Saturday, March 20, 2021

Tentang Berbuat Baik

Sewaktu saya terkena depresi tahun lalu, Yudi menghubungi saya. Dia mendengarkan saya bercerita. Ada kalanya saya menangis dan Yudi masih saja betah mendengarkan. Lalu, ada Om Ayah yang cukup rajin memantau keadaan saya pada waktu itu. What they did meant a lot to me. They saved my life. Thank you.

Saya merasa bersyukur masih ada orang baik yang peduli dengan keadaan saya meski tidak kenal dekat atau jarang kontak. Yang mana terkadang saya suka heran sendiri dan gobloknya saya tanya ke Yudi, "Why did you help me?" Buat saya, yang orangnya terlalu logis, membantu orang lain itu kalau saya kenal dekat, yah, minimal sering kontak. Jadi, apa yang Yudi dan Om Ayah lakukan itu buat saya terasa aneh. 

Saya ingat jawaban Yudi. Dia bilang, "It's in my blood." Dengan kata lain, buat Yudi menolong orang lain itu menyenangkan. Sama halnya dengan Om Ayah yang memang kerjaannya senang mendengarkan curhat orang-orang, secara profesional juga. 

Buat beberapa orang, menolong orang lain, sekalipun orang asing, itu panggilan hidup. Entah hanya dalam bentuk menawarkan sepasang telinga untuk mendengarkan atau memang bekerja di bidang sosial. Buat beberapa orang lain, they simply don't really care. 


Akan tetapi, kalau dipikir-pikir, kenapa banyak sekali warganet yang mau membantu orang lain yang tidak pernah mereka temui sebelumnya? Kenapa banyak orang yang menyumbangkan uangnya ke salah satu kampanye yang ada di Kitabisa, misalnya? Kenapa ada orang-orang yang mau meluangkan waktu menulis komentar memberikan semangat di postingan seseorang yang sedang gloomy, dark, dan ada suicidal thoughts

Di kelas Moralities of Everyday Life di Coursera, yang sedang saya ikuti sekarang, mencoba menjawab pertanyaan semacam itu. Paul Bloom menjelaskan dua teori etika, yaitu Utilitarian dan Deontology. Saya tidak akan menjelaskan di sini karena saya juga masih belum paham betul. Maklum, itu ranahnya filsafat yang saya tidak mengerti sama sekali. Wkwkwk. 

Sebenarnya menarik mempelajari moral. Nah, moral yang saya pelajari saat ini dari sisi Psikologi Moral, yaitu salah satu studi yang menggabungkan antara Filsafat dan Psikologi. Salah satu tokoh psikolog moral yang terkenal adalah Jonathan Haidt, seorang profesor di New York University Stern School of Business. Beliau yang menulis buku The Righteous Mind

Pertanyaan lain yang coba dijawab dari Psikologi Moral, seperti apa itu moral? Darimana moral berasal? Apakah manusia memang sudah sejak lahir terberi atau karena faktor lingkungan? Bagaimana moral berkembang? Apa itu empati, altruisme, dan compassion

Meski Psikologi Moral ini menarik, tetapi buat saya lebih asyik melihat moral dari sudut pandang lain, misalnya Biologi, evolusi, atau dari sudut pandang seorang primatolog, seperti Frans de Waal. Melihat di hewan lain juga memiliki empati itu bikin saya semakin sadar diri bahwa kita sebagai manusia tidak spesial-spesial banget. Jadi, tidak usah sombong jadi manusia. Wkwkwk.

Dua buku dari Frans de Waal sudah saya rangkum di blog buku saya, yaitu The Age of Empathy dan Good Natured. Dari The Age of Empathy saya jadi tahu kalau manusia ini berada di tengah-tengah antara simpanse dan bonobo. Maksudnya, manusia tidak seperti simpanse yang sangat agresif, tetapi kita juga tidak seperti bonobo yang sangat cinta damai. Manusia memiliki keduanya dan keduanya itu sangat penting untuk kebertahanan hidup manusia. Jadi, bisa dimengerti kalau manusia bisa jadi Good Samaritan, tetapi bisa juga jadi tukang bully


chimpanzees
we share about 98.6% of our DNA with them


Setelah saya belajar tentang moral begini apakah kemudian saya menjadi manusia bermoral baik dan selalu bertindak altruisme? Tentu saja tidak. Saya tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian kalau mau menolong orang lain. Sama seperti Paul Bloom yang punya kelemahan di empati, saya pun demikian. Saya menyadari empati saya cukup besar dan saya tahu kelemahan saya ini bisa dimanipulasi oleh orang jahat. Jadi, saya lebih memilih untuk menjaga jarak dari orang-orang yang tidak saya kenal dekat.

Saya bilang begini bukan berarti meminta kalian untuk berhenti berbuat baik. Nope, absolutely not. I just want to remind you that don't forget that people do cheat. Kalau dari sudut pandang evolusi, mereka ini tidak jahat. Mereka cuma mau bertahan hidup dan mewariskan gennya ke generasi berikutnya, meski itu berarti menghancurkan hidup orang lain. This is the bitter me that speaking. Wkwkwk. 

Wah, sungguh sebuah tulisan yang tidak jelas. Maklum, saya orangnya memang kebanyakan berpikir random. Hahaha. 
Share:

8 comments:

  1. Kak Kimi, setujuuu banget. Kadang kita terlalu baik sama orang tapi ujung-ujungnya jadi dimanfaatin πŸ˜… paling sering ujung-ujungnya jadi minjam uang terus nggak dibalikin πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya kamu punya pengalaman banyak ya soal ini? πŸ™Š

      Delete
    2. 🀣🀣🀣 pernah tapi nggak banyak kok soalnya aku nggak punya uitt πŸ€ͺ
      Paling sering dengerin cerita yang berbau seperti ini πŸ˜‚

      Delete
    3. Soal minjam meminjami ini, sepertinya gue juga punya pengalaman yang cukup banyak sampai pada suatu titik ya memang membantu di nilai yang biasa aku iklaskan saja ketika ada yang tidak (mau) bisa mengembalikannya hihihi

      Delete
    4. Betul Kak Didut. Pada akhirnya sistem itu juga yang aku terapkan dalam hutang menghutang, kalau mau meminjamkan dinominal yang kita ikhlas jika tidak kembali πŸ˜‚

      Delete
    5. @ Mas Didut
      Kalau aku sih biasanya malas minjemin. Kecuali orang yang aku percaya betul. Kalau ada yang minjem, biasanya aku bilang gak ada uangnya. πŸ™ˆ

      Delete
  2. Saya lihat, sekarang "venue" untuk berbuat baik sudah makin menyempit dan terpojok ke ranah personal. Dalam ranah profesional, ruang untuk berbuat baik ini makin berkurang karena yang jadi tujuannya cenderung hal-hal yang bersifat kuantitatif, misalnya profit.

    ReplyDelete
  3. Setuju mba Kim. Sekarang ini perlu sangat hati2 kalo mau menolong orang. Banyak yg bahkan tega mencatut foto orang2 sakit lain, dan mengaku2 itu anaknya, ibunya, keluarganya, dan butuh pertolongan segera. Aku banyak follow akun2 donasi, dan bbrp ada yg ngasih tahu donaturnya kalo bbrp 'korban', ternyata bukan korban.

    Itu yg bikin aku skr ini LBH pemilih kalo mau berdonasi. Tp di saat aku udh tau banget reputasinya seperti apa, even itu hanya donasi utk kucing jalanan, aku ga segan utk ikutan. Intinya memang reputasinya dulu. Supaya aku yakin utk menolong.

    Akh pernah baca salah satu lembaga donasi yg sudah terkenal, tp kemudian tersangkut berita kalo uang yg mereka trima utk kegiatan radikal. Aku lgs stop ga mau lagi memberikan donasi dlm bntuk apapun. Susah kalo reputasi udh tercoreng walo cm sedikit.

    ReplyDelete

Saya sangat menantikan komentar dari kalian. Asal jangan spam, jangan anonim, dan tetap sopan ya. Mari kita menghargai satu sama lain. Terima kasih.