... Sending huuugs...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin amin amin, ya Allah... Terima kasih, Anggie.

      Delete
  2. Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisiNya.
    Amin.

    ReplyDelete
  3. Kak Kimi.. yang tabah yaa... Turut berduka cita. Semoga kelak kak Kimi dan kedua orang tua dipertemukan kembali di surga Allah ya.

    ReplyDelete
  4. Turut Berduka Cita Ka, semoga diberikan tempat terbaik disisi-Nya. Tetap semangat menjalani hari-hari, buat mama papa bangga Ka Kimi Bisa!

    ReplyDelete
  5. turut berduka ya, Kim. maaf baru tau. beliau orang baik, smoga tenang di sana, juga keluarga yg ditinggalkan

    ReplyDelete

Saya sangat menantikan komentar dari kalian. Asal jangan spam, jangan anonim, dan tetap sopan ya. Mari kita menghargai satu sama lain. Terima kasih.