Monday, October 13, 2014

Changes over Time

Saya yakin teman-teman semua pasti pernah membayangkan akan menikah dan hidup bahagia bersama pasangan selama-lamanya. Ketika tua nanti kalian akan dikelilingi anak dan cucu. Menghabiskan waktu bersama keluarga dan tertawa bersama. Ah, sungguh indah sekali. :)

Tapi... Ada tapinya nih. Selain membayangkan yang indah-indah itu, pernah tidak kalian juga membayangkan yang pahit-pahitnya? Karena, akui saja, everything changes. Termasuk diri kita. Sewaktu pacaran rasanya pacar romantis sekali, tapi ketika sudah menikah lama-kelamaan, "Kok dia jadi cuek banget ya? Jangan-jangan dia selingkuh..." Atau sewaktu pacaran sepertinya tidak ada wanita atau pria lain yang secantik atau seganteng pacar kita. Tetapi, setelah menikah dan semakin usia bertambah tua dan raga semakin melemah, kenapa rumput tetangga terlihat lebih hijau ya? Hal-hal semacam ini. Pernah kalian pikirkan?

Nah, oleh karena itu tulisan kali ini saya ingin membahas perubahan-perubahan apa saja yang terjadi sepanjang hidup kita dalam hal mating atau hubungan. Mari kita belajar bersama-sama dan menyiapkan diri menghadapi berbagai perubahan tersebut. Jadi, ketika saatnya nanti tiba, kita sudah tidak kaget lagi. :)


gambar dari sini 


David M. Buss membahas satu bab khusus perihal perubahan ini dalam bukunya yang berjudul The Evolution of Desire (2003). Bab ini diberi judul "Changes Over Time". Pria dan wanita tentu akan berubah sepanjang hidup mereka, mulai dari kondisi fisik dan biologis yang semakin menurun hingga status sosial yang bisa diraih. 

Untuk yang pertama, mari kita lihat terlebih dahulu perubahan dari wanita. Bagaimana kita menilai daya tarik seorang wanita? Dari reproduktivitasnya. Semakin wanita bertambah tua, semakin menurun lah reproduksinya sehingga semakin menurun pula daya tariknya. Tentu saja ada pengecualian. Wanita yang mempunyai status sosial yang baik, ketenaran, uang, kepribadian, atau memiliki jaringan sosial yang luas bisa mempertahankan nilai daya tariknya. 

Berikutnya, menurunnya atau hilangnya hasrat. Ini tidak mengherankan sebenarnya. Semakin lama sebuah hubungan, lama-kelamaan akan timbul perasaan jenuh dengan pasangan. Ketika semuanya sudah menjadi monoton dan sudah hapal dengan kebiasaan pasangan, sementara tidak ada lagi ledakan-ledakan kecil supaya tetap hangat, hilangnya hasrat tidak dapat dihindari. Dalam hal ini termasuk indikatornya adalah frekuensi hubungan seks. Sewaktu masih jadi pengantin baru, bisa rutin tiap hari berhubungan seks. Tetapi, ketika sudah bertahun-tahun menikah, frekuensi hubungan seks pasangan suami-istri bisa menurun. Menurunnya hasrat ini bisa mengganggu keharmonisan.

Selain menurunnya hasrat, hal lain yang bisa membuat seseorang frustrasi terhadap pasangannya adalah berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan. Ini berarti semakin berkurang komitmen yang diberikan oleh pasangan. Hal ini berhubungan juga dengan perubahan rasa cemburu. Saat baru menikah, suami bisa sangat protektif dan cemburu. Seorang suami bisa menggunakan banyak cara untuk menjaga agar istrinya tidak kemana-mana, baik dengan cara yang halus (misalnya memberikan hadiah) maupun dengan cara yang kasar (misalnya dengan mengancam). Ketika istri semakin tua, suami pun tidak terlalu protektif dan cemburu lagi seperti ketika di awal-awal pernikahan mereka dulu.

Dengan berkurangnya perhatian dan kasih sayang suami membuat istri semakin tergoda untuk mencari kebahagiaan dengan pria lain. Menurut Buss (2003), dari penelitian yang pernah dilakukan dari 750 pasangan sekitar 6% wanita di usia 16 - 20 tahun berselingkuh, 9% wanita usia 21 - 25 tahun berselingkuh, 14% wanita di usia 26 - 30 tahun berselingkuh, dan puncaknya 17% wanita usia 31 - 40 tahun berselingkuh. Dan setelah melewati usia akhir 30-an dan memasuki usia awal 40-an wanita yang berselingkuh semakin sedikit. Hanya 6% wanita yang selingkuh di usia 51 - 55 tahun dan 4% wanita selingkuh di usia 56 - 60 tahun.

Ada beberapa alasan kenapa wanita cenderung selingkuh di usia mendekati masa akhir reproduktif. Wanita pada usia segini sudah tidak terlalu ketat lagi dijaga oleh suaminya. Suaminya sudah berkurang rasa cemburu dan tidak terlalu protektif terhadap dirinya. Jadi, kecil risiko untuk ketahuan selingkuh. Perselingkuhan yang dilakukan wanita juga sebuah alasan baginya untuk berganti pasangan (switching mates) sebelum ia menopause.

Jika wanita rentan untuk selingkuh di usia menjelang menopause, sementara pria rentan untuk selingkuh di usia berapa saja. 26% pria usia 36 - 40 tahun selingkuh, 30% pria usia 41 - 45 tahun selingkuh, dan 35% pria usia 46 - 50 tahun selingkuh.

Perubahan berikutnya yang pasti terjadi adalah menopause bagi wanita. Kebanyakan wanita menopause di usia 50. Meski wanita sudah tidak reproduktif lagi di usia 50, tapi wanita masih bisa memiliki umur panjang. Beda dengan pria yang meski masih bisa bereproduksi di usia berapa pun, tetapi usia pria lebih pendek ketimbang wanita.

Kenapa wanita meski sudah menopause tetap bisa panjang umur? Alasannya bisa saja karena menopause merupakan adaptasi wanita dari fase mating dan reproduksi ke fase parenting dan grandparenting. Penjelasan ini disebut dengan grandmother hypothesis. Masih ada tugas yang harus dilakukan oleh wanita setelah ia menopause. Meski sudah menopause, seorang wanita masih dibutuhkan kearifannya untuk menurunkan ilmunya atau memberikan nasihat kepada anak-cucunya.

Jika daya tarik wanita semakin menurun dengan bertambahnya usia, maka hal itu tidak berlaku bagi pria. Justru bagi pria semakin usia bertambah semakin meningkat daya tariknya. Ini dikarenakan daya tarik pria tidak diukur dari reproduktifnya, melainkan dari sumber daya yang dia punya. Pria meraih kesuksesan, status sosial semakin meningkat, dan juga pendapatan yang meningkat pada usia paruh baya.

Kemudian, apakah dengan berbagai perubahan-perubahan yang terjadi tersebut membuat kita harus pasrah dan pesimis saja? Akan timbul perasaan takut bagaimana nanti kalau kita sudah tua, sudah tidak menarik lagi, kerut dimana-mana, perut semakin buncit, apakah pasangan kita tetap bisa untuk setia. Mungkin juga akan ada yang antipati dengan pernikahan. Orang-orang seperti ini berpikir, "Untuk apa menikah kalau akhirnya cerai juga?" Atau, "Untuk apa bersama orang lain? Untuk apa menjalin suatu hubungan kalau pada akhirnya hanya untuk disakiti?"

Jangan khawatir. Kalau yang Buss bilang:

Just as we have evolved mechanisms that draw us into conflict, we have evolved mechanisms that enable us to live harmoniously with the other sex. The international study, for example, found that as men and women age, they place less value on physical appearance in a mate and more value on enduring qualities such as dependability and having a pleasing disposition--qualities important for the success of a marriage and critical for the investment in children. (hal. 205)

Bagi yang masih takut selingkuh dan diselingkuhi, ingatlah apa yang Elia pernah bilang bahwasanya setia itu mudah kok. Tidak susah. Bagi yang takut bertambah tua dan takut tidak menarik lagi, ingatlah bahwa kamu tidak selamanya muda dan tidak akan selamanya menarik. Terima saja dan tingkatkan kualitas dirimu di hal-hal yang lain.

Memang kita akan bertambah tua, menopause (bagi wanita), dan tidak menarik lagi. Memang seiring berjalannya waktu kita bisa bosan dengan pasangan (atau pasangan bosan dengan kita). Ini adalah hal yang tidak bisa kita hindari. Tapi, saya yakin kok kita bisa menghindari perselingkuhan atau menyakiti pasangan kita dalam bentuk apapun. Saya yakin rasa cinta dan sayang akan tetap ada mau selama apapun usia pernikahan. Kuncinya ada di diri kita masing-masing. Bisakah kita mengendalikan diri? Bisakah kita dan pasangan tetap saling menjaga komitmen? Bisakah kita untuk tetap membuat hangat hubungan kita dengan pasangan? Dan, dari semua pertanyaan itu pertanyaan yang paling penting adalah: Apakah kita dan pasangan sama-sama mau berusaha menjaga pernikahan?


gambar dari sini 


Bukan, saya bukan bermaksud menggurui. Karena tulisan ini juga bermaksud sebagai pengingat untuk diri sendiri. 

Pustaka:

Buss, D. M. (2003). The evolution of desire. New York: Basic Books.

22 comments:

  1. tapi menurut saya memang hal itu benar-benar terjadi terhadap manusia, apalagi kalau kecantikan sesorang sudah memudar, akan terjadi goncangan -goncangan hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau memang yakin akan benar-benar terjadi, Mas sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi goncangan-goncangan tersebut?

      Delete
  2. cinta itu tidak bertahan lama, karena cenderung pada masalah fisik. ketika peruabahn bentuk terjadi, cinta akan menurun. namun ada yang bertambah... yaitu sayang atau kasih sayang. kasih sayang tidak memandang fisik lagi.

    selain itu, cinta hanya sebagai faktor pendorong pasangan untuk menikah, sedangkan untuk mempertahankannya... harus ada komitmen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cinta memang tidak bertahan lama. Kalau ada yang bilang, cinta itu selamanya ya... jangan gampang percaya. :D

      Delete
  3. mungkin itu sebabnya alasan menikah itu sebaiknya bukan karena kecantika, harta ataupun turunannya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus, alasan untuk menikah karena apa dong, Mbak?

      Delete
  4. Yang penting jalani aja dulu dengan tetap terus pasang niat,berusaha sebaik mungkin menjalankan fungsi masing-masing, baik itu sebagai istri atau suami.. kemudian jangan bosan bosan berdoa untuk kebaikan.. Insyaallah lapang deh.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baiklah, Om... Saya coba untuk tetap pasang niat dan terus berdoa. Semoga nanti saya berjodoh dengan pria baik. Amin. :D

      Delete
  5. jadi wanita rentan untuk selingkuh menjelang menopause yah #ngitung_umur :-D

    ReplyDelete
  6. waah baca artikelnya jadi agak takut gitu emz,,tapi mudah-mudahan nanti saya bisa saling menjaga dan setia terhadap komitmen :)

    ReplyDelete
  7. hmmmm laki2 berapa kali tuh pubernya wkwkwkwk, nice info. salam blogger

    ReplyDelete
  8. Kebahagiaan dan masalah pasti silih berganti. Tapi menurutku komunikasi jadi penting. Aneh aja suami istri jarang ngobrol.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komunikasi memang penting banget, Mas. Justru kalau tidak ada komunikasi berarti ada sesuatu yang salah.

      Delete
  9. Walaupun banyak juga pahit-pahitnya sebuah pernikahan, tapi sejauh ini kok yang terbayang-bayang selalu yg manis-manisnya aja, ya.... Kayaknya susah aja gitu bayangin yg pahit-pahitnya. Mungkin karena belum ngalamin sendiri.... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya tidak apa-apa kalau kamu selalu membayangkan yang manis-manisnya saja. Malah bagus. Berarti kamu tidak perlu merasakan takutnya pernikahan. Hahaha... Dan, tentu saja, semoga kamu nanti selalu bahagia dalam pernikahanmu. :)

      Delete
    2. Ah, Kimi... doamu manis sekali. Terima kasih banyak! Doa yg sama untukmu juga... :)

      Delete
    3. Terima kasih juga, Dit, untuk doamu. :)

      Delete
  10. hmmm .. mau komentar tapi tak hapus terus nih kalimat yang sudah aku ketik....

    Terus terang aku sering kesulitan buat berkomentar di sini, juga pada postingan di atas, kalau ditanya kenapa? mungkin salah satunya khawatir saja dengan opini yang akan kutulis, jadi aku seringnya jadi SR di sini nih, tanpa berkomentar :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa harus khawatir, Mbak? Di sini mah santai saja. Bebas kok kalau mau mengeluarkan opini. :)

      Delete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;