Sunday, July 19, 2020

Attraction and Intimacy

*Tulisan ini adalah rangkuman berseri dari buku Social Psychology karangan David G. Myers. Untuk Bab 10 bisa dibaca di sini.
**Tulisan ini cukup panjang. Jika kalian lelah, ada baiknya beristirahat dulu baru nanti dilanjut lagi bacanya.

***

Chapter 11 Attraction and Intimacy: Liking and Loving Others



Manusia adalah makhluk sosial. We need to belong. Ketika kita berada dalam suatu hubungan romansa, kita cenderung menjadi lebih sehat dan bahagia. Kipling Williams mencoba mengeksplorasi apa yang terjadi jika manusia mengalami situasi diasingkan. Manusia biasanya merespon dengan mood depresif, cemas, perasaan tersakiti, melakukan usaha untuk memperbaiki hubungan, dan bahkan menarik diri. 

What Leads to Friendship and Attraction?

Faktor-faktor yang memengaruhi rasa ketertarikan terhadap seseorang adalah kedekatan jarak geografis (proximity), daya tarik fisik (physical attractiveness), kesamaan (similarity), dan perasaan disukai (feeling liked).

Proximity

Satu faktor penting untuk memulai ketertarikan adalah jarak geografis yang dekat. Dua orang yang rumahnya berdekatan atau satu kampus lebih besar kesempatannya untuk saling menyukai dan menjalin hubungan ketimbang mereka yang tinggal di beda benua. 

Proximity: Geographical nearness. Proximity (more precisely, “functional distance”) powerfully predicts liking.

Hal itu karena jarak yang dekat memudahkan kita untuk melakukan interaksi. Sering berinteraksi membuat kita saling mengenal satu sama lain. Setelah kenal, akan memunculkan perasaan suka. Kalau kata orang Jawa witing tresno jalaran soko kulino. Cinta tumbuh karena kebiasaan. 

Physical Attractiveness

Kalau ada yang bilang tampang itu tidak penting, berarti dia munafik. Maafkan saya karena menjadi orang yang sinis karena itu memang benar adanya. Tampang itu penting. Myers sendiri sampai bilang, "Good looks are a great asset." Setidaknya untuk kesan pertama.

Saya tidak mau munafik. Saya suka lelaki tampan (siapa pula yang tidak suka kecuali buat lelaki yang straight ya?). Ketika bertemu pertama kali dengan seseorang pasti yang pertama saya nilai adalah penampilan fisiknya. Dia tampan dan rapi, sudah menjadi poin plus di mata saya. Baru poin-poin lainnya menyusul. Ini maksudnya, ganteng tapi brengsek ya saya ogah juga. Atau, ganteng tapi ngobrol tidak nyambung, saya juga malas. Atau, ganteng, pintar, ngobrol nyambung, tapi tidak suka sama saya. Seringnya sih ini yang kejadian. Ha, ha. 

Penggemar: Kami tahu, Kim. Mulutmu tertawa, tetapi pasti batinmu menangis.

Ish, kalian memang penggemar setia bisa paham akan diri saya. Well, mari kita kembali ke bisnis.

Butuh bukti bahwa penampilan fisik itu penting? Fisik itu bisa memengaruhi orang dalam pemilu. Studi yang dilakukan oleh Alexander Todorov et al. (2005) menunjukkan demikian. Ceritanya mereka memberikan foto dua kandidat penting pada pemilihan senator dan anggota DPR-nya US di sana. Hanya melihat dari tampang saja, para mahasiswa bisa menebak kandidat mana yang menang. Kalau untuk melihat siapa pemenang pemilihan senator dan anggota DPR-nya US saja bisa cuma melihat dari fisik, ya wajar dong kalau dalam hubungan yang lebih intim manusia cenderung melihat fisik terlebih dahulu?

Inginnya sih kita bisa punya pasangan yang tampan atau cantik banget kan. Pujaan semua orang. Tetapi, kadang kita suka tidak tahu diri. Misalnya, saya yang suka ngarep ingin jadi pacarnya Rafael Nadal, Henry Golding, atau Henry Cavill. Saya tahu kok saya cakep (*digebuk netijen*), tetapi ya level kecakepan saya tidak setara dengan level kegantengan abang-abang itu. Terus, penyelesaiannya bagaimana? Ya tahu diri lah. Cari yang level kecakepannya setara. Sudah pernah sih dapat pacar yang level cakepnya setara, tapi, ah, sudahlah. Itu masa lalu.

Penggemar: Tapi, Kim, kan ada tuh kita sering lihat pasangan yang satunya cakep banget, eh tapi satunya, maaf ya, nggak cakep-cakep banget. Itu gimana tuh?

Berarti dia mengompensasinya di bidang lain. Oke deh tampang pas-pasan, tetapi barangkali dia pintar dan enak diajak ngobrol. Atau, dia lucu. Atau, dia punya banyak harta. Loh, untuk yang terakhir, jangan terburu-buru tertawa atau mengingkari, again, tidak usah munafik. Banyak harta itu juga sebuah daya tarik. Mwahahaha.

Daya tarik fisik ini standarnya tidak baku dan bisa berubah-ubah seiring perkembangan jaman. Dan tergantung selera masing-masing orang juga kan.

Similarity versus Complementarity

Setelah jarak geografis dan daya tarik, masih ada faktor lain yang menentukan ketertarikan kita pada seseorang, yaitu kesamaan. Biasanya teman, orang yang bertunangan, pasangan yang menikah kemungkinan besar memiliki kesamaan sikap, keyakinan (beliefs), dan nilai-nilai (values). Lebih lanjut, semakin besar kesamaan yang dimiliki maka akan semakin bahagia pasangan yang sudah menikah dan rendahnya kecenderungan mereka untuk bercerai. 

Kalau mau sama 100% kan pasti tidak mungkin ya. Pasti ada bedanya. Namun, terlalu banyak perbedaan ya berat juga. Kalau kata Myers, "Dissimilarity breeds disliking." 

Getting to know someone—and discovering that the person is actually dissimilar—tends to decrease liking (Norton & others, 2007)

Misalnya, yang satu fans Jokowi dan yang satunya fans Prabowo. Pasti langsung jadi ilfil. Oops. Maaf kalau telah membuka luka lama. Eh, luka lama atau lukanya masih berdarah-darah nih karena kecewa? Duh, maaf. Jadi melenceng. Cari contoh yang mudah saja deh. Misalnya, yang satu tim makan bubur diaduk, yang satunya tim makan bubur tidak diaduk. Atau, yang satu tim martabak manis dan yang satu tim terang bulan. Kalau perbedaan yang receh saja suka ribut, bisa kebayangkan kalau perbedaannya terlalu banyak atau terlalu prinsip? Pastinya berat sekali untuk melanjutkan hubungan.

Ada yang bilang kalau opposite attracts. Orang yang boros dengan orang yang pelit, penyendiri dengan socializer, dan banyak contoh lain. Masa' sih demikian? Apakah benar kita membutuhkan orang yang berbeda dari kita untuk melengkapi kita? Dari hasil penelitian yang dipaparkan Myers di buku ini ternyata jawabannya nggak tuh. Orang-orang yang tidak depresif lebih memilih untuk ditemani orang-orang yang bahagia. Ketika kita lagi sedih, ditemani orang dengan kepribadian bubbly mungkin terasa sangat mengganggu. 

Complementarity: The popularly supposed tendency, in a relationship between two people, for each to complete what is missing in the other.

Liking Those Who Like Us

Pernah tidak kalian suka sama seseorang yang menyukai kalian terlebih dahulu? Saya pernah. Saya seringnya membalas perasaan seseorang ketimbang untuk memfasilitasi perasaan saya. Karena berdasarkan pengalaman malah kalau saya suka cowoknya duluan, biasanya tidak pernah berakhir dengan baik alias ditolak mentah-mentah. Seperti sekarang nih ya saya sebenarnya sedang suka dengan seseorang. Cowoknya ganteng sih, pintar, ngobrol juga enak, tetapi sayangnya sepertinya tidak tertarik dengan saya. Mengingat-ingat yang sudah-sudah mending saya hentikan saja perasaan itu. Daripada ditolak lagi? Ha, ha. 

Penggemar: Halah si Kimi. Mentang-mentang topiknya cinta jadi deh sepanjang tulisan curcol mulu.

Mwahahaha. Maaf, maaf. 

Kenapa saya seringnya membalas perasaan seseorang? Karena mengetahui ada orang yang tertarik dengan saya itu dapat memunculkan perasaan romantis. Senang juga. "Wah, ternyata ada yang suka sama saya ya," begitu kira-kira. Dan ini sahih karena eksperimen yang sudah dilakukan mengonfirmasi hal tersebut. Berscheid dan Walster (1978) menyimpulkan mereka yang diberitahu bahwa ada orang lain yang suka atau mengagumi mereka biasanya merasakan hal yang serupa. Perasaan berbalas nih ceritanya.

What Is Love?

Apa sih cinta itu? Kalau ngomongin soal cinta secara saintifik, otomatis saya teringat dengan triangle of love-nya Robert J. Sternberg.


klik gambar untuk memperbesar


Passionate love: A state of intense longing for union with another. Passionate lovers are absorbed in each other, feel ecstatic at attaining their partner’s love, and are disconsolate on losing it.

Companionate love: The affection we feel for those with whom our lives are deeply intertwined.

What Enables Close Relationships?

Tiga faktor yang memengaruhi ups and downs dari hubungan dekat (close relationships) adalah attachment style, equity, dan self-disclosure.

Attachment

Manusia adalah makhluk sosial. Kita ditakdirkan untuk terikat dengan orang lain. Kerja sama antar individu bisa meningkatkan kemungkinan untuk bertahan hidup. Ini yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Karena mereka mampu bekerja sama, mereka bertahan hidup, dan mewariskan gen bekerja sama itu kepada kita. Maka tidak heran jika kita terpengaruh untuk memiliki relasi dengan orang lain.

Ketergantungan bayi pada caregiver-nya menguatkan ikatan manusia. Setelah lahir kita menampilkan berbagai respon, termasuk cinta, takut, dan marah. Dengan mempertahankan kedekatan bayi pada caregiver-nya akan menghasilkan social attachment yang kuat yang berguna sebagai impuls bertahan hidup. Jika dicerabut attachment ini, terkadang bahkan dalam kondisi pengabaian yang ekstrem, anak-anak mungkin akan menjadi menarik diri, ketakutan, dan pendiam. 

Attachment ini memengaruhi gaya kita dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama dalam menjalin hubungan. Beberapa elemen yang umum dalam love attachment adalah saling memahami, memberikan dan menerima dukungan, menghargai dan menikmati waktu bersama orang terkasih. Dalam passionate love ditambah dengan physical affection.

Jenis-jenis attachment styles menurut Kim Bartholomew dan Leonard Horowitz (1991):


klik gambar untuk memperbesar


Secure attachment: Attachments rooted in trust and marked by intimacy.

Preoccupied attachment: Attachments marked by a sense of one’s own unworthiness and anxiety, ambivalence, and possessiveness.

Dismissive attachment: An avoidant relationship style marked by distrust of others.

Fearful attachment: An avoidant relationship style marked by fear of rejection.

Equity

Yang dimaksud dengan equity adalah:

Equity: A condition in which the outcomes people receive from a relationship are proportional to what they contribute to it. Note: Equitable outcomes needn’t always be equal outcomes.

Ini sepertinya sama dengan yang selalu saya gaung-gaungkan selama ini bahwa it takes two to tango. Dibutuhkan dua orang dalam suatu hubungan agar bekerja dengan baik dan berhasil. Dan dalam relationship itu harus seimbang dalam take and give. Kita tidak bisa terus-terusan menerima atau terus-terusan memberi. Ini juga merupakan sinyal kapan kita tetap bertahan dan kapan seharusnya kita pergi. I have learnt my lesson the hard way.

Self-Disclosure

Dalam sebuah hubungan dekat pasti kita akan berbagi rahasia. Kita menyingkapkan aspek rahasia dalam diri kita yang tidak kita tunjukkan secara umum. Kita membaginya hanya pada orang-orang yang kita percaya dan yang menerima kita apa adanya.

Self-disclosure: Revealing intimate aspects of oneself to others.

Ketika ada orang yang membuka dirinya pada kita, ada kecenderungan dalam diri kita untuk melakukan hal serupa.

Disclosure reciprocity: The tendency for one person’s intimacy of self-disclosure to match that of a conversational partner.

Tentunya hal ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Ada proses yang harus dilalui untuk merasakan kedekatan dan rasa percaya.

Bagi mereka yang sedang jatuh cinta, tentunya berbagi rahasia ini sangat menyenangkan. Ada perasaan aman, terhormat karena dipercaya, nyaman, dan bahagia dalam berbagi rahasia. Memiliki orang yang bisa kita percaya bisa membantu kita melalui stres dalam hidup. 

How Do Relationships End?

Bagi mereka yang memiliki pasangan, semakin dekat dan lama hubungan yang terjalin dan sedikit alternatif yang tersedia, putusnya hubungan mereka akan terasa sangat menyakitkan. 

Berakhirnya sebuah hubungan adalah sebuah proses, bukan hanya sebuah peristiwa yang tahu-tahu terjadi. Di bawah ini adalah gambaran respon ketika terjadi relationship distress dalam hubungan.


klik gambar untuk memperbesar


Nah, itulah rangkuman untuk Bab 11. Bagaimana, kalian suka tidak dengan topiknya? Sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kalian kan? Ada yang mau berbagi kisah pengalaman cintanya di kolom komentar? Yuk, saya tunggu ya kisah kalian! :D

Daftar Pustaka:

Myers, D. G. (2010). Social psychology (10th ed.). New York: McGraw-Hill.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;