Wednesday, January 23, 2013

To Infinity and Beyond

"To infinity and beyond," kata Buzz Lightyear. Menurut blog ini arti dari ucapan Buzz Lightyear itu adalah there is no limit where he can go and what he can do

Saya mencoba untuk merenungi kembali makna dari frase favorit Buzz tersebut, well, he's got the point. "To infinity and beyond" bisa dimaknai sebagai sebuah pemicu semangat bahwa kita harus selalu optimis. Tidak ada batasan ataupun ikatan yang dapat membelenggu kita, membatasi diri kita, dan mematahkan semangat kita. Selalu ada asa di depan sana. Kita jangan pernah mudah menyerah.

Dan malam ini ketika ayah saya baru saja sampai rumah, tidak ada raut kecemasan dan ketakutan di wajahnya. Ayah saya pasrah dan sudah menerima dengan lapang dada hasil PET scan kemarin. Beliau masih tetap tersenyum, bahkan tertawa. Beliau masih tetap bisa optimis. Saya pun langsung teringat Buzz Lightyear. To infinity and beyond

Ayah saya seperti Buzz Lightyear. He believes that there is still something that he can do for his cancer. Beliau percaya beliau bisa sembuh total dan mengalahkan penyakitnya. Selalu ada asa untuk itu dan beliau memegang teguh asa tersebut. Tiba-tiba pipi saya terasa panas seperti habis ditampar keras. Saya malu dengan ayah saya. Beliau saja percaya beliau bisa sembuh, kenapa saya tidak? Kemarin saya merasa lemah sekali, sementara ayah saya masih tegar.

Saya malu. Sungguh. Kenapa ayah saya bisa kuat sedangkan saya tidak bisa kuat? Jujur saja, saya menghabiskan waktu seharian kemarin dengan menangis, sampai pagi tadi pun saya masih menangis. Iya, saya memang cengeng. Saya akui itu. Saya juga sadar bahwa dengan mengeluarkan air mata sebanyak apapun tidak akan mengubah kenyataan bahwa tumor tumbuh lagi di liver ayah saya. 

Sekarang yang bisa saya lakukan, kata Mas Galeshka, adalah bukan dengan menangis, melainkan dengan berusaha memberikan yang terbaik untuk ayah saya. Saya harus terus berusaha untuk membuatnya bangga terhadap saya. Saya harus membahagiakan ayah saya. Lupakan segala kemungkinan-kemungkinan terburuk yang ada dan buang semua kekhawatiran yang akan terjadi esok hari. Saya harus menjadi anak yang kuat demi ayah saya. 

Maka ketika saya memeluk erat ayah saya dan mencium pipinya, saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Saya berusaha sangat kuat untuk tidak menangis di depan pria tegar dan luar biasa tabah itu.

2 comments:

  1. dear mba kimi, thank you for writing this. saya juga, pernah menangis dua hari penuh saat mengetahui kondisi kesehatan ayah saya. dan saya tahu betul rasanya, berbulan bulan menemaninya check up, sambil berusaha keras menahan tangis ketika ada orang lain yang datang menjenguk. semoga kita senantiasa dikuatkan :"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang tabah, Mbak... Semoga Tuhan menguatkan Mbak dan ayahanda. Dan semoga Allah memberi kesehatan untuk ayahanda.

      Delete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;