Saturday, January 30, 2021

Perjalanan Menuju Gelar S2 Dimulai dari Sekarang

Sudah sejak lama sekali saya ingin melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Bahkan, waktu S1 belum selesai pun saya sudah berangan-angan akan langsung melanjutkan kuliah. Saya ingin mendalami bidang yang sesuai dengan minat saya, yaitu Psikologi Sosial. Waktu masih S1 dulu impian saya ingin melanjutkan ke kampus di luar negeri. Kalau tidak bisa, yah di Universitas Gadjah Mada tidak apa-apa. Ceritanya saya ingin mencoba sesuatu yang baru, ya kampus baru dan kota baru. Kalaupun ternyata tidak bisa juga, ya minimal kembali ke kampus lama saya deh.

Lulus kuliah, saya pulang kampung, mengurus ayah yang sakit kanker usus waktu itu, dan bekerja. Niat untuk kuliah lagi pun terpinggirkan, tetapi saya tidak pernah melupakan. Apalagi ditambah teman-teman saya melanjutkan kuliah ke S2 dan keponakan-keponakan saya yang pintar-pintar sudah pada kuliah, saya merasa deg-degan. Maksud saya, deg-degan karena di satu sisi saya senang teman-teman saya sudah pada S2 dan keponakan-keponakan saya berprestasi di kampusnya masing-masing, tetapi di sisi lain saya merasa iri dengan teman-teman saya dan saya merasa tersaingi dengan para keponakan saya. Jadi, semangat untuk kuliah lagi kembali menyala.

Namun, sejujurnya saya tidak pernah percaya diri dengan kemampuan saya. Saya tidak yakin dengan kapasitas otak saya karena saya tidak cukup pintar. Saya takut berhenti di tengah-tengah jalan karena saya yang terlalu bodoh untuk mencerna materi kuliah. Bahkan sampai sekarang saya masih heran dengan diri saya sendiri kok saya bisa lulus S1. Ditambah, saya tidak punya uang untuk bayar biaya kuliah. S2 itu mahal, Bruh.

Ketika pikiran itu datang, saya menepis keinginan untuk kuliah lagi. Sudahlah, saya cukup puas dengan titel S1 saya. Sehingga kalau ada saudara atau teman yang bertanya kenapa saya belum kuliah S2, saya biasanya menjawab, "Saya terlalu miskin untuk bayar sendiri dan terlalu bodoh untuk dapat beasiswa." 

Di pertengahan tahun lalu, saya mulai berpikir serius untuk melanjutkan kuliah. Kali ini saya punya alasan kuat, yaitu untuk meningkatkan karir. Ibu dan kakak saya juga mendukung niat saya ini. Berhubung saya masih baru di tempat kerja saya yang sekarang, saya belum bisa untuk mengajukan cuti atau izin buat kuliah. Oleh karena itu, saya harus mencari kampus yang fleksibel dan tentu saja yang murah. Karena saya bayar sendiri dan berhubung saya bukan anaknya Setya Novanto, jadi harus tahu diri dengan kemampuan kantong. 

Setelah ngobrol-ngobrol dengan teman kantor, saya jadi berminat untuk daftar di Universitas Terbuka (selanjutnya disingkat UT). Teman saya tersebut sedang menimba ilmu di sana. Saya pun membuka website UT dan selama beberapa waktu saya rajin main ke website-nya. Saya mencari tahu program Pasca Sarjana mereka apa saja, kurikulumnya, deskripsi mata kuliahnya, metode pembelajarannya, dan biayanya. Saya merasa, ehm, oke, sepertinya UT cocok buat saya. UT bukan kampus abal-abal, jam kuliahnya fleksibel, belajarnya daring, dan biaya murah untuk ukuran biaya Pasca Sarjana. So, why not?

Untuk jurusan, saya memutuskan mengambil Magister Manajemen bidang minat  Manajemen Sumber Daya Manusia. Saya tidak ambil Psikologi Sosial karena, well, di UT tidak ada Psikologi Sosial dan Manajemen SDM linear dengan pekerjaan saya. 

Sekarang saatnya saya realistis. Buat apa saya mengambil Psikologi Sosial dan capek-capek kuliah kalau pada akhirnya ijazah tidak diakui oleh institusi berwenang sehingga gelar saya tidak diakui? Bakalan buang-buang waktu dan uang kan. Meski sejujurnya saya tidak suka dengan mata kuliah yang ada, tetapi ya sudahlah saya telan saja. Demi meningkatnya karir dan gaji beserta tunjangan. Mwahahaha.

Untuk membuktikan keseriusan, saya sampai bela-belain beli laptop baru karena laptop lama saya, si Sophie, sudah uzur dan sudah suka mati sendiri. Laptop baru saya itu saya beri nama Cipta Karya, tetapi sepertinya saya mau ganti nama saja laptopnya menjadi Bruno. Untuk mengenang kucing kesayangan saya yang sekarang sudah diadopsi sama teman saya. Cerita lengkapnya nanti di tulisan lain ya.

Bukti keseriusan berikutnya adalah saya ikut berlangganan Microsoft 365 Family bareng teman Plurk. Soalnya Microsoft Office di laptop saya kan bajakan sehingga tidak bisa dipakai lagi. Saya pikir saya butuh aplikasi yang familiar seperti Microsoft Word dan teman-temannya untuk kemudahan saya mengerjakan tugas dan lain-lain. Saya bahagia banget setelah berlangganan Microsoft 365. Soalnya murah, bisa pakai produk Microsoft asli, dan dapat jatah penyimpanan di OneDrive sebesar 1TB. Alhamdulillah banget kan?

Akhirul kalam, mohon doanya ya, teman-teman semuanya, semoga kuliah saya lancar dan saya bisa survive S2. Saya tidak sabar untuk segera mulai kuliah, tetapi saya deg-degan juga takut gagal. Ha, ha, ha. 
Share:

4 comments:

  1. waah, selamat kuliah lagi, Kimi! aku malah kayanya ngga minat untuk ambil sekolah lagi.. otak udah terlalu tua.. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat, Mas Zam! Tidak pernah ada kata tua untuk sekolah lagi. :D

      Delete
  2. semangat, Kim!
    seneng dengernya euy

    ReplyDelete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;