Sunday, March 31, 2019

Kenapa Kita Tidak Mau Menolong?

Dini hari sekitar pukul 3 pagi tanggal 13 Maret 1964 Kitty Genovese keluar dari mobilnya. Dia baru saja sampai apartemen dari tempat kerjanya di bar. Ketika dia menuju apartemennya dia melihat seorang pria, yang kemudian diketahui namanya Winston Moseley, memegang pisau dan mendekatinya. Kitty segera lari menuju pintu apartemen, namun sayang dia berhasil ditangkap oleh laki-laki jahat tersebut. Punggungnya ditikam dua kali. Kitty teriak, "Oh my God! He stabbed me! Help me!" Tidak ada yang bergerak menolong. Hanya ada suara pria yang berteriak dari dalam apartemen, "Let that girl alone!" Winston langsung kabur meninggalkan Kitty.


Kitty Genovese
gambar dari sini


Sepuluh menit kemudian Winston kembali datang dan menemukan Kitty dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Kitty tergeletak di depan pintu apartemennya yang terkunci. Menggunakan tenaganya yang tersisa Kitty masih bisa melawan Winston yang berusaha memperkosanya. Winston terlalu perkasa dan Kitty terlalu lemah. Winston masih menyerangnya, lalu memperkosa Kitty, mencuri uangnya, kemudian pergi meninggalkan Kitty yang berlumuran darah. Kitty meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Kemudian, ada Deletha Word. Di suatu dini hari di bulan Agustus 1995, Deletha sedang dalam perjalanan pulang. Tanpa sengaja dia menyerempet mobil Martell Welch Jr. Deletha tidak berhenti dan Martell mengejar Deletha. Malang bagi Deletha karena dia terjebak macet dan berhasil dikejar Martell. Martell mengamuk bagai kesetanan. Dia memukuli Deletha, membantingnya ke aspal, mencekiknya, bahkan merobek-robek pakaian Deletha. Dua kali dia berusaha kabur dari Martell, dua kali itu pula Martell berhasil menangkapnya kembali. Dia berhasil kabur sekali lagi dan lari ke arah jembatan. Namun, begitu melihat Martell mendekat, dia tampak sangat ketakutan dan jatuh terjun 30 kaki ke dalam Sungai Detroit. Deletha tidak bisa berenang dan jasadnya baru ditemukan keesokan paginya.

Apa persamaan dari dua peristiwa ini? Yup, tidak ada satu pun orang yang berusaha menyelamatkan mereka berdua. Pada kasus Kitty, beberapa tetangga di apartemen Kitty mendengar jeritan minta tolong Kitty, tetapi tidak ada yang tergerak untuk keluar dari apartemen mereka dan menolong Kitty (hanya ada satu orang yang bereaksi dengan berteriak dari dalam apartemen). Bahkan, untuk saat itu langsung menelpon polisi pun tidak ada. Padahal kejadian berlangsung sekitar 35 menit. Memang ada tetangganya yang menelpon polisi, tetapi dia menelpon polisi sekitar satu jam kemudian. Sudah sangat terlambat.

Pada kasus Deletha pun demikian. Kejadian penyerangan brutal terhadap Deletha terjadi di tengah kemacetan. Penyerangan itu terjadi sekitar 25 menit. Namun, sayangnya tidak ada yang menghentikan Martell. Sekadar untuk menelpon polisi pun tidak ada padahal beberapa dari mereka punya ponsel. Atau, lari ke kantor polisi yang ada di ujung jalan jembatan juga tidak. Mereka hanya diam dan menonton serangan Martell ke Deletha.

Di Psikologi Sosial fenomena yang terjadi di dua peristiwa ini kita kenal dengan bystander effect, yaitu situasi di mana individu merasa tidak berkewajiban untuk menolong seseorang -- yang sedang dalam kesulitan, situasi genting, atau ancaman -- jika ada individu lain juga yang ada di tempat tersebut. Semakin banyak individu, semakin kecil kemungkinan mereka mau menolong. Akan tetapi, besar kemungkinan individu mau menolong jika mereka sendirian atau hanya terdiri dari segelintir orang.

Terminologi bystander effect pertama kali dipopulerkan oleh John M. Darley dan Bibb Latané pada tahun 1968 karena tertarik dengan kasus Kitty. Kok bisa sih ada banyak orang di apartemen tersebut, tapi tidak ada satupun yang tergerak untuk menolong Kitty? Mereka melakukan serangkaian eksperimen untuk meneliti fenomena bystander effect ini.

Salah satu eksperimen Dr. Darley adalah partisipan diminta untuk menyaksikan sebuah video dan meminta komentar mereka akan video tersebut. Mereka diberi insentif $10 untuk berpartisipasi. Sebelum mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka melewati seorang pria yang terlihat sebagai petugas pemeliharaan (maintenance worker). Petugas tersebut sedang bekerja memasang kabel atau sejenisnya.

Ketika partisipan sedang asyik menonton video, tiba-tiba mereka mendengar suara pria terjatuh dari tangga dan berteriak kesakitan. Awalnya, para partisipan ini hanya sendirian. Mendengar suara gaduh sebagian besar dari mereka berhenti dari aktivitas mereka dan segera keluar dari ruangan untuk menolong pria tersebut.

Namun, apa jadinya jika ada tambahan dua orang lagi di dalam ruangan? Dua orang ini adalah confederates dari Dr. Darley. Mereka diminta untuk tidak melakukan apapun jika mendengar suara pria yang terjatuh tadi. Dr. Darley dan rekan ingin melihat bagaimana reaksi dari partisipan. Seperti yang sudah diduga, dengan adanya dua orang tambahan yang tidak melakukan apa-apa, sebagian besar dari partisipan juga tidak melakukan apapun begitu mendengar suara pria terjatuh dan mengerang kesakitan.

Dari reaksi yang terekam oleh kamera Dr. Darley, para partisipan hanya kaget, kemudian mengevaluasi dua orang yang ada di samping kanan dan kirinya. Begitu melihat dua orang confederates tersebut tidak melakukan tindakan apapun, para partisipan juga ikut mengabaikan.

Ada beberapa penjelasan dari perilaku bystander effect tersebut. Pertama, misinterpretasi. Pada kasus Kitty para tetangga melaporkan mereka mendengar ada keributan. Hanya saja mereka tidak mau mengintervensi karena mereka mengira itu pertengkaran antar sepasang kekasih.

Kedua, diffusion of responsibility, yaitu situasi di mana ketika individu berada di dalam sebuah kelompok yang besar maka kecil kemungkinan individu tersebut untuk mengambil tindakan. Mudahnya begini, saling lirik-lirikan dan lempar-lemparan tanggung jawab. "Eh, harusnya elo nih yang nolongin. Atau elo. Atau elo. Atau elo." Begitu kira-kira. Asumsi saya yang terjadi pada kasus Deletha bisa saja para bystanders di sana saling tunggu siapa yang mau maju duluan menghentikan Martell. Atau, "Ah, barangkali yang lain sudah ada yang menelpon polisi." Mereka mengandalkan atau berharap orang lain yang akan melakukan sebuah tindakan dan bukannya mereka sendiri yang bertindak.

Ketika kita tidak berada di dalam situasi sebagai bystander yang ada di kasus Kitty, Deletha, atau kasus-kasus serupa lainnya, kita merasa memiliki nilai moral. Kalau kata Dr. Philip Zimbardo proscriptive judgment. "Tidak mungkin saya akan diam begitu saja. Kalau saya di sana, pasti saya akan melakukan sesuatu." Masalahnya, seperti yang sudah kita bahas di atas, kita tidak selalu bisa bertindak sesuai moral dan kata hati.

Sekarang apa yang harus kita lakukan seandainya kita berada di dalam situasi tersebut? Semoga otak kita cukup cepat berpikir dan teringat akan kasus Kitty dan Deletha. Jangan sampai diamnya kita mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Kalau kita tidak bisa melawan sendirian, telpon polisi. Karena itulah kita wajib untuk menyimpan nomor-nomor penting di ponsel kita, seperti nomor telpon kantor polisi. Saya juga tidak menganjurkan untuk melawan sendirian sih. Karena kalau mau menolong orang juga harus dipikirkan keselamatan kitanya. Jangan sampai karena niat baik kita ingin menolong, justru malah membawa kita celaka. Egois? Tidak. Itu logis.

Dr. Darley ketika ditanya di sebuah wawancara apa yang harus kita lakukan jika kita adalah korban, misalnya kita terkena serangan jantung, sementara orang-orang hanya berkerumun dan diam mematung. Apa yang harus kita lakukan? Dr. Darley menjawab:

I'm saying, "I'm the victim. I really need help. Everybody, I really need help, and you, Mister, you—I'm looking you in the eyes. Will you please do, whatever?" ... Pick a face out of the crowd. That person knows the responsibility rests with him, with her. 

Dengan meminta tolong langsung ditujukan ke satu orang dan menjadikannya sebagai sebuah permintaan tolong yang personal, orang tersebut akan sulit untuk menolak. Karena menurut Dr. Darley hanya butuh satu orang untuk maju dan ambil tindakan bisa mengubah kerumunan (atau kelompok) besar dari pasif cuma menonton menjadi aktif membantu korban.

Selain dua cara di atas, barangkali teman-teman ada yang mau menambahkan?

Sumber berita:
1. A Woman's Plunge to Death Transfixes Detroit.
2. Kitty Genovese.
Share:

4 comments:

  1. pernah nonton video sosial eksperimen-nya... tpi baru taw ini istilahnya "bystander effect". nice article... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Semoga bermanfaat artikelnya. :D

      Delete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;