Tuesday, November 10, 2020

Memperkenalkan Psikologi Wanita dan Gender

Bagi yang berlangganan (dan rajin membaca) blog ini pasti teman-teman sudah tahu kalau saya merangkum buku Social Psychology karangan David G. Myers. Nah, bagaimana? Apakah teman-teman suka dengan rangkuman saya tersebut? Semoga suka ya. Dan, apakah teman-teman menantikan rangkuman saya yang lain? Jika jawabannya iya, maka teman-teman beruntung. Karena saya akan merangkum buku (teks kuliah) lainnya. Kalau tidak, ya tidak apa-apa juga sih. Terserah teman-teman saja mau baca atau tidak. Ha, ha.

Penggemar: Memangnya buku apa yang mau kamu rangkum, Kim?

Kali ini saya mau merangkum The Psychology of Women and Gender, yang menulis Nicole M. Else-Quest dan Janet Shibley Hyde. Bukunya edisi ke sembilan. Terbitan tahun 2018 dari Penerbit SAGE Publications, Inc. Mungkin tidak semua bab akan saya rangkum. Saya akan merangkum yang penting-penting saja karena untuk menghemat waktu dan tenaga.

Penggemar: Bilang saja kalau kamu malas, Kim.

Iya, iya, saya ngaku deh. You caught me red-handed.

Chapter 1: Introduction


Sebelum kita melangkah lebih lanjut, ada pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu kenapa kita harus belajar Psikologi Wanita dan Gender (The Psychology of Women and Gender)? 

Ketika saya menanyakan pertanyaan tersebut ke diri saya, jawaban saya adalah karena saya perempuan. Saya ingin lebih mengenal tentang perempuan, tentang diri saya sebagai perempuan. Sebenarnya saya sedang dalam misi ingin belajar feminisme, tetapi saya merasa mempelajari Psikologi Wanita juga bisa membantu saya memahami tentang perempuan. Misalnya, apa artinya menjadi seorang perempuan? Bagaimana rasanya identitas dibentuk oleh ras, kelas, orientasi seksual, atau jenis kelamin? Apakah hormon di otak memengaruhi cara pria dan wanita bersikap dan berperilaku? Dan sebagainya.


gambar dari sini


Lagipula, dulu sewaktu di kampus saya juga pernah mengambil mata kuliah Psikologi Wanita ini. Jadi, tidak ada salahnya untuk menyegarkan kembali ingatan. 

Harapan saya, dengan saya membaca, mempelajari, dan merangkum buku ini, saya bisa lebih memahami diri saya sebagai perempuan, kondisi masyarakat kita, terutama kondisi perempuan pada khususnya. Juga, saya berharap saya bisa menghilangkan, atau setidaknya, mengurangi pandangan-pandangan patriarki yang sudah terlanjur melekat di dalam pikiran.

Oh iya, di tengah-tengah tulisan, atau di mana saja letaknya, bisa saja ada glosarium atau kosakata penting. Seperti ini:

Glossary:

Cisgender: A person whose gender identity matches the gender they were assigned at birth.
Gender: The state of being male, female, both male and female, or neither male nor female.
Gender binary: A system of conceptualizing gender as having two distinct and opposing groups or kinds (i.e., male and female)
Genderqueer: A gender category that is not exclusively male or female and therefore is not captured by the gender binary.

Selain kosakata di atas, kita juga sekarang makin sering mendengar istilah transgender. Transgender adalah seseorang yang mengidentifikasikan dirinya berbeda dari gender sewaktu dia lahir. Misalnya, transgender wanita adalah seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai wanita, tetapi dia terlahir sebagai pria. Atau, transgender pria adalah seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai pria, tetapi dia terlahir sebagai wanita.

Terminologi lain yang akan sering kita temui dalam buku ini adalah sexism atau seksisme. 

Sexism: Discrimination or bias against other people based on their gender; also termed gender bias or sex bias.

Ada empat jenis seksisme, yaitu:
1. Old-fashioned sexism: Open or overt prejudice against women.
2. Modern sexism: Subtle prejudiced beliefs about women; also termed neosexism.
3. Hostile sexism: Negative, hostile attitudes toward women and adversarial beliefs about gender relations.
4. Benevolent sexism: Beliefs about women that seem to be kind or benevolent; women are seen as pure and morally superior beings who should be protected and adored.

Istilah berikutnya yang harus kita ketahui adalah feminis. 

Feminist: A person who favors political, economic, and social equality of all people, regardless of gender, and therefore favors the legal and social changes necessary to achieve gender equality.

Menilik dari sejarah, ada empat gelombang feminisme. Gelombang pertama feminisme terjadi sekitar di akhir tahun 1800an dan di awal 1900an di Britania, Kanada, dan Amerika Serikat. Pada gelombang ini, perjuangan para feminis berfokus pada hak wanita untuk dapat voting. 

Gelombang kedua feminisme dimulai di tahun 1960an hingga 1990an. Isu yang diangkat lebih luas, seperti kebebasan seksual; hak reproduksi, seperti kontrasepsi dan aborsi; gaji yang setara; pendidikan yang setara; dan kekerasan berdasarkan gender. 

Gelombang ketiga feminisme dimulai di sekitaran tahun 1990an. Gelombang ketiga feminisme lahir sebagian karena merupakan perlawanan atau ketidaksepakatan dengan perjuangan gelombang kedua feminisme. Menurut feminis di gelombang ketiga ini, gelombang kedua terlalu fokus pada wanita kulit putih dan mengabaikan wanita kulit hitam (atau berwarna) sehingga lahirlah intersectionality.

Intersectionality: A feminist approach that simultaneously considers the meaning and consequences of multiple categories of identity, difference, and disadvantage.

Dan sekarang kita berada di gelombang keempat feminisme di mana fokusnya adalah perkembangan teknologi, seperti media sosial (blog, Twitter, Facebook, dan lain-lain). Misalnya, gerakan #MeToo yang sempat ramai di Twitter. 

By the way, ada cerita menarik dengan tema feminine evil. Sebelumnya, apa itu feminine evil?

Feminine evil: The belief that women are the source of evil or immorality in the world, as in the Adam and Eve story.

Contohnya, cerita Nabi Adam dan Hawa. Hawa dianggap penyebab manusia harus terlempar keluar dari surga dan hidup di Bumi yang fana ini karena dia memakan buah yang dilarang oleh Tuhan. Contoh cerita lainnya, Zeus menyuruh Vulcan untuk menciptakan Pandora yang akan membawa kesengsaraan di Bumi sebagai ganjaran dari dicurinya api oleh Prometheus. Pandora diberi sebuah kotak. Dia dilarang untuk membuka kotak tersebut. Namun, seperti yang kita tahu Pandora membuka kotak tersebut sehingga semua kejahatan keluar dari kotak tersebut dan tersebar ke seluruh dunia.

Ada juga yang namanya male as normative. 

Male as normative: A model in which the male is seen as the norm for all humans and the female is seen as a deviation from the norm.

Intinya, pria selalu dianggap sebagai hal yang lumrah, sesuai norma, untuk seluruh manusia, sementara wanita dianggap sebagai sebuah penyimpangan dari norma tersebut Misalnya, Adam diciptakan terlebih dahulu, sementara Hawa diciptakan belakangan dari tulang rusuk Adam. Ini menunjukkan pria diciptakan terlebih dahulu, yang berarti bahwa pria itu penting. Sementara wanita hanyalah dianggap sebagai sebuah varian. 

Nah, sampai di sini dulu perkenalan kita dengan Psikologi Wanita dan Gender. Sampai jumpa di bab berikutnya!

Daftar Pustaka:

Else-Quest, N. M, & Hyde, J. S. (2018). The psychology of women and gender: Half the human experience (9th edition). United States of America: SAGE Publications, Inc. 
Share:

0 comments:

Post a Comment

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;