Monday, October 27, 2014

Seni Mencintai

Mari kita kembali berbicara tentang cinta. Setelah sebelumnya saya menulis perihal cinta (mating, seksual, perselingkuhan, dan pernikahan) dari sudut pandang Psikologi Evolusi yang makjleb dan menyebalkan itu, sekarang ada baiknya saya menurunkan tensi dan kembali menjadi optimis dengan cinta. Mari bersama-sama kita belajar tentang seni mencintai dari Erich Fromm.

Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving mengajarkan kita bagaimana seni mencintai. Memangnya cinta itu ada seninya? Memangnya apa saja yang harus dipelajari dalam cinta? Bukankah cinta itu hanya persoalan dua individu yang sebelumnya tidak saling mengenal, kemudian mereka berkenalan, lalu semakin dekat, cocok, menikah, dan seterusnya? Dengan kata lain, cinta itu bukan sesuatu hal yang harus dipelajari secara khusus. Cinta itu hanya tinggal dijalankan saja dan dinikmati. Benar begitu, kan?


gambar dari sini


Fromm bilang begini:

Most people see the problem of love primarily as that of being loved, rather than that of loving, of one's capacity to love. Hence the problem to them is how to be loved, how to be lovable. (hal. 8 )

Kita terlalu fokus untuk menjadi orang yang dicintai sehingga kita berupaya berbagai cara agar kita bisa dicintai orang lain. Bagi yang pria dengan cara meningkatkan karir dan punya materi berlimpah. Bagi yang wanita dengan cara mempercantik diri. Tetapi sayangnya, kita lupa bagaimana caranya mencintai. 

Saya yakin masing-masing dari kita punya kisah cinta yang gagal dan tidak mengenakkan. Kita terlalu banyak menaruh harapan pada cinta. Namun, ketika cinta tersebut tidak sesuai dengan harapan apa yang mesti kita lakukan? Putus asa dan menjadi antipati? Atau justru kita belajar dari pengalaman dan mencari tahu sebenarnya apakah cinta itu?

Fromm bilang seharusnya kita mengatasi kegagalan tersebut justru dengan mempelajari apa saja yang menjadi faktor kegagalan dan tentunya kita tetap belajar tentang cinta. Langkah pertama yang harus kita ambil adalah dengan menyadari bahwa cinta itu seni. Apa langkah-langkah yang harus diambil untuk mempelajari sebuah seni? 

The process of learning an art can be divided conveniently into two parts: one, the mastery of the theory; the other, the mastery of the practice. (hal. 10)

Sekarang mari kita lanjut membahas seni cinta dari Fromm.


gambar dari sini


Menurut Fromm, manusia sangat menyadari eksistensinya. Manusia sadar akan masa lalunya dan kemungkinan yang terjadi di masa depan. Masa depan yang sudah pasti adalah kematian. Manusia sangat menyadari ini. Hidupnya yang singkat dan dia harus mati pada akhirnya. Manusia pun sadar bahwa dia akan berpisah dengan orang lain cepat atau lambat. Nantinya dia akan meninggalkan orang-orang yang dikasihinya atau mereka duluan yang meninggalkan dirinya. 

Perasaan takut akan keterpisahan dengan orang lain ini menimbulkan kecemasan bagi manusia. 

Hence to be separate means to be helpless, unable to grasp the world--things and people--actively; it means that the world can invade me without my ability to react. Thus, separateness is the source of intense anxiety. Beyond that, it arouses shame and the feeling of guilt. (hal. 12)

Sehingga kebutuhan paling dalam manusia adalah mengatasi keterpisahan tersebut. Manusia tidak ingin terperangkap dalam penjara kesendirian. Manusia ingin bebas dari penjara tersebut. Maka tidak heran manusia berusaha menjangkau manusia lainnya. Bagaimana caranya?

Fromm memaparkan tiga cara yang bisa dilakukan manusia untuk menjangkau manusia lainnya. Cara pertama, yaitu dengan bekerja. Sayangnya ini bukan interpersonal. Kedua, dengan orgiastic states dan cara ini hanya untuk sementara. Ketiga, dengan cara konformitas dengan kelompok, masyarakat, atau negara. Fromm menyebut cara ini sebagai pseudo-unity. Masih ada cara keempat yang tentu saja lebih baik daripada ketiga cara tersebut, menjangkau manusia lain, bersatu dengan manusia lain, atau interpersonal union, yaitu melalui cinta.

Tentang cinta Fromm mendeskripsikannya sebagai:

[mature] love is union under the condition of preserving one's integrity, one's individuality. Love is an active power in a man; a power which breaks through the walls which separate man from his fellow men, which unites him with others; love makes him overcome the sense of isolation and separateness, yet it permits him to be himself, to retain his integrity. In love the paradox occurs that two beings become one and yet remain two. (hal. 20)

Cinta itu aktif, bukan pasif. Cinta adalah aktivitas. Cinta adalah "standing in", bukan "falling for". Cinta itu utamanya adalah memberi, bukan menerima. 

Pengertian dari memberi ini pun bermacam-macam. Ada yang salah kaprah dengan berpikir bahwa memberi itu berarti memberi terus-terusan, bahkan sampai berkorban. Orang-orang seperti ini bisa-bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Selain itu, ada orang-orang yang melihat "memberi" itu nantinya harus dibalas juga. Kalau dia sudah memberi sesuatu kepada orang lain, dia mengharapkan balasan. Sementara menurut Fromm:

For the productive character, giving has an entirely different meaning. Giving is the highest expression of potency. In the very act of giving, I experience my strength, my wealth, my power. This experience of heightened vitality and potency fills me with joy. I experience myself as over flowing, spending, alive, hence as joyous. Giving is more joyous than receiving, not because it is deprivation, but because in the act of giving lies the expression of my aliveness. (hal. 21)

Bukan berarti dalam memberi ini dalam arti kita melulu memberi barang atau materi. Maksud Fromm adalah manusia memberi dirinya kepada orang lain. Dia memberi orang lain apa yang menurutnya menjadi bagian dari hidupnya. Dia memberi kebahagiaannya, ketertarikannya, rasa pengertiannya, pengetahuannya, sisi humorisnya, kesedihannya, semuanya. Lebih lanjut Fromm menjelaskan:

In thus giving of his life, he enriches the other person, he enhances the others sense of aliveness by enhancing his own sense of aliveness. He does not give in order to receive; giving is in itself exquisite joy. (hal. 22)

Selain memberi, elemen dasar lainnya dalam cinta adalah kepedulian (care), tanggung jawab (responsibility), rasa hormat (respect), dan pengetahuan (knowledge). "Love is the active concern for the life and the growth of that which we love," tulis Fromm. Tentu saja dalam cinta kita akan menunjukkan kepedulian kita kepada orang yang kita cintai. Kita juga menunjukkan rasa tanggung jawab kita. Kita akan mempedulikan kebutuhan orang yang kita cintai. Akan kita usahakan untuk mencukupi apa yang menjadi kebutuhannya dan apa yang bisa membuatnya berkembang. Ini adalah termasuk bentuk tanggung jawab. 

Tanggung jawab bisa berubah menjadi hal yang buruk, yaitu dominasi dan posesif, jika tidak disertai elemen berikutnya: rasa hormat. Rasa hormat berarti kita peduli dan membiarkan orang lain tumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendirinya. Dengan demikian rasa hormat meniadakan eksploitasi. 

I want the loved person to grow and unfold for his own sake, and in his own ways, and not for the purpose of serving me. If I love the other person, I feel one with him or her, but with him as he is, not as I need him to be as an object for my use. (hal. 25)

Dan tentu saja tanpa pengetahuan (knowledge)--tanpa ada usaha dari diri kita untuk lebih mengenal orang yang kita cintai--kita tidak bisa menghormati atau menghargai mereka. 

Akhirul kalam, masih pesimis dengan cinta? ;)


gambar dari sini


Pustaka:

Fromm, E. (1956). The art of loving. New York: Harper & Brothers.


28 comments:

  1. Masih pesimis dengan cinta? -- MASIH! *halah*

    Tapiii, gue setuju. Keterbutuhan yang paling mendasar itu bukan tentang belajar mencintai (for that one, gue sadar banget gue bisa mencintai dengan baik), tapi tentang belajar mengatasi keterpisahan. Mengatasi rasa takutnya, maupun rasa sakitnya. Itu justru yang penting. Karena berapa kalipun elo berpisah/putus sama pasangan yang lo sayang, rasanya akan selalu lebih sakit daripada sebelumnya.

    Cinta itu benar memberi, tapi gue nggak percaya kalau cinta tanpa reprokasi, sekalipun dialami oleh orang yang paling dewasa secara mental, tidak memberi efek negatif bagi si subyek. Terutama rasa sedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perihal memberi, sebenarnya aku pun tidak setuju dengan Fromm. Bagiku cinta itu harus timbal-balik. It takes two to tango. Kita tidak bisa menjalani sebuah hubungan romansa sendirian. Perlu ada pasangan pastinya kan? Tentunya pasangan yang seide dengan kita.

      Tapi, aku mencoba untuk melihatnya seperti ini: Mungkin yang dimaksud Fromm dengan memberi di sini adalah cinta itu seharusnya menyehatkan. Dengan cinta yang sehat akan membuat individu merasa empowered, bahagia, dan tidak menolak untuk selalu memberi. Cinta yang sehat memberi satu alasan lagi kenapa kita seharusnya bisa menikmati hidup. Dengan selalu memberi tentunya membuat individu tersebut semacam mendapat energi, vitamin, atau apapun lah itu namanya. Dengan cinta yang sehat dan memberi membuat individu merasa lebih hidup.

      Tentu saja dengan catatan individu yang terus-terusan memberi--atau yang Fromm bilang sebagai karakter produktif--ini memiliki partner yang juga sama-sama mempunyai karakter produktif. Jadinya cocok. Klop. And they live happily ever after.

      Sebagai individu kita bisa menilai kapan sebuah cinta bisa dinilai sehat atau tidak sehat. Ketika kita berada di dalam hubungan cinta yang tidak sehat, kita akan mempertanyakan kembali perihal memberi ini. Seandainya kita berada di dalam hubungan seperti itu, kurasa sudah seharusnya kita berhenti memberi dan keluar dari hubungan itu.

      For the record, ini analisa sotoy-ku saja. :r

      Delete
    2. Kita bisa menilai cinta yang sehat atau nggak. Masalahnya adalah, kadang walau kita tahu itu gak sehat, kita nggak berhenti dan pergi, malah tetep di situ. Nyiksa diri sendiri :p

      Delete
    3. Hahaha... Betul banget, Le. Meski sudah tahu tidak sehat, tapi kita tetap bertahan. Heran ya? Butuh postingan khusus sepertinya untuk membahas hal itu. Bikin gih, Le. :P

      Delete
  2. Ini kata Kunci nya menurut ku --> "Cinta itu utamanya adalah memberi, bukan menerima."

    ReplyDelete
  3. Love! Eh?
    Why do i feel so 'ring a bell here?
    I suddenly remember something related to our conversation about love earlier :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Which conversation? *karena begitu banyaknya obrolan yang terjadi, hahaha...*

      Delete
  4. Itu si Lea suruh bikin postingan sendiri tentang cinta, komennya bisa jadi satu postingan :D
    Duh, kalau soal cinta walau udah berumahtanggga gini, aku masih suka ribet mikirinnya :)
    Yang penting bercinta dengan sehat sajalah, saling memberi, tak harap kembali #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Indah hebat dong. Itu kan artinya Mbak sudah termasuk karakter produktif yang dijelaskan Eric Fromm. :)

      Delete
  5. jadi kebayang om phil collins nyanyi
    You can't hurry love; No, you just have to wait; She said love don't come easy; It's a game of give and take. You can't hurry love; No, you just have to wait; You got to trust, give it time; No matter how long it takes #lalalala

    ...dulu sempat pesimis ketika terluka karna cinta #eaaa, sekarang sudah optimis sih, karena lukanya sudah sembuh dan terobati. dan jadi percaya lagi bahwa selalu ada cinta di angkasa untuk semua makhluk di dunia #uhuk.

    kalo belum nemu, teruslah mencari. pasti cinta kan menghampiri satu hari nanti #halah.... malah berpuisi :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baiklah, Mbak. Aku mohon doamu. *halah*

      Delete
  6. cinta itu katanya adalah kata kerja, jadi harus dibuktikan. namun kebanyakan yang terjadi adalah orang ingin selalu dicintai tanpa mau mencintai.

    saya pernah buat tulisan tentang cinta.... yg intinya, bukanlah jatuh cinta, tapi membangun cinta.... miriplah sama standing in dan bukan falling for di atas :D

    ReplyDelete
  7. Wah, dalem banget ni postingannya kak. Hahhhaha :))
    Aku sih masih mencari cinta sejati.
    Masih memilah sana sini, menimbang sana sini *halah* :)))
    Intinya sih berharap dapet yang terbaik aja lah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kamu kelak dapat yang terbaik untukmu ya. Semangat! *halah*

      Delete
  8. Hubungan cinta yang sehat menurutku tanpa diminta juga akan memberi dengan ikhlas, Seseorang yang benar benar menyayangi itu akan membuat pasangannya merasa nyaman *jadi inget suami nih* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itulah maksudnya, Mbak. Hubungan cinta yang sehat pasti akan memberi dengan ikhlas. Tanpa diminta. Kalau dalam suatu hubungan seseorang tidak memberi atau malah mengeksploitasi pasangan, itu berarti bukan cinta yang sehat.

      Semoga selalu berbahagia dengan suami ya, Mbak. :)

      Delete
  9. Nggak kok mbak.. Aku nggak pesimis :D
    Optimis banget, insyaAllah

    Menarik ya mbak. Perspektif cinta dari sisi psikologi. Beda sama yang sering kita baca di novel-novel populer

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Mas Arif tidak pesimis. Bagus itu. :D

      Memangnya cinta yang di novel-novel populer itu yang seperti apa, Mas?

      Delete
    2. Haha.. Iya donk. Kan berkat mbak Ranger
      *loh. Kok?

      Gitu deh mbak. Kan biasanya yang diceritain yang manis-manisnya aja

      Delete
  10. Aku pesimis. Bahahah! :D

    Entah lah Mbak, mungkin ngaruh banget pengalaman yang ngga mengenakkan akhir-akhir ini, bikin aku jadi trauma sikit. Takutnya malah berujung dengan antipati ya. Ckckck.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, jangan lama-lama traumanya. Kamu masih muda. Bersenang-senanglah dengan cinta. ;)

      Delete
    2. Hihihi.. Mungkin lagi butuh proses, Mbak.. Proses penyembuhan luka :P

      Delete
  11. tulisan bagus mb, smp sekrang aja aq g ngert apa itu kata cinta, meski uda di sakiti masih bisa bertahan, ga ngerti

    ReplyDelete
  12. the love is special things and we can not talk clearly about that and the special things to make every people closed and they can love , care , birth and living together

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;