Tuesday, February 2, 2021

[Resensi Film] Soul

Judul: Soul 
Sutradara: Pete Docter
Penulis: Pete Docter, Mike Jones, Kemp Powers
Pemain: Jamie Foxx, Tina Fey, Graham Norton
Tanggal rilis: 11 Oktober 2020
Durasi: 101 menit
Rating: 4 dari 5⭐- really liked it

Akhirnya nonton Soul juga. Ceritanya tentang Joe Gardner (Jamie Foxx), seorang guru musik paruh waktu di sebuah sekolah dan guru les musik. Passion-nya memang di musik. Cita-citanya ingin jadi musisi jazz terkenal.

Suatu hari setelah mendapat tawaran untuk tampil bermain musik dengan Dorothea Williams (Angela Bassett), Joe senang bukan kepalang. Akhirnya dia bisa tampil dengan musisi tenar! Saking senangnya dia tidak hati-hati dan jatuh ke selokan. Lalu, dia mati.

Joe kaget karena dia tahu-tahu berada di alam sesudah mati, tempat roh-roh yang akan melangkah ke alam berikutnya. Joe tidak terima kalau dia sudah meninggal karena dia harus tampil malam itu juga. Joe pun berusaha kabur dari alam tersebut.

Ketika Joe berusaha kabur, terjadi kesalahpahaman yang membuat dia harus menjadi mentor bagi 22 (Tina Fey). 22 ini adalah calon jiwa yang dipersiapkan untuk lahir ke Bumi.

22 sudah memiliki banyak mentor, mulai dari Archimedes sampai ke Bunda Teresa, tetapi dia tidak lulus juga karena dia terlalu sinis dengan hidup. Dia pikir buat apa hidup di Bumi? Lebih enakan di alam sebelum kehidupan. Tidak perlu pusing memikirkan tujuan hidup, mau jadi apa nantinya. 22 tidak punya motivasi, tidak punya semangat, tidak punya spark untuk membawanya lahir ke Bumi. Tugas Joe lah untuk membantu agar 22 bisa menemukan spark-nya dan dia bisa hidup di Bumi.

Begitu 22 muncul, saya langsung bisa relate dengan dia. 22 itu saya. Sampai sekarang saya masih punya pikiran mungkin lebih baik saya tidak lahir. Maksud saya, buat apa terlahir dan hidup di Bumi yang sudah rusak ini? Saya membayangkan sepertinya lebih enak jadi jiwa-jiwa yang tidak terlahir. Tidak perlu merasakan pahitnya hidup. Juga tidak perlu pusing dengan tuntutan masyarakat, seperti mau jadi apa, punya rumah atau tidak, punya mobil atau tidak, punya tabungan berapa, dan sebagainya. Lebih enak jadi 22, menjadi bakal calon jiwa yang selamanya berada di alam sebelum kehidupan.

Di sini saya mikir, anjir, ini film filosofis amat ya. Berat, cuy, topiknya.

Yang kemudian terasa makin berat ketika akhirnya kita jadi tahu alasan sebenarnya kenapa 22 tidak mau hidup. Omongan-omongan para mentornya sangat membekas, terutama omongan dari Joe. Tanpa disadarinya, hal tersebut membuat 22 melabeli dirinya sebagai orang yang tidak berguna dan tidak cukup baik untuk hidup. So, what's the point of living?

Iya, ya. Terkadang kita terlalu terbebani dalam menjalani hidup. Harus punya passion lah, harus menjadi "orang" lah, harus begini lah, harus begitu lah, dan itu sungguh melelahkan. Bagi sebagian orang, hal itu cukup memberatkan mental mereka. Kenapa kita tidak coba untuk menjalani hidup secara sederhana? Maksud saya, menikmati setiap menitnya tanpa ada beban, mensyukuri hidup. Bersyukur masih bisa bernafas, bersyukur masih bisa menikmati alam, bersyukur memiliki keluarga dan sahabat. Enjoy your life to the fullest. Treasure every moment. Be grateful.

Buat saya yang berpikiran seperti 22 di awal film, saya akan mencoba menasihati diri sendiri sekarang.

Tidak apa-apa, Kim, kamu hidup. Kamu sudah terlanjur lahir. Jangan menyesali hidup. Jalani sebaik yang kamu bisa. Jangan lupa bersyukur. Karena kamu lahir kamu bisa bertemu dengan orangtuamu yang luar biasa, yang sudah melahirkan dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Mengenal mereka adalah anugerah terbesar yang harus kamu syukuri.

Terima kasih, Pixar, atas film yang sangat bermakna ini.
Share:

2 comments:

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;