Friday, June 11, 2021

Kenapa Saya Mau Berlangganan Media Digital

Ayah saya hobi membaca koran dan majalah. Sejak saya kecil hingga dewasa, melihat ayah saya membaca koran dan majalah adalah sebuah pemandangan sehari-hari. Beliau berlangganan banyak sekali koran dan majalah. Ada koran lokal, seperti Lampung Post dan Radar Lampung. Koran nasional seperti Kompas mah jangan ditanya. Wajib itu. Ada juga majalah Tempo. Belum lagi majalah yang temanya desain rumah dan interior. Saya lupa nama majalahnya. It was a long time ago.

Beliau menularkan hobinya ke saya dengan cara halus: rutin membelikan majalah Bobo setiap minggu sewaktu saya masih kecil, kemudian majalah juga tabloid remaja begitu saya menginjak usia ABG. Pernah beliau sengaja berlangganan majalah Time hanya untuk saya. Beliau memang tidak bilang secara terus terang bahwa Time itu untuk saya, tetapi saya paham maksud beliau. I am his daughter after all. I know him.

Lalu, datanglah internet. Situs-situs berita internet banyak bermunculan. Semuanya bisa diakses gratis. Update beritanya pun cepat. Hanya dalam hitungan menit atau, paling lama, jam. Tidak seperti koran yang harus menunggu terbit keesokan hari atau majalah yang biasanya seminggu sekali. Buat kebanyakan orang, termasuk saya dulu, mengakses berita di internet itu mudah dan menyenangkan. Meski begitu, ayah saya tetap bergeming. Beliau tetap setia dengan koran dan majalah cetaknya. Barangkali beliau memang sudah sangat nyaman dengan media cetak dan malas berpindah ke media daring. Atau, bisa saja karena beliau gaptek dan malas untuk belajar menggunakan internet. Ha, ha.



Foto oleh Jill Burrow dari Pexels


Saya tidak meneruskan jejak ayah saya yang mau mengeluarkan uang untuk berlangganan koran atau majalah. Saya menjadi bagian dari orang kebanyakan yang mengonsumsi berita secara gratis di internet. Cukup dengan mengunjungi situs berita daring, saya sudah update dengan berita. Apalagi dengan meningkatnya penggunaan media sosial, mendapatkan berita hanya cukup bermodalkan scrolling lini masa. Kalau ada yang gratis, buat apa bayar? Apalagi beritanya cepat sekali update. Wah, dulu saya jadi merasa paling pintar dan paling tahu sedunia deh pokoknya karena rajin baca berita dan lini masa media sosial. Wkwkwk. 

Perubahan pola konsumsi berita ini bisa dibilang merupakan efek dari digital disruption atau disrupsi digital. Berkembangnya internet, ponsel pintar, gawai canggih, dan media sosial membuat orang-orang bergeser dari media cetak ke media digital. Orang-orang lebih suka membaca berita dari layar ponselnya. Mengutip dari Digstraksi, disrupsi digital yang terjadi memiliki tiga efek terhadap jurnalisme dan media. Pertama, perubahan terjadi pada lanskap media dan pilihan media menjadi tidak terbatas. Sepertinya hampir semua kantor berita dan perusahaan media sekarang bermigrasi ke internet. Mereka bisa diakses via laman web, aplikasi, dan media sosial. Sebagai konsumen, ini menyenangkan karena pilihan kita semakin banyak dan kita bebas memilih. 

Kedua, perubahan model bisnis media massa. Pemilik bisnis media massa harus memutar otak untuk membiayai produksi berita. Bagaimana caranya bisa bertahan di saat pelanggan media cetak terus berkurang, oplah penjualan menurun, dan pendapatan iklan juga menurun. Itu untuk media cetak. Bagaimana dengan media daring? Sama saja. Media daring harus rebutan iklan dengan perusahaan raksasa, seperti Google dan Facebook. Masih ingat dengan ribut-ribut antara Pemerintah Prancis dengan Google dan Pemerintah Australia dengan Facebook soal ketimpangan pendapatan iklan antara dua perusahaan tersebut dengan media massa di sana? Semacam tidak adil kan media massa yang membuat berita, tetapi pendapatan iklannya sebagian besar diterima oleh Google dan Facebook. Padahal mereka hanya sebagai medium untuk sharing berita. Google dan Facebook semakin kaya raya, sementara perusahaan media harus berdarah-darah berjuang untuk bertahan. 

Ketiga, perubahan norma, etika, serta cara kerja jurnalis dalam meliput berita. Dengan tuntutan agar berita dapat update dengan cepat, bahkan hanya dalam hitungan menit, membuat jurnalis kesulitan untuk memverifikasi berita. Tentunya ini juga berpengaruh pada kualitas berita yang diberikan. Beritanya akurat atau tidak, komprehensif atau tidak, sesuai fakta atau tidak, itu urusan belakangan. Semacam, yang penting beritanya asal jadi dan segera tayang. 

Lama-lama saya jengah dengan keadaan ini. Selain kualitas berita gratisan yang saya konsumsi rada nganu dari segala sisi, membuka situs beritanya pun menjadi cobaan tersendiri buat saya. Banyak iklannya, bo'

Saya kemudian tersadar bahwa kita butuh good journalism. Kita berhak untuk mendapatkan berita faktual, yang memihak pada kebenaran, yang membela kepentingan rakyat, yang memberikan informasi, yang mengedukasi, dan yang sesuai dengan kaidah jurnalistik. Kita tidak akan mendapatkan good journalism dari situs berita gratisan yang kualitasnya pas-pasan. Untuk memproduksi good journalism itu membutuhkan waktu dan, tentu saja, biaya. Dan, seperti yang kita ketahui, perusahaan media massa banyak yang masih berjuang untuk tetap bertahan. Perusahaan media ini tidak bisa hanya mengandalkan dari oplah penjualan yang terus menurun dan iklan karena tidak akan cukup menutupi biaya operasi. Perusahaan ini ada yang sudah gulung tikar, ada pula yang memutuskan untuk total 100% bermigrasi ke digital.

Mereka yang bertahan menawarkan satu opsi: konsumen bisa berlangganan media digital yang mereka percaya. Perusahaan media pun memberikan biaya berlangganan paket digital yang tergolong murah. Dari pengalaman saya, kisaran biaya berlangganan koran lokal ada di rentang Rp30ribu - Rp50ribu per bulan. Untuk media luar negeri, saat ini yang paling murah adalah The New York Times yang hanya USD1 per bulan.  

Dengan biaya berlangganan yang semurah ini, saya harap akan semakin banyak pembaca media daring yang mau mendukung media digital. We need to support good journalism. Agar good journalism ini tidak mati dan agar suara rakyat selalu terdengar.

Memang mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat agar mau berlangganan media digital itu tidak mudah. Kalau sudah terbiasa menikmati berita dengan gratis, kenapa harus bayar? Iya, 'kan? Saya juga paham tidak semua dari kita mampu untuk mengeluarkan uang Rp50ribu tiap bulan untuk berlangganan media digital. Bagi sebagian dari kita masih ada kebutuhan lain yang lebih penting dan mendesak daripada membayar langganan koran atau majalah. Menurut Reuters, di AS mereka yang berlangganan media daring adalah mereka yang memiliki titel sarjana dan yang kaya. Saya kurang paham bagaimana dengan demografis pelanggan media daring di Indonesia. Barangkali ada teman-teman yang punya datanya bisa berbagi di kolom komentar. 

Saya sendiri sampai saat ini masih berlangganan Kompas.id, Tempo Digital, dan The New York Times. Sejauh pengalaman saya berlangganan ketiga media digital tersebut, saya merasa puas. Akhirnya, saya kembali bisa menikmati produk jurnalisme yang berkualitas dan tanpa harus mengalami interupsi iklan yang mengganggu baik di situsnya maupun di aplikasinya.

Akhirul kalam, kalian sudah baca berita apa hari ini?
Share:

6 comments:

  1. Aku merasa terpanggil karena termasuk dalam tim akses gratisan πŸ˜‚ Aku paling sering baca kompas(dot)com, Kak Kim. Soalnya di rumahku sendiri masih langganan koran fisik Kompas, dan aku pikir untuk kompas digital isinya juga sama dengan yang fisik, jadi belum kepikiran ke arah sana wkwk. Cuma memang untuk yang gratisan ini, isi beritanya nggak terlalu padat seperti fisik ya, lebih ke topik yang lagi hangat dibahas aja(+dibikin banyak page sampai kadang cuma baca headlinenya aja 🀣). Kalau media digital lain, aku jarang eksplor, habis ini mau coba lihat Tempo dan NYT 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo ayo dicoba Tempo dan NYT-nya. Btw, langganan Tempo sampai akhir Juni ini diskon 50% lho. Bisa langsung dapat koran, majalah Tempo, dan majalah Tempo versi bahasa Inggrisnya. Dan kalau beruntung bisa dapat bonus kaos juga. Hahaha, aku terdengar seperti marketing Tempo. πŸ™ˆ

      Delete
  2. kebiasaan berlangganan koran dan majalah ini juga dilakukan ayah saya.. kayanya cukup banyak orang tua yang melakukan ini, ya. sekarang, ayah saya tidak lagi berlangganan sejak internet masuk ke telepon genggam..

    anyway, di Jerman, ada iuran wajib yang harus dibayar warga setiap bulan yang dananya digunakan untuk membiayai lembaga penyiaran publik. alasannya adalah untuk memberikan informasi berkualitas yang bisa diakses seluruh warga. lembaga penyiaran inilah yang akhirnya menjadi corong warga, mengkritisi kebijakan pemerintah yang melenceng, dan mengimbangi informasi dari media yang dimiliki partai politik dan swasta. bayangkan semacam iuran wajib TVRI pada masa itu, tapi dana ini digunakan untuk kepentingan publik.

    selain untuk penyebaran informasi, sebagian dananya digunakan untuk subsidi acara seni dan kebudayaan sehingga warga bisa menikmati tontongan baik dengan murah bahkan gratis..

    nama iuran ini adalah, Rundfunkbeitrag.. aku juga termasuk yang ikutan mbayar, meski tidak memiliki televisi dan radio.. namun siaran mereka bisa diakses di internet juga, jadi tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan akses informasinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah keren ya Jerman... Aku sih sepakat saja seandainya TVRI menarik iuran seperti ASALKAN memang penggunaan dananya jelas untuk bikin program berkualitas, menjadi corong warga (bukan corong pemerintah), berani mengkritisi pemerintah, yah pokoknya seperti di Jerman deh. tapi yaaa... mana mungkiiin...

      Delete
  3. ya betul, terjadi 3 hal, perubahan landscape media menjadi tidak terbatas, Perubahan model bisnis media massa, dan Norma etika serta tata cara kerja jurnalis maupun pembaca berita. Ini yang mungkin memumculkan UU IITE ya

    ReplyDelete
  4. Aku kangeen loh zaman2 dulu masih langganan koran dan majalah juga :D. Papa langganan waspada (koran lokal medan), serambi Indonesia (koran lokal Aceh), media Indonesia dan kompas.

    Aku bobo, gadis. Mama Femina dan Kartini.

    Trus pas udh SMU aku langganan readers digest sampe kuliah. Tapi sbnrnya lebih Krn supaya memperbanyak vocab bahasa Inggris aja, bukan Krn tertarik beritanya hahahah.

    Kalo skr, mengingat koran2 udh langka, mau ga mau hrs beralih ke digital. Jakarta post, readers digest aku msh baca.

    Tapi hanya koran yaa yg aku mau digital. Khusus utk buku, aku tetep lebih suka fisik mba. Ga ada yg bisa gantiin wanginya kertas soalnya :D. Seskali doang aku baca e-book. Itu juga kalo ga Nemu versi fisiknya :D

    ReplyDelete

Saya sangat menantikan komentar dari kalian. Asal jangan spam, jangan anonim, dan tetap sopan ya. Mari kita menghargai satu sama lain. Terima kasih.