Tuesday, May 17, 2011

Belajar untuk Berhenti Membenci

Day 56. Post a Day 2011.

Pagi ini saya bangun dengan perasaan benci dan kesal. Kesal karena saya melihat status twitter seseorang dan benci karena saya benci orang tersebut. *halah, njelimet*

Tapi, segera saya sadari bahwa ini tidak benar. Membenci seseorang tidak baik untuk kesehatan jiwa saya. Energi saya akan habis untuk hal yang sia-sia tersebut. Saya jadi capek hati, capek pikiran, sendirian. Sedangkan orang yang saya benci mungkin tidak tahu kalau saya benci sama dia atau meskipun dia tahu mungkin saja dia tidak ambil pusing. Saya jadi ingat kutipan dari Whoopi Goldberg di salah satu filmnya (saya lupa, maafkan!):

When you hate someone, some people don't know it and others don't care.

Kira-kira begitulah. Jadi, jelaslah bahwasanya membenci orang itu adalah perbuatan yang sia-sia.

Tapi, bukannya tanpa alasan saya membenci seseorang. Tidak mungkin tanpa alasan yang jelas saya membenci orang. Akumulasi kekecewaan yang terlampau menumpuk membuat saya tidak menyukai orang tersebut. Dimulai dari dia menceritakan masalah pribadi saya kepada orang lain tanpa seijin saya sampai kepada dia menjelek-jelekkan saya di belakang saya. Geez, people. If you have problems with me, say it right in front of my face. Tell me. I will be sorry and I promise to be a much much better person. Bukankah suatu masalah akan lebih baik jika dikomunikasikan langsung dengan si empunya masalah dan bukannya dengan membicarakannya di belakang? Bersama-sama bisa dicari jalan keluarnya.

Dan saya juga tidak suka dengan orang yang tidak menepati janji, tidak peduli apapun alasannya. Sekali melanggar masihlah saya maafkan. Tapi, berkali-kali? Hell, no!

Namun, saya bukannya tanpa cela. Dengan orang tersebut pun sebenarnya saya pernah melakukan kesalahan. Saya sangat menyesal karena kesalahan bodoh saya itu dan saya meminta maaf karenanya. Dan mungkin sekarang pun dia membenci saya, tapi saya tidak peduli dan tidak ambil pusing. Karena saya sudah tidak peduli lagi dengan orang tersebut.

Ketika berbicara agar jangan membenci orang memang terdengar sangat mudah, tapi sangat susah untuk dipraktekkan. Butuh jiwa besar untuk menghapus rasa benci itu dari dalam diri. Namun, yang biasanya terjadi adalah sebuah perilaku menyumpah-nyumpahi orang yang dibenci, berharap dia mendapat balasan setimpal atau bahkan lebih. Rasanya menyenangkan luar biasa melihat orang yang kita benci hidupnya penuh dengan kesengsaraan dan kesedihan.

Itulah saya yang sebenarnya. Itulah jeleknya saya. Bukannya saya berhadapan langsung dengan orang tersebut dan mengatakan apa yang mengganjal dalam hati, saya malah membalikkan punggung dan mengutuknya. Sebuah tindakan yang sangat tidak terpuji, saya harus akui itu.

Tapi, saya masih belajar. Saya belajar untuk menerima bahwa tidak selamanya hidup ini menyenangkan. Akan ada seseorang atau sesuatu di luar sana yang akan datang kepada kita untuk membuat kita kecewa, sedih, bahkan menghancurkan hidup kita.

Saya terus belajar untuk mengakui bahwa tidak selamanya hidup ini akan selalu berjalan sesuai dengan apa yang saya mau. Misalkan, saya ingin semua orang menepati janji yang diucapkannya kepada saya karena saya selalu berusaha menepati janji saya. Seremeh apapun janji itu. Karena bagi saya orang itu dinilai dari ucapan dan perbuatannya, selaras atau tidak. Ketika dia berjanji, ditepati atau tidak. Nah, kalau ada orang yang tidak menepati janjinya sama saya, well, apa mau dikata? Saya tidak mungkin bisa meminta, memaksa, mengatur sekian milyar penduduk Bumi untuk menepati janji kan?

Saya belajar terus untuk itu. Bukankah manusia tidak pernah berhenti belajar?

Nah, sekarang saatnya kembali mencoba menghapus rasa benci yang ada di dalam hati ini. Saya akan mencoba untuk memaafkan orang tersebut. Dan seterusnya, saya akan terus belajar bahwa membenci orang tidak akan memberikan hal-hal yang positif ke saya, selain ia hanya akan menyiksa jiwa saya. Hidup dengan penuh damai, bebas dari rasa benci, bukankah itu sangat indah?

Ah, tiba-tiba saya ingin sekali berterima kasih karena tanpa beliau saya mungkin tidak akan melalui pengalaman ini. :")


3 comments:

  1. "Ah, tiba-tiba saya ingin sekali berterima kasih karena tanpa beliau saya mungkin tidak akan melalui pengalaman ini."



    To the unclouded mind, everything is appropriate. :)

    ReplyDelete
  2. Kalau kata pepatah sih You will slowly transformed to whom you hate. :D

    ReplyDelete
  3. melupakan rasa benci itu memang susah. saya pernah ga sengaja bikin temen kesel dan akhirnya dia sempet psy war gitu sama saya kurang lebih 2 bulan. 

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;