Pelajaran dari Civilization VI

Sebagai rakyat jelata, saya terkadang geregetan dan misuh-misuh sendiri melihat kelakuan ajaib Pemerintah. Tidak jarang saya bersikap sok tahu dan mengomentari berbagai kebijakan yang dibuat oleh mereka. Padahal mah kalau dipikir-pikir saya ini siapa, memangnya saya punya keahlian apa, kok saya bersikap seperti itu. Ya, saya bukan siapa-siapa dan modal saya cuma banyak baca berita dan gosip di media sosial. Wkwkwk. *toyor diri sendiri*

Sebenarnya, bersikap seperti itu wajar. Sebagai rakyat, kita berhak mengomentari Pemerintah. Kita berhak protes. Kita berhak berpendapat. 

Saya tidak hanya mengamati kelakuan Pemerintah sendiri, melainkan juga negara lain. Ada yang bikin iri, ada yang bikin mengelus dada, dan ada yang bikin saya mengucap syukur Alhamdulillah tinggal di negara ini. Lagi, saya sok-sokan berkomentar. Kadang, dengan sombong saya berandai-andai saya menjadi seorang pemimpin. Dengan penuh percaya diri saya yakin tidak akan mengecewakan rakyat. Saya akan berbuat adil dan mensejahterakan mereka... Blablabla... Wait. Mengurus suatu negara memang lebih gampang kalau kita cuma membayangkan dan bersikap sok tahu sampai kita disuruh, "Gih, sana urus negara kalau lo memang merasa segitu kompetennya."

Tidak percaya? Coba deh main Civilization. Sebelum jadi pemimpin sungguhan, ya simulasi saja dulu. 


gambar dari sini

Jadi, belakangan ini saya sedang keranjingan main Civilization VI, sebuah permainan berbasis strategi turn-based. Saya kena racun dari Mas Danang. Beliau bilang gim ini seru. Kalau ingin main, siap-siap kecanduan, begitu katanya. Dan, betul, saya kecanduan. Level kecanduannya sudah tidak sehat ya level kecanduan mana pula yang sehat?. Saya jadi lupa tidur, lupa makan, lupa mandi, yang kemudian memberi efek buruk ke saya dengan semakin meningkatnya rasa cemas, but this is another story. Unrelated to this post topic.

Well, anyway, setelah beberapa hari main gim ini, perspektif saya berubah. Saya bisa paham kenapa ada penguasa yang haus kekuasaan, ingin menjajah negara lain, selalu merasa tidak aman, atau sesederhana bagaimana caranya bisa bertahan dari ancaman. Iya sih semua itu bisa kita ketahui dengan logika sederhana saja atau mendapat informasi dari berbagai bacaan. Namun, beda rasanya ketika kita berada di posisi menjadi seorang pemimpin suatu suku yang kemudian berkembang menjadi komunal, kerajaan, hingga negara. 

Membangun peradaban itu tidak mudah, Jendral. Menghancurkan peradaban juga ternyata tidak semudah cita-cita kosong saya dulu ketika sedang muntab dengan dunia dan segala isinya. 

Berkat gim ini, saya bisa menjiwai betul perasaan ingin melakukan ekspansi ke daerah lain yang banyak sumber daya alamnya agar suku/kerajaan/negara saya bisa berkembang. Saya juga bisa paham perasaan Volodymyr Zelenskyy, presiden Ukraina, ketika dulu deg-deg ser mendapat ancaman perang dari Rusia dan sangat paham rasanya ketika negara kita diserang. Atau, perasaan negara-negara di sekitaran Laut China Selatan yang dag-dig-dug melihat China latihan militer di sana.

Saya merasakan kesal ketika tahu-tahu negara lain mau menyerang saya. Dosa saya apa? Saya selama ini cinta damai kok. Tidak pernah cari perkara dengan mereka. Ketika tentara mereka datang mendekati perbatasan, saya deg-degan takut. Bisa tidak saya mengalahkan mereka? Apakah kekuatan tentara saya cukup mumpuni untuk menghalau mereka dari negara saya? Ah, sial! Ini kenapa saya tidak membangun lebih banyak tentara, tank, dan lainnya? Dan ketika saya berhasil menang, segera saya membangun banyak pasukan tempur dan menaruhnya di daerah perbatasan. Karena saya orangnya pendendam, nanti saya akan balas menyerang. 

Tidak melulu saya menunggu diserang. Ada kalanya saya iseng menyerang duluan. Alasan saya waktu itu karena saya merasa terancam dia menginvasi negara tetangga dan merebutnya. Sebelum dia menyerang saya, ya saya serang duluan. Ada kepuasan tersendiri ketika saya menang. Oh, begini rasanya para penjajah jaman dulu ketika menyerang dan menguasai sumber daya alam negara jajahannya. Nikmat, memang. Pantas saja kolonisasi itu ada dan nyata. "Manfaat"-nya bagi negara penjajah memang terasa kok. Tinggal keruk sumber daya alamnya, jadi kaya, lalu tinggalkan negara jajahannya jadi miskin dan hidup dari sisa-sisa yang ada. 

Penggemar: Terus, gimana, Kim, dengan permainannya sendiri? Kamu menang gak?

Oh, tentu saja tidak. Eh, belum. Saya bingung dengan strategi terbaik seperti apa yang sebaiknya dipakai kalau ingin menang. Saya mau menguasai dunia dari sisi mana? Apakah dari dominasi militer, sains, budaya, atau agama? Saya belum tahu banyak tentang tips dan trik dari gim ini. Ditambah saya buruk dalam manajemen. Saya masih harus banyak membaca dan melakukan banyak trial-and-error.

Untung mengurus negaranya simulasi ya. Coba deh bayangkan kalau saya jadi pemimpin betulan dan mengalami kebingungan langkah apa yang harus saya ambil berikutnya. Tidak seperti di Civilization VI di mana kalau saya tidak puas atau melakukan kesalahan saya tinggal mengulang permainan, di negara imajinasi saya tidak bisa melakukan itu. Di negara imajinasi saya itu pasti akan banyak terjadi kerusuhan karena rakyat tidak percaya dengan saya, serangan dari negara tetangga, dan saya bisa habis dibunuh oleh pembunuh bayaran atau dari orang-orang terdekat sendiri yang ada di pemerintahan. 

Dengan begini apa kemudian saya masih mau jadi pemimpin? Tidak, terima kasih. Sepertinya saya lebih cocok jadi kaum rebahan yang scrolling lini masa lalu banyak bacot mengomentari apapun yang terjadi di negara ini. Wkwkwk. 

2 comments

  1. Aku selama ini menjauhi gim seperti ini Krn takut nyandu jugaaa mba Kim 🤣🤣. Makanya blm mau sih utk mulai. Tapi memang menarik gim strategi begini. Rasanya puaaaas ya kalo bisa menang.

    Aku pernah discuss Ama suami. Kebetulan kamikan kerja di bidang yg sama, perbankan . Cuma beda dept nya aja. Kalo aku di service operation, dia di compliance. Ngurusin segala aturan, SOP dan memastikan semua karyawan paham ttg prosedur dan hukum di bank. Kami sama2 punya team. Tapi jujur aku tuh pernah curhat, kalo aku bukan tipe leader.

    Selama ini aku bagus dalam performance bukan Krn mampu memimpin anak2 buahku, tapi Krn mereka memang sudah sangat bagus. Aku hanya tinggal mengarahkan. Aku tau pasti kemampuanku di mana, dan yakin bisa ngelakuin semua tugas dan target. Tapi aku LBH suka kerja sendiri, atau dalam team, hanya saja bukan leadernya 😄. Sementara suamiku memang tipe leader bangetttt. Dia banyak kritik caraku yg terlalu santai terhadap team. Tapi memang ga semua orang berbakat jadi pemimpin.kalo disuruh milih, aku ya mending jadi bagian dlm team, tapi bukan leadernya. Apa Krn aku ga ambisius ya dlm kerja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukannya Mbak gak ambisius dalam kerja hanya saja ya memang barangkali passion-nya bukan jadi leader. Kan gak semua orang pengen jadi leader. Aku juga gitu. Aku malas banget jadi leader. Gak cocok juga kalau kurasa aku jadi leader. Aku tipe mageran dan tipe followers aja. Wkwkwk.

      Delete

Any spams, any hateful, and any anonymous comments will be deleted. Let's create a safe space wherever we are and respect each other. Thank you.