Thursday, July 25, 2019

Galau? Ke Vietnam Saja!

Kalian sudah tahu belum kalau saya ini orangnya demen galau? Malah ada mas-mas yang bilang, "Galau kok permanen." Ha, ha. Namanya juga pencitraan.

Well anyway, bulan Februari - Maret 2019 saya galau. Saat itu masa-masanya saya gampang sekali ke-trigger dan mood cepat sekali berubah (sejujurnya, tidak hanya saat itu, tetapi juga di masa-masa sebelumnya dan masa-masa sesudahnya). Dari baik-baik saja ke berantakan, lalu merasa hancur, lalu baik lagi, lalu terpuruk lagi. Begitu saja terus sampai saya ambil dua keputusan random. Pertama, saya mau ke Vietnam. Kedua, belum bisa saya ceritakan sekarang. Tunggu saja ceritanya ya. Pasti nanti saya akan berbagi di sini kok. 😁

Selain alasan galau, alasan lain saya ke Vietnam adalah karena saya punya target kalau bisa -- sekali lagi, yah, kalau bisa -- minimal setahun sekali paspor saya dicap. Hehehe. Oleh karena itulah, tanpa pikir panjang saya langsung booking tiket pesawat PP ke Ho Chi Minh City. Meski sudah tahu keuangan sedang tidak baik, tetapi saya nekad berangkat juga. Ada kesehatan mental yang harus saya jaga dan saat itu saya sedang merasa lelah sekali. Saya butuh bertamasya.

Tiket pesawat yang saya pesan akan berangkat tanggal 16 Juli 2019 dan pulang tanggal 20 Juli 2019. Untuk menekan biaya saya ke Jakarta dengan naik bus Damri. Namanya juga masih dalam status sobat kere yang banyak mau (sudah tahu kere, tapi ngotot buat jalan-jalan coba). Itu berarti dari Bandar Lampung saya sudah harus pergi ke Jakarta naik Damri tanggal 15 Juli 2019 dan kembali ke rumah tanggal 21 Juli 2019 kembali naik Damri. Sekadar info saja bahwa harga tiket Damri Royal Class trayek Bandar Lampung - Jakarta hanya Rp235ribu. 

Karena blog ini juga bertugas sebagai jurnal daring, atau istilah kerennya online diary, saya akan mencatat perjalanan ke Vietnam kemarin di sini. Terhitung dari hari pertama saya berangkat ke Jakarta sampai saya pulang ke Bandar Lampung di hari terakhir perjalanan.

Beberapa foto sudah saya unggah dan pamerkan di akun Instagram saya. Kebanyakan foto-fotonya nanti mungkin saya embed saja dari IG saya tersebut. Biar saya tidak usah mengunggah ulang foto-foto saya itu di blog ini dan demi menghemat jatah space juga di akun Google saya. Halah.

Barangkali tulisan ini akan panjang. Saya hanya bisa berharap kalian dengan sabar mau membacanya sampai habis. ✌

Hari Pertama (15 Juli 2019)

Saya naik bus Damri Royal Class dari Stasiun Kereta Api Tanjung Karang. Busnya berangkat pukul 8 pagi dan sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 2.30 sore. Saya beristirahat sebentar di Gambir sambil menikmati coklat panas di salah satu restorannya.

Selesai menikmati coklat panas, saya ke Kopi Oey di Sabang untuk bertemu sebentar dengan Moer, teman saya. Lumayan nongkrong sebentar di sana saya difoto yang hasilnya oke. Hihihi.




Saya nongkrong di Kopi Oey sampai pukul 7 malam lewat karena selanjutnya saya ke kosannya Lea. Di sana saya menumpang mandi dan istirahat sebentar. Pesawat Malindo Air yang akan membawa saya ke Kuala Lumpur (untuk transit) akan terbang pukul 05.10 pagi. Di sana saya akan menunggu kurang lebih enam jam untuk terbang ke Ho Chi Minh City pada pukul 14.15 waktu Kuala Lumpur.

By the way, terima kasih tumpangannya ya, Le! 😘

Hari Kedua (16 Juli 2019)

Pesawat saya mendarat di Kuala Lumpur International Airport sekitar pukul 08.30 pagi. Perut saya sudah keroncongan karena belum diisi makanan. Melipir lah saya ke salah satu restoran yang ada dan menikmati sarapan mewah di bandara.




Tidak banyak yang saya lakukan selama transit. Hanya berputar-putar di bandara, mengecek ponsel hampir setiap lima menit (padahal tidak ada yang mencari juga), dan buka-buka linimasa Twitter. Anehnya, kenapa saya tidak menghabiskan waktu dengan membaca ebook saja ya? Kan lumayan enam jam jika dipakai untuk membaca bisa habis satu ebook.

Setelah berjam-jam menunggu akhirnya dipanggil juga untuk boarding ke pesawat. Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Ho Chi Minh City ditempuh kurang lebih 2 jam 10 menit. Sekitar pukul 3.30 sore saya sudah mengantri di imigrasi Tan Son Nhat International Airport.

Antrian imigrasi cukup panjang. Ternyata ramai juga yang ke Ho Chi Minh ya. Eh tapi entah ding mereka yang banyak antri itu wisatawan asing atau memang banyak penduduk aslinya yang sedang pulang kampung.

Keluar dari bandara Tan Son Nhat saya menuju bus 102 berwarna kuning. Bayarnya VND 20ribu mengantarkan saya ke daerah District 1.

Sebelum ke hotel, saya mampir ke The Sinh Tourist. Saya membeli tiket sleeper bus ke Da Lat, paket tur di Da Lat dan Mui Ne, tiket bus ke Mui Ne dari Da Lat, dan tiket bus dari Mui Ne ke Ho Chi Minh. Biaya semua yang harus saya keluarkan sebesar 1.235.500 Dong. Kalau ditukar ke kurs Rupiah sekitar Rp741.300. Murah banget ya jalan-jalan di dua kota dan ikut tur, serta ongkos busnya cuma habis segitu.

Kelar urusan di The Sinh Tourist saya berjalan kaki menuju hostel tempat saya menginap, yaitu di Vintage Hotel. Saya tidak merekomendasikan hostel ini. Hostelnya di depan bar dan berisik sekali. Lokernya tidak berfungsi dengan baik. Untung di sini saya cuma menginap semalam karena keesokan paginya saya akan menuju Da Lat.

Sayang sekali saya tidak banyak berkeliaran di Ho Chi Minh karena waktu yang kurang. Di kota yang dulunya bernama Saigon ini saya hanya beristirahat sebentar membuang lelah. Niatnya hari terakhir sebelum saya pulang ke Indonesia, saya akan keliling sebentar. Namun, apa daya ternyata waktunya masih tidak cukup juga.

Hari Ketiga (17 Juli 2019)

Jarak dari Ho Chi Minh City ke Da Lat jauh sekali. Sekitar 308km. Naik sleeper bus ke sana butuh waktu sekitar 7 - 8 jam. Saya naik bus Futa. Berangkat dari Ho Chi Minh sekitar pukul 10 dan sampai Da Lat sekitar pukul 5 sore.

Naik sleeper bus Futa ini cukup menyenangkan. Dia teratur setiap 2 jam sekali beristirahat di restoran. Bagi yang sudah kebelet ke WC bisa menumpang di restoran tersebut. Makan siang pun di salah satu restoran tempat pemberhentian. Dan mereka lumayan on time. Kalau dibilang istirahatnya cuma tiga menit, ya beneran bakal cuma tiga menit.

Kekurangan dari bus Futa ini saya cuma dikasih air mineral botol kecil dan tisu. Juga, supirnya cukup "koboi" dalam menyetir. Jalan ke Da Lat kan berliku-liku dan melewati gunung, jalurnya juga cukup sempit. Namun, Pak Supir berani sekali untuk mengambil jalur orang padahal marka jalan sudah garis putih tebal. Cukup deg-degan sebenarnya, tapi syukur Alhamdulillah saya bisa selamat sampai tujuan. Hihi.

Sampai di stasiun bus Da Lat, saya tidak naik taksi atau angkutan umum lain untuk ke hotel. Karena Futa menyediakan bus kecil (minivan) yang akan mengantarkan kita menuju tempat penginapan. Kita hanya cukup menunjukkan alamat hotel kita ke petugas bus begitu kita sampai. Dan harus rajin-rajin dan sering bertanya ke petugasnya bus yang mana akan kita naiki. Kalau tidak, yah, takutnya petugasnya lupa dan kita bakal ditinggal kan. 🙊

Di Da Lat saya menginap di Pi Hostel. Nah, kalau Pi Hostel baru deh saya rekomendasikan. Hostelnya bersih, kamar mandi di dalam, lokernya juga cukup besar, dan ada balkonnya. Kita juga bisa laundry pakaian di sana. Biayanya VND 30ribu per satu kg.






ranjang saya yang ada tasnya


Beres-beres dan mandi sebentar di hostel sebelum saya keluar mencari makan. Tujuan saya ke Da Lat Night Market.




Saya suka cuaca di Da Lat. Letaknya 1500 m di atas permukaan laut di Dataran Tinggi Langbian makanya tidak heran kalau cuacanya dingin. Dibilang dingin, tetapi buat makhluk tropis kayak saya masih sanggup mengatasi cuaca di sana. Cuacanya adem. Sejuk. Menyenangkan gitu deh. Mirip-mirip di Puncak, Bandung, atau Malang kali ya?


pemandangan di pagi hari dari balkon kamar


Hari Keempat (18 Juli 2019)

Satu hari tur di Da Lat dimulai. Tujuan turnya ke King Bao Dai Palace, ke Da Lat Cathedral, naik cable car buat ke Buddhist temple, dilanjutkan ke air terjun Datanla, ke stasiun kereta api, makan siang, beli oleh-oleh, ke tempat embroidery art, dan terakhir ke tempat pengawetan bunga (saya lupa nama tempatnya apa).

1. King Bao Dai Palace




2. Da Lat Cathedral




3. Trúc Lâm Đà Lạt Zen Monastery




4. Datanla Waterfall




5. Da Lat Old Railway Station




Foto-fotonya hanya segitu saja ya. Di tempat embroidery art dan di pameran pengawetan bunga itu tidak begitu menarik foto-fotonya. Dua tempat tersebut hanya tempat jualan. Yang satu tempat berjualan hasil sulam, yang satunya lagi tempat jualan bunga-bunga yang sudah diawetkan. Bagus dan indah-indah memang, tetapi saya tidak begitu tertarik di sana.

Hari kelima (19 Juli 2019)

Pagi-pagi saya berangkat naik bus ke Mui Ne. Waktu perjalanan sekitar 4 - 5 jam. Di Mui Ne saya menginap di Longson Mui Ne Beach Campground Resort. Saya tiba di sana sekitar tengah hari. Belum bisa check-in karena mereka ketat sekali jadwal check-in harus pukul 2 siang.


Longson Mui Ne reception


By the way, sebenarnya di sana saya tidak bisa dibilang menginap juga. Tepatnya, hanya menumpang mandi dan beristirahat sebentar karena pukul 11 malam saya harus check-out karena saya akan kembali ke Ho Chi Minh City naik bus yang berangkat tengah malam.

Di Mui Ne saya ikut private jeep tour. Berasa jadi bos deh dijemput sama supirnya dan diantar ke mana-mana di Mui Ne. Sendirian. Memang agak mahal kalau bayar sendirian, tapi worth it. Kalau mau irit, bisa di-share sama teman. Maksimal empat orang kalau mau ikut tur ini.

Saya diantar ke Fishing Village, Fairy Stream, White Sand Dunes, dan Red Sand Dunes. Saya tidak terlalu banyak ngobrol dengan Mas Supir karena masnya kurang ramah. Atau dia memang pendiam dan tidak suka ngobrol.

1. Fishing Village




2. Fairy Stream




3. White Sand Dunes





4. Red Sand Dunes




Hari Keenam (20 Juli 2019)

Sekitar tengah malam bus membawa saya kembali ke Ho Chi Minh City. Saya naik bus dari kantor The Sinh Tourist Mui Ne. Kali ini saya beristirahat di Hong Kong Kaiteki Hotel. Di sana tempat tidurnya seperti kapsul dan jauh lebih baik ketimbang Vintage Hotel.

Seperti biasa saya hanya menumpang istirahat sebentar. Tidur tidak sampai dua jam, lalu mandi, beres-beres lagi, dan keluar cari sarapan. Sempat mampir sebentar ke Pasar Ben Thanh. Niatnya ingin cari oleh-oleh, tapi berhubung saya tidak terlalu begitu suka (dan tidak bisa) belanja dan bingung juga mau beli apa, ditambah bad mood karena habis kehilangan uang, alhasil saya keluar dari sana hanya membawa dua magnet kulkas. 😂

Untung saja saya sebelumnya sudah membeli oleh-oleh sewaktu di Da Lat. Jadi, tidak sia-sia banget lah saya ke Vietnam. Ada juga yang bisa saya bawa pulang. Ha, ha.

Pukul 12 siang saya check out dan langsung ke bandara. Masih naik bus 102 berwarna kuning. Ongkosnya masih VND 20ribu.

Sekadar tips. Sebelum ke Bandara Tan Son Nhat ada baiknya kalian makan terlebih dahulu. Soalnya, harga makanan dan minuman di sana mahal-mahal banget. Bayarnya pakai US dolar. Pun kalau pakai Dong, harganya ya dari harga dolar tadi. Saya terpaksa melipir mundur ketika mau beli air mineral yang harganya USD 2 dan di saat mau bayar pake Dong harganya jadi VND 47ribu. Kalau dirupiahkan sekitar Rp28.200. Itu baru air mineral lho. Bisa kebayang kan harga makanannya berapa? Kalau saya lihat sekilas sih harganya dimulai dari USD 9.

Karena saking irit dan pelitnya saya jadi manusia (jangan ditiru!), saya baru bisa makan  ketika saya sudah di Jakarta. Untung saja saya bawa snack di dalam tas, jadi lumayan bisa mengganjal perut.

Saya makan malam di Burger King Cideng sekalian janjian dengan Mas Jens. Saya janjian dengan Om Galesh juga di situ.

Kalau dengan Om Galesh, saya masih cukup sering bertemu. Nah, dengan Mas Jens ini yang sangat jarang. Maklum, beliau tinggal di Papua, sementara saya tinggal di Lampung. Jadi, begitu tahu beliau sedang main-main ke Jakarta, langsung saya todong buat ketemuan. Kalau tidak begitu, kapan lagi coba bisa ketemuan? Terakhir kali kami bertemu itu kalau tidak salah di tahun 2011. Delapan tahun yang lalu!

Kami sempat berfoto bersama, tapi tidak saya unggah ah di sini. Soalnya, saya terlihat jelek sekali. Saya malu. Ehehe.

Hari Ketujuh (21 Juli 2019)

Nyaris telat ke Stasiun Gambir karena macet ada Car Free Day. Saya mana tahu ya di sekitaran Gambir ada CFD. Jadinya saya turun dari Go-car dan lanjut jalan kaki saja. Saya jalan cepat, secepat yang kaki saya bisa, sambil deg-degan. Deg-degan karena takut ditinggal bus dan deg-degan karena napas tidak kuat. Hah, nasib punya badan ringkih ya begini.

Sepuluh menit sebelum pukul 8 saya bisa sampai juga dan laporan ke petugas Damri. Sambil terengah-engah saya menyerahkan karcis bus, "Macet, Pak... Jalan kaki..." Kemudian saya langsung ngacir ke WC. 😂

Perjalanan pulang ke rumah terasa lama sekali. Barangkali karena saya sudah tidak sabar ingin segera tidur di kasur tercinta. Mungkin juga karena saya sudah kangen sama mama saya. Makanya saya sampai bilang ke mama buat jemput saya nanti kalau busnya sudah sampai di Bandar Lampung. Haha, dasar anak manja kamu, Kimi!

Setelah Jalan-Jalan

Penggemar: Jadi, Kim, bagaimana kesan dan pesan setelah jalan-jalan ke Vietnam? Masih galau nggak?

Oh ya jelas masih dong. Galau is my middle name, you know. Xixixixi.

Overall, trip ke Vietnam ini cukup menyenangkan. The best part was in White Sand Dunes, Mui Ne. Selama di sana saya bisa membuang energi negatif yang selama ini mengikuti, meski hanya untuk sementara waktu. Saya merasa terhibur dan bahagia.

Jalan-jalan memang salah satu cara untuk recharge baterai jiwa saya. Setidaknya selama di sana saya berhasil melupakan hal-hal yang membuat saya galau. Saya sangat menikmati liburan ini.

Selama di Vietnam, saya tidak henti-hentinya kagum dengan mereka. Menurut saya, Vietnam cukup baik mengelola pariwisatanya. Di tempat wisatanya tidak ada preman atau tukang parkir liar, transportasi ke tempat wisata terintegrasi, kota-kotanya bersih, jalanannya juga bersih, makanannya enak, wifi di mana-mana (bahkan di warung kopi pun ada wifi!). Dan pastinya di sana murah-murah. Saya yang sobat kere ini pun akhirnya bisa merasakan juga jadi orang kaya itu seperti apa. Rupiah saya begitu ditukar ke Dong jadi banyak nilainya! Hahaha.

Padahal mah ya kalau mau jujur, tempat wisata di sana yang saya datangi itu biasa saja (kecuali White dan Red Sand Dunes). Di Lampung juga ada tempat yang mirip-mirip Fairy Stream. Da Lat Railway Station? Yah, di Indonesia juga banyak kali ya stasiun kereta api yang bagus. Cuma bedanya mereka bisa menarik banyak wisatawan asing ke sana. Bagaimana caranya? Nah, itu dia yang harus kita cari tahu.

Setelah ini apakah saya ingin kembali ke Vietnam? Tentu saja. Vietnam itu luas. Dia tidak hanya terbatas pada Ho Chi Minh City, Da Lat, dan Mui Ne. Masih ada Hanoi, Nha Trang, Sapa, Hoi An, Ha Long Bay, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya saya pun masih penasaran dengan Ho Chi Minh City. Saya belum ada kesempatan untuk menjelajah kota tersebut padahal di sana banyak tempat yang layak untuk didatangi. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke sana. Dilanjutkan dengan perjalanan ke kota-kota lain di Vietnam yang belum saya datangi.
Share:

2 comments:

  1. Baru tau kalo dari stasiun Gambir ada bis yang langsung ke Bandar Lampung.
    View dari hotel Vietnam itu kalau ga ada caption atau foto-foto susulan, mirip dengan city view nya Semarang :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Itu menunjukkan betapa pentingnya caption ya, Mas? Btw, aku belum pernah ke Semarang. :(

      Delete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;