Saturday, February 29, 2020

Spotify: Music for Everyone

Saya sudah pernah menulis tentang Joox sebelumnya. Tidak adil rasanya jika saya tidak menulis soal layanan streaming musik lain yang sudah lebih dari dua tahun belakangan ini saya pakai. Yup, apalagi kalau bukan Spotify.




Saya berhenti pakai Joox setelah paket promo VIP-nya, yang Rp139ribu untuk delapan bulan, habis. Teman saya mengajak untuk berlangganan Spotify paket Premium Family yang tentunya jadi lebih murah. Karena saya orangnya lumayan irit dan pelit (halah), tentu saja ajakan tersebut saya iyakan. Sebulan cuma bayar Rp20ribu buat dengar lagu sepuasnya? Count me in!

Jadi, bagaimana kesan-kesan selama dua tahun ini pakai Spotify?


Sebelum membahas kesan, pertama-tama marilah kita bahas terlebih dahulu secara singkat apa itu Spotify.

Penggemar: Halah, Kim. Untuk apa sih kamu menjelaskan lagi Spotify itu apa? Orang-orang sudah pasti tahu deh tanpa perlu kamu jelaskan juga.

Ya tidak apa-apa. Memang kamu dan banyak orang sudah tahu, tapi kan barangkali ada segelintir orang yang tidak tahu. Sudahlah, masalah begini saja kok kalian protes sih? Penggemar macam apa kalian yang selalu protes ke idolanya?

Well, anyway, Spotify adalah layanan streaming musik, podcast, dan video dari Swedia. Di sini kita bisa mengakses jutaan lagu dan layanan lainnya dari artis-artis di banyak negara. Klaim dari Spotify lagu yang bisa kita akses lebih dari lima puluh juta lagu. Spotify sudah bisa dinikmati di 79 negara dan pelanggannya ada lebih dari 250 juta. Klaim ini menjadikan Spotify layanan streaming musik terpopuler pada saat ini.

Nah, sekarang mari kita bahas kesan-kesannya.

Penggemar: "Kita"? Elo aja kali, Kim.

Ya Tuhaaaan... Punya penggemar kok bawel amat siiih... 😡

Ngomong-ngomong, namanya kesan pasti ada kesan positif dan kesan negatif. Saya bahas kesan positif dulu ya, baru setelah itu kesan negatifnya.

Kesan Positif

1. Koleksi lagunya banyak.

Saya tidak bisa memastikan klaim Spotify yang bilang koleksi lagunya lebih dari lima puluh juta itu benar atau tidak. Malas amat sih saya mau melakukan pembuktian. Saya cuma bisa mengiyakan koleksi lagunya memang banyak ketimbang saingannya. Pilihannya pun beragam dari berbagai genre musik. Ada jazz, folk, indie, pop, rock, dan masih banyak lagi. Tidak cuma koleksi lagu, pilihan podcast-nya juga banyak. Buat kalian yang hobi mendengarkan podcast, Spotify bisa jadi pilihan buat kalian.

Sekarang saya jadi punya hobi mengeksplorasi lagu yang ada di sana. Berkat Spotify, saya tidak lagi kaku harus mendengar musik dari masa tertentu. Kan ada tuh golongan orang-orang yang musiknya terhenti di tahun tertentu dan susah move on. Dulu saya begitu, tetapi sekarang sudah tidak lagi.

Saya suka mendengar playlist yang dibuat oleh Spotify. Kemudian, ketika ketemu penyanyi baru -- atau penyanyi lama, tetapi saya baru dengar lagunya -- yang saya suka, saya bisa mengkhususkan diri selama berhari-hari mendengar semua albumnya. Hobi baru saya ini membawa saya berkenalan dengan banyak penyanyi. 

2. Murah.

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya berlangganan paket Premium Family barengan dengan teman-teman saya. Bayar cuma Rp20ribu/bulan. Saya sudah bayar satu tahun dan habis bulan April 2020 besok sih. Tidak tahu nih nanti pas saya mau perpanjang bayarannya tetap sama atau sudah naik. Nanti kalau bayarannya naik, saya update ya!

Yang saya suka dari paket Premium Family ini adalah kita login dengan akun kita masing-masing dan kita bebas mau mendengarkan dari device mana saja, entah itu di ponsel, laptop, atau browser. Juga bebas mau dengar dari berapapun banyak gadget. Kan biasanya kalau paket premium yang sharing begini cuma bisa login pakai satu akun dan dibatasi jumlah gadget-nya. Misalnya, Gramedia Digital Premium yang membatasi cuma bisa dipakai di lima perangkat elektronik. Atau, Netflix yang cuma bisa dipakai di maksimal empat device. Atau, Bookmate yang cuma bisa dinikmati di tiga device.

By the way, dengan berlangganan premium tentunya kita dapat kelebihan yang dapat kita nikmati. Ini nih kelebihannya:


klik gambar untuk memperbesar


3. Bisa didengar di mana saja.

Maksudnya, Spotify bisa didengar tidak hanya lewat aplikasinya di ponsel, laptop, smart devices lainnya, melainkan juga di website-nya. Dulu saya pernah pasang aplikasinya di laptop, tetapi berat buat di laptop saya. Untungnya bisa didengar lewat website-nya, jadi tidak terlalu berat. Enteng. Setelah sekarang laptop saya di-install ulang, setel Spotify di browser jadi semakin enteng deh!

4. Pilihan metode pembayaran sekarang bisa potong pulsa.

Dulu alasan saya tidak mau berlangganan Spotify premium karena dia tidak bisa potong pulsa. Sekarang dia sudah bisa potong pulsa, yeay! Eh, tapi, ini sebenarnya tidak terlalu berpengaruh ke saya karena kan saya bayarnya transfer ke teman. Ha, ha. 

Tapi, tidak apa-apa. Ini juga kesan positif kok. Sekalian saya memberitahu ke kalian kalau Spotify sekarang metode pembayarannya sudah banyak pilihannya. Kalian bisa bayar pakai kartu kredit, potong pulsa, atau transfer di ATM. Mau seperti saya yang bayarnya dengan cara transfer ke teman juga bisa, tapi kalian harus cari teman dulu untuk berlangganan Spotify Premium Family. 


klik gambar untuk memperbesar
atau bisa ke website-nya langsung

Kesan Negatif

1. Tidak ada lirik lagu.

Terkadang kan saya juga ingin ikutan menyanyi kalau dengar lagu yang enak, tetapi malas gugling liriknya. Inginnya sih saya menyanyi membaca liriknya langsung dari Spotify. Sayangnya, Spotify tidak menyediakan lirik. Ada sih saya pernah ketemu 1-2 lagu yang ada lirik, tapi itu pun liriknya tidak lengkap satu lagu. Dalam hal ini, Joox masih lebih baik.

2. Tidak ada video atau live streaming.

Di website-nya kan Spotify mengklaim kalau dia juga ada layanan streaming video, tetapi nyatanya sampai sekarang saya belum pernah ketemu video di Spotify. Ada sih video sepotong-sepotong ketika mendengarkan lagunya, tapi bukan seperti di YouTube yang full satu video klip, misalnya.

Saya sih tidak masalah di Spotify tidak ada video karena toh saya pakai Spotify khususon untuk mendengarkan musik. Tapi, kan, buat apa mengklaim menyediakan layanan streaming video kalau pada kenyataannya tidak ada?

Oh iya, waktu saya pakai Joox dulu saya pernah nonton live streaming acara bincang-bincang dengan artis. Kalau tidak salah dulu artisnya AriReda deh. Ini saya nonton di aplikasinya Joox langsung. Ini keren kalau kata saya. Sayangnya, di Spotify yang beginian tidak (atau belum) ada. Kan seru ya seandainya Spotify bisa bikin live streaming dalam bentuk video ngobrol bareng artis dan mereka nyanyi live juga, apalagi kalau artisnya semacam Ray LaMontagne, Bon Iver, atau Winter Woods.

Nah, itulah kesan-kesan saya selama pakai Spotify. Bagi teman-teman yang belum mencoba Spotify tidak ada salahnya dicoba. Pakai yang versi gratis saja dulu kalau masih ragu mau berlangganan. Pesan saya, kalau mau pakai paket premium-nya dan dirasa bayar Rp50ribu untuk Premium Individual itu kemahalan, daripada kalian cari-cari orang yang ngiklan, seperti "Langganan Spotify premium murah bayar sekali untuk seumur hidup" blabla, mending kalian janjian sama teman untuk berlangganan Premium Family. Rp79ribu/bulan bisa dibayar patungan sampai maksimal enam orang.

Penggemar: Tapi, Kim, katanya Spotify sudah mulai galak nih. Yang langganan Premium Family mau dicek beneran lokasinya beneran satu rumah atau gak. Gara-garanya banyak yang seperti kamu dan teman-temanmu itu tuh menyalahgunakan kebijakan Premium Family.

Yah, itu dipikirkan nanti saja. Kan yang baru diminta verifikasi alamatnya mereka yang tinggal di AS, Jerman, dan Irlandia. Kayaknya kalau giliran di Indonesia, masih lama deh.

Setidaknya cara ini -- buat saya -- masih lebih baik, lebih jelas, dan lebih aman ketimbang bayar berlangganannya lewat cara orang-orang yang dagang semacam "Langganan Spotify premium murah bayar sekali untuk seumur hidup". Jujur, saya tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa berjualan semurah itu karena buat saya sungguh tidak masuk akal.

Saya tahu mereka yang sudah terlanjur berlangganan lewat penjual seperti itu pasti sebenarnya mereka punya niat baik ingin mendengarkan musik secara legal dan membantu artisnya. Nah, kalau sudah punya niat baik seperti itu, kenapa tidak diteruskan saja dengan cara yang lebih baik, jelas, aman, dan legal? Bayar langsung ke Spotify-nya tanpa lewat perantara yang tidak jelas. Semahal-mahalnya paket Premium Individual yang Rp50ribu/bulan, itu masih lebih murah ketimbang harga paket data. Dan buat saya pribadi, saya lebih memilih untuk pakai Spotify gratisan daripada beli premium lewat penjual yang tidak jelas. But, that's just me though.

Jadi, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian pakai Spotify juga? Playlist mana nih yang sedang rajin kalian dengar di Spotify? Share dong di kolom komentar! Rekomendasi kalian lumayan buat saya mengeksplor artis atau lagu baru di Spotify. 
Share:

6 comments:

  1. satu lagi, repotnya Premium Family ini, ngga bisa ubah metode pembayaran.. katrok.. ��

    ReplyDelete
  2. Anyway, Premum Family ini ga segalak yang dikira kok, anggota saya ada yang di EU dan US masih aman2 aja tuh, asal input alamatnya sama aja, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baguslah kalau begitu. Kita masih bisa menikmati dengan tenang layanan Premium Family-nya. Hihihi.

      Delete
  3. Masih pakai yang gratisan, kadang-kadang. Tapi baca postingan ini jadi merenung sendiri. (Ini kenapa baca Kimi's Akademos saya jadi sering merenung?!) Kayaknya kapan-kapan mesti coba pakai premium, nih, buat support musisi-musisi untuk berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeay hore! Selamat mencoba layanan premiumnya kalau begitu. Semoga sukaaa...

      Delete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;