Friday, September 4, 2020

Six Weeks of Changes

 *tulisan berikut adalah tulisan dari kakak tingkat saya di kampus dulu, yaitu Handriatno Waseso. Semoga teman-teman suka. Selamat menikmati!

***

Beberapa tahun lalu saya pernah melatih sejumlah coach dari beberapa perusahaan dengan tema Six Weeks of Changes. Tema ini dipilih karena menurut bacaan pasar dari konsultan yang memperkerjakan saya untuk kegiatan ini, enam minggu adalah waktu yang tepat untuk menciptakan perubahan kebiasaan di korporasi. Tidak terlalu lama sekaligus cukup waktu. 

Saya diminta untuk merancang programnya. Dan akhirnya muncul gagasan kerangka besarnya dengan membagi kegiatan coaching dalam enam minggu. Ikhtisarnya adalah sebagai berikut:

1. Mempersiapkan perubahan dengan rencana berbasis skema GROW (Goals, Resources, Options, Way-forward). Dalam waktu satu minggu.

2. Mengeksplorasi rencana perubahan dalam tindakan dengan skema ACT (Anticipate, Commit, Track). Waktunya tiga minggu.

3. Setelah melaksanakan rencana, berikutnya melakukan refleksi atau menemukan pembelajarannya dengan skema SSS (Simak, Sadari, Seleksi) cukup seminggu.

4. Kemudian terakhir, mengupayakan hasil SSS menjadi kebiasaan baru dgn skema Transfer of Learning

Mari kita bahas satu per satu.

GROW, Merancang Perubahan Diri

Akronim GROW secara umum memberi sugesti pertumbuhan diri. Skema ini digunakan untuk memandu para coach memberikan coaching pada klien mereka. Namun, ia juga bisa digunakan secara mandiri tanpa coach. Keempat langkah yang saya sebut di atas bisa dilakukan sendiri. Coach akan membantu Anda, tapi tidak mutlak harus ada.

Kita mulai dari huruf G yang merujuk pada kata Goals. Ini yang pertama harus Anda tentukan. Perubahan apa yang mau jadi tujuan Anda. Perubahan bisa dikategorikan menjadi:

1. Perubahan perilaku.

2. Perubahan kinerja.

3. Perubahan capaian.

4. Perubahan “nasib”.

Kita akan fokus dulu pada perubahan perilaku karena itu yang mendasari segalanya. Anda tidak dapat mengubah nasib Anda tanpa mengubah cara Anda berperilaku. Namun, bisa saja nasib Anda berubah karena faktor lain, tapi artinya bukan Anda yang mengubahnya. 

Dalam menentukan tujuan, Anda bisa menentukan 3 - 5 perilaku yang mau Anda ubah. Jangan terlalu banyak. Namun, juga jangan terlalu sedikit untuk tahap ini. Angka tersebut cukup masuk akal.

Kemudian temukan R, Resources. Ini adalah segala macam sumber daya dan bantuan yang Anda perlukan untuk menciptakan perubahan perilaku Anda. 

Lalu, pikirkan O atau opsi apa saja yang Anda miliki untuk memulai dan mengasah perubahan perilaku.

Kalau sudah memiliki daftar opsi, mulailah dengan merencanakan W, way forward. Ini adalah gambaran tentang kapan Anda menjalankan opsi yang Anda pilih untuk setiap perilaku yang Anda pilih. 

Saya berikan sedikit contoh di bawah ini

Goal:

1. Membuat daftar pekerjaan mingguan.

2. Mempelajari satu topik terkait pengelolaan emosi.

3. Mengungkapkan pendapat di rapat bulanan.

Resources:

1. Manager/atasan: untuk diskusi tentang pekerjaan

2. Gawai, untuk mencari artikel tentang mengelola emosi

3. Uang, untuk mendaftar d kursus public speaking

Opsi:

1. Diskusi dengan atasan saat makan siang.

2. Diskusi dengan atasan sambil ngopi sore.

3. Website: psychology today, psychcentral, verywellmind

4. Kursus online, ikut kegiatan toastmaster, dll

Way forward:

1. Meminta kesediaan atasan membantu (segera)

2. Mendaftar kursus online (sore ini)

3. Mendaftar kursus offline (besok pagi)

4. Menjadwalkan diskusi dengan atasan.

5. Mulai berpendapat di rapat bulanan berikutnya (minggu kedua)

6. Mulai membuat daftar tugas minggu kedua)

7. Dll

Selamat mencoba!

ACT, Menjalankan tak selalu Menyenangkan

Let me be honest. Di dunia ini jarang ada perubahan yang mudah dan mulus. Bahkan ketika itu hanya menyangkut perubahan diri sendiri. 

Bagaimana pun, ada cara untuk menghadapinya. Tujuannya, agar perubahan tidak patah di tengah atau bahkan di awal jalan.

Pertama, Anticipate. Bersiaplah untuk menghadapi atau menerima setiap hambatan yang mungkin Anda temui. Tanamkan pada diri Anda bahwa apapun yang mungkin salah, bisa terjadi kapan saja dan bahwa Anda siap menghadapi atau menerimanya. Jangan tunggu sudah terjadi baru Anda mengkondisikan mental Anda. Siapkan dari sebelum terjadi. 

Kedua, commit. Anda perlu lebih dari sekedar niat dan tekad dalam bertindak. Anda butuh perasaan “terikat dan ter-akad” dengan tujuan dan rencana Anda. Sehingga, apapun yang menghambat, Anda punya komitmen untuk tetap berproses sampai tujuan berhasil. 

Ketiga Tract. Selalu pantau dan dokumentasikan proses Anda. Lihatlah risiko dan konsekuensi apa saja yang Anda alami dalam perjalanan. Contoh: “saat ajak atasan diskusi pd jam makan siang, nampaknya jadi terburu-buru. Harus cari strategi lain.”

Lakukan ACT ini saat Anda mulai menjalani perubahan.

PERUBAHAN: Tidak harus Memaksakan Diri

Di tahap GROW dan ACT, barangkali Anda mengeksplorasi banyak opsi untuk berubah. Tentu saja, merencanakan dan melaksanakan akan memberi Anda pengalaman yang berbeda. Tidak semua hal yang bagus di perencanaan, bagus pula setelah dicoba. 

Di sisi lain, saat Anda mengeksekusi rencana, di tengah jalan kadang ada temuan-temuan tentang cara bertindak yang lebih efektif. Lalu Anda mencobanya. Hasilnya ternyata sama atau lebih baik dari yang Anda inginkan.

Ini wajar. Perspektif kita sebelum melangkah dan selama melangkah serta setelah melangkah bisa jadi berbeda. Namun, perencanaan tetap diperlukan karena seringkali justru strategi baru yang muncul di tengah-tengah ditemukan karena kita menjalankan rencana kita. 

Di tahap ini, saya menyarankan melakukan metode SSS atau simak, sadari, seleksi.

Simak perjalanan Anda, dokumentasikan apa yang Anda alami selama tiga minggu di tahap ACT. Sadari hal-hal yang Anda temukan. What worked? What didn’t work? What worked better

Kemudian, sortir atau seleksi hal-hal yang Anda temukan dan tuangkan dalam daftar:

1. Stop doing: hal yang Anda rasa tidak perlu diteruskan.

2. Start doing: hal yang saat Anda jalankan rencana di tahap ACT baru Anda temukan, belum Anda coba.

3. Minimize doing: yang Anda mau kurangi, tapi mungkin kadang masih perlu.

4. Optimize doing: hal yang sudah dilakukan dan Anda mau lebih optimalkan. 

Kuncinya, perubahan tidak harus memaksakan diri. Buat pilihan mana yang jadi fokus Anda. Setidaknya pilih berdasarkan perimbangan antara:

1. Kerealistisan.

2. Manfaat untuk diri dan orang lain.

3. Risiko yang lebih sedikit dari manfaat.

Happy sorting out!

JADI “BARANG”!

Anda sudah merancang, sudah mencoba, dan sudah memutuskan mana yang akan diteruskan mana yang tidak. Berikutnya, jadikan itu kebiasaan baru. Perubahan yang Anda pilih harus jadi “barang”. 

Lima minggu sebelumnya adalah proses mencari arah dan tindakan yang paling efektif. Minggu keenam, seharusnya perubahan yang dituju sudah cukup nyaman untuk dipermanenkan. Anda punya lima minggu untuk mengeksplorasi, kini saatnya bertekad untuk membangun aspek diri yang baru.

Transfer of Learning (ToL) adalah skema yang ditawarkan di tahap ini. Dalam ToL ada tiga hal yang akan membantu Anda “istiqomah” menjalankan perubahan permanen:

1. Journaling: catat kemajuan/kemunduran Anda

2. Buddy system: miliki 1-2 orang yang siap memberi masukan untuk Anda secara berkala.

3. Reward system: pastikan Anda ada dalam sistem yang mengapresiasi perubahan Anda atau buatlah program pemberian insentif untuk diri sendiri. Yang sederhana misal membelikan diri sendiri semangkuk bakso setelah Anda berhasil menyuarakan ide Anda di rapat bulanan.

Demikianlah enam minggu yang Anda butuhkan untuk berubah menjadi lebih baik. Selamat mengaplikasikannya ke dalam kehidupan Anda.  

Share:

4 comments:

  1. Menarik nih! Bisa buat diaplikasikan di kantor setahap demi setahap. Btw, kapan ya aku terikat dan ter-'akad'??? Hahahaha XD

    ReplyDelete
  2. Kesalahan saya adalah dengan sering memberi reward pada diri sendiri berupa waktu untuk bermalas-malasan.., setelah kerja keras, bolehlah bermalasan seminggu.., nambah seminggu lagi, terus dan teruss.... :D

    ReplyDelete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;