Sunday, January 16, 2011

[Book] Selimut Debu

Day 16. Post a Day 2011.

Judul: Selimut Debu
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan I, Januari 2010)
Tebal: xii + 468 halaman
ISBN: 978-979-22-5285-9
Harga: Rp 69.000,00

Pertama kali mendengar pengarang buku ini dan judulnya, masih terasa asing bagi saya. Namun, ketika saya membaca sinopsis di sampul belakang buku, ingatan saya kembali ke beberapa tahun silam. Sepertinya saya tahu penulis ini... Sepertinya saya pernah membaca tentang dirinya... Di suatu tempat. Tapi, dimana?

Aha! Saya ingat! Saya pernah membaca tentang dirinya di rubrik "Sosok" Kompas. Di situ saya berkenalan sekilas dengan pemuda ini. Ingatan yang masih melekat tentang dirinya adalah seorang backpacker yang rela merogoh dalam-dalam tabungannya untuk menjelajah kawasan Asia Tengah.

Saya akui saya bukan termasuk orang yang demen jalan-jalan atau travelling. Boro-boro backpacking. Jadi, kalau ada yang backpacking ke Asia Tengah, khususnya ke Afghanistan, saya angkat topi. Agustinus Wibowo berani sekali menjelajah Afghanistan, mulai dari Kabul, Kandahar, hingga ke perbatasan antara Afghanistan dan Tajikistan, yaitu Wakhan. Wakhan sendiri oleh pria Jepang--seorang backpacker yang bertemu dengan Agustinus--digambarkannya sebagai tempat yang... "... Begitu terpencil dan terlupakan. Sebuah surga di ujung dunia, terkunci waktu." (hal. 12)

Selama ini saya hanya mendengar Afghanistan dari berita-berita di tv dan koran. Sebuah negara yang tidak aman karena selalu dilanda perang. Ancaman bom bunuh diri sudah menjadi makanan sehari-hari. Lalu, bagaimana pandangan Agustinus sendiri terhadap negara yang sudah ia jelajahi setiap inchinya?

Tahun 2003 untuk pertama kalinya Agustinus menjejakkan kaki di Afghanistan. Dalam buku harian kumalnya ia menulis:

"Ini adalah perjalanan yang dimulai dari sebuah mimpi. Mimpi untuk menyingkap rahasia negeri Afghan. Mimpi yang membawa saya berjalan ribuan kilometer untuk menemukan rohnya, menikmati kecantikannya, merasakan air mata yang membasahi pipinya..." (hal. 9)

Tiga tahun kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Afghanistan. Ya, kembali ke negara yang tak henti dirundung perang. Ke negara yang membayangkannya saja saya takut. Tapi, tidak dengan Agustinus. Dia sungguh pemberani.

Ketika ditanya oleh temannya yang bernama Khalif di Peshawar apa yang sesungguhnya Agustinus cari di Afghanistan? Di buku ini Agustinus menjawab:

"Afghanistan punya magnet. Tak tahu apa itu. Mungkin misterinya, mungkin surganya yang tersembunyi. Tiga tahun berlalu, pikiran untuk segera kembali ke sana selalu menghantui saya. Dan sekarang, cuma tinggal selangkah lagi untuk sampai di negeri itu." (hal. 22)

Di saat teman-temannya yang pengungsi Afghanistan menolak untuk kembali ke negaranya, Agustinus justru mantap untuk kembali lagi mengunjungi negara itu. Melalui Khyber Agency yang menghubungkan Peshawar dan Kabul melintasi Celah Khyber, maka dimulailah kembali petualangannya di Afghanistan.

Afghanistan yang sekarang Agustinus kunjungi (tahun 2006) berbeda dengan Afghanistan tiga tahun yang lalu. Dulu penduduknya akan mengerubungi orang asing, sekarang mereka biasa saja ketika melihat orang asing. Kini di Afghanistan berdiri Kabul City Center, sebuah pusat perbelanjaan megah seantero negeri. Toko-toko di dalamnya menawarkan komputer, kamera digital, mesin cuci, perhiasan emas dan permata, DVD, hingga parfum Perancis. Di lantai atasnya pun berdiri hotel berbintang Safi Landmark.

Sungguh miris. Di saat penduduk Afghanistan masih harus bergelut dengan kemiskinan, peperangan, berdiri Kabul City Center di tengah-tengah mereka. Sebuah pertanda Afghanistan semakin aman dan maju? Bukan. Sebuah pertanda untuk menyenangkan kaum ekspatriat dan kaum bermodal banyak di sana.

Jika kita terus menelusuri Afghanistan melalui jari kita di buku ini, lembar demi lembar kita buka halamannya, kita akan terus disodorkan cerita tentang Afghanistan sesungguhnya. Afghanistan tidak hanya berupa Kabul City Center. Afghanistan lebih dari itu dan Agustinus memberikan kita sebuah catatan pengalaman langsungnya, dari sumber primernya, bukan dari sumber kedua, ketiga, keempat, atau entah lah sumber ke berapa.

Agustinus terjun langsung ke dalam masyarakat Afghanistan. Ia bergaul dengan mereka, menggunakan bahasa mereka, dan bersahabat dengan mereka. Ia mempelajari budaya mereka. Ah, sangat menarik, bukan? Membuat saya yang tidak tahu apa-apa ini saja menjadi iri dengan Agustinus.

Namun, ketika membaca pengalamannya yang nyaris diperkosa oleh Mahmud, pria Uzbek, di Maimana, saya bergidik ngeri. Mahmud si Bachabazi. Kalau diinggriskan menjadi playboy. Dan, ini bukan playboy yang suka gonta-ganti pacar wanita. Playboy kalau diterjemahkan secara literal (suka) bermain dengan anak laki-laki. Serius. Agustinus membahas tentang ini khusus di bab Bachabazi.

Homoseksual dan pedofilia? Tiba-tiba saya teringat The Kite Runner. Mengerikan. Bayangkan, bocah-bocah bisa diculik dan diserahkan kepada Bachabazi ini untuk "dimainkan". Bahkan, mereka bisa dipelihara hingga mereka remaja atau hingga bachabazi bosan dan mencari bacha-bacha (bocah laki-laki) yang lain. Dan ini termasuk budaya Afghan.

Ah, saya sedih membayangkannya. Anak laki-laki menjadi korban seksual. Dan ini sulit diberantas karena bachabazi adalah kultur mereka. sedih

Kalian terkejut ketika tahu tentang bachabazi ini? Sama, saya juga. Tapi, keterkejutan saya tidak hanya berhenti sampai disini. Masih banyak kejutan-kejutan lain yang diberikan oleh Agustinus melalui bukunya.

Apa saja kejutan itu? Saya tidak mau merusaknya dengan memberikan lebih banyak lagi spoiler. Kalau kalian penasaran, bolehlah kalian membeli buku ini dan membacanya langsung. Pastinya di buku ini kalian tidak hanya menemukan khaak atau debu di Afghanistan. Akan banyak sekali pelajaran tentang Afghanistan didalamnya.

Bukunya memang cukup tebal, tapi tidak membosankan. Kata-kata yang Agustinus gunakan dalam tulisannya sangat menyenangkan. Ia mampu menghipnotis saya dengan pilihan katanya yang cermat, ringan, namun tetap asyik dibaca. Buku yang tebal ini pun terasa enteng. Kesimpulannya buku yang layak untuk dikoleksi.

Skala 1 - 5, saya beri nilai lima untuk Selimut Debu.

p.s.: Agustinus Wibowo mengelola sebuah blog pribadinya di Avgustin.net. Silakan berkunjung kesana dan berlangganan blognya. Tapi, sayangnya terakhir blognya di-update 26 November 2010 yang lalu. Mudah-mudahan dia rajin update blog deh. sengihnampakgigi

p.s. lagi: Saya sudah membuat halaman baru di blog ini, yaitu blogroll. Isinya ya alamat-alamat blog punya teman-teman saya, baik teman offline maupun online, dan juga blog-blog yang saya suka tulisan-tulisannya. Silakan dilihat-lihat dan happy blogwalking!


10 comments:

  1. Pertama tau dari GR, tapi baru penasaran doang sih, belum sampe nyari. Denger-denger Gramed lagi berusaha nawarin haknya ke penerbit luar biar bisa diterjemahkan dan di edarkan di luar. Sepertinya Gramed juga percaya banget buku ini punya nilai lebih. :D

    Bachabazi itu kultur? Ya-am-pun. Serem banget kalo sexual abuse jadi sesuatu yang di anggap biasa.. Ngga kebayang. Mana anak lelaki kecil di Afghanistan kan cakep-cakep. Ngga relaaaa...

    ReplyDelete
  2. Kayaknya justru jika petualang sejati sepertinya petualangan2 ke Afghanistan atau daerah2 yang konflik dan keras menjadi kenikmatan tersendiri, kalau negara2 Eropa, Amerika dan negara2 maju lain, memang semuanya provided tapi bagi mereka2 ini nampaknya membosankan. Tapi kalau masalah homoseksual dan pedofilia sih nggak usah jauh2 ke Afghanistan, itu di negeri kita juga banyak... huehehehe....

    ReplyDelete
  3. Review yang bagus!
    Afghanistan. Ya, saya pernah mendengar kalau disana begitu terkunci waktu. Sama seperti kisah negeri Tibet. Hmm, sepertinya buku ini sangat recommended, tapi sayang tebal betul. Andai saya bisa sekalian membeli waktu untuk membacanya...
    Once again, good review! :)

    ReplyDelete
  4. wahaaw... harus nemu ini buku. ntar bulan februari ma seri Lord of the ring deh. coz bulan ini dah beli juga si. Kayanya kemaren saya liat si, but ga tertarik. pan ga ngerti.....

    bachabazi termasuk budaya? ckckckck... negaranya Afganisthan pula. hmmmm :-(

    nice review! untuk skala 1-5, reviewmu saya kasi lima deh! heheehehe
    keep review yah.

    ReplyDelete
  5. Iyaaaa... Serem banget kan ya? Duh, gak bisa ngebayangin anak2 kecil disana jadi korban sexual predator. :-((

    ReplyDelete
  6. Di semua tempat saya rasa sih pasti ada homoseksual dan pedofilia. Tapi ya saya kaget sih di Afghanistan ternyata ini adalah sebuah budaya. Ini informasi baru buat saya. :D

    ReplyDelete
  7. Terima kasih, Mas Darin. :-)

    ReplyDelete
  8. Hahaha... Terima kasih lho skornya! Rencananya sih setiap buku yang sudah saya baca akan saya tulis riviunya. Tapi yaaa... Mungkin ga semuanya sih. Buku yang enteng2 aja ditulis riviunya. Kalau yang berat dan bikin pusing, ehm... baca bukunya aja susah terus sok2an mau ngeriviu. Mau diketawain orang2? =))

    ReplyDelete
  9. yup saya juga ingat...Mahmud si Bachabazi....memutarkan musik terlbh dulu dan menyuruh joget bocah sebelum 'dimainkan'...*jadi bahas kite runner sih, yasud :D

    ReplyDelete
  10. Saya juga ingat scene itu! Nyeremin yah. Jadi kasian sama anak2 disana. :-(

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;