Lebaran di Kampung Halaman Setelah 5 Tahun

Menurut Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra, seorang antropolog dari UGM, mudik berasal dari bahasa Melayu, yaitu udik. Seperti yang dikutip dari situs UGM:

“Berasal dari bahasa Melayu, udik. Konteksnya pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya.”

Beragam motivasi orang melakukan perjalanan mudik yang jauh dan melelahkan. Biasanya karena kangen dengan orangtua atau keluarga di kampung. Bisa juga untuk memamerkan pencapaian selama di rantau. Apapun itu alasannya, dulu saya tidak pernah mengerti kenapa orang-orang mau bermacet-macet dan berdesak-desakan pulang ke kampung halaman sebelum Lebaran, seperti yang sering dulu saya saksikan di berita televisi setiap menjelang dan sesudah lebaran Idulfitri.

Padahal setelah diingat-ingat sewaktu saya masih kuliah di Depok, saya juga melakukan mudik. Namun, barangkali itu sebuah keharusan karena masih ada orangtua. Belum ada perasaan sentimental sampai akhirnya empat tahun merayakan Idulfitri di kota orang barulah muncul rasa rindu dengan Bandarlampung, kota tempat saya lahir dan dibesarkan. 

Sebenarnya saya bingung juga mengapa saya bisa rindu dengan kota ini mengingat saya seringkali misuh-misuh kalau sudah membicarakan Bandarlampung dengan teman-teman dalam obrolan informal. Barangkali ini yang dinamakan love-hate relationship. Benci, tapi cinta. Cinta, tapi ya benci juga. Berarti betul yang dibilang orang-orang kalau benci dan cinta itu tipis perbedaannya. 

Terakhir saya merayakan Idulfitri di Bandarlampung tahun 2018. Bayangkan, lima tahun yang lalu! Tahun 2018 pula saya terakhir merayakan Idulfitri bersama Mama sebelum Mama meninggal tanggal 30 November 2020. Tahun 2019 karena ada sesuatu hal, saya memutuskan ikut kakak saya, Ses Renny, untuk berlebaran di Jakarta. Tahun 2020 dan 2021 sedang pandemi jadi saya lagi-lagi lebaran di Jakarta. Tahun 2022 kembali saya di Jakarta saya untuk berlebaran karena Ses Renny juga lebaran di ibukota mengunjungi mertuanya.

Tahun ini saya ingin mudik. Meski orangtua sudah tidak ada lagi, saya tetap ingin merayakan Idulfitri di rumah. Saya rindu dengan suasana lebaran di kota kelahiran, berkumpul bersama kakak dan para keponakan, kemudian silaturahmi mengunjungi sanak saudara. Terutama sekali saya kangen dengan masakan rumah. Ketupat, opor ayam, daging malbi, sop kaki sapi (dalam bahasa Lampung kami menyebutnya ukah-ukah), acar, sambal kentang adalah menu di rumah kami setiap Lebaran. Jika bosan dengan menu Lebaran, saya sudah mengatur jadwal untuk restaurant hopping alias dari satu tempat makan ke tempat makan lainnya alias wisata kuliner. Ada tempat-tempat makan favorit saya di Bandarlampung yang bisa saya rekomendasikan, tapi biarlah ini menjadi tulisan terpisah kalau saya masih berminat untuk menuliskannya.

Alhamdulillah, lebaran tahun ini, yang jatuh pada tanggal 22 April 2023 (karena saya lebaran mengikuti Pemerintah), saya berkesempatan untuk mudik. Tanggal 15 April 2023 saya sudah pulang, jadi masih bisa menjalani puasa di rumah. Alhamdulillah, semuanya terasa menyenangkan dan sesuai rencana. Puasa, lebaran, silaturahmi, makan-makan enak. Semoga energi bahagia saya bisa sampai ke teman-teman semua saat membaca tulisan ini ya. 

Saya tahu saat tulisan ini terbit, lebaran sudah lewat lebih dari seminggu. Namun, tidak ada salahnya saya tetap mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1444 H buat teman-teman yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin atas segala tulisan, komentar, interaksi kita selama ini baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mengabulkan doa-doa kita. Semoga kita semua masih diizinkan Allah SWT untuk bertemu lagi di bulan Ramadhan tahun depan. 




20 comments

  1. Selamat kembali bekerja kimi...
    Wkwkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaa... Tidak! Mengapa kau mengingatkan akuuu...

      Delete
  2. Kak Kimi, mohon maaf lahir dan batin juga ya πŸ™πŸ». Kalau ada kesalahanku dalam bertutur kata, semoga bisa dimaafkan πŸ™πŸ»
    Btw, aku suka iri dengan orang-orang yang masih punya kampung halaman atau bisa mudik ke kampung halaman, soalnya aku lahir dan besar di Jakarta, jadi waktu jaman sekolah suka bingung kalau ditanya kampungnya dimana πŸ˜‚. Waktu balik ke kampung, di kampung ramai nggak, Kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Lia. Kalau orangtua kamu lahir dan besar di Jakarta juga? Aku sih dulu waktu masih di Bandarlampung kalau ditanya kampungnya di mana, ya jawabnya kampung orangtuaku saja. Hahaha. Btw, Bandarlampung kemarin tidak terlalu ramai. Mungkin orang-orangnya juga pada mudik. Eh, atau mungkin karena aku jarang keluar rumah ya jadi gak tau juga ramai atau tidak? Hahaha.

      Delete
    2. Iya, orangtuaku juga lahir dan besar di sini πŸ˜‚. Nenek Kakekku yang bukan, tapi kita nggak pernah ke sana jadi kayak nggak punya kampung juga πŸ˜‚
      Hahaha aku pikir di sana ramai karena banyak yang datang dari Jakarta 🀣.

      Delete
  3. bagi sebagian orang, rumah adalah tempat di mana hati kita berlabuh. kampung halaman belum tentu menjadi tujuan "mudik"..

    selamat idulfitri, mohon maaf lahir batin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mas Zam! Mohon maaf lahir batin. Lebaran kemarin mudik gak, Mas?

      Delete
  4. Mohon Maaf lahir dan Batin Juga mbaa...
    Lohhh Mba Kimi orang Lampung juga? Kakakku juga tinggal di Lampung. Kemarin katanya sih lebaran mau mudik ke rumahku. Tapi nggak jadi. 🀣 sbnernya harusnya aku sih yg mudik kesana. Tapi pas tahu antrian ke kapal panjangnya bikin Hahahaha 🀣 jadi mager duluan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik pesawat, Bay, biar gak kena antrian panjang di kapal. Kayak aku kemarin. Hihihi.

      Delete
  5. Selamat hari raya Idul Fitri, Kimiii... mohon maaf lahir batin.

    ReplyDelete
  6. selamat lebaran mbak maaf lahir batin yaaa
    duh lampung ya mbak yag lavi viral memang sesautu
    tapi namanya kampung halaman ya gimana pasti love hate relationship
    aku sama kota kelahiranku juga gitu kok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf lahir batin, Mas Ikrom.
      Iyaaa... Lampung yang kemarin sedang viral itu. Wkwkwk. Btw, kota kelahiran Mas Ikrom di mana?

      Delete
  7. Aku dan Lulu masuk di part yang ngangenin gak?

    ReplyDelete
  8. Mohon maaf lahir dan batin ya mba Kimi πŸ™. Akhirnya bisa mudik juga πŸ˜„πŸ‘

    Aku malah mikir, kenapa orang mau bela2in macet di jalan demi mudik, ya sekarang ini mba. Padahal dulu sebelum nikah dipaksain tiap lebaran pulang. Kalo skr malah milih mudik setelah momen lebaran selesai. Ga kuaaaat macet Mbaaa 🀣. Kalopun mudiknya ke Medan tempat ortuku aku nunggu bukan lebaran, mahaaaal tiket pesawat πŸ˜‚, apalagi ber4.

    Cuma bisa ngerti kok kenapa orang2 mau pulang. Aku kalo dibilang rindu, ya pasti rindu banget Ama Medan dan solo. Tapi kayaknya trauma kejebak di jalan 30 jam jkt-solo, pas lebaran Bbrp THN lalu, masih membekas, jadi aku emoh ngulangin 🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohon maaf lahir batin, Mbak Fanny. Jadinya lebaran kemarin Mbak Fanny mudik gak?

      Delete
  9. walaupun teramat telaaaaat, karena baru buka feedly lagi (alesyan)
    saya tetep mau minta maaf, pasti punya banyak salah sama Kimi. Maaf lahir batin atas sgala salah khilaf ya kim, smoga dimaafin.

    dan senang melihat keluarga besar berkumpul di kampung halaman seperti itu :)

    ReplyDelete
  10. Ceritanya menarik. Jangan lupa kunjungi website https://unair.ac.id/

    ReplyDelete

Saya akan senang sekali jika kalian meninggalkan komentar, tetapi jangan anonim ya. Komentar dari anonim—juga komentar yang menggunakan kata-kata kasar, menyinggung SARA, dan spam—akan saya hapus. Terima kasih sebelumnya.