Kenapa Rajin Membaca?

Suatu malam twit berikut ini muncul di beranda Twitter saya. 



Saya ingin menjawab twit tersebut langsung di Twitter, tetapi rasanya 1-2 twit tidak akan cukup menjelaskan. Ceritanya panjang soalnya. Berhubung sekarang saya sudah malas membuat tret panjang, saya pikir lebih baik saya menjawab pertanyaannya di blog saja. Lumayan juga jadi ada bahan buat update blog, 'kan? ๐Ÿ˜

Jika saya ditanya awal mula banget suka baca, jujur saja saya cukup bingung bagaimana menjawabnya. Mau dijawab sejak TK, barangkali itu lebih tepat untuk menjawab sejak kapan saya mulai membaca atau dibiasakan oleh ayah saya untuk membaca. 

Ayah saya memang memodali saya dengan selalu membelikan saya setiap minggunya majalah anak-anak, seperti Bobo, hingga tabloid dan majalah remaja. Pernah dengan sengaja Papa berlangganan majalah Time, meski beliau tidak terang-terangan bilang itu untuk saya, tetapi saya yakin Time itu untuk saya. 

Papa memang senang membelikan saya majalah hingga mau berlangganan Time buat saya, tetapi anehnya Papa tidak terlalu antusias untuk membelikan saya buku atau komik. Papa bukan tipikal orangtua yang senang mengajak anaknya ke toko buku dan membelikan buku. Papa sering malas kalau saya ajak ke Gramedia. Saya pernah minta ke Papa untuk membelikan sebuah buku, tetapi Papa seperti ogah-ogahan. Jadi, ya, sebagian besar koleksi buku dan komik yang jumlahnya tidak seberapa itu di jaman saya masih sekolah, saya beli pakai uang jajan. 

Meski begitu, modal utama untuk mau membaca sudah ditanamkan oleh ayah saya sejak saya kecil. Saya dibiasakan untuk membaca dimulai dari majalah anak-anak. Ditambah setiap hari saya melihat ayah saya membaca koran. Saya jadi selalu terpapar kegiatan membaca. Memang pada saat itu belum sampai jatuh cinta dan menjadi hobi, tetapi setidaknya saya sudah ada kemauan untuk membaca. 

Rasa-rasanya, saya mulai jatuh cinta dengan membaca sejak saya mengenal Harry Potter dan Kamar Rahasia karangan J. K. Rowling untuk pertama kali. Buku kedua dari serial Harry Potter tersebut diterjemahkan dengan sangat baik oleh Listiana Srisanti. Karena terjemahannya yang bagus, saya bisa menikmati dan larut dalam cerita. Kemudian, saya ketagihan. Saya ingin membaca buku-buku Harry Potter yang lain. 




Petualangan saya dengan buku di waktu sekolah belum terlampau banyak. Selesai dengan Harry Potter, seandainya saya tidak salah ingat, saya lebih banyak membaca buku-buku agama. Saya tidak tahu kalau di luar di sana ada banyak jenis buku. Dulu saya pernah konservatif. Waktu SMA, saya anak Rohis. Jadi, ya, wajar kalau bacaan saya dulu lebih banyak buku agama. Sekarang, sih, untuk beberapa hal masih ada sisa-sisa konservatifnya. 

Dulu wawasan saya masih terbatas. Lingkungan sosial saya masih sempit. Jadi, jangan heran begitu saya keluar dari rumah di Bandarlampung untuk masuk kuliah di Depok, Jawa Barat, belajar ilmu yang sama sekali baru, bertemu dengan banyak orang yang beragam jenisnya, kemudian sering main internet, lalu terpapar dengan banyak haltermasuk terpapar berbagai macam bukusaya merasa seperti, "Wah, rupanya dunia ini luas sekali ya. Banyak hal yang saya tidak tahu dan saya ingin tahu. Saya ingin menjadi pintar seperti orang-orang itu. Saya harus banyak membaca kalau saya ingin pintar." Jadi, sejak saat itulah saya mulai serius membaca. 

Kembali ke twit di atas. Menjawab pertanyaan kenapa saya rajin baca buku, maka jawabannya sesederhana saya ingin pintar. Karena saya tahu saya tidak pintar, saya mengkompensasinya dengan banyak membaca buku. 

Lantas, setelah membaca sembilan ratus lebih bukuberdasarkan catatan di Goodreads sayaapakah sekarang saya sudah menjadi pintar? Ehm, tidak juga sih. Sebaliknya, kok saya malah merasa semakin bodoh? ๐Ÿ˜ž

6 comments

  1. Sa juga dibelikan Bobo (dan majalah2 lain) waktu kecil dulu, tapi yang membuat saya suka membaca terutama karena ibu saya punya perpustakaan sendiri. Koleksi buku dan majalah belio punya ruangan khusus di rumah kami. Jadi saya suka membaca karena selalu melihat orang tua saya (terutama ibu) selalu membaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti memang penting ya buat anak untuk ada role model yang suka baca. Aku juga dari kecil selalu lihat Papa baca koran dan Mas Jens juga selalu lihat orangtua baca, maka jadilah kita ikut-ikutan hobi baca. ๐Ÿ˜

      Delete
  2. Kimiiii, alasanku baca buku juga awalnya karena harry potter. pernah baca ledakan hobi membaca juga salah satunya karena ada fenomena harry potter ini. aku awalnya ga terlalu suka baca, tp begitu baca harry potter yg dibeliin sama ayahku, aku jadi keranjingan baca. alhamdulillah, ini jadi hobiku yang paling lama sekaligus paling konsisten. buatku baca bukan cuma sekedar fun, tp utk bekal hidup. sebenarnya i read for learning not for fun ^^; banyak waktu, bahkan sampai sekarang, konsisten membaca itu butuh motivasi yg kuat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bisa rutin membaca sampai sekarang tuh memang butuh motivasi yang kuat.

      Delete
  3. buku novel pertamaku adalah Goosebumpnya RL Staine, tapi favoritku adalah Harry Potter!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih, sama! Novel pertama memang Goosebumps-nya R.L. Stine, tetapi favoritnya Harry Potter!

      Delete

Saya akan senang sekali jika kalian meninggalkan komentar, tetapi jangan anonim ya. Komentar dari anonim—juga komentar yang menggunakan kata-kata kasar, menyinggung SARA, dan spam—akan saya hapus. Terima kasih sebelumnya.