Saturday, February 3, 2018

# sharing # skin care

Skincare: Perlu atau Tidak?

Seperti biasa saya membuka-buka Flipboard saya dan membaca skimming artikel dengan topik "Beauty". Lalu, saya terhenti di satu artikel dengan judul "The Skincare Con". Keesokannya saya membuka kembali Flipboard sudah ada beberapa tulisan tandingan membantah artikel tersebut.

Sebenarnya ini menarik untuk dibahas. Lebih tepatnya untuk saya mengeluarkan uneg-uneg mengingat saya sangat mencintai skincare. Baiklah, mari saya ikut urun suara mengenai hal ini. Namun, yang perlu sangat ditekankan ini adalah opini pribadi berdasarkan pengalaman pribadi. Saya tidak perlu membahas hal-hal ilmiah, seperti sains di balik skincare dan sejenisnya, karena (sudah jelas) saya bukan ahlinya.

Menurut Krithika Varagur, si penulis artikel, industri skincare sekarang ini merupakan scam alias penipuan. Perusahaan sangat paham akan kebutuhan wanita yang selalu ingin tampil cantik, muda, dan menarik. Industri kecantikan (skincare dan make up) ini sangat besar. Pasarnya luas. Oleh karena itu, perusahaan berlomba-lomba menciptakan produk untuk dilempar ke pasar.

But all of this is a scam. It has to be. Perfect skin is unattainable because it doesn’t exist. The idea that we should both have it and want it is a waste of our time and money. Especially for women, who are disproportionately taxed by both the ideal of perfect skin and its material pursuit.

Hold on. Perfect skin is unattainable because it doesn't exist? Maybe it's true. So, we have to embrace our imperfection, right? Right. And I totally agree. But, embracing our imperfection and neglecting our own body (and don't care with what our body needs) are totally two different things.

Perusahaan-perusahaan itu tujuannya menguras dompet kita dengan menawarkan berbagai produk mengandung berbagai bahan yang katanya dapat membuat kulit kita selalu muda, menarik, halus dan mulus bagaikan porselen. Coba tengok harga sheet mask yang bisa mencapai ratusan ribu untuk 5 lembar. Atau harga masker lumpur yang harganya Rp 700-800ribu. Serum dan pelembap dengan harga jutaan rupiah? Ada. Banyak. Kalian tinggal pilih. Semuanya menjanjikan hal yang intinya kurang lebih sama.

Tidak heran wanita (dan pria) berbondong-bondong membeli berbagai produk perawatan, seperti toner, essence, serum, pelembap, dan lain-lain. Kita menerapkan 10 hingga belasan langkah perawatan ala Korea. Kita mengikuti tips dan rekomendasi produk dari selebritis Hollywood, YouTuber, blogger, dan influencer lainnya.

Varagur lanjut mengatakan kulit manusia bisa bertahan jutaan tahun evolusi tanpa bantuan krim pelembap dan sejenisnya. Lantas, kenapa kita sekarang jadi terobsesi begini dengan skincare?

Like other human organs, skin has withstood millions of years of evolution without the aid of tinctures and balms. How could we be getting it so wrong now?

Untuk memperkuat argumennya, dia mengutip beberapa sumber.

And despite the scientific gestures of skincare companies, a Harvard Medical School newsletter once concluded that “routine skin care is a realm where there's little science to be found.” According to some dermatologists, many women can even skip daily moisturizer, the most basic skincare product; a 2016 study in the Indian Journal of Dermatology found that no one really knew what moisturizer even did. But we have come to see the pursuit of perfect skin through a rotating buffet of products as an empowering choice.

Tentu saja hal tersebut dibantah di artikel "Skincare is Good and Also Works". Saya tidak akan mengutip semua argumennya di sini. Karena tulisan ini nantinya bakal panjang dengan kutipan. Soalnya semuanya rasa-rasanya ingin saya kutip. Haha. Biar lebih lengkap dan jelas juga bisa teman-teman baca langsung di artikelnya. Saya kutip sedikit saja dari artikel tersebut.

First of all, people used to die in their 30s. My skin looked fucking amazing when I was 33. Now, thanks to modern medicine, I get to live a longer life, which also means I get to have dark spots, wrinkles, a weaker skin barrier, maybe skin cancer, and a saggy neck in my 40s.

Nah, ini on point banget. Saya ingin membahas ini sedikit.

Semakin kita bertambah usia, kulit semakin berkurang elastisitasnya. Kulit kita menua, masbro dan mbaksis. Kulit jadi kendur, muncul keriput, juga flek hitam. Masalahnya faktor penuaan itu tidak cuma dari dalam, tetapi juga dari luar, seperti sinar matahari, polusi, dan gaya hidup tidak sehat. Gaya hidup yang tidak sehat seperti apa nih? Seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, makan sembarangan, kurang tidur, kurang minum air putih, malas membersihkan make up, dan masih banyak lagi lainnya.

Di jaman sekarang semuanya itu kita temui sehari-hari. Maksud saya, sinar matahari yang makin terik, polusi yang semakin menjadi, dan kita yang semakin cuek untuk menerapkan pola hidup sehat. Semuanya itu sangat berpengaruh ke kita. Tidak jarang kan kita sekarang bertemu dengan orang yang terlihat jauh lebih tua dibandingkan usianya?

Sekarang dengan ancaman dari luar yang begitu banyak, yakin kita bisa mengandalkan kekuatan kulit hanya dari dalam tubuh dan tidak membutuhkan bantuan apapun dari luar? Saya sih tidak yakin. Jangan lupa, semakin kita tua, produksi alami hyaluronic acid, kolagen, dan lain-lain di dalam tubuh kita itu semakin berkurang. Lalu, kalau produksi alaminya saja sudah berkurang, kita masih pede nih untuk tidak mau membantu kulit kita sendiri?

Saya pernah skip tidak pakai apapun selama dua atau tiga hari karena saya sedang malas banget. Hasilnya kulit saya jadi kering dan sungguh tidak enak dilihat. Sejak saat itu saya semakin percaya kalau skincare memang memberikan manfaat untuk kulit.

Lalu, soal industri skincare yang katanya scam ini. Ngomongin skincare sebagai industri scam kok rasanya nganu sekali ya... Karena saya secara pribadi merasakan manfaatnya. Memang ada orang yang secara genetik kulitnya sudah halus mulus seperti porselen tanpa perlu pakai apapun (oh, I envy you!). Tetapi, banyak juga kok cerita orang yang rutin pakai skincare kulitnya jadi sehat, bersih, glowing, dan jadi enak dilihat. Pernah dengar kan cerita orang yang jadi sembuh dari jerawat dengan memakai skincare yang tepat dan cocok untuk dirinya? Atau cerita orang yang kulitnya sensitif bisa membaik dengan skincare yang dipakainya? Kalau salah satu cerita saya dulu pernah bermasalah dengan jerawat dan bekasnya yang, duh, banyak. Sekarang Alhamdulillah dengan skincare yang cocok saya sudah jarang berjerawat dan bekas jerawat sudah mulai pudar.

Kalau ada yang bilang si A sudah pakai ini itu, tetapi kulitnya masih begitu-begitu saja atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Ah, kalau ada yang komentar begini sih, saya agak ragu. Mungkin memang dia belum menemukan produk yang cocok di kulitnya. Seperti saya dulu yang harus coba banyak produk, berbagai trial and error, sebelum akhirnya menemukan produk yang cocok untuk saya. Hasilnya jelas-jelas ada. Kulit saya sekarang jauh, jauh lebih baik ketimbang bertahun-tahun lalu yang tidak terawat, kusam, dan dekil. Belum sehalus, semulus, dan secantik Chelsea Islan atau Raissa memang, tetapi ya mendingan lah ketimbang dulu.

Harus diakui memang ada produk skincare yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah, tetapi ada juga kok produk dengan harga belasan dan puluhan ribu rupiah dengan manfaat yang tidak kalah dengan produk mahal. Lagian kalau memang mampu beli serum dan krim pelembap yang harganya jutaan rupiah, kenapa tidak? Kenapa harus orang lain yang sewot? Kan mampu ini.

Kalau memang tidak mampu, masih banyak kok produk dengan harga ramah di kantong dan kualitasnya oke. Kalian bisa mempertimbangkan untuk mencoba produk-produk dari COSRX, Wardah, Mustika Ratu, Hada Labo, Innisfree, Emina, dan Skinfood. Produk dari merek-merek tersebut sudah saya coba dan cocok di saya. Mudah-mudahan di kalian juga cocok.

Yang ingin saya sampaikan adalah industri kecantikan ini industri besar dan menggiurkan. Di mana ada lahan yang bisa menghasilkan uang pasti orang akan datang ke sana, tidak terkecuali industri kecantikan. Sekarang kita sebagai konsumen harus jadi konsumen yang cerdas dan kritis. Jangan mudah tergoda dan jangan asal beli. Apalagi di jaman sekarang ini informasi bertebaran di mana-mana. Kalau mau beli produk, cari dulu review-nya. Tinggal googling saja kok atau buka YouTube. Kita juga sebagai konsumen harus mengedukasi diri sendiri. Banyak baca. Jangan malas. Jangan menelan mentah-mentah informasi yang diterima.

Sekarang jika kalian menanyakan ke saya apakah kita perlu skincare atau tidak, sudah jelas jawaban saya perlu. Sangat manusiawi kok kalau wanita ingin terlihat muda, cantik, dan menarik. Siapa sih yang nggak kepengen terlihat segar dan menyenangkan dengan kulit yang sehat, cerah, dan glowing? Kalau saya sih, kepengen banget. Saya punya #skincaregoals yang salah satunya adalah kulit saya bisa terlihat sehat, bersih, segar, cerah, dan glowing tanpa saya harus pakai make up.

Selain soal ingin bisa memiliki kulit halus semulus porselen dan sejenisnya itu, pakai skincare itu juga memberikan efek menenangkan. Bagi saya, ketika sudah melakukan ritual (saya menyebutnya ritual) pagi dan malam -- memakai rangkaian skincare, mulai dari mencuci muka, toner, maskeran, hingga pakai pelembap -- itu rasanya menyenangkan. Ini adalah me time buat saya. Ini adalah #bahagiaitusederhana versi saya: ketika melakukan ritual pakai skincare di pagi dan malam hari. Skincare memang bisa bikin saya bahagia.

Saya punya paham bahwa merawat diri merupakan salah satu cara kita untuk menghormati dan menghargai diri kita sendiri. Merawat diri juga merupakan salah satu cara berterima kasih kepada Tuhan yang sudah menganugerahi kita kehidupan.

Tetapi, merawat diri dengan memakai skincare tidak akan ada artinya jika tidak didukung dengan menerapkan pola sehat juga. Jangan merokok dan jangan minum minuman beralkohol, perbanyak makan buah dan sayuran, tidur cukup, olahraga, jangan kebanyakan stres, cukup minum air putih (kebanyakan minum air putih juga tidak bagus).

Ini menurut saya. Bagaimana menurut kalian?

4 comments:

  1. Bener bgt setujuh..
    Semahal2ny produk kecantikan kalo pola hidup tdk sehat, percuma. Intinya kita hidup perlu keseimbangan. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, Mbak. Sepakat dengan komentar Mbak Daruma. :D

      Delete
  2. Kebanyakan minum air putih juga nggak bagus karena jadi kebelet pipis terus :(((((((((

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;