Friday, January 27, 2012

Sewaktu Subuh Pagi Tadi

Saya sedang tidur tidak-lelap-lelap-banget sewaktu ibu saya menjerit pagi tadi saat azan Subuh sedang berkumandang. Jeritan ibu saya dilanjut dengan tangisannya membuat saya sontak bangun dan langsung lari ke kamar orangtua. Saya takut terjadi apa-apa dengan ayah saya. 

Ternyata... Selang ayah saya dari operasi livernya copot! Saya shock. Kaget bercampur takut. Takut selang yang copot itu berpengaruh pada ayah saya. Soalnya kan sehabis operasi ayah saya kemana-mana bawa drain box itu. Drain box itu sendiri untuk menampung cairan yang keluar dari... ehm... liver ayah saya. Kurang tahu juga sih darimana. Pokoknya sehabis operasi ayah saya sudah dipasang drain box-nya. Dan setiap hari saya yang membuang drain-nya. Jadi, kalau selangnya copot takutnya ayah saya kenapa-kenapa.



ini kotak yang menampung cairan dari liver ayah saya 


"Kamu bisa nggak masanginnya lagi? Masukin ke dalam?" tanya ayah saya. Haduh, ya jelas mana saya bisa.  Saya mah nggak mau maksain diri sok-sokan berani masangin, eh nggak tahunya malah terjadi apa-apa kan bisa berabe. Sudahlah, daripada kenapa-kenapa saya telpon saja dokter ayah saya yang mengoperasi di Singapura. Namanya Dr Tay Khoon Hean. Sayangnya, tiga kali saya nelpon tidak diangkat-angkat. Ya wajar sih, lha wong saya nelpon pukul 4.30 pagi. Berarti di Singapura baru pukul 5.30. 

Tadinya saya kira Dr Tay jam segitu sudah ada di tempat prakteknya. Soalnya berdasarkan pengalaman kami, Dr Tay itu memang kebiasaannya datang pagi-pagi. Waktu ayah saya masuk RS, Dr Tay paling pagi datang ke kamar ayah saya sekitar jam 5.30. Berarti bisa jadi sewaktu saya menelpon beliau di tempat praktek, beliau sedang mengunjungi pasien-pasiennya. Daripada telpon nggak nyambung-nyambung, mending saya kirimi saja e-mail. Pasti dibaca dan pasti dibalas oleh beliau. :D

Ayah saya sendiri langsung nelpon kakak-kakak saya ngasi tau selangnya copot. Sekalian rembukan bagaimana ini selanjutnya? Tadinya saya usul mending ke Jakarta dulu deh. Temui dokter bedah di RS langganan ayah saya di Jakarta. Siapa tahu dokter bedahnya bisa masangin lagi selangnya. :D Tapi, kakak saya, Ses Renny, tidak setuju. Katanya mending langsung ke Singapura saja. Ya sudah lah, saya mah terserah. Mau pergi ya sudah hayuk pergi, kalau tidak pergi ya tidak apa-apa.

Kakak ipar saya juga jadi sibuk pesan tiket pesawat untuk hari ini juga ke Singapura. Bayangpun! Ses Renny bahkan langsung pulang ke rumahnya dan membereskan baju-bajunya yang mau dibawa. Sementara saya sendiri hanya menunggu e-mail balasan dari Dr Tay. Anehnya saya malah jadi tenang-tenang saja. Tidak ada perasaan gugup atau takut. Membereskan baju pun hanya sekadarnya. Asal saja masukin baju ke dalam koper. Yah, namanya pergi dadakan ya, mana sempat mau memilah-milah baju mana yang mau dibawa. Sambil membereskan baju, sambil rajin liatin layar laptop. Akun gmail saya sudah ada e-mail balasan atau belum. 

Pukul 6 pagi saat saya sudah megang handuk mau mandi, e-mail balasan Dr Tay sampai juga! Saya langsung menarik napas panjang karena lega setelah membaca balasan beliau:


Dear Kimi,
Please do not worry. As it has dropped out, just leave it, as this is what i expect would happen.
Please just put dressing over the wound, as it will take some time to dry up. You should change this daily until it dries up.
Just make sure he continues to eat well and passes motion as normal.

Segera saya memberi tahu ayah saya supaya tidak usah khawatir. Santai saja... Yang penting selama ayah saya makannya teratur dan BAB-nya lancar seharusnya tidak masalah. Dan juga yang penting saya harus rajin mengganti perban luka habis operasinya setiap hari. Ah, kalau hanya sekadar mengganti perban sih tidak masalah. Kecil itu maaaaah... *sombong*

Keluarga saya langsung tenang setelah dapat e-mail balasan dari Dr Tay. Keadaan rumah pun jadi tenang lagi dan nggak gupek seperti sebelumnya. Tiket yang baru dipesan langsung kami batalkan. Ibu saya pun sudah bisa tertawa-tawa sewaktu saya menggoda beliau dengan memeragakan kejadian saat ibu saya menangis dan menjerit-jerit. Iya, di depan Ses Renny saya berakting berpura-pura jadi ibu saya dan berpura-pura menangis dan menjerit-jerit seperti ibu saya tadi. Hahahahaha... Jahat ya saya? :v

Hahaha... Suatu hal yang sesuatu banget untuk memulai hari.

p.s.: Tadinya saya mau mengunggah foto luka ayah saya juga. Tapi, jelek sih hasilnya makanya tidak jadi saya unggah. Dan juga saya takut diprotes karena sudah mengunggah foto yang (dianggap) menjijikkan. :O


3 comments:

  1. Ya ampun, kok ibunya digodain sih... pasti malu-malu gimana gitu ya, hehe....

    Wow, balas e-mailnya cepet ya. Sudah kayak sms di ponsel kali ya.

    Syukurlah kalau semua baik-baik saja :-)

    ReplyDelete
  2. Dokter Tay responsif banget ya dengan email dari keluarga pasien. jadi kalau mau konsultasi gitu ngga akan ragu ragu. :)

    untung papa punya Kimi yang tenang dan elegan

    ReplyDelete
  3. wew wajar lah kalo jadi panik liat begituan. :S untung ayahnya gapapa ya... moga ayahnya lekas sehat dan fit.

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;