Sunday, November 22, 2020

[Review] Miss Peregrine's Home for Peculiar Children

Judul: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children
Sutradara: Tim Burton
Penulis: Ransom Riggs (novel), Jane Goldman (screenplay)
Pemain: Eva Green, Asa Butterfield, Samuel L. Jackson
Tanggal rilis: 29 September 2016 (UK)
Durasi: 127 menit
Rating: 5 dari 5⭐ - it was amazing

Jake Portman (Asa Butterfield) adalah seorang remaja yang biasa saja. Dia tidak populer dan tidak punya banyak teman. Suatu hari, kakeknya -- Abe Portman (Terence Stamp) -- ditemukan tewas dengan matanya hilang.

Jake sangat terpukul dengan kematian kakeknya karena hubungan mereka yang dekat. Sewaktu kecil, kakeknya selalu menceritakan kisah hidupnya dengan anak-anak peculiar di rumah panti asuhan yang dirawat oleh Miss Alma Peregrine (Eva Green). Karena sering merasa melihat monster, atau sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain, Jake merasa dirinya gila. Dia pun konseling ke Dr. Golan (Allison Janney).

Dr. Golan bilang adalah hal wajar Jake berhalusinasi karena kehilangan kakek yang dicintainya adalah sebuah pengalaman traumatis. Ketika Jake datang ke Dr. Golan membawa petunjuk dari kakeknya, Dr. Golan mendorong Jake untuk ke Wales dan melihat rumah panti yang sering disebut-sebut oleh Abe. Di sinilah petualangan Jake dimulai.

Alur cerita berjalan cukup lambat. Untuk memberitahu bahwa sebenarnya Jake juga peculiar terasa berbelit-belit. Bikin rasa penasaran dan tidak sabar saya muncul. Namun, di sisi lain, meski demikian saya tetap menikmati film dalam ketidaksabaran, terutama setelah mengetahui bahwa Jake ternyata juga memiliki kekuatan.

Ceritanya mulai seru begitu Jake tahu kalau dia punya kekuatan juga. Dan akhirnya Miss Peregrine menceritakan rahasia yang selama ini disimpan. Jake jadi tahu hanya orang-orang yang peculiar atau "aneh", yang bisa memasuki time loop. Dan bahwa Miss Peregrine, seorang Ymbrine, yang bisa memanipulasi waktu, menggunakan time loop untuk melindungi anak-anak spesial tersebut dari dunia luar dan mereka tidak pernah menua. Tepatnya, time loop mereka di tanggal 3 September 1943. Buat Miss Peregrine dan anak-anak, waktu berhenti di tanggal tersebut. Mereka selalu mengulang tanggal tersebut setiap harinya. Itulah yang membuat mereka abadi dan tidak menua. 

Kekuatan Jake adalah dia bisa melihat monster atau yang disebut Hollowgasts, biasa disingkat Hollows. Hollows ini adalah mereka yang juga memiliki kekuatan, tetapi tidak mau terjebak dalam time loop, seperti Miss Peregrine dan anak-anak. Mereka mencari cara untuk menjadi abadi dan hidup di luar time loop. Untuk itu, mereka harus memakan bola mata mereka, terutama anak-anak, yang peculiar.

Bagi yang sudah pernah menonton film-film -- atau bagi para fans -- Tim Burton pasti sudah terbiasa dengan gayanya dalam sebuah film. Dengan ciri khasnya, peculiar-nya, Miss Peregrine's sangat saya nikmati. Eva Green sangat komikal dengan pipa rokoknya (gaunnya membuat Green terlihat anggun, by the way) dan Samuel L. Jackson dengan gaya nyentriknya, membuat film ini sangat berwarna.

Sebelumnya, melihat nama besar Judi Dench dan Samuel L. Jackson membuat saya bertanya-tanya peran apa yang mereka mainkan di sini. Dench berperan sebagai Miss Avocet, yang juga seorang Ymbrine. Perannya tidak banyak. Dan, saya sangat menanti-nantikan kemunculan Jackson yang ternyata menjadi seorang antagonis, yaitu Barron.

Separuh film berusaha mengenalkan anak-anak peculiar yang ada di rumah Miss Peregrine dan seperti yang sudah saya tulis di atas, juga menceritakan dan mengenalkan Jake kepada kita. Selama separuh film itu, saya penasaran apa yang menjadi konflik cerita. Sampai akhirnya pertanyaan saya terjawab dengan kemunculan Barron dan cerita pun semakin seru. Dia nyentrik, dia gila, dia jahat, tapi beberapa dialognya membuat dia lucu. Dia memakan semangkuk bola mata dengan ringan dan seolah-olah bola mata itu adalah makanan yang lezat.

Dari salah satu resensi yang saya baca, ada yang bilang film ini terlalu tergesa-gesa dan tidak menjelaskan begitu detil tentang anak-anak aneh dengan kekuatan super tersebut sehingga karakter mereka dirasa kurang mendalam. Saya tidak berkeberatan dengan hal tersebut. Karena bukankah film ini memang fokusnya pada Jake? Saya rasa dengan memberitahukan masing-masing kekuatan yang dimiliki oleh para Peculiars dan melihat mereka bertarung menggunakan kekuatannya sudah cukup menjelaskan. Intinya, dibalik kekuatan supernya, mereka adalah anak-anak yang lucu dan menggemaskan, layaknya anak-anak normal. Meski ada satu anak (tepatnya sudah remaja sih) bernama Enoch (Finlay MacMillan) yang awalnya cukup menjengkelkan karena sikapnya ke Jake.

Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama dan saya jadi penasaran dengan novelnya. Saya penasaran ada hubungan apa sebenarnya antara Emma (Ella Purnell) dengan Abe muda. Karena di film digambarkan seperti ada hubungan khusus antara mereka berdua, sewaktu Abe masih tinggal bersama Miss Peregrine dan para Peculiars, yang (sepertinya) berefek pada Enoch yang marah-marah dan tidak menerima kedatangan Jake.

Akhir ceritanya berakhir bahagia tentu saja. Abe memberi hadiah ulang tahun pada Jake untuk mengejar Emma. Abe seperti mengikhlaskan Jake untuk tetap menjadi "aneh", berkumpul dengan mereka yang juga "aneh", karena di sanalah Jake bisa menjadi dirinya sendiri dan memiliki teman. Jadi, barangkali pesan dari film ini adalah agar kita tetap menjadi diri kita sendiri. So, stay peculiar, guys.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;