Friday, August 15, 2014

Jaminan Kesehatan Nasional

Siapa teman-teman di sini yang sudah punya kartu JKN? Beberapa mungkin sudah ada yang punya. Beberapa yang lainnya mungkin masih bingung JKN itu apa. Tenang... Kalian tidak sendiri. Masih banyak yang belum paham tentang JKN ini. Setidaknya kesimpulan itu saya ambil setelah saya tanya ke tetangga-tetangga saya apakah mereka sudah punya kartu JKN atau belum. Misalnya saja Ibu Sri, tetangga depan rumah saya. Beliau malah balik bertanya ke saya, "Ibu tidak paham lho, Mbak. JKN itu apa sih? Cara daftarnya bagaimana? Bayarnya berapa?"

Saya sendiri baru sekitar tiga atau empat bulan ini punya kartu Jaminan Kesehatan Nasional atau yang disingkat dengan JKN. Awalnya saya kebagian tugas untuk bikin JKN atas nama kakak saya. Saya pikir tanggung ah kalau cuma kakak saya yang bikin. Saya juga harus bikin dong. Toh, iuran tiap bulan tidak mahal ini. Sekali makan di restoran bisa keluar uang 100-200 ribu rupiah, masak untuk bayar Rp 60ribu tiap bulan tidak bisa. Betul tidak? Lagi pula, saya tidak tahu kapan saya sakit. Jangan nanti kalau saya sampai sakit, baru sibuk mengurus JKN. :P

Awalnya yang saya tahu JKN itu transformasi dari Askes. Askes yang saya tahu dulu hanya untuk PNS dan keluarganya. Papa saya sewaktu dirawat di RS Dharmais Jakarta akhir tahun lalu terbantu sekali dengan Askes. Biaya rumah sakit yang mahal itu sebagian besar ditanggung Askes dan kami membayar tidak terlalu banyak. Nah, sekarang ini untuk menjadi peserta JKN tidak hanya dari PNS, TNI, Polri, beserta keluarganya, melainkan juga seluruh rakyat Indonesia bisa turut serta menjadi peserta JKN. Bukan hanya sekedar bisa, karena sesungguhnya ikut JKN ini adalah wajib bagi seluruh rakyat Indonesia dan warga negara asing yang minimal enam bulan tinggal di Indonesia.

Tanpa berbekal pengetahuan sebelumnya, saya langsung datang ke kantor BPJS Kesehatan di Bandar Lampung. BPJS singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang merupakan badan penyelenggara JKN. Kalau dulu BPJS ini dikenal dengan nama PT Askes. Nah, saya ke kantor BPJS Kesehatan membawa formulir yang sudah diisi, fotokopi kartu keluarga, fotokopi KTP, dan pas foto berwarna ukuran 3x4 sebanyak 2 buah. Begitu saya datang, ternyata yang antri sudah panjang banget. Saya terpaksa mengantri selama hampir dua jam. Tapi, tidak apa-apa. Meski antrian panjang dan lama, tapi lancar kok. Tidak ada rusuh atau antrian semrawut. 

Setelah daftar, saya diberi virtual account dan diminta bayar iuran sesuai dengan fasilitas kesehatan (faskes) yang saya ambil. Saya ambil faskes kelas I yang iurannya Rp 59.500 per bulan. Bayarnya bisa via ATM Bank Mandiri, BRI, dan BNI. Bisa juga datang langsung ke cabang bank terdekat. Bayar langsung di kantor pos juga bisa kok. Waktu itu sih saya bayar di teller Bank Mandiri yang memang sudah siap di kantor BPJS Kesehatan. Kalau di teller sudah tutup, bisa bayar di ATM mini di kantor BPJS Kesehatan itu juga. Minta tolong saja sama ibu-ibu bagian pembayaran yang stand by. Malah lebih praktis pakai cara ini. Kita tinggal gesek kartu ATM kita di mesin EDC-nya. Lebih praktis lagi karena bisa bayar langsung satu tahun. Keren! Jadi, saya tidak usah ke bank setiap bulan untuk setor iuran JKN. ^_^

Eh ya Alhamdulillah, tanggal 13 - 14 Agustus kemarin kok saya bisa dapat undangan untuk ikut workshop JKN di Hotel Harris, Jakarta. Setelah ikutan workshop tersebut, saya jadi semakin paham perihal JKN ini. Dan saya akan merasa bersalah seandainya ilmu yang saya dapat dari workshop kemarin tidak saya bagikan ke teman-teman semua. 

Jadi, sebenarnya JKN itu apa sih? JKN adalah jaminan kesehatan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah. 

Penggemar: Tunggu deh, Kim... Tadi kamu bilang kita ini semuanya wajib ikutan JKN. Kenapa harus wajib sih? Kalau sudah ikutan asuransi swasta, bagaimana?

Iya, seluruh rakyat Indonesia wajib ikut serta dalam program JKN. Tidak cuma rakyat Indonesia, bagi warga negara asing yang tinggal di Indonesia minimal enam bulan pun diwajibkan ikut program ini. Kemudian, pertanyaannya kenapa wajib sih? Namanya juga asuransi sosial. Berarti kepesertaannya wajib dong. Biar manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Kan salah satu prinsip JKN adalah kegotongroyongan. Artinya, ada subsidi silang nih; yang kaya membantu yang miskin, yang sehat membantu yang sakit, yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi. Jadi, tidak ada cerita tuh di masa yang akan datang orang miskin ditolak masuk rumah sakit karena tidak ada duit atau tidak ada asuransi. Toh, bagi semua peserta JKN kan tidak mungkin dong semuanya sakit serentak? ;) 

Sementara asuransi swasta kan bersifat sukarela dan manfaatnya cuma untuk yang bayar premi. Nah, bagi yang sudah ikutan asuransi swasta, ya tidak masalah toh untuk ikutan JKN juga. Selain karena memang ini wajib, toh dengan ikut JKN juga kalian sudah berperan ikut menyukseskan program JKN. :)

Penggemar: Orang miskin juga bisa menikmati faskes dari JKN, Kim? Tapi, kalau mereka tidak punya uang untuk bayar iuran bagaimana?

Bagi orang miskin dan tidak mampu termasuk Penerima Bantuan Iuran (PBI) dimana iurannya dibayarkan oleh Pemerintah. Keren kan? ^_^ Lebih kerennya lagi pemegang kartu JKN bisa dirawat di mana saja di seluruh Indonesia asalkan sesuai prosedur. 

Prinsip lain dari JKN adalah portabilitas, artinya memberikan jaminan kesehatan yang berkelanjutan sekalipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Misalnya nih, kakak saya tinggal di Bandar Lampung dan kepingin dirawat di Jakarta. Jelas bisa. Asalkan kita telah melalui prosedur yang ditentukan. Jangan sembarangan langsung ke Jakarta cuma berbekal menunjukkan kartu JKN. Niscaya pasti kalian akan diminta untuk mengurus surat rujukan dari puskesmas ke dokter spesialis di rumah sakit daerah. Baru setelah itu dokter spesialis akan memberikan surat rujukan ke rumah sakit tersier di Jakarta. Yang termasuk RS tersier ini adalah RS Dharmais, RS Harapan Kita, RSCM, dan RS Fatmawati. Ini sebenarnya untuk mendidik kita juga supaya kalau masih sakit seperti batuk pilek ya ke puskesmas saja dulu. Kalau sudah agak berat, baru ke dokter spesialis.

Terus, misalnya saya dalam keadaan darurat sakit di Jakarta sementara domisili asli tinggal di Bandar Lampung, boleh tidak masuk rumah sakit di Jakarta? Ya jelas boleh dong. Kalau mengurus surat rujukan dulu di Bandar Lampung, sementara kondisi saya membutuhkan tindakan saat itu juga ya keburu parah deh kondisi saya. :P

Oh iya, teman-teman juga bisa memilih besarnya iuran dan menikmati faskes sesuai dengan iuran yang dibayarkan. Adapun besaran iuran yang bisa dipilih:
1. Pelayanan di ruang perawatan rumah sakit kelas I, iuran sebesar Rp 59.500,- per orang per bulan
2. Pelayanan di ruang perawatan rumah sakit kelas II, iuran sebesar Rp 42.500,- per orang per bulan
3. Pelayanan di ruang perawatan rumah sakit kelas III, iuran sebesar Rp 25.500,- per orang per bulan

Kalau bagi PNS, TNI, Polri, dan pegawai swasta mah hitung-hitungannya berdasarkan persentase gaji. Sekian persen dipotong dari gaji pegawai dan sekian persennya lagi dibayar oleh Pemerintah (bagi PNS, TNI, Polri) dan perusahaan (bagi pegawai swasta). Jadi, kalau ada teman-teman yang belum dapat JKN dari kantor, hubungi HRD-nya deh minta didaftarkan. Karena itu wajib lho!

Penggemar: Wah, jadi semakin tertarik nih, Kim, untuk daftar JKN. Tapi, kalau dengar cerita kamu yang antri sampai dua jam, aku kok malas ya?

Kalau malas lihat antrian panjang, ya jangan sampai menyurutkan niat untuk ikutan daftar dong. Teman-teman bisa daftar online via website BPJS Kesehatan di sini. Kalau sudah daftar, tinggal cetak dan bayar ke bank. Setelah melakukan pembayaran, baru kalian bisa mencetak e-ID kalian. Mudah kan?

Meski manfaat dari JKN ini bisa kita nikmati unlimited dan tidak pakai plafon, tetap ada pelayanan kesehatan yang tidak dijamin oleh JKN, diantaranya adalah

  • Tidak sesuai prosedur
  • Pelayanan di fasilitas kesehatan yang belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan
  • Pelayanan untuk mendapatkan keturunan
  • Pelayanan kesehatan di luar negeri
  • Pelayanan kesehatan untuk tujuan estetika
  • Pengobatan alternatif
  • Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri, bunuh diri, dan narkoba

Seandainya diantara teman-teman ada yang mau operasi plastik biar kulit wajah mulus dan halus, operasi memancungkan hidung, atau iseng ingin memperbesar/memperkecil payudara, mohon maaf sekali ya... JKN tidak menanggung biaya untuk itu. :P Kemarin saya sempat bertanya ke Pak Dwi (narasumber dari BPJS Kesehatan) kalau penyakit mental (mental disorder/illness) ditanggung JKN atau tidak. Pak Dwi jawab sih ditanggung kok. Alhamdulillah, ya. ^_^

Demikianlah tulisan lumayan panjang kali ini. Bagi teman-teman yang masih bingung atau masih ada pertanyaan, silakan kunjungi situs JKN langsung ya. Atau bisa juga menghubungi via line telpon di 500-400 (BPJS Kesehatan) dan 500-567 (Halo Kemkes). Pesan saya, bagi teman-teman yang belum punya JKN, yuk, segera daftar jadi peserta JKN. Mari kita sukseskan program JKN dan bantu Pemerintah untuk mencapai target tahun 2019 semua penduduk Indonesia sudah menjadi peserta JKN. ;)

15 comments:

  1. Menarik dan mudah dipahami. Beginilah yg disebut dgn "blogger turut menyukseskan program pemerintah", hehe....
    Iurannya lumayan murah. Kurang lebih samalah dengan biaya pulsa selama sebulan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu sudah daftar jadi peserta JKN belum? :P

      Delete
    2. Yeee... Bikin atuh lah. Kan biar kamu juga bisa ikutan sebagai "Blogger turut menyukseskan program pemerintah", hihihihi...

      Delete
  2. wah keren nih program pemerintah. sepertinya memang ada harapan indonesia bisa seperti negara-negara maju lainnya dalam hal meyejahterakan seluruh rakyatnya, dimulai dari masalah kesehatan :-) *bangga sebagai warga indonesia meski ga tinggal di indonesia dan ga bisa daftar JKN*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan program ini berhasil ya, Mbak. Ajakin semua keluarga Mbak yang di sini buat ikutan daftar JKN doms. Hihihi... :D

      Delete
  3. banyak manfaat nya ,, tapi sayanng keluarga saya ga ada yang punya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo dong, Mbak, segera bikin kartu JKN-nya. :)

      Delete
  4. saya dengar dari teman kantor, saat daftar bpjs harus ditentukan dulu klinik tempat berobat. saat berobat harus ke klinik tsb. jika di klinik tsb tdk ada dokter spesialis, bisa berobat ke tempat lain tapi dengan surat rujukan dari klinik tsb. apa info ini benar?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul. Saat kita daftar kita harus tentukan dulu kita mau di puskesmas mana dan berobatnya memang harus ke puskesmas tersebut. Seandainya nanti kita sakit dan butuh rujukan ke dokter spesialis, mereka nanti yang akan memberi rujukan.

      Delete
  5. Bagi yang tidak punya rekening/atm bagaimana pembayarannya?

    ReplyDelete
  6. Beberapa saat yang lalu, Bunda saya masuk rumah sakit karena penyakit yang setelah di rawat 3 hari, general checkup (karena sudah berumur), dan menghabiskan sekitar 4 juta rupiah, karena pikiran.

    Something yang menurut beberapa orang ga ada terminologinya di bidang medis.. Thank God, ada BPJS, jadi bisa save cost sangat banyak..

    Btw, Saya baru tau, ternyata biaya JKN & BPJS itu sama ternyata yah :)

    ReplyDelete
  7. Apa betul bayar bpjs bisa di kantor pos ?
    Kalau kantor pos di band ung bisa ?

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;